Menjadi Orang Asing

Menjadi Outsider

Reza A.A Wattimena

Setiap orang selalu merasa dirinya sebagai outsider. Dia orang luar, yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.

Bila Anda hidup di suatu tempat baru, perasaan ini muncul. Akan tetapi, menjadi outsider tampaknya bukan hanya kondisi sementara, tetapi juga bisa menjadi kondisi permanen manusia.

Outsider

Bayangkan, Anda tiba di suatu tempat yang baru bagi Anda. Anda hidup bersama orang-orang yang tidak pernah ada kenal sebelumnya. Mereka berbeda suku, ras, agama, dan bahkan bahasa.

Perasaan, bahwa Anda merupakan orang luar yang berbeda dengan mereka, akan muncul. Tentu saja, ini kondisi normal.

Yang tidak normal adalah, Anda lahir di tempat yang sama. Anda hidup dengan orang yang Anda kenal seumur hidup Anda, seperti orang tua, saudara, ataupun tetangga. Akan tetapi, Anda tetap merasa sebagai outsider.

Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, menyatakan dengan jelas, bahwa manusia adalah mahluk yang ada-di-dunia. Manusia adalah mahluk yang mendunia.

Dengan mendunialah manusia justru menjadi manusia. Tidak ada dunia tanpa manusia, dan tidak ada manusia tanpa dunia.

Akan tetapi, jauh di dalam hati kita, kita tahu, bahwa kita lebih dari sekedar dunia. Manusia adalah bagian dari dunia, sekaligus lebih daripadanya.

Eksistensialisme

Unsur lebih inilah yang membuat orang merasa terasing dengan lingkungannya, walaupun ia telah hidup di dalamnya sejak dulu. Dalam bahasa fenomenologi eksistensialis, manusia itu selalu memiliki kemungkinan untuk retak dengan dunianya.

Bayangkan, Anda memiliki sebuah mobil. Mobil itu sudah bersama Anda sejak lama. Mobil itu mengantarkan Anda bekerja, berekreasi bersama keluarga, dan menemani hampir semua aktivitas Anda.

Anda merasa nyaman dengan mobil tersebut. Seolah, ia sudah menjadi bagian dari diri Anda.

Suatu hari, mobil itu rusak. Padahal, Anda sedang di tempat kerja, dan berencana untuk pulang lebih awal.

Pada saat itu, Anda merasa tidak nyaman dengan mobil Anda. Tidak hanya dengan mobil, Anda pun merasa tidak nyaman dengan diri sendiri.

Mobil yang Anda taken for granted, kini tidak lagi berfungsi. Dalam hal ini, Anda mengalami retak dengan dunia yang Anda taken for granted sebelumnya.

Anda menjadi outsider di dunia Anda sendiri. Dalam bahasa filsafat, Anda mengalami keterasingan.

Keterasingan

Keretakan itu menciptakan perasaan tidak nyaman. Ketidaknyamanan menciptakan perasaan terasing. Apa yang menyebabkan perasaan terasing?

Pertama, perasaan terasing muncul, ketika Anda melakukan sesuatu yang mengungkung kebebasan Anda. Anda tidak hidup dalam kebebasan, tetapi dalam ketakutan dan belenggu yang mencekik.

Marx berpendapat, bahwa sistem ekonomi kapitalisme klasik adalah sumber utama dari perasaan terasing manusia. Di dalam sistem ekonomi ini, orang dipaksa melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai, dan juga tidak bisa menikmati hasil kerjanya sendiri.

Kondisi Indonesia sekarang sangat mencerminkan hal ini. Seorang pencinta arkeologi akan sulit untuk bertahan hidup di kota Jakarta.

Mungkin, ia akan bekerja di bank, atau perusahaan lainnya. Sudah begitu, hasil kerjanya tidak ia nikmati langsung, tetapi dinikmati oleh pemiliki perusahaan.

Hidupnya menjadi tidak bahagia. Ia merasa terasing, bahkan dengan hidupnya sendiri.

Sumber keterasingan kedua adalah perasan cemas. Perasaan cemas muncul, ketika Anda tidak menghayati kesekarangan hidup Anda, tetapi dihantui oleh masa lalu dan masa depan.

Hidup di masa lalu akan menghasilkan kecemasan. Kecemasan akan masa lalu akan mendorong rasa bersalah yang tidak sehat. Rasa bersalah juga sumber keterasingan.

Sebaliknya, hidup di masa depan hanya akan menghasilkan kekhawatiran. Kekhawatiran akan mendorong sikap paranoid. Dan sikap paranoid juga merupakan sumber keterasingan.

Masa lalu dan masa depan tidak ada. Yang ada hanyalah masa sekarang. Hidup di masa lalu atau masa depan berarti hidup dalam kehampaan.

Sisi Positif

Perasaan menjadi outsider identik dengan perasaan terasing. Akan tetapi, perasaan semacam ini tidak bisa dinilai melulu secara negatif. Ada unsur positif di dalamnya.

Martin Heidegger pernah menulis, bahwa perasaan cemas dan gelisah merupakan tanda manusia terhubung dengan hakekat dirinya. Pada momen itu, manusia diminta berhenti sejenak, dan melakukan refleksi mendalam terhadap apa yang telah ia alami.

Anthony Giddens juga menegaskan, bahwa ketika merasa cemas, kesadaran diskursif orang meningkat. Kreatifitas dan kemampuan intelektualnya memaksanya untuk beradaptasi. Pada titik ini, manusia menjadi lebih kuat dan vital, daripada ketika kondisi normal.

Himpitan ancaman akan membuat kreatifitas memuncak. Pada saat itu, manusia mencapai kondisinya yang paling prima.

Proses

Mungkin adalah kodrat kita untuk selalu menjadi outsider, bahkan di lingkungan yang sudah kita paling anggap nyaman. Mungkin sudah saatnya kita menyadari, bahwa hidup adalah tegangan antara perasaan intim dan perasaan terasing.

Tidak ada hidup yang sepenuhnya intim, dan tidak ada hidup yang sepenuhya terasing. Hidup itu sendiri berarti tension antara yang intim (the intimate) dan yang asing (the foreign). Tanpa keduanya, hidup menjadi tidak berarti.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Satu tanggapan untuk “Menjadi Orang Asing”

  1. Dalam keterasingan seperti yang anda uraikan, saya selalu mengacu kepada dua pemikir: Pertama, JP Sartre. Manusia berhadapan dengan absurditas. (titik stop) Kedua, Gabriel Marcell. Manusia memang berhadapan dengan absurditas, tetapi marilah kita menghadapi absurditas dalam sisa-sisa hidup kita dengan melakukan (berbagai) eksperimen.
    Untuk kedua pemikir dalam konteks ini, saya memilih Gabriel Marcell…

    Salam
    ISKN

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s