Kebenaran yang Tersembunyi

Kebenaran yang Tersembunyi

Reza A.A Wattimena

Apa yang lebih romantik dari berbicara tentang kebenaran? Apakah cinta lebih romantik daripada kebenaran? Tanpa kebenaran, cinta adalah penjajahan. Cinta pun butuh setetes kebenaran.

Proses pencarian akan kebenaran sudah setua sejarah manusia itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan para filsuf awal tentang realitas menunjukkan adanya usaha untuk memahami dunia di luar diri.

Manusia kagum, dan bertanya tentang realitas di hadapannya. Manusia kagum akan kerumitan sekaligus keindahan tatanan semesta. Di depan matanya, alam semesta menggambarkan keagungan sang Pencipta.

Jatuh Bangun Sains

Rasa kagum, heran, dan hormat terhadap tatanan semesta tersebut mengental di dalam praktek ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan menjadi bentuk konkret dari upaya dasar manusia menemukan kebenaran.

Disinilah salah satu titik balik terpenting di dalam sejarah manusia, ketika Mitos menjadi Logos. Ketika cara berpikir manusia berubah dari cara berpikir mitologis menjadi cara berpikir rasional, yang disebut sebagai Logos.

Praktek Logos tersebut tergambarkan di dalam empat kegiatan dasar sains, yakni memahami, menjelaskan, melakukan prediksi, dan kontrol atas realitas. Akan tetapi, sejarah tidak berjalan semulus apa yang tertulis di atas kertas.

Cukup lama, peradaban manusia dikungkung oleh otoritas. Kebebasan berpikir dan inovasi pun hanya harapan yang mengambang tanpa realitas.

Pada saat itu, manusia dipenjara oleh otoritas di luar dirinya. Politik dan agama membuat ilmu pengetahuan membisu tanpa mampu berbicara.

Akibatnya, banyak hal menjadi tidak terjelaskan secara masuk akal. Penyakit dan bencana dipandang sebagai murka Sang Pencipta yang tidak rasional. Dunia menjadi tidak masuk akal.

Positivisme

Lahirlah Francis Bacon yang mencoba menyelamatkan ilmu pengetahuan dari penjajahan. Dia melihat bahwa pengetahuan manusia haruslah berpijak pada pengalaman. Hanya dengan begitulah manusia bisa mencapai kebenaran. Tidak ada pengetahuan tanpa pengalaman. Tidak ada kebenaran tanpa pengetahuan.

Auguste Comte meradikalkan ide Bacon dengan positivismenya. Realitas yang layak kaji adalah realitas positif yang teramati oleh indera. Selain itu, semuanya adalah metafisika yang sia-sia.

Positivisme melesat di dalam kajian ilmu-ilmu alam. Banyak hal ditemukan di dalam alam yang berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Para ilmuwan sosial menyaksikan kemajuan itu dengan perasaan gamang. Mereka pun berniat menggunakan metode ilmu-ilmu alam sebagai acuan.

Akibatnya, kehidupan manusia, yang menjadi kajian dari ilmu-ilmu sosial, disempitkan melulu pada apa yang teramati oleh indera. Kehidupan manusia melulu dipahami sebagai fakta.

Padahal, manusia juga punya nilai yang membuat hidupnya bermakna. Nilai yang tidak kasat mata, namun merupakan inti hidupnya. Inilah yang tidak dipahami oleh positivisme di dalam penelitiannya.

Yang ironis, praktek positivistik tersebut menjadi mode di dalam ilmu-ilmu sosial. Psikologi, sosiologi, dan ekonomi memakai pendekatan itu sebagai titik tolak analisis dunia sosial. Kehidupan manusia pun dipersempit sebagai obyek inderawi yang banal.

Sains yang hendak membebaskan dirinya dari pasungan otoritas, kini jatuh ke dalam pasungan baru yang dibuatnya sendiri. Sains menjadi mekanis, dan kehilangan kemampuan untuk kritik diri.

Manusia pun dianggap sebagai mahluk yang sepenuhnya terdefinisi. Kebenaran pun tetap tak bergeming dan tersembunyi.

Perlu Alternatif

Padahal, seperti halnya semua mahluk insani, manusia berziarah di dalam dunia mencari arti. Pencarian yang dilakukannya tanpa henti.

Dengan kesadaran itulah sebuah alternatif cara pandang penting untuk dirumuskan. Alternatif paradigma saintifik yang tidak lagi memandang manusia sebagai benda stagnan, tetapi sebagai proyek yang masih harus diselesaikan.

Di dalam paradigma alternatif ini, kebenaran dianggap tertanam di dalam realitas kehidupan. Kehidupan pun dipandang sebagai jaringan makna yang majemuk dan berkelit kelindan.

Walaupun majemuk dan membentuk jaringan yang rumit, realitas tetap dipandang sebagai satu kesatuan. Di dalam kesatuan dari kemajemukan itulah ditemukan kebenaran.

Di dalam paradigma ini, manusia bukanlah obyek yang sudah terdefinisi, melainkan subyek yang punya kehendak bebas. Ia sadar akan dirinya sendiri, sekaligus sudah berpijak realitas. Tanpa realitas, ia tidak menjadi bebas.

Manusia mengetahui, dan dengan pengetahuan itulah ia menjadi bebas. Pengetahuan adalah artifak kehidupan yang membuat hidup manusia menjadi lebih berkualitas.

Kualitas kehidupan manusia ditentukan oleh kemanusiaannya. Diperlukan paradigma alternatif yang menjamin kemanusiaan tetap menjadi yang utama.

Bukan obyek pengetahuan yang penting, melainkan krisis kemanusiaan yang perlu diselesaikan. Krisis kemanusiaan yang juga merupakan krisis keterlibatan manusia di dalam perkembangan dunia kehidupan.

Ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini telah membuat manusia terasing dan membisu. Alih-alih memupuk kekaguman dan rasa hormat terhadap realitas, ilmu pengetahuan malah membuat manusia terperangkap di dalam jaring-jaring rasa ragu dan jemu.

Diperlukan paradigma alternatif di dalam ilmu pengetahuan yang menyadari dan menghormati kerumitan realitas dan diri. Siapa tahu dengan itu, kebenaran tidak lagi tersembunyi.***

Berani Untuk Hidup Benar

Berani Untuk Hidup Benar

Reza A.A Wattimena


Menjadi orang benar tidak selalu beruntung. Seringkali, orang justru jadi buntung.

Orang baik tidak selalu mendapatkan kebaikan dari dunianya. Sama seperti, orang jahat tidak akan selalu mendapatkan kejahatan sebagai imbalannya.

Orang jujur tidak otomatis akan selamat. Sebaliknya, orang tidak jujur tidak otomatis mendapatkan jahat.

Akan tetapi, orang baik juga tidak otomatis mendapatkan jahat, sama seperti orang jahat tidak otomatis mendapatkan baik. Ada ketidakpastian yang membuat kita selalu merasa tercekik.

Di tengah orang jahat, beranikah kita menjadi orang baik? Beranikah kita berkata benar, ketika semua orang memaksa kita untuk mengatakan yang terbalik?

Penelitian Solomon Asch

Solomon Asch ingin menjawab pertanyaan itu. Ia pun melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban jitu.

