Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik
Inilah kisah tegangan dua saudara kembar di dalam sistem politik dunia. Di satu sisi, kita melihat adanya demokrasi. Sistem politik ini menjadi dominan secara global pada abad ke-20 dan ke-21. Di sisi lain, kita melihat bangkitnya populisme pada awal abad ke-21 yang mengancam dasar-dasar demokrasi.
Demokrasi dan populisme sama-sama berpijak pada rakyat. Kata demos, dalam bahasa Yunani kuno, berarti ’rakyat’. Begitu pula kata populus yang diambil dari bahasa Latin. Dalam perkembangan sejarah, dua saudara kembar ini mengambil dua jalur yang berbeda.
Demokrasi berkembang menjadi sistem perwakilan rakyat dan institusi-institusi modern yang kompleks. Negara-negara dengan demokrasi yang sudah mapan masih terus menggunakan model ini. Namun, model ini mengalami pengeroposan dari dalam karena rakyat merasa kepentingannya tak terwakili di dalam politik. Dari kekecewaan rakyat inilah lahir gerakan populisme besar pada awal abad ke-21 yang menginginkan rakyat membuat keputusan-keputusan politik secara langsung, tanpa perwakilan.
Baca selanjutnya klik: Kompas


Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Syarif Maulana, Filsuf, Pengusaha Kuliner
Oleh Reza A.A Wattimena
Syarif Maulana, Filsuf, Pengusaha Kuliner
Oleh Reza A.A Wattimena
Saudara dan Saudari, jika berminat mengikuti serial webinar PHILOSOPHY OF HUMAN RIGHTS #13 (MANUSIA ITU TIDAK ADA) bersama Dr. Reza A. A. Wattimena (Pendiri Rumah Filsafat) pada Senin, 9 September 2024 pukul 19.00-21.00 WIB, silahkan bergabung melalui ID dan PS Zoom di bawah ini:
Oleh Reza A.A Wattimena
USAHA MENELURUSI JEJAK RELIGIUSITAS AL-FAYYADL DALAM DERRIDEAN
Oleh Reza A.A Wattimena