
Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)
Pendahuluan
Pertanyaan tentang homoseksualitas menyentuh preferensi personal dan aspek biologis, sekaligus membuka ruang bagi perbincangan etis yang lebih kompleks. Ketika seseorang bertanya, “Apakah homoseksualitas berada dalam ranah etika?,” ia mengundang refleksi tentang cara manusia memahami martabat, kebebasan, dan tanggung jawab dalam relasi sosialnya. Dalam kehidupan kontemporer yang sarat dengan tuntutan akan otonomi dan pengakuan, muncul dorongan kuat memposisikan orientasi seksual sebagai bagian dari identitas personal yang tak perlu dinilai secara etis. Namun, pendekatan ini sering kali luput membaca kenyataan bahwa manusia adalah makhluk moral, makhluk yang terus bertanya bukan hanya tentang “apa adanya,” tapi juga tentang “apa yang seharusnya.”
John Corvino, seorang filsuf moral dan pendukung hak-hak kaum homoseksual, secara gamblang menegaskan bahwa moralitas tidak dapat direduksi menjadi urusan privat. Ia menulis,
“Some people claim that morality is a “private matter’ and that, in any case, people’s rights shouldn’t hinge on others’ moral opinions. I think this view is badly mistaken. Morality is about how we treat one another, and thus it is quintessentially a matter for public concern. It’s about the ideals we hold up for ourselves and others. It’s about the kind of society we want to be: what we will embrace, what we will tolerate, and what we will forbid” (What Is Wrong with Homosexuality?, 2013: 6). Lanjutkan membaca Hospitalitas Etis dan Moralitas Homoseksualitas



