Pertanyaan penelitiannya sederhana, apakah orang di dalam kelompok berani menyatakan pendapatnya yang obyektif benar, jika semua orang lainnya memberikan jawaban yang salah? Apakah orang berani menyatakan pendapatnya yang benar, di tengah orang-orang yang sengaja salah, dengan tidak resah?

Apa yang terjadi setelahnya? Berdasarkan penelitiannya, Asch menemukan bahwa sekitar 37 persen orang memberikan jawaban yang salah, sama seperti anggota kelompok lainnya.

Artinya, kata kelompok bisa memaksa orang untuk meragukan pendapatnya sendiri. Walaupun ia tahu bahwa pendapat kelompok tidak benar, orang bisa melakukan penyesuaian, mungkin juga dengan mengkhianati diri.

Mengapa ini terjadi? Jawabannya sederhana, orang takut dianggap pengkhianat. Ia takut dicap sebagai pemberontak yang laknat.

Akibatnya, orang kehilangan pendapat orisinalnya. Kata kelompok mendikte kata hatinya. Orang takut berkata benar, karena keselamatan diri menjadi taruhannya.

Di level politik, cara berpikir semacam ini memberi dampak yang besar. Orang bisa dicap macam-macam, mulai sebagai individu yang tidak bisa bekerja sama, sampai dicap sebagai pembangkang yang bermulut kasar.

Kebenaran dan Kesepakatan

Ada kesimpulan prematur dari penelitian ini, bahwa kebenaran adalah apa yang dianggap suatu kelompok sebagai benar. Kebenaran adalah apa yang disepakati kelompok sebagai kebenaran, tidak peduli, apakah itu bernalar atau tidak bernalar.

Jika anda berkata benar di tengah orang-orang yang berkata salah, maka andalah yang berkata salah. Jika anda orang waras di antara orang-orang gila, maka andalah yang bermasalah.

Cara pandang semacam ini berbahaya. Kita harus sadar, bahwa kebenaran itu lebih luas dari pada yang keluar dari kesepakatan dalam bentuk wacana.

Jika kita masih percaya, bahwa kebenaran itu berada di dalam kelompok, maka kita tidak sadar akan adanya pengaruh kekuasaan. Percaya apa kata kelompok begitu saja berarti kita menyerahkan kebebasan kita pada kebodohan.

Filsafat Ilmu

Di dalam penelitian filsafat ilmu, ada dua bentuk penemuan pengetahuan, yakni konteks penemuan, dan konteks justifikasi, atau konteks pembenaran. Yang pertama adalah temuan sang ilmuwan di lapangan, dan yang kedua adalah pembuktian di depan kalangan berpengalaman.

Mungkin saja terjadi, bahwa ketika di lapangan, seseorang menemukan data atau penjelasan baru, namun bermasalah ketika dihadapkan pada komunitas berpengalaman. Artinya, saya menemukan sesuatu, tetapi temuan saya tersebut ternyata tidak terbuktikan.

Ini adalah proses yang berkelanjutan di dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja, kekuasaan dan arogansi intelektual seringkali ambil bagian. Orang tidak diterima di kalangan komunitas ilmiah bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena sebab lain yang mungkin menyinggung rasa keadilan.

Jadi, kebenaran selalu lebih luas daripada kesepakatan atasnya. Kebenaran selalu meloloskan diri dari dunia sosial, sama seperti makna selalu meloloskan diri dari bahasa.

Kebenaran bersifat subyektif

Soren Kierkegaard, seorang filsuf Denmark, mengajarkan sesuatu kepada kita. Baginya, kebenaran selalu terletak di dalam diri, dan bukan di luar sana.

Tentu saja, ada tingkatan kebenaran. Pada level politis, kebenaran selalu mengandaikan adanya kumpulan orang yang mencapai kesepakatan. Akan tetapi, pada level yang paling luhur, kebenaran selalu merupakan keyakinan individu akan kehidupan.

Pada level yang paling dalam di dalam hidup manusia, kebenaran bersifat subyektif yang diyakini seseorang atas hidupnya. Ia melampaui kategori baik dan buruk, sosial maupun individual, dan mencapai level level terdalam eksistensi manusia.

Orang beragama menyebutnya sebagai iman, sementara para pemikir eksistensial akan menyebutkan sebagai kebenaran yang otentik: kebenaran yang berlaku untukku. Kebenaran otentik inilah yang pada akhirnya akan membebaskan manusia dari belenggu.

Mempertahankan eksistensi

Setiap orang perlu kepribadian. Kepribadian itulah yang mencirikan dia sebagai manusia di dalam kehidupan.

Seringkali, kepribadian itu lenyap ditelan wacana. Wacana yang dibentuk oleh manusia dan seringkali sekaligus mendikte dirinya.

Dalam situasi itu, setiap orang perlu menegaskan dirinya. Ia perlu menyatakan, bahwa inilah yang kuyakini sebagai kebenaran, dan bukan yang lainnya.

Orang perlu hening dari apa kata kelompok, dan mendengarkan hatinya. Orang perlu hening dari apa kata dunia sosial, dan melihat jauh ke dalam dirinya.

Hanya disitulah orang bisa sampai pada kebenaran. Kebenaran yang hanya perlu satu hal untuk untuk mewujudkannya: yakni keberanian.***

Paradoks Pengangguran

Paradoks Pengangguran

Reza A.A Wattimena

Salah satu masalah pokok yang dihadapi oleh banyak negara sekarang ini adalah masalah pengangguran. Jumlah penduduk yang siap kerja jauh melampaui kesempatan kerja yang tersedia. Akibatnya, banyak orang yang tidak bekerja. Mereka menjadi pengangguran.

Biasanya, pengangguran tidak pernah dilihat sebagai masalah pada dirinya sendiri. Pengangguran dianggap sebagai suatu masalah, karena hal ini akan menciptakan masalah-masalah lainnya, seperti kemiskinan, meningkatnya kriminalitas, dan sebagainya. Dengan kata lain, pengangguran tidak pernah dilihat sebagai problem pada dirinya sendiri.

Pada dirinya sendiri, pengangguran sebenarnya adalah sebuah paradoks: orang tidak bekerja, tetapi pikirannya dipenuhi dengan pekerjaan, tepatnya keinginan untuk mendapatkan pekerjaan. Olah fisik dan mental untuk mendapatkan pekerjaan sebenarnya adalah sebuah pekerjaan juga.

Pernyataan common sense: pengacara (pengangguran banyak acara) menunjukkan secara persis sisi paradoks dari pengangguran. Di dalam waktu luang seorang pengangguran, pikirannya dipenuhi dengan pekerjaan.

Sebaliknya, di dalam kesibukan bekerja, pikirannya dibuat rileks oleh rutinitas dan dateline, yang membuat ia selalu merasa aktif, berguna, dan dijauhkan dari pikiran-pikiran krisis, seperti kecenderungan bunuh diri, kecemasan eksistensial, krisis self image, dan kebosanan.

Krisis Self-Image

Pada dirinya sendiri, pengangguran adalah suatu momen krisis, yakni ketika situasi yang lama (bekerja) sudah berakhir, tetapi situasi yang baru (bekerja di tempat lain) belum juga muncul. Inilah yang disebut Thomas Kuhn sebagai krisis paradigma, yakni ketika paradigma yang lama sudah berlalu, namun paradigma yang baru belum juga bertumbuh.

