Tujuh Penyakit Bangsa

heart_disease

Tujuh Penyakit Bangsa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Bangsa Indonesia sedang sakit. Itu tidak dapat diragukan. Beragam krisis menghantam tanpa ada upaya untuk melawan. Kita terjebak di dalam lingkaran setan.

Saya melihat setidaknya ada tujuh penyakit bangsa. Semua dimulai dari tiadanya kepastian hukum. Penyakit ini begitu sistemik dan mengakar. Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui keberadaan penyakit-penyakit ini.

Hukum yang Korup

Penyakit pertama adalah sistem hukum yang korup. Menurut Habermas seorang filsuf Jerman kontemporer, hukum adalah penyangga masyarakat majemuk. Di dalam masyarakat yang memiliki beragam kriteria nilai hidup, hukum menjadi sabuk yang menyatukan semuanya, sehingga tidak terjadi perpecahan. Syaratnya adalah hukum itu merupakan hasil dari kesepakatan bebas dari pihak-pihak yang nantinya terkena dampak dari hukum itu, baik langsung ataupun tidak.

Di Indonesia sistem hukum jelas kacau. Perangkat hukumnya bias dan diskriminatif dalam beberapa aspek. Aparat penegak hukumnya pun amatlah bermasalah. Begitu mudah suap dilakukan untuk mempermulus proses hukum pihak-pihak yang berkuasa. Rakyat yang tidak berpunya pun sulit untuk mendapatkan keadilan.

Inilah penyakit utama bangsa kita. Sistem hukum yang seharusnya menjadi pengikat di dalam masyarakat majemuk justru korup dan merusak semuanya. Orang hidup dalam ketidakpastian. Keadilan hanya cita-cita yang tak kunjung datang.

Maka reformasi hukum adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Pranata hukum harus dibuat sebebas mungkin dari bias dan kepentingan-kepentingan partikular yang tidak adil. Aparat penegak hukum juga perlu dilakukan seleksi ulang. Kriteria utama bukanlah kedekatan pribadi, melainkan kompetensi untuk menjamin penerapan hukum yang sedekat mungkin dengan ide keadilan.

Lanjutkan membaca Tujuh Penyakit Bangsa

Parapsikologi dan Paranormal

maramis

Parapsikologi dan Paranormal

Oleh: Muliady Tanu Djaja

Prof. W.F. Maramis, Sp KJ pada Sabtu, 26 Februari 2011, mulai pukul 10 pagi kembali tampil sebagai nara sumber dalam diskusi terbuka bioetika bulanan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Kali ini diskusi yang berlangsung di ruang kelas D-101, kampus Dinoyo ini mengusung tema “Parapsikologi dan Paranormal”.

Pada bagian awal Prof. Maramis, yang berprofesi sebagai dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) dan berpengalaman sebagai dekan Fakultas Psikologi di Universitas Airlangga dan di UKWMS, menjelaskan perbedaan arti paranormal dan parapsikologi. Kemudian dikemukakan beberapa teori yang disertai dengan contoh-contoh mengenai kenyataan paranormal dan parapsikologi di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini menjadikan para peserta diskusi yang terdiri dari para dosen, karyawan dan mahasiswa menjadi semakin jelas dan bertambah pengetahuannya.

Fenomena paranormal secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yakni gejala parapsikik dan gejala parafisik. Yang tergolong gejala parapsikik adalah “guna-guna”, telepati, dan komunikasi dengan para arwah. Sedangkan yang termasuk fenomena paranormal bergejala parafisik, yakni levitasi, kebal luka, santet, dan kesurupan. Dari hasil penelitian parapsikologi seperti yang dilakukan oleh Dr. J.B. Rhine di Amerika Serikat, diantaranya dengan memakai kartu Zener, diketahui bahwa kesadaran atau masa kini tiap manusia tidak sama. Rata-rata manusia yang tergolong normal kesadaran masa kininya antara 0,8 detik sampai dengan dua detik. Namun demikian ada perkecualian untuk orang-orang tertentu yang tergolong ESP. Bagi mereka kesadaran atas masa kininya bisa berpuluh menit, bahkan mungkin lebih dari itu.

Diskusi terbuka menjadi semakin menarik, sehingga perlu dilakukan tambahan waktu setengah jam, hingga berakhir pukul setengah satu siang, ketika ditampilkan beberapa gambar, antara lain: foto X-ray korban santet, pertunjukan ilmu kebal luka di pelbagai daerah, pertandingan levitasi di Amerika Serikat, dan patung bunda Maria yang mengeluarkan air mata darah manusia bergolongan darah AB yang pernah menghebohkan warga kota Surabaya sekitar dua puluh tahun yang lalu. (Mul)

Facebook: Pencetus Gerakan Massa atau Pencipta Anarki?

Image0720

Facebook: Pencetus Gerakan Massa

atau Pencipta Anarki?

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

 

Fakultas Filsafat kembali membuka ruang diskusi pada 25 Februari 2011 pk. 08.50-10.30 di kampus UNIKA Widya Mandala Dinoyo. Kali ini temanya adalah tentang pro kontra keberadaan facebook dalam kaitannya dengan gerakan massa. Pertanyaannya sederhana apakah facebook dapat membawa dampak positif dengan menggalang gerakan massa menuju perubahan yang lebih baik, atau facebook justru mendorong terciptanya anarki yang mengacaukan keadaan?

Peserta diskusi adalah mahasiswa Fakultas Filsafat, beberapