Bangsa Paranoid dan Reaksioner

Hentikan Sikap Paranoid dan Reaksioner!

Reza A.A Wattimena

Flu babi diduga akan menjadi pandemi. Banyak orang di banyak tempat mengalami kemungkinan terjangkit. Tentu saja kita harus berhati-hati. Akan tetapi perlukah kita menjadi paranoid?

Sikap paranoid adalah ketakutan berlebihan akan apa yang akan terjadi. Sikap tersebut diwarnai kecemasan mendalam atas ketidakpastian realitas. Sikap hati-hati memang diperlukan. Namun sikap paranoid sebaiknya harus dijauhi, karena sikap tersebut kontraproduktif, dan justru akan menyebabkan panik massa pada akhirnya.

Bangsa yang Paranoid

Rupanya sikap paranoid bangsa kita bukanlah hal baru. Bisa dibilang identitas kita sebagai bangsa dibentuk melalui kecemasan dan sikap paranoid akan masa depan. Oleh karena itu kesan dipaksakan sebagai ‘bangsa dan negara’ sulit untuk dilepaskan. Apa yang disebut sebagai Indonesia tampaknya memang dibentuk di atas dasar paranoia.

Karakter paranoid tersebut dapat dengan mudah ditemukan di peristiwa-peristiwa historis yang kita alami bersama. Masih basah di ingatan bangsa kita, ketika krisis moneter menghantam pada 1997. Ketika itu ketakutan, kecemasan, dan paranoia muncul di semua tempat. Keputusan untuk bekerja sama dengan IMF pada waktu itu juga lahir dari negativitas semacam itu. Tak heran hasilnya buruk.

Alih-alih memperbaiki ekonomi bangsa, kerja sama tersebut justru membuat bangsa ini terpuruk ke dalam jalinan hutang. Roda deregulasi dan privatisasi seolah tidak bisa dihentikkan. Pemerintah dan rakyat kehilangan kekuatan untuk mengatur sumber dayanya sendiri. Itulah konsekuensi dari keputusan yang dibuat atas dasar paranoia.

Masih segar juga diingatan, ketika dunia dihebohkan oleh karikatur bernada religius, yang dianggap menghina umat Islam di seluruh dunia. Tentu saja bangsa kita tidak kalah heboh. Kelompok-kelompok religius menyatakan macam-macam hal, yang sebenarnya tidak perlu. Buah dari paranoia adalah sikap reaksioner. Sikap reaksioner adalah sikap membuat keputusan dan bertindak tidak dengan pertimbangan yang matang, tetapi dengan emosi.

Sudah waktunya kita perlu sadar akan dua karakter negatif bangsa ini, yakni paranoid dan reaksioner. Pengetahuan itu memungkinkan kita menjaga jarak dari keduanya. Dengan bersikap rasional bangsa ini akan lebih bisa membuat keputusan dan bertindak dengan matang. Kematangan itulah yang belakangan ini jarang terlihat di ruang publik kita.

Ciri paranoid itu tampak juga di dalam tingkah laku para petinggi partai politik belakangan ini. Karena rasa takut tidak kebagian kue kekuasaan, mereka tunggang langgang mencari teman untuk menyelamatkan diri. Kemunafikan, perbedaan visi, dan filsafat politik tidak dijembatani oleh argumen yang masuk akal, tetapi oleh dorongan paranoid dan sikap reaksioner partai yang belebihan. Tak heran juga manuver partai politik kita terkesan buru-buru serta jauh dari pertimbangan yang rasional dan matang.

Paranoia dan Massa

Di dalam berbagai tulisannya Budi Hardiman terus menekankan bahayanya politik massa. Politik massa tidak didorong oleh cita-cita untuk mewujudkan tatanan bersama, tetapi oleh hasrat untuk berkuasa, menghancurkan, dan harsrat untuk dikuasai. Sikap paranoia dan reaksioner berjalan berdampingan dengan politik massa. Keduanya muncul berbarengan dan tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Dalam arti ini tidak ada yang disebut sebagai “bangsa” Indonesia. Yang ada adalah “massa” Indonesia. Mengapa? Karena warganya tidak dibentuk di dalam kesadaran nasionalisme dan demokrasi yang kuat, melainkan dalam ketakutan, kecemasan, serta kerinduan untuk terus dikuasai. Tidak ada warga negara. Yang ada adalah sekumpulan massa. Dan cocok dengan ciri dari keputusan yang dibuat atas dasar paranoia, warga negara kita cenderung terburu-buru dan tidak rasional di dalam melihat masalah dan membuat keputusan.

Bangsa semacam ini mudah sekali dipecah belah. Sedikit percikan api akan langsung menyulut konflik horisontal yang tak terkendali. Sewaktu masa kolonialisme pemerintah Belanda dengan cerdas memanfaatkan sifat paranoid dan reaksioner bangsa ini dengan politik adu domba mereka. Tak heran pula bangsa sebesar kita tunduk tak berdaya selama 350 tahun di bawah negara Belanda yang begitu kecil dalam ukuran ruang dan jumlah penduduk.

Hentikan sikap paranoid dan reaksioner

Sudah waktunya kita belajar dari sejarah dan dari kesalahan di masa lalu. Mulai sekarang bangsa Indonesia perlu untuk lebih tenang dan rasional menyingkapi semua persoalan yang ada, mulai dari Pemilu, flu babi, sampai krisis finansial yang mungkin saja menghantam. Sikap tenang, dingin, dan rasional dalam menghadapi segala sesuatu adalah keutamaan politik yang tidak boleh dilupakan. Keutamaan politik tersebut harus menjadi bagian dari identitas bangsa, sehingga kita sungguh menjadi ‘Bangsa’, dan bukan lagi ‘massa’.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s