Momen krisis ini berada di beberapa level, seperti level ekonomi (orang penggangguran biasanya hidup dari pesangon yang tidak seberapa besar), level sosial (status pekerjaan yang tidak jelas membuatnya terancam di dalam lingkungan sosial), dan level eksistensial (krisis persepsi diri: orang menjadi bingung, siapa dia sebenarnya)

Level pertama dan level kedua, yakni level sosial dan ekonomi, adalah akibat sampingan dari pengangguran. Akan tetapi, pengangguran pada dirinya sendiri sebenarnya bukanlah soal sosial ataupun ekonomi, tetapi soal eksistensial: soal keberadaan manusia mengarungi hidupnya di dalam dunia yang fana ini.

Krisis yang utama, ketika orang memasuki status sebagai pengangguran adalah krisis akan self-image, yakni krisis identitas. Krisis ini terkait dengan pertanyaan yang sederhana namun sulit dijawab, siapa saya?

Ketika orang bekerja sebagai montir, pada waktu malam sebelum ia tidur, ia akan mampu menjawab pertanyaan itu dengan tegas: saya montir. Ketika orang bekerja sebagai guru, ia akan menjawab pertanyaan tersebut: saya guru. Namun, apa yang akan dijawab seseorang, ketika ia pengangguran?

Tentu saja, ia bisa menjawab dengan mengajukan identitas lainnya, seperti saya orang Jawa, saya seorang ayah, tetapi jawaban itu pun tidak pernah memuaskan. Selalu saja ada yang tidak cukup.

Mengapa kerja menjadi begitu penting? Apakah itu soal uang? Mungkin jawabannya ya. Akan tetapi, saya yakin, kerja itu bukan hanya soal uang, tetapi soal kepuasan yang mencakup pula soal kepercayaan, pengakuan, dan kebanggaan.

Hegel dan Kerja

G.W.F Hegel, seorang filsuf Jerman, pernah menyatakan, bahwa kerja membuat manusia mengaktualisasikan dirinya ke level yang paling maksimal. Melalui kerjalah manusia menemukan keutuhan dirinya.

Dengan bekerja, manusia merasa bahagia. Dengan bekerja, tidak hanya kebutuhan ekonomi dan sosialnyalah yang terpenuhi, tetapi kebutuhan eksistensialnya. Ia bisa tidur dengan tenang, setelah menjawab pertanyaan, siapa saya?…

Hegel bisa dibilang terlalu romantis. Ia hidup pada masa, di mana orang bisa merasakan hasil kerjanya langsung. Artinya, setiap orang adalah pemilik modal yang bisa melihat bagaimana modalnya berkembang. Tidak ada yang menjadi buruh.

Seorang pelukis melukis, dan kemudian melihat hasil karyanya. Hasil karyanya dibeli oleh orang lain, dan uang hasil penjualan tersebut dipakainya untuk bertahan hidup.

Seorang petani bisa melihat bagaimana pertaniannya panen. Ia lalu menjual hasil panenannya. Uang hasil penjualan lalu digunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.

Jadi, setiap orang puas. Ia bekerja, melihat hasil kerjanya, dan menikmati hasil kerjanya tersebut. Akan tetapi, apakah keadaan sekarang masih seperti itu?

Kerja dan Keterasingan

Apa yang dikatakan oleh Hegel dibantah oleh Marx. Menurut Marx, di dalam masyarakat kapitalis, kerja bukanlah tanda aktualisasi diri, tetapi tanda keterasingan manusia.

Manusia menjadi terasing, karena ia tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri. Ia bekerja untuk orang lain. Ia bekerja keras, tetapi orang lainlah yang kaya. Orang lain itu adalah pemilik modal.

Orang jadi tidak mengenali dirinya sendiri, yang tercermin di dalam hasil kerjanya, karena hasil kerjanya langsung menjadi milik orang lain.

Saya bekerja di pertanian orang lain. Ketika panen, panen tersebut bukan milik saya, tetapi milik bos saya, yakni si pemilik pertanian yang tidak pernah bekerja sehari-harinya.

Saya tidak mengenali hasil kerja saya, karena hasil kerja saya langsung diambil oleh bos saya. Saya mendapatkan uang dari kerja saya, tetapi uang itu pun bukan hasil dari kerja saya langsung, melainkan gaji dari bos saya.

Kondisi semacam inilah yang menciptakan keterasingan bagi para pekerja. Mereka tidak mengenali diri mereka lagi, sama seperti mereka tidak lagi mengenali hasil kerja mereka. Kerja pun menjadi sumber ketidakbahagiaan dan kecemasan hidup.

Disini, kita menemukan dilema kerja: ketika bekerja orang merasa tidak bahagia, karena ia merasa terasing. Ketika ia menganggur, ia menjadi tidak bahagia, karena ia mengalami krisis eksistensial.

Jadinya, orang dihadapkan pada buah simalakama: maju nyebur ke lautan api, mundur jatuh ke jurang. Pilih mana?

Being-Having

Keadaan semakin mencekam, ketika di dalam masyarakat modern kapitalis sekarang ini, orang menyamakan begitu saja hakekat manusia dengan kepunyaannya. Dalam kosa kata filsuf Perancis Gabriel Marcell, being seseorang disamakan dengan having-nya.

Saya adalah apa yang saya punya, itulah pandangan yang dianut banyak orang sekarang ini. Jika saya punya rumah, mobil, dan tabungan, maka itulah saya: sang pemilik rumah, pemilik mobil, dan pemilik tabungan. Tidak kurang dan tidak lebih.

Cara berpikir semacam ini tidak hanya berada di level orang yang satu memandang orang lainnya, tetapi juga cara kita memandang diri kita sendiri. Kita merasa tidak berguna, ketika kita tidak punya rumah, mobil, dan tabungan. Tanpa rumah, mobil, dan tabungan, saya bukanlah manusia.

Cara berpikir semacam inilah yang merusak, yang juga membuat situasi para pengangguran menjadi lebih menyakitkan. Di satu sisi, ia kehilangan konsep tentang dirinya sendiri. Di sisi lain, ia merasa tidak berguna, karena hampir semua miliknya terancam hilang.

Jadi, pengangguran pada dirinya sendiri bukanlah sebuah masalah sosial, tetapi sebuah masalah eksistensial yang terkait erat dengan keberadaan (eksistensi) seseorang. Tidak heran, banyak orang bunuh diri, karena menjadi pengangguran.

Kecemasan Eksistensial

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kecemasan eksistensial? Apa bedanya dengan kecemasan-kecemasan lainnya, yang tidak eksistensial?

Jika anda khawatir anak anda belum pulang, padahal hari sudah malam, itu bukanlah kecemasan eksistensial. Ketika anda hendak bepergian dan cuaca mendung, dan anda takut akan kehujanan, itu juga bukanlah kecemasan eksistensial.

