Defisit Rasa

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Pengalaman manusia adalah sesuatu yang amat kaya. Ketika kita melihat sebuah gunung, berbagai unsur dalam diri kita bekerja, dan menghasilkan pengalaman yang amat kaya atas gunung tersebut. Gunung tidak dilihat semata sebagai tumpukan tanah dan batuan, tetapi juga sebagai inspirasi yang membuat kita merasa kagum, tenang, dan damai.

Ketika kita mengalami sesuatu, ada tiga unsur yang secara otomatis dan simultan bergerak dalam diri kita, yakni pikiran, perasaan, dan merangsang tanggapan kita atas sesuatu itu dalam bentuk perilaku. Kekayaan dan kerumitan realitas ditangkap langsung oleh panca indera, akal budi, dan rasa yang sudah selalu ada dalam diri kita. Dari proses campuran ketiga unsur kita, kita menanggapi realitas yang ada.

Namun, di Indonesia, sistem pendidikan yang ada memangkas kemampuan kita untuk menangkap dan menghayati kekayaan realitas yang ada. Pedagogi dan metode pembelajaran yang memusatkan pada kemampuan akal budi sebagian, yakni kemampuan untuk menghafal, tetapi tidak untuk berpikir kritis, pada akhirnya melibas kemampuan untuk merasa.

Akhirnya, realitas yang dipahami manusia pun hanya sebagian, yakni realitas rasional yang sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kekayaan dan kerumitan dunia itu sendiri. Yang hilang dari Indonesia bukanlah kecerdasan, melainkan kemampuan untuk merasa. Ketika rasa hilang dari kehidupan manusia, yang tersisa adalah kekejaman, kekumuhan, dan kedangkalan hidup. Lanjutkan membaca Defisit Rasa

Belajar Bahasa itu sama Seperti Memimpin. Kok Bisa?

classk12.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Grüße dich. Mein Name ist Reza Alexander Antonius Wattimena. Ich wohne in Keputih, Surabaya, Indonesien. Ich komme aus Duren Sawit, Jakarta, Indonesien. Ich bin Philosophie Lehrer / Professor. Ich bin achtundzwanzig Jahre alt. Ich liebe Lesebuch, lehre, Musik hören, folgende Diskussion, und Basketball spielen. Ich möchte weiterhin dem Studium der Philosophie in Deutschland. Sie verstehen mich? Ich hoffe so (Banyak salah grammatiknya, biarin aja, masih belajar soalnya)

            Sudah seminggu ini, saya belajar bahasa Jerman. Setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 7.30 sampai jam 12.00 siang, saya berkutat dengan kata-kata asing, dan aturan-aturan bahasa yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Memusingkan, tetapi juga menyenangkan. Apakah anda juga pernah belajar bahasa baru sebelumnya? Bagaimana perasaan anda? Lanjutkan membaca Belajar Bahasa itu sama Seperti Memimpin. Kok Bisa?