Bunuh Diri, Sebuah Refleksi

tetsuya_ishida_2
pinktentacle.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah hidup ini layak dijalani, atau tidak? Bolehkah saya membunuh diri saya sendiri, ketika semuanya menjadi tak layak dijalani? Ini adalah pertanyaan terpenting di dalam hidup setiap orang. Para pemikir dan ilmuwan terbelah, ketika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Keadaan Manusia

Menurut data yang diperoleh dari WHO, organisasi kesehatan dunia, sekitar satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jumlah korban bunuh diri lebih tinggi dari jumlah korban perang ataupun konflik-konflik lainnya. Setiap 40 detik, ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia ini. Setiap 3 detik, ada orang yang mencoba melakukan bunuh diri. (Westerhoff, 2009) Lanjutkan membaca Bunuh Diri, Sebuah Refleksi

Buku Filsafat Terbaru: Demokrasi, Dasar Filosofis dan Tantangannya

IMG_4571Penulis: Reza A.A Wattimena

Penulis dan Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Timur. Doktor Filsafat Politik dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman dengan disertasi berjudul Zwischen kollektivem Gedächtnis, Anerkennung und Versöhnung. Penulis lepas di berbagai media.

Penerbit: Kanisius, 2016

Demokrasi adalah sistem politik yang mesti dibangun terus-menerus.Ia membutuhkan dua hal, yakni mentalitas dan sistem tertentu. Mentalitas, berarti cara berpikir dan cara hidup demokratis. Sistem, berarti keberadaan peraturan, hukum, dan birokrasi yang menunjang demokrasi itu sendiri.

Keduanya bisa dibangun, jika suatu masyarakat memiliki tradisi demokrasi yang kuat.Tradisi ini hanya mungkin ada, jika sistem pendidikan mengembangkan cara berpikir, cara hidup, dan kebiasaan yang menunjang demokrasi.Di atas tradisi semacam inilah, mentalitas dan sistem demokrasi bisa berdiri. Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Demokrasi, Dasar Filosofis dan Tantangannya

Rumah Bordil Sampai Istana Presiden

surrealism
blogspot.com

Tentang Fitnah

Oleh Reza A.A Wattimena

Fitnah adalah bagian dari seni politik kuno untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan cara-cara busuk. Ia seringkali mengambil bentuk pembunuhan karakter seseorang lewat penyebaran kebohongan secara bertubi-tubi. Fitnah digunakan untuk mengobarkan perang melawan kelompok lain yang tidak bersalah. Ia juga dipakai untuk menghancurkan citra seseorang di hadapan masyarakat, entah karena alasan pribadi, seperti dendam membara, atau persaingan yang tak sehat di dalam bisnis ataupun politik.

Fitnah dan Sejarah

Di dalam bukunya yang berjudul The Devil in the Holy Water, or the Art of Slander from Louis XIV to Napoleon (Iblis di dalam Air Suci, atau Seni Memfitnah dari Louis XIV sampai Napoleon), Robert Darnton, Dosen di Universitas Harvard AS, melihat, bagaimana fitnah mendorong revolusi berdarah di Prancis melawan keluarga kerajaan Louis pada akhir abad 18 lalu. Dalam arti ini, fitnah tidak bisa dipisahkan dari politik busuk lainnya, seperti penipuan, pengkhianatan, pemerasan, dan suap menyuap. Semuanya bergabung, dan membentuk politik busuk di Prancis setelah revolusi. Ironisnya, praktek tersebut tak berhenti, dan tetap menjadi bagian dari politik banyak negara dewasa ini. Lanjutkan membaca Rumah Bordil Sampai Istana Presiden

Agama untuk Orang Dewasa

A-funny-fantasy-and-surrealism-painting-by-James-Christensen-of-an-angel-following-a-flying-fish-through-a-forest-of-mushrooms
mayhemandmuse.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kehidupan beragama di Indonesia memang menarik. Di satu sisi, orang sibuk berbicara dan berdiskusi soal agama sertai nilai-nilai luhur yang ditawarkannya. Terlihat sekali, mereka ingin mendapatkan kesucian dan kemuliaan yang ditawarkan agama. Di sisi lain, korupsi, diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda, kolusi, nepotisme, penindasan kaum perempuan dan berbagai pelanggaran lainnya tetap berlangsung, bahkan dengan tingkat yang lebih dalam dan lebih tinggi. Jelas sekali, agama belum mampu mewarnai kehidupan moral masyarakat.

Agama untuk Anak Kecil

Sementara bangsa lain sudah berusaha mencari sumber energi alternatif, mengembangkan industri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta mencari kemungkinan adanya tempat tinggal di planet lain, bangsa kita masih diskusi soal boleh-tidak boleh, suci-tidak suci dan berbagai hal remeh lainnya. Sementara kita sibuk berbicara tentang hal-hal remeh, kehidupan ekonomi, politik dan budaya kita dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Akibatnya, kesenjangan sosial makin tinggi, dan kemiskinan tetap merajalela di Indonesia. Kita pun menjadi bangsa terbelakang yang (mengaku) religius. Lanjutkan membaca Agama untuk Orang Dewasa

Manusia, Serigala dan Ibu Kota

Wolf-Man_art
imagekind.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Penulis dan Doktor dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Sulit menemukan akal sehat, ketika kita terjebak macet total di tengah teriknya matahari ibu kota. Semua pengendara tenggelam dalam emosi dan nestapa, siap untuk menghajar siapapun yang memotong jalannya. Jalan sepanjang 3 km harus ditempuh dalam waktu satu jam, karena irasionalitas pembangunan kota yang tak punya visi. Orang bisa berubah kepribadiannya, setelah melalui pengalaman tersebut.

Kota, Uang dan Agama

Kelembutan diganti keberingasan. Motor dan mobil saling menghajar. Ketika tersenggol, makian dan bahkan pukulan sudah menanti di depan mata. Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, begitu kata diktum Latin klasik tentang keadaan alamiah (Naturzustand) manusia yang saling berperang satu sama lain. Lanjutkan membaca Manusia, Serigala dan Ibu Kota