Indonesia Perlu Evaluasi Diri

LiveJournal Tags: ,,

image

Indonesia Perlu

Evaluasi Diri

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Di awal tahun 2010 ini, ada baiknya kita sebagai bangsa mulai melakukan evaluasi diri, dan melihat peluang-peluang yang terbuka di masa depan. Di dalam proses evaluasi diri, kita bisa menyimpulkan beberapa hal yang dapat menjadi alasan untuk bersikap optimis menghadapi tahun 2010 dan dekade yang baru. Namun di sisi lain, kita bisa menyimpulkan beberapa hal yang kiranya membuat kita memiliki alasan untuk bersikap pesimis. Di tengah himpitan optimisme dan pesimisme, kita diminta untuk tetap setia bekerja dan berharap.

Alasan untuk Bersikap Optimis

Setidaknya ada lima alasan bagi kita untuk bersikap optimis sebagai bangsa. Yang pertama adalah fakta nyata, bahwa bangsa Indonesia masih ada dan tegas berdiri. Lepas dari begitu banyak tantangan yang dihadapi secara nasional ataupun global, bangsa Indonesia masih ada, masih memiliki rakyat, tata pemerintahan, dan pengakuan dari dunia internasional. Ini adalah fakta yang sungguh harus kita syukuri bersama.

Yang kedua lepas dari segala keterbatasan yang ada, bangsa Indonesia masih memberikan ruang besar bagi kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama. Dua hal ini merupakan pilar penyangga masyarakat demokratis yang pluralistik, seperti Indonesia.

Perdebatan seputar buku George Junus Aditjondro baru-baru ini, lepas dari segala kekurangannya, menunjukkan bahwa, bangsa kita sudah maju selangkah di dalam soal membangun opini di ruang publik. Dan juga lepas dari begitu banyak diskriminasi atas nama agama, kebebasan beragama sungguh terasa di seluruh Indonesia. Konflik dan kebencian atas nama agama semakin luntur diwarnai oleh dialog dan kebersamaan. Upaya-upaya positif membangun harmoni sosial ini perlu untuk dilanjutkan.

Yang ketiga lepas dari begitu banyak bencana alam dan krisis energi, bangsa kita masih mampu mencukupi kebutuhan energi dasarnya. Di beberapa daerah tidak adanya listrik dan air bersih memang masih menjadi masalah utama. Namun itu pun masih minoritas, jika dibandingkan dengan mayoritas tempat yang sudah tersentuh oleh listrik dan air bersih. Lepas dari segala kekurangan yang ada, kita patut mensyukuri ketersediaan energi dan air bersih ini. Usaha-usaha konkret untuk mengembangkannya, terutama di daerah-daerah terpencil, perlu dilakukan di masa depan.

Yang keempat, konflik sosial horisontal antar etnis, agama, ras, dan suku tidak lagi terjadi. Masyarakat sudah semakin sadar, bahwa konflik lebih banyak didalangi oleh provokator terselubung. Maka mereka tidak lagi gampang terpancing untuk melakukan tindakan agresif. Walaupun di beberapa tempat konflik sosial horisontal masih meletus, namun jumlah itu amat kecil dibandingkan keberhasilan kita sebagai bangsa melestarikan perdamaian. Ini adalah fakta yang patut kita banggakan dan syukuri bersama.

Yang kelima, beberapa peristiwa politis belakangan ini, seperti kasus KPK, Prita, dan Bank Century, menunjukkan bahwa bangsa kita semakin aktif berpartisipasi di dalam soal politis. Apatisme secara perlahan namun pasti mulai terkikis. Rasa keadilan masyarakat diguncang oleh peristiwa-peristiwa yang mengusik hati nurani. Perlu diacungi jempol peran media massa dalam menyampaikan dan mengolah pemberitaan, walaupun seringkali media massa bermain menjadi hakim di ruang publik –ini harus dicegah di masa depan.