Kecemasan berbeda dengan ketakutan. Obyek dari ketakutan jelas: takut pada anjing, takut pada kegelapan, dan sebagainya. Sementara, obyek dari kecemasan itu abstrak. Orang cemas, karena ia takut pada apa yang akan terjadi di depan. Padahal, tidak ada orang yang bisa meramal masa depan.

Kecemasan eksistensial juga sama, yakni obyeknya abstrak, yakni tentang keberadaan manusia itu sendiri. Orang mengalami kecemasan eksistensial, jika ia mempertanyakan segala sesuatu yang ia yakini sebelumnya di dalam hidupnya secara radikal. Biasanya, momen kecemasan eksistensial terjadi, ketika kita sedang mengalami krisis.

Misalnya, anda tidak jadi menikah, karena calon istri anda selingkuh. Akibat peristiwa yang menyakitkan ini, anda jadi bertanya: apakah saya ditakdirkan untuk menikah? Apakah ada wanita yang bisa sungguh memahami saya?

Ketika anda di PHK secara tidak adil, anda akan bertanya? Bisakah saya hidup setelah ini? Apakah saya masih punya kesempatan untuk bekerja di tempat lain? Bagaimana dengan masa depan istri dan anak-anak saya?

Itulah kecemasan eksistensial. Kecemasan yang terkait erat dengan seluruh keberadaan manusia. Inilah kecemasan paling parah yang diderita oleh banyak orang pengangguran.

Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, pernah menulis, bahwa kecemasan eksistensial memiliki dampak positif. Dengan mengalami kecemasan eksistensial, orang menjadi terbuka terhadap realitas. Ia terbuka pada “Ada“.

Dengan mengalami kecemasan eksistensial, orang menjadi bercermin, dan melihat dirinya sendiri. Ia berhenti menjadi bagian dari masyarakat, dan menjadi otentik secara individual.

Tentu saja, tidak sembarang orang bisa melakukan ini. Banyak orang yang hancur secara emosional, ketika ia mengalami kecemasan eksistensial.

Dibutuhkan suatu pandangan yang jernih dan hati yang tegar untuk mencari sisi positif dari kecemasan eksistensial. Dan memang, tidak semua orang memiliki kemampuan seperti itu.

Belajar Hidup

Lalu bagaimana? Jika masalah utama dari orang pengangguran adalah masalah eksistensial, maka solusi utamanya juga harus berada di level eksistensial.

Tentu saja, kita harus memperjuangkan berdirinya sebuah sistem, yang sungguh menghargai martabat manusia, apapun status sosialnya di dalam masyarakat. Kita juga harus memperjuangkan berdirinya sebuah sistem, yang tidak begitu mudah merendahkan manusia di dalam pekerjaannya, seperti PHK misalnya.

Akan tetapi, itu semua masih jauh dari realitas di Indonesia. Bangsa kita belum bisa berpikir dan bertindak ke arah itu.

Richard Rorty, seorang filsuf Amerika, memberikan kita beberapa saran. Bagi dia, kehidupan manusia ditandai dengan satu hal, yakni kontingensi.

Artinya, kehidupan manusia itu tidak pernah pasti. Segala sesuatu berubah, dan perubahan itu tidak memiliki arah yang jelas.

Jika hakekat dari kehidupan adalah kontingensi, maka kita pun harus menyingkapi kehidupan ini dengan sikap yang kontingen pula. Jika hidup ini penuh dengan ketidakpastian, maka kita harus menyingkapinya juga dengan ketidakpastian.

Jika dipadatkan, argumen itu akan berbunyi seperti ini: belajarlah untuk hidup di dalam tegangan ketidakpastian, karena memang hakekat dari hidup ini adalah ketidakpastian! Belajarlah untuk selalu hidup di dalam suasana naik-turun, karena hidup ini memang naik-turun.

Dengan lincah bermain di antara ketidakpastian, kita akan menjadi terbuka pada realitas. Kita tidak lagi terikat pada apa yang kita punya, tetapi menjadi dinamis dan kontingen, sama seperti realitas itu sendiri.

Dengan menjadi terbuka pada ketidakpastian realitas, kita bisa melampaui paradoks pengangguran. Dengan terbuka pada realitas, siapa tahu, kita akhirnya bisa merasa bahagia.***

Bangsa Pengumbar Hasrat

Bangsa Pengumbar Hasrat

Reza A.A Wattimena

Di bilangan Pejaten Barat, Pasar Minggu, ada sebuah gedung yang tengah dibangun. Gedung itu besar, kelihatan mewah, dan proses pembangunannya tampak akan segera selesai.

Di sebelah gedung yang tengah dibangun tersebut, ada beberapa area kosong yang ukurannya kecil. Pohon-pohon hijau tumbuh disana, memberikan udara segar bagi orang sekitarnya.

Di sisi lainnya, ada gedung kantor Republika. Gedung tersebut tampak tua. Catnya sudah rusak. Rusaknya cat tersebut tidak membuat gedung itu kelihatan jelek, tetapi justru mengentalkan unsur historisnya.

Orang yang lewat daerah tersebut, baik yang menggunakan kendaraan ataupun pejalan kaki, pasti tertegun melihat gedung yang baru akan selesai dibangun tersebut, terutama jika gedung itu dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Tampak jelas, gedung tersebut mewah dan menonjol di tengah daerah yang kondisi arsitekturnya “biasa-biasa saja”.

Anda tentu sudah bisa menebak, akan dijadikan apakah gedung baru tersebut? Museum? Tidak mungkin. Sekolah? Bisa saja, tetapi tetap tampak terlalu mewah untuk sebuah gedung sekolah bergengsi sekalipun. Hmmm.. jawaban pasti sudah “menggantung” di mulut anda, mall? YA! Itulah jawabannya.

Pada titik ini, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita masih memerlukan mall? Bukankah sudah terlalu banyak Mall di Jakarta ini, sehingga kehadiran satu lagi mall justru hanya akan tampak sia-sia dan menjengkelkan buat kita semua? Apa yang terjadi disini?

Pertimbangan Strategis

Sudah bukan rahasia lagi, jika pemerintah tidak lagi memperhatikan kondisi lingkungan Jakarta sekarang ini. Tidak peduli suatu proyek ramah lingkungan atau tidak, dibutuhkan atau tidak, yang penting yang empunya proyek tersebut punya cukup modal untuk membangun, berani memberi suap tinggi, maka proyek itu pun pasti akan berlangsung. Mall di bilangan Pejaten itu adalah salah satu contohnya.

Coba kita lihat secara strategis. Pejaten dikelilingi oleh Pondok Indah, Cilandak, dan Depok. Di Pondok Indah, kita semua tahu bahwa di sana ada Pondok Indah Mall yang bergengsi itu. Di Cilandak, kita semua juga tahu ada Cilandak Town Square, yang dikenal sebagai tempat nongkrong-nya anak muda Jakarta Selatan. Di depok, ada Margo City dan Depok Town Square yang siap memuaskan kebutuhan akan hiburan orang-orang yang tinggal di sana. Lalu, buat apa lagi dibangun Mall di Pejaten? Apa logika di balik semua ini?

Wabah Konsumerisme

Saya punya lima alternatif jawaban atas pertanyaan itu. Pertama, bangsa ini adalah bangsa yang konsumeristik, yakni bangsa yang warganya ketagihan untuk memuaskan hasratnya untuk membeli barang-barang yang mungkin saja tidak mereka butuhkan.

