Gempa Eksistensial


Gempa Eksistensial

Reza A.A Wattimena

Beberapa waktu yang lalu, gempa mengguncang kota-kota di Jawa Barat. Infrastruktur hancur. Korban nyawa pun terus bertambah. Banyak orang masih khawatir akan kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan skala lebih besar.

Gempa tersebut adalah sebuah musibah. Namun yang terserang gempa ternyata bukan hanya kota dengan infastrukturnya, tetapi juga gempa eksistensial, yakni gempa yang terkait dengan eksistensi manusia secara keseluruhan. Apa yang dimaksud dengan gempa eksistensial tersebut? Dan apa dampaknya bagi kehidupan bersama kita?

Gempa Eksistensi

Gempa adalah sebuah guncangan akibat aktivitas tektonik maupun vulkanik di lapisan bumi bawah. Gempa inilah yang mengguncang Jawa Barat dan sekitarnya beberapa waktu lalu. Sementara gempa eksistensial adalah runtuhnya keseharian manusia, akibat bencana ataupun perubahan mendadak yang terjadi di dalam aktivitasnya. Dalam situasi itu orang kehilangan pegangan dan tujuan hidup. Yang ada adalah rasa panik dan kekhawatiran ekstrem.

Setiap orang hidup di dalam dunia yang sudah mereka terima begitu saja, sehingga tidak lagi dipertanyakan. Mesin kendaraan yang beroperasi. Jalan raya yang sudah jadi. Gedung tempat kerja yang biasa mereka tempati, dan sebagainya.

Di dalam situasi normal, apa yang sudah mereka terima begitu saja menjadi bagian dari keseharian, atau rutinitas hidup. Semua berjalan biasa sampai suatu saat, gempa terjadi dan mengguncang tempat kerja ataupun rumah mereka. Dalam situasi gempa segala kehormatan, harga diri, kecerdasan, dan kekayaan seolah menjadi lenyap, dan digantikan semata oleh insting untuk menyelamatkan diri. Dalam situasi ekstrem itu, status dan kehormatan yang menjadi nomor dua. Tidak ada beda antara atasan dan bawahan. Semuanya adalah manusia yang berusaha menyelamatkan diri.

Situasi panik itu adalah gempa eksistensial, yakni gempa yang tidak hanya menghancurkan ataupun menggoyang fasilitas fisik yang digunakan, tetapi juga gempa yang menggoyang keseharian seseorang. Di dalam keseharian itu tercakup cara pandang, nilai-nilai, keyakinan hidup, tujuan hidup, status, harga diri, dan sebagainya. Dengan kata lain gempa menggoyang sekaligus dunia fisik dan dunia mental manusia. Di dalam gempa eksistensial, yang hancur bukanlah gedung, melainkan kedirian (self).

Hancurnya rumah milik satu keluarga tertentu tidak hanya menghancurkan tempat tinggal fisiknya, tetapi juga mental orang yang sebelumnya tinggal disana. Hancurnya tempat kerja tidak hanya merusak lingkungan fisik semata, tetapi juga mental dan eksistensi orang-orang yang bekerja di dalamnya. Dengan demikian gempa itu sifatnya selalu multidimensional, karena ia tidak hanya menggoyang bangunan fisik, tetapi juga menggoyang eksistensi kita sebagai manusia. Dimensi multidimensional itulah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama, ketika berusaha memberi makna pada musibah yang terjadi.

Momen Refleksi

Gempa adalah sebuah peristiwa. Di dalam peristiwa selalu terkandung makna, sebagaimana kita mampu dan mau untuk memaknainya. Di dalam peristiwa gempa yang menimpa Jawa Barat beberapa waktu lalu, terselip sebuah kesempatan untuk berpikir ulang tentang apa artinya kita menjadi manusia. Di dalam gempa fisik terdapat gempa eksistensial, dan di dalam gempa eksistensial terselip sebuah kesempatan untuk bereksistensi dengan cara baru.

Cara baru apa yang bagaimana? Sebuah cara hidup yang didasarkan pada kesadaran diri utuh, bahwa manusia adalah mahluk yang lemah dan rapuh di hadapan apa yang tidak diketahuinya. Di hadapan gempa yang penuh dengan unsur misteri, semua bentuk gelar sosial, seperti presiden, bupati, menteri, gubernur, professor, doktor, dokter, manajer, direktur, dan semuanya menjadi tidak berarti. Manusia menjadi mahluk yang telanjang di dalam eksistensinya. Ia seolah turun menjadi binatang dengan satu tujuan hidup, yakni untuk mempertahankan diri.

Di hadapan yang tidak diketahuinya (the unknown), manusia menjadi gentar sekaligus kagum. Di dalam dilema eksistensial antara kagum dan gentar tersebut, ada baiknya kita hening dari keseharian, dan mengingat kembali akar eksistensi kita sebagai manusia, bahwa pada akhirnya kita semua adalah mahluk yang tidak berarti di hadapan alam semesta yang tak terhingga keluasannya. Di dalam ketidakberartian itu, kesadaran diri sebagai mahluk fana yang rapuh dan lemah mencuat tajam. Pada akhirnya kita hanyalah satu titik di tengah ratusan milyar titik lainnya di alam semesta ini. Pada akhirnya tujuan hidup manusia hanya satu, yakni mempersiapkan kematian yang bermartabat.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s