Keberhasilan, Rasa Iri, dan Para Demagog

Keberhasilan, Rasa Iri, dan Para Demagog

Reza A.A Wattimena

Orang bilang, tujuan hidup adalah untuk memperoleh keberhasilan. Keberhasilan itu apa? Tentunya, pertanyaan itu hanya dapat dijawab secara individual.

Biasanya, orang mendefinisikan keberhasilan sebagai suatu momen, di mana semua yang dia inginkan dapat terwujud. Cita-cita dan impiannya kini telah menjadi kenyataan. Itulah keberhasilan.

Akan tetapi, orang sering lupa, bahwa keberhasilan itu memiliki dua muka. Setiap kali orang berhasil, dia mengundang satu musuh, yakni rasa iri dari orang lain. Dengan kata lain, keberhasilan selalu bergandengan dengan rasa iri.

Jika anda naik satu tahap di dalam hidup anda, maka anda turun satu tahap di dalam pandangan orang lain, karena pasti ada orang lain yang merasa iri. Artinya, jika anda berhasil, anda sekaligus untung dan sekaligus buntung. Anda mendapatkan dunia baru sekaligus kehilangan beberapa teman yang pernah anda miliki sebelumnya.

Keberhasilan yang terlalu cepat

Mungkin salah satu sebab dari hal ini adalah, tentang keberhasilan yang terlalu cepat. Tampaknya, keberhasilan itu haruslah diperoleh secara perlahan, supaya jika gagal di tengah jalan, keruntuhan yang terjadi tidaklah terlalu besar.

Keberhasilan tidak pernah boleh diperoleh dengan cara instan. Keberhasilan itu diperoleh dengan proses panjang dan menyakitkan. Itulah keberhasilan yang otentik.

Jika keberhasilan diperoleh dengan cara instan, maka keberhasilan itu tidak akan bertahan lama. Ia adalah keberhasilan yang semu. Dan segala sesuatu yang semu biasanya lebih banyak mengundang kejahatan daripada kebaikan.

Bangsa kita pernah hidup di dalam keberhasilan semu semacam itu. Selama dua dekade lebih, kita ditipu dengan keberhasilan ekonomi yang semu.

Pada waktu itu, kita merasa bahwa kita adalah bangsa yang berkembang pesat dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Padahal, itu semua semu.

Banyak dari pertumbuhan tersebut berasal dari hutang dan bantuan asing, yang kemudian dikorupsi untuk kepentingan beberapa pihak tertentu.

Hal ini kembali menegaskan argumen saya, bahwa keberhasilan tidak pernah bisa diperoleh secara instan. Keberhasilan harus diraih setahap demi setahap, yang tentunya membutuhkan usaha yang luar biasa besar. Hanya dengan begitulah keberhasilan bisa dirasakan manfaatnya.

Politik dan Para Demagog

Mengapa orang merasa iri, ketika ada orang lain yang berhasil? Jawabannya terletak pada fakta kehidupan, bahwa semua hal adalah politik. Yang berarti, segala hal terkait dengan kehidupan bersama, termasuk yang paling personal sekalipun.

Kita menghirup politik ke dalam pikiran kita. Politik itu bisa berupa prasangka, dendam, gosip, anggapan, dan sebagainya. Politik ada di sekitar kita, mempengaruhi cara pandang kita terhadap realitas, dan cara pandang kita terhadap diri kita sendiri.

Politik bisa mengaburkan pandangan kita, dan bisa juga memberikan analisis yang jernih terhadap apa yang sesungguhnya terjadi. Namun, untuk membedakannya, kita memerlukan hati nurani yang jernih.

Rasa iri muncul dari politik kotor yang ditujukan untuk menghancurkan nama baik orang lain. Rasa iri muncul, karena orang tidak mampu melihat orang lain berhasil.

Orang yang iri adalah ekses dari keberhasilan orang lain. Kiranya pepatah lama benar, bahwa iri merupakan tanda ketidakmampuan.

Politik kotor yang hendak menghancurkan orang lain adalah buah dari rasa iri. Di dalam filsafat politik inilah yang disebut sebagai demagog, yakni orang yang menggunakan kendaraan demokrasi untuk menyebarkan kebencian, kebohongan, serta kejahatan di dalam orasi-orasinya.

Saat ini, bangsa kita memiliki banyak demagog. Mereka menyebarkan kebencian, kebohongan, kejahatan, rasa iri, dan dendam kepada semua orang. Akibatnya, suasana kehidupan bersama menjadi tidak harmonis. Kepercayaan yang mengikat masyarakat pun hilang.

Biasanya, para demagog tidak secara gamblang menyatakan kebencian mereka. Mereka menggunakan topeng-topeng yang luhur untuk menyembunyikan maksud mereka sesungguhnya.

Topeng itu bisa agama, kehendak Tuhan, nilai-nilai moral, dan sebagainya. Biasanya, semua itu digunakan untuk menutupi maksud jahat mereka yang sebenarnya. Maksud jahat yang dilumuri rasa iri dan politik kotor untuk menghancurkan orang lain.

Verifikasi dan Hati Nurani

Apakah rasa iri dan sepak terjang para demagog ini bisa dilawan? Ya, kita bisa melawan para demagog. Caranya adalah dengan pertama-tama kritis terhadap cara berpikir kita sendiri.

Para pemikir positivisme logis lingkaran Wina yang berkembang di awal abad kedua puluh memberikan cara berpikir yang berharga. Bagi mereka, standar kebenaran dari sebuah pernyataan adalah verifikasi.

Artinya, suatu pernyataan bisa disebut benar, jika pernyataan tersebut bisa dilihat buktinya di dalam kenyataan. Jika suatu pernyataan tidak bisa dibuktikan di dalam realitas secara inderawi, maka pernyataan tersebut salah.

Dalam konteks memerangi para demagog yang menyebarkan kebencian, rasa iri, serta menerapkan politik kotor, cara berpikir ini sebenarnya bisa digunakan. Kita tidak boleh percaya begitu saja pada pernyataan apapun, jika pernyataan itu tidak bisa diverifikasi.

Kita harus mengecek ulang semua kepercayaan yang kita punya tentang orang lain, supaya pernyataan tersebut sungguh benar, dan bukan pernyataan yang didasarkan pada kebohongan dan rasa iri belaka.

Pada akhirnya, hati nuranilah yang menjadi hakim atas semuanya. Terkadang, kita perlu menutup telinga dari dunia, dan mendengarkan hati kita sendiri. Hanya dengan begitulah kita bisa sungguh lepas dari rasa iri dan politik kotor yang disebarkan oleh para demagog untuk meracuni dunia.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s