Hasrat konsumeristik ini melampaui kemampuan finansial orang yang bersangkutan. Walaupun pendapatan kecil, tetapi yang penting adalah gaya hidup yang ditunjang dengan sikap konsumeristik tanpa batas. Jika tidak ada uang cash, kartu kredit menjadi pilihan alternatif.

Tidak heran, mentalitas yang mengumbar hasrat konsumeristik ini kemudian melahirkan mentalitas berhutang. Jadi, kita tidak hanya merupakan bangsa yang doyan mengumbar hasrat konsumeristik, tetapi juga bangsa yang doyan berhutang. Dua mentalitas ini adalah mangsa yang empuk bagi para serigala kapitalisme dan modal asing!

Perluasan Lapangan Kerja?

Ada alasan kedua bernuansa lebih positif, yakni bahwa keberadaan mall berarti pembukaan lapangan kerja baru. Pengangguran pun akan berkurang. Orang-orang miskin di daerah itu akan mendapatkan kesempatan untuk menyambung hidup mereka lagi.

Alasan tersebut memang terdengar indah. Akan tetapi, apakah sungguh seperti itu? Apakah motif didirikannya sebuah mall besar di bilangan kawasan yang cukup elit adalah untuk memperluas lapangan kerja? Jawabannya: Tidak.

Motif terdasar seseorang melakukan bisnis adalah meraup untung yang sebesar-besarnya. Jika nanti bisnis tersebut akan membantu kehidupan masyarakat setempat, itu alasan sekunder. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Bussiness must go on!

Sekarang ini, banyak perusahaan menggunakan sistem outsourcing. Di dalam sistem ini, pekerja tidak akan pernah mendapatkan status tetap beserta hak-hak yang berasal dari status itu. Pekerja akan terus menjadi pekerja kontrak.

Jika bekerjanya bagus, maka kontrak akan diperpanjang. Jika kinerjanya mulai menurun, atau dia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang statusnya sebagai pekerja, maka ia dengan mudah dilepaskan dari kontrak, dan dibiarkan menganggur. Toh, masih banyak pekerja lain yang mengantri kok.

Jadi, sistem outsourcing memandang buruh melulu sebagai modal, dan bukan sebagai manusia. Sistem semacam ini menyangkal kapasitas manusiawi dari buruh, dan memperlakukannya seolah sebagai barang yang bisa diganti atau dibuang, jika rusak.

Dengan kata lain, alasan membuka sebuah mall lagi di Jakarta dengan alasan memperluas lapangan kerja sesungguhnya adalah alasan yang sangat lemah. Alih-alih memberi dampak positif, kehadiran sebuah mall justru makin mempertegas status pekerja sebagai barang!

Bangsa Pengumbar Hasrat

Ketiga, bangsa ini adalah bangsa pengumbar hasrat, sehingga apapun akan dilakukan untuk memuaskan hasratnya mendapatkan hiburan, prestise, walaupun sesungguhnya sumber daya yang ada untuk memperolehnya tidak lagi memadai.

Nietzsche, seorang filsuf Jerman abad ke sembilan belas, pernah menulis, bahwa dorongan terdasar manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa inilah yang bergerak di balik semua ciri peradaban yang tampak luhur di depan mata kita.

Kehendak untuk berkuasa ini yang mendikte kita bagaimana harus bertindak. Dengan memberikan ruang yang besar untuk kehendak semacam ini, kita sebenarnya sudah kehilangan kebebasan kita sebagai manusia untuk menjadi subyek atas dirinya sendiri.

Jika hasrat mendominasi, maka rasio akan turun. Jika rasio turun, banyak keputusan akan dibuat di dalam suasana irasionalitas. Tepat inilah yang kiranya terjadi di Indonesia sekarang ini: mengumbar hasrat dan memelihara irasionalitas! Tak heran, jika bangsa ini semakin hari semakin saja tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang patut dijalankan dan mana yang harus ditabukan.

Apatisme Publik

Keempat, ketidakpedulian masyarakat terhadap semakin mendominasinya hasrat atas rasio di Indonesia justru semakin mempersubur irasionalitas yang terjadi. Hati nurani kita mulai kehilangan kepekaannya. Kita tidak lagi peduli, apakah yang terjadi di depan kita itu salah atau benar. Kita menjadi apatis.

Di dalam teori-teori tentang totalitarianisme dinyatakan dengan jelas, bahwa masyarakat massa adalah kondisi yang paling subur bagi terciptanya pemerintahan totaliter. Masyarakat massa disini adalah masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak lagi kritis terhadap kehidupan publik, melainkan terdiri dari para pengikut arus yang tunduk dan patuh.

Mereka tunduk dan patuh bukan karena bodoh, tetapi karena mereka tidak peduli. Ada paradoks disini: massa terdiri dari orang-orang yang teratomisasi satu sama lain, sekaligus kemudian bergabung dan memecah nyaris dalam sekejap mata. Yang terjadi disini bukanlah kebodohan publik, melainkan gejala ketidakmauan berpikir yang dialami secara kolektif. Ketidakmauan berpikir itulah benih dari apatisme publik.

Di dalam masyarakat yang apatis, kultur penggunaan akal secara publik (public use of reason) tidak lagi ditemukan. Yang dengan mudah ditemukan adalah perayaan hasrat: masyarakat menjadi masyarakat pengumbar hasrat, karena di mana akal meredup, di sana hasrat menjadi raja.

Solusinya apa? Dengan mudah saya menjawab: marilah kita mulai peduli terhadap kehidupan bersama kita! Marilah kita mulai peduli dengan hal-hal yang sungguh bermakna bagi masyarakat kita, dan bukan hanya bagi kita pribadi. Hanya dengan menembus selubung egoismelah kita bisa sungguh mendirikan masyarakat politis yang ideal.

Mall sebagai Candu

Kelima, ingatlah diktum Marx yang mengatakan, bahwa agama adalah candu. Agama adalah alat kekuasaan untuk meredam tendensi pemberontakan yang mungkin saja muncul, akibat ketidakadilan dan penindasan yang tengah terjadi.

Pola yang mirip bisa ditemukan disini. Masyarakat dibuai dengan rayuan barang-barang dan kenikmatan material, sehingga mereka lupa (sudah tidak peduli dan juga lupa..) untuk bergulat dengan persoalan-persoalan yang sungguh-sungguh bermakna tentang bangsa ini, seperti tentang ketidakadilan, solidaritas sosial, kemiskinan, dan pengangguran yang terus membesar jumlahnya.

Jika menurut Marx agama adalah candu, maka menurut saya, mall adalah candu bagi rakyat: tempat rakyat untuk melarikan diri dari realitas, dan masuk ke alam buaian kenikmatan semu yang ditawarkan kapitalisme dan antek-anteknya. Mall yang menjamur adalah tanda faktual bahwa kita mulai menjadi bangsa yang diperbudak oleh hasratnya sendiri. Kita menjadi bangsa pengumbar hasrat!

Gayung Bersambut

Salah satu hukum baja ekonomi menegaskan, bahwa suatu produk tidak akan pernah bisa bertahan, jika tidak ada pasar konsumen yang menunjang produk tersebut. Begitu pula sebuah mall tidak akan bertahan, jika tidak ada pasar konsumen yang menunjang eksistensi mall tersebut.