Semua ini patut menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa. Pemerintahan SBY -yang memang memiliki banyak kekurangan- tetap mampu menjamin eksistensi bangsa Indonesia, baik di level nasional, regional, maupun internasional. Kita bisa tersenyum kecil melihat fakta ini, sambil tetap berupaya untuk menambal kekurangan-kekurangan yang ada. Setidaknya dengan lima fakta ini, kita bisa memulai tahun 2010 dengan wajah cerah.

Alasan untuk Pesimis

Wajah yang cerah belum tentu tanpa hambatan. Justru wajah yang cerah untuk menatap suatu momen mengandung makna, bahwa tantangan yang ada di depan mata begitu besar, namun –dengan segala keterbatasan yang ada- merasa mampu melampauinya. Ada beberapa tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sekarang dan di masa depan. Jika dipersepsi secara kurang tepat, tantangan itu bisa menciptakan pesimisme sosial.

Tantangan utama dan terbesar bangsa Indonesia adalah melenyapkan kemiskinan di berbagai bidang. Dalam hal ini kemiskinan terbesar bangsa Indonesia adalah kemiskinan cara berpikir, yang mewujud di dalam ketidakmampuan untuk mencari alternatif serta membuat terobosan secara kreatif. Buah dari kemiskinan cara berpikir ini adalah kemiskinan ekonomi, sosial, dan politik. Perilaku para elit politik adalah cerminan dari kemiskinan cara berpikir ini. Rendahnya tingkat kewirausahaan di berbagai bidang di Indonesia juga adalah wujud nyata dari miskinnya cara berpikir.

Yang kedua adalah kesenjangan sosial yang masih sangat besar. Jumlah orang miskin di Indonesia –dilihat dari pendapatan per hari- masihlah sangat besar. Namun di sisi lain, pameran mobil mewah selalu laku keras. Rumah-rumah di kawasan mewah sudah terbeli semua. Konglomerasi dan monopoli sumber daya di berbagai bidang menciptakan sekelompok orang kaya di tengah lautan orang miskin. Ini tentunya bisa menjadi potensi konflik yang sangat besar di masa depan.

Yang ketiga adalah tata hukum yang hampir tidak memiliki kepastian. Para penegak hukum seringkali terjebak dalam kasus korupsi, dan ini membawa kita pada tantangan keempat, yakni korupsi di berbagai bidang, terutama korupsi di kalangan para penegak hukum. Semua ini diperparah oleh lemahnya kepemimpinan politik pemerintah Indonesia. Pola komunikasi yang reaksioner, negatif, dan agresif dari presiden meracuni ruang publik kita. Maka tepatlah dikatakan bahwa Indonesia memiliki pemerintahan, tetapi tidak memiliki pemimpin.

Kelima hal ini adalah tantangan yang harus dihadapi dengan cara berpikir yang jernih dan tindakan yang tepat. Tanpa kejernihan berpikir dan tindakan yang tepat, tantangan ini akan menjadi masalah sosial yang besar. Dan sudah merupakan reaksi dasar manusia, bahwa di hadapan masalah besar, ia akan melarikan diri ke dalam kamar-kamar pribadinya, dan menjadi tidak peduli. Sikap inilah yang harus dicegah.

Masalah harus dihadapi sebagai tantangan, dan tantangan harus dipersepsi sebagai sesuatu yang mesti dilampaui, dan bukan dijauhi. Evaluasi diri adalah langkah awal untuk memetakan kekuatan dan kelemahan yang ada. Evaluasi diri dapat menjadi pendorong perubahan sosial ke arah yang lebih adil, jika diterjemahkan ke dalam kebijakan politik. Kualitas sebuah bangsa dilihat dari sejauh mana bangsa itu mampu melampaui pesimismenya, dan merengkuh masa depan yang penuh ketidakpastian dengan wajah yang cerah. Saya harap Indonesia bisa menujukkan kualitasnya sebagai bangsa besar di tahun dan dekade baru ini.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.