Perubahan Iklim, Pemanasan Global, dan Panik Moral

climate-change.jpg (505×331)

Perubahan Iklim dan Panik Moral

Reza A.A Wattimena

Wacana terkait dengan perubahan iklim (climate change) menimbulkan panik moral (moral panics) di seluruh dunia. Wacana tersebut berkembang menjadi pusat perhatian yang menyedot hampir seluruh pikiran dan tenaga para ahli dari berbagai bidang ilmu. Diskusi publik mengenai perubahan iklim diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Para pemimpin dunia berkumpul di Kopenhagen, Denmark untuk secara serius membicarakan berbagai upaya guna mencegah kerusakan lebih jauh yang diakibatkan oleh pemanasan global.

Namun panik moral tersebut tampak kurang terasa di Indonesia. Alih-alih menjadi bagian dari wacana publik, perdebatan seputar perubahan iklim dan pemanasan global hanya menjadi trend intelektual semata. Gaya hidup masyarakat serta kebijakan pemerintahan di level nasional sama sekali belum mencerminkan panik moral ataupun keprihatinan terhadap masalah tersebut.

Panik Moral

Menurut Kenneth Thompson konsep panik moral sebenarnya menandakan sesuatu yang positif, yakni masyarakat mulai terfokus pada problematika sosial yang sungguh penting untuk dihadapi. Pada takaran yang tepat, panik moral akan menghasilkan kesadaran yang tinggi untuk mencegah terjadinya krisis sosial lebih jauh. (Thompson, 1998)

Perubahan iklim dan pemanasan adalah suatu fakta yang harus dihadapi dengan kejernihan berpikir serta ketepatan bertindak. Cukup tepat jika problem ini layak menjadi bagian dari panik moral. Dengan itu problem terkait dengan perubahan iklim dan pemanasan global sungguh akan menjadi bagian dari keprihatinan umat manusia keseluruhan. Setidaknya ada empat ciri dari panik moral yang sehat, seperti yang telah dirumuskan Thompson.

Yang pertama adalah keberadaan suatu fenomena yang mengancam nilai-nilai kehidupan masyarakat. Perubahan iklim dan pemanasan global mengancam kehidupan manusia secara langsung. Potensi bencana dalam bentuk kelaparan, kekeringan, dan anomali alam lainnya, seperti badai dan tsunami, langsung menghantam eksistensi manusia secara utuh. Sudah selayaknya perubahan iklim dan pemanasan global menjadi bagian dari panik moral dan keprihatinan masyarakat di seluruh dunia, dan terutama di Indonesia.

Yang kedua, ancaman dari suatu fenomena yang sungguh dapat dikenali dan didefinisikan secara tepat oleh masyarakat, terutama media. Perubahan iklim dan pemanasan global dapat langsung dikenali gejalanya oleh masyarakat. Suhu bumi yang memanas, ditambah dengan semakin meluasnya padang gurun di beberapa bagian dunia, adalah akibat langsung dari masalah tersebut. Media massa dan LSM, baik nasional dan internasional, telah berulang kali menyuarakan keprihatinan mereka soal hal ini. Berbagai kajian ilmiah di berbagai bidang ilmu telah dilakukan untuk mempertegas pentingnya berbagai negara di seluruh dunia berhadapan langsung dengan problematik ini.

Yang ketiga, fenomena tersebut berhasil menggerakan sebagian besar masyarakat untuk segera bertindak. Di Indonesia wacana tentang korupsi dan keadilan publik sedang menjadi panik moral, namun belum wacana mengenai perubahan iklim dan pemanasan global. Ketiganya memang wacana yang sangat penting. Oleh karena itu ketiganya harus menjadi bagian dari keprihatinan moral masyarakat luas.

Yang keempat, panik moral akan bermuara pada terjadinya perubahan sosial. Para pembuat kebijakan dan tokoh publik akan menggerakan opini publik ke arah yang sama sekali baru. Dalam hal ini perubahan iklim dan pemanasan global harus sungguh menjadi fenomena yang mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia, dan bukan sebatas diskusi semata. Penghematan energi berbasis fosil di bidang industri dan transportasi, penanaman hutan kembali, dan pelestarian daerah hijau di kota-kota besar adalah wujud konkret dari perubahan gaya hidup tersebut.

Situasi Indonesia

Semua ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak negara maju, kecuali Amerika Serikat dan Cina. Di Eropa Barat dan negara-negara Skandinavia, masyarakat sudah menjadikan perubahan iklim dan pemanasan global sebagai panik moral (moral panics) masyarakat mereka. Namun masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal ini. Memang berbagai diskusi publik telah dilakukan. Namun perubahan gaya hidup masih belum kelihatan.

Pemborosan energi fosil terus dilakukan di berbagai industri. Konsep industri hijau (green industry) seringkali hanya menjadi bagian dari promosi semata, tanpa ada substansi di dalamnya. Mobil-mobil besar yang boros bahan bakar masih menjadi kebanggaan para orang kaya di Indonesia. Kantor dan sekolah belum memiliki kepekaan dalam soal penghematan penggunaan kertas.

Singkat kata, Indonesia belum menjadikan fenomena perubahan iklim dan pemanasan global sebagai bagian dari panik moral nasional. Sebagai negara tropis Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk membuat perbedaan, terutama dengan penanaman kembali hutan tropis dan penghijauan di kota-kota besar. Di tengah silau badai sidang korupsi dan pertarungan politik para elit yang berskala nasional, masyarakat luas perlu untuk secara perlahan namun pasti mengubah gaya hidup mereka dalam soal penggunaan energi. Bukankah sia-sia ketika korupsi berhasil kita musnahkan dari negeri ini, namun kita sudah tidak lagi memiliki tanah untuk diinjak dan air untuk diminum?***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s