Jadi, kedua belah pihak bertemu bagaikan gayung bersambut: para pemodal yang haus mencari untung bertemu dengan para konsumen yang ingin dipuaskan hasrat konsumeristiknya. Mentalitas konsumeristik di masyarakat adalah kondisi-kondisi kemungkinan bagi terwujudnya hegemoni kapitalisme di dalam suatu masyarakat. Tanpa yang satu, yang lain tidak akan ada.

Jika dibahasakan secara sederhana: selama kita masih datang dan belanja secara eksesif di mall, semakin kuatlah cengkraman kapitalisme dalam bentuk mall di dalam ruang publik kita. Ruang untuk paru-paru kota semakin berkurang. Kemacetan mulai terjadi nyaris di setiap tempat. Trotoar untuk pejalan kaki semakin sedikit.

Kesenjangan sosial antara si minoritas kaya, yang sering datang dan belanja di mall, dan mayoritas yang miskin, yang sudah langsung terseleksi sebagai orang yang tidak mampu belanja di mall, akan semakin besar. Anarki pun akan siap datang. Tatanan hidup bernegara terancam! Hidup bersama menjadi semakin tidak mungkin.

Lalu Bagaimana?

Tentu saja, tidak ada solusi praktis untuk semua masalah di atas. Problem-problem sosial di Indonesia sudah begitu berakar di dalam kultur, sehingga selama kita masih hidup dengan cara berpikir yang sama, perubahan nyaris tidak mungkin dilakukan.

Apa yang saya sarankan hanyalah sebuah langkah kecil yang bersifat reflektif, namun jika banyak orang yang melakukannya, niscaya akan segera terjadi perubahan. Perubahan tersebut akan bergerak dari level individual, kelompok, masyarakat, dan kemudian ke level negara.

Pertama, kita harus menyadari hasrat yang mendorong semua tindakan kita. Nietzsche dan Schopenhauer sudah mengingatkan kepada kita, bahwa daya dorong purba di dalam diri kita bukanlah akal yang tercerahkan, tetapi kehendak yang nyaris buta dan anarkis.

Kita harus mengenali dulu hasrat kita. Jangan menolaknya, tetapi perlakukanlah hasrat tersebut sebagai bagian dari keutuhan kita sebagai manusia, karena tanpa hasrat, kita bukanlah manusia.

Akan tetapi, manusia tidaklah melulu didikte oleh hasratnya, ia masih punya kebebasan untuk memilih. Kebebasan inilah yang identik dengan kemampuan akal sehat kita untuk membuat keputusan.

Sudah sejak lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Plato mengajarkan kepada kita, bahwa manusia memiliki akal untuk berpikir, hati yang besar untuk bersikap berani, dan dorongan-dorongan nafsu seks dan nafsu makan untuk survivalnya. Di antara ketiga elemen itu hanya akalah yang mampu mengatur lalu lintas pembagian kekuasaan di antaranya.

Dengan kata lain, manusia memang memiliki banyak hasrat di dalam dirinya. Akan tetapi, akal di dalam dirinya mampu mengatur hasrat tersebut, supaya tetap dalam kondisi yang terkontrol. Hanya orang bodohlah yang membiarkan akalnya didikte oleh hasratnya. Jadi, kita perlu menggunakan akal kita, baik secara individual maupun secara kolektif, untuk menata hasrat kita, baik hasrat individual maupun hasrat kolektif.

Terakhir, kita perlu ingat apa yang diajarkan oleh para filsuf Idealisme Jerman pada abad pencerahan kepada kita, bahwa kesadaran diri adalah elemen terpenting di dalam diri manusia. Kesadaran diri itu terbentuk dalam kemampuan manusia berpikir tentang dirinya sendiri, melakukan refleksi, dan bertindak berdasarkan pertimbangannya sendiri.

Tanpa kesadaran diri yang kuat, kita bagaikan perahu yang hanyut di tengah laut tanpa tujuan. Dan persis itulah yang kita alami sekarang ini….

Mengakui Kegagalan

Mengakui Kegagalan


“Kita harus bersedia menerima kegagalan sebagai peluang untuk belajar,
berkembang, memperbaiki diri, membuat permulaan baru, dan bahkan
mengakhiri keterpurukan dan sikap menyerah kita.”
— Charles W. McCoy Jr., dalam bukunya ‘Why Didn’t I Think of That’

DIA sungguh seksi. Bening dan menggairahkan. Siapa pun yang melihatnya,
pasti ingin menjamahnya. Jangan salah, dia bukanlah seorang gadis. Dia
bernama Macintosh. Tak ada yang menyangkal dengan kecantikan dan
kecanggihan komputer keluaran dari Apple tersebut. Tapi, siapa dapat
menduga, perusahaan ini tumbuh dari sebuah kegagalan. Tidak saja dalam
menciptakan alat tersebut, tapi juga lika-liku laki-laki si pemiliknya,
Steve Jobs.

Sekarang marilah kita kembali ke tahun 1976. Dan tengoklah ke dalam
garasi milik keluarga Jobs. Di sana, dua anak muda yang kebetulan
sama-sama bernama Steve, yaitu Jobs dan Wozniak, tengah asyik
mengutak-atik komputer yang bernama Apple 1.

Singkat cerita, perusahaan ini berkembang seperti pohon rambutan di
musim panas. Cepat berbuah dan manis. Hasilnya, perusahaan ini tumbuh
pesat menjadi a big company. Jobs pun merasa tidak kuasa lagi
mengendalikannya. Pada 1983, dia merekrut John Sculley, dari perusahaan
Pepsi-Cola, untuk memimpin Apple Computer.

Sculey memang pemimpin jempolan. Dia sendiri kemudian menemukan
ketidakcocokan dengan Jobs, yang mudah emosi dan berubah pikiran. Dua
tahun kemudian, karena banyak ulah, dia pun memecat Jobs dari jabatannya
dan mengusirnya dari Apple.

Tragis nian. Orang yang mendirikan perusahaan ternyata harus hengkang
dari rumahnya sendiri. Sedih? So pasti. Tak hanya menyesal seumur-umur,
Jobs pun mengakui kegagalannya selama memimpin di Apple. Walau sudah
begitu, keinginan untuk kembali ke Apple ditolak oleh para petingginya.

Namun Jobs tak berlama-lama merenungi kegagalannya. Setelah keluar dari
Apple, ia mendirikan sebuah perusahaan komputer lagi, NeXT Computer,
yang juga tergolong maju dalam hal teknologi. Meski pun canggih, NeXT
tidak pernah menjadi terkenal, kecuali di lingkup riset sains.

Di tahun 1986, Jobs bersama Edwin Catmull mendirikan Pixar, sebuah
studio animasi komputer di Emeryville, California. Satu dekade kemudian,
Pixar berkembang menjadi terkenal dan berhasil dengan film terobosannya,
Toy Story. Sejak saat itu Pixar telah menelurkan film-film yang
memenangkan Academy Award, seperti Finding Nemo dan The Incredibles.
Perusahaan itu kemudian membeli NeXT seharga US$429 juta di tahun 1996.
Dan di tahun itu pula, Apple membawa Jobs kembali ke perusahaan yang ia
dirikan.

Kisah Jobs menjadi teramat manis. Dia merupakan sedikit orang yang gagal
dalam pendidikan. Dia tak pernah tamat kuliah, namun berhasil menjadi
satu CEO tersukses.

Itulah sekelumit cerita mengenai kegigihan Steve Jobs, pendiri Apple.
Ketika memberikan pidato di Stanford University, Juni 2005, Jobs
berterus terang soal kegagalannya di Apple, katanya, “Saya gagal
mengambil kesempatan.” Lebih lanjut, Jobs mengatakan, “Apa yang terjadi
di Apple sedikit pun tak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya
tetap cinta. Maka, saya memutuskan untuk mulai lagi dari nol.” Dari
cerita ini tergambar jelas, Jobs tak malu mengakui kegagalannya. Ia tak
mau menyerah begitu saja. Kemudian Jobs memperbaiki dan mengevaluasi
kegagalannya untuk kemudian meraih sukses di tahun-tahun berikutnya.

Bagaimana dengan kita? Tentunya kita sering kali mendapatkan kegagalan.
Dalam hal apa saja. Termasuk mungkin, gagal dalam cinta. Gagal dalam
berbisnis. Gagal dalam pekerjaan. Gagal dalam mendidik anak. Atau
bahkan, gagal dalam membina rumah tangga.

Sejatinya, kegagalan merupakan suatu hal yang manusiawi. Kegagalan
bukanlah sesuatu hal yang buruk. Jadi, mengapa harus malu. Masalahnya,
apakah kita berani untuk mengakui suatu kegagalan.

Mengakui kegagalan memang bukanlah perkara yang mudah. Orang yang dengan
tulus mengakui kegagalannya, sudah tentu memiliki jiwa besar. Karena
tidak mudah untuk mengakui suatu kegagalan, maka diperlukan tingkat
keberanian tersendiri dan kejujuran yang paling dalam.

Mengakui kegagalan juga membuka peluang alternatif terbukanya jalan
lain. Kita pun tak hanya terpaku pada satu jalan. Dan seperti yang
dialami Jobs, mengakui kegagalan juga memberikan pelajaran yang lebih
baik lagi untuk tidak mengulangi kesalahan pada hal yang sama.

Ketika kita mengakui kegagalan, niscaya kita akan melihat seluruh
perjalanan yang sudah kita lalui dengan jernih. Alhasil, langkah untuk
memperbaikinya dan mengubahnya menjadi lebih ringan dilakukan. Namun
tentu saja, hal itu harus dibarengi dengan langkah-langkah untuk membuat
perubahan. Setelah mengetahui letak kesalahannya, langkah selanjutnya
yang ditempuh ialah mengatur kembali rencana berikutnya.

Mengakui kegagalan, bukanlah ‘gagal, titik sampai disini’. Bukan titik,
melainkan koma. Mengakui kegagalan bukanlah suatu pemberhentian akhir,
melainkan suatu terminal transit menuju perjalanan berikutnya yang lebih
baik. (150908)

Sumber: Mengakui Kegagalan oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di
Jakarta

Kaca Spion (Catatan Andy Noya)


Kaca Spion (Catatan Andy Noya)
 
   Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan
   Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu
   hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .
   Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar
   perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun
   baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh
   dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat
   sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini
   gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama.
   Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
   Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal
   rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya
   gundah.
   Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu
   mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit
   saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari
   buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan
   buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua
   jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang
   saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat
   pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan,
   biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar
   pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu,
   inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500
   sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah
   puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.
   Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah
   TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian
   pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia . Setelah itu
   menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga
   menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
   Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado
   di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis,
   saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya
   utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan
   tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya
   berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup,
   punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin
   berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
   Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .
   Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas
   dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan
   tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain
   bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah
   mobil. Kaca spion mobil itu patah.
   Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10
   kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya.
   Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat
   tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya
   tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu
   oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami.
   Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan
   sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi
   adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian,
   saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang.
   Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya
   dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
   Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak
   bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca
   spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang
   senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang
   mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran,
   ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju
   memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak
   menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu.
   Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan
   saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
   Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.
   Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk
   mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu
   harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada
   habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk
   mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu
   jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya?
   Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya
   menumpang di sebuah garasi?
   Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat
   wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya
   benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil
   mahal. Saya benci orang kaya.
   Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban
   mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.
   Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang
   kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan
   ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam
   benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.
   Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada
   dendam yang terbalaskan.
   Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang
   kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil
   mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan.
   Mereka tidak punya hati nurani.
   Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa
   kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado
   itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang
   sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya
   utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak
   usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi
   nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai
   jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di
   pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya
   kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah
   meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri
   saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah
   bekerja keras."
   Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama
   sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua
   orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji
   yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut
   perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya
   setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa
   gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi
   sombong.
   Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak
   sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca
   spionnya saya tabrak.
   Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
   kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika
   mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang
   yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet,
   ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.
   Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak
   saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah
   seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya.
   Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena
   melihat mobil saya penyok.
   Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah
   pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah
   yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.
   Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali
   meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya,
   dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak
   menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat
   pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa
   yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih
   kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok
   berbanding beban yang harus mereka pikul.
   Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka.
   Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
   Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian.
   Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang
   lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Apatisme: Musuh Kehidupan Publik!

Apatisme: Musuh Kehidupan Publik!

Reza A.A Wattimena

Pagi itu, lalu lintas di Jakarta, seperti biasa, macet. Jalanan dipenuhi dengan kendaraan bermotor. Motor dan mobil lalu lalang, dan semuanya seolah terbirit-birit mengejar sesuap nasi yang bisa mereka peroleh dari tempat kerja mereka masing-masing. Yang lainnya tidak penting. Yang penting, saya kerja, dan dapat uang.

Sebuah mobil kijang melaju pesat menerobos lampu merah di bilangan Pancoran, Jakarta. Polisi sudah memberi tanda untuk segera menilang mobil itu. Tiba-tiba, dari belakang, sebuah bis berwarna merah menghujam mobil kijang tersebut di sisi belakang sebelah kiri. Mobil kijang tersebut berhenti, dan turunlah supir mobil itu.

Ternyata, dia adalah seorang polisi, yang notabene memiliki pangkat lebih tinggi dari polisi lalu lintas yang tengah menertibkan situasi. Polisi lalu lintas pun kebingungan, dan segera memarahi si supir bis yang menabrak mobil kijang polisi tersebut.

Siapakah yang salah? Apakah si mobil kijang pak polisi yang melanggar lampu merah, ataukah si supir bis yang menabrak mobil kijang tersebut?

Pertanyaan tersebut sebenarnya mudah untuk dijawab: ya dua-duanya! Akan tetapi, saya jamin, bahwa pak polisi yang melanggar lampu merah tersebut akan lolos dari hukuman. Sementara, si supir bis kota yang malang tersebut akan terkena denda dan makian dari kedua polisi yang ada di tempat kejadian.

Rasa keadilan di dalam diri saya langsung terluka, jika mengingat kejadian itu. Bukankah keduanya harus mendapatkan sanksi? Hanya dengan memberikan hukuman kepada keduanyalah keadilan baru bisa terwujud. Tapi itu tidak terjadi.

Apa yang sebenarnya terjadi disini?

Hukum Rimba dan Demokrasi

Sudah merupakan praktek umum, bahwa dia yang kuat pastilah akan menjadi pemenang. Mereka yang lemah akan diinjak-injak, dan tak berdaya menghadapi penindasan.

Mekanisme hukum rimba memang dengan mudah kita temukan di dalam perjalanan sejarah manusia. Teori evolusi Darwin beserta semua teori-teori di dunia ilmiah yang berbasiskan Darwinisme pun memiliki “bau rimba” semacam itu.

Teori-teori keadilan dan teori demokrasi di dalam ilmu-ilmu sosial tepat ingin meredam perluasan hukum rimba yang ada tersebut. Bentuk nyatanya adalah penciptaan sebuah masyarakat dengan basis demokrasi dan penghormatan terhadap Hak-hak Asasi Manusia. Dua konsep itu, yakni HAM dan demokrasi, bisa dibilang diciptakan untuk meredam gejolak hewani kekuasaan di dalam diri manusia.

Akan tetapi, walaupun bangsa ini mengakui dirinya sebagai bangsa yang demokratis dan menghormati HAM, mengapa kejadian kecil yang menggambarkan ketidakadilan seperti saya contohkan di atas masih juga terjadi?

Jawaban saya satu: karena orang-orang di sekitarnya yang menyaksikan kejadian itu tidak peduli. Mereka apatis, sibuk dengan urusan masing-masing, dan enggan ikut campur dengan ketidakadilan yang terjadi di depan mata mereka.

Apatisme sebagai Musuh Kehidupan Publik

Masyarakat Jakarta secara khusus, dan masyarakat Indonesia secara umum, sudah teratomisasi sedemikian rupa, sehingga mereka hanya sibuk dengan urusan-urusan privat mereka terkait dengan akumulasi kekayaan, maupun survival dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar belaka.

Hal ini memang tidak bisa disalahkan. Dengan kondisi perekonomian sekarang ini, keselamatan diri dan keluarga dekat memang dianggap sebagai prioritas utama.

Akan tetapi, apa akibat dari mentalitas dan cara berpikir privat semacam itu? Jawabannya sederhana: hal-hal yang terkait dengan kehidupan bersama dalam bentuk solidaritas dan keadilan pun terabaikan!

Solidaritas sosial dan keadilan tidak menjadi prioritas, dan bahkan tidak lagi terpikirkan sama sekali. Inilah apatisme yang perlahan-lahan akan menghancurkan kehidupan publik di Indonesia!

Ketidakpedulian ketika terjadi ketidakadilan di depan mata kita. Ketidakpedulian ketika orang lain menderita bukan karena kesalahannya, tetapi hanya karena dia lahir di kelas sosial yang tidak tepat. Yang terakhir ini disebut sebagai ketidakadilan struktural.

Kejahatan dan penderitaan sudah menjadi hal-hal biasa. Hal-hal negatif itu sudah menjadi makanan sehari-hari kita, sehingga kita tidak lagi mengenalinya sebagai sesuatu yang jahat dan nista.

Dalam bahasa filsuf perempuan Jerman, Hannah Arendt, kejahatan telah menjadi banal. Kejahatan tidak lagi dikenali sebagai kejahatan, tetapi hanya sebagai rutinitas kehidupan sehari-hari.

Banalitas kejahatan itulah yang membuat kita menjadi apatis dan tidak peduli. Banalitas kejahatan itulah yang membunuh kepekaan hati nurani kita terhadap ketidakadilan dan kejahatan, yang terjadi setiap detiknya di depan mata kita.

Tidak berhenti disitu, kejahatan dan ketidakadilan bukan hanya menjadi hal yang biasa, tetapi justru menjadi hal yang normatif, “yang seharusnya”. Melanggar lalu lintas bukan lagi hal biasa, tetapi menjadi sebuah “kewajiban” yang harus dilakukan. Jika kita tidak melanggar lalu lintas, kita akan menjadi korban dari struktur.

Inilah yang terjadi di Indonesia sekarang ini, yakni apatisme publik akibat banalitas kejahatan serta ketidakadilan yang tidak lagi bisa dikenali.

Kita semua tahu, demokrasi tidak akan berjalan tanpa partisipasi warga yang kritis. Apatisme publik adalah gejala, di mana warga negara menjadi tidak peduli pada hal-hal yang terkait dengan kehidupan bersama. Artinya, warga negara tidak lagi kritis dan partisipatif di dalam kehidupan bersama. Demokrasi pun tinggal slogan yang mengambang tanpa realitas.

Jika demokrasi dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia tidak lagi berjalan, maka kita harus mempersiapkan diri kita untuk hidup di dalam rimba-rimba yang berselubung gedung di Indonesia. Apakah kita siap? Dan, apakah kita mau seperti itu?

 

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Kutipan Bermakna dari Filsuf Soren Kierkegaard



THE TRUTH THAT IS TRUE FOR ME

What I really need is to be clear about what I am to do, not what I must know, except in the way knowledge must precede all action. It is a question of understanding my destiny, of seeing what the Deity really wants me to do; the thing is to find a truth which is truth for me, to find the idea for which I am willing to live and die. And what use would it be if I were to discover a so-called objective truth, or if I worked my way through the philosophers’ systems and were able to call them all to account on request, point out inconsistencies in every single circle? And what use here would it be to be able to work out a theory of the state, and put all the pieces from so many places into one whole, construct a world which, again, I myself did not inhabit but merely held up for others to see? What use would it be to be able to propound the meaning of Christianity, to explain many separate facts, if it had no deeper meaning for me and for my life? Certainly I won’t deny that I still accept an imperative of knowledge, and that one can also be influenced by it, but then it must be taken up alive in me, and this is what I now see as the main point … But to find that idea, or more properly to find myself, it is no use my plunging still further into the world … That’s what I lacked for leading a completely human life and not just a life of knowledge, to avoid basing my mind’s development on – yes, on something that people call objective – something which at any rate isn’t my own, and base it instead on some­thing which is bound up with the deepest roots of my existence, through which I am as it were grown into the divine and cling fast to it even though the whole world falls apart. This, you see, is what I need, and This is what I strive for ... It is this inward action of man, this God-side of man, that matters, not a mass or information …. Vainly have I sought an anchorage, not just in the depths of knowledge, but in the bot­tomless sea at pleasure … What did I find? Not my ‘I’, for that is what I was trying in that way to find … One must first learn to know oneself before knowing anything else (gnothi seauton) … In association with the ordinary run of men I have had but little to win or to lose … My companions have with few exceptions exerted no marked influence on me … So I am standing once more at the point where I must begin in another way. I shall now try to look calmly at myself and begin to act inwardly; for only in this way will I be able … to call myself ‘I’ in a profounder sense … So let the die be cast – I am crossing the Rubicon. This road no doubt leads me into battle, but I will not give up.

(Papers and Journals, Gilleleie, 1 August, 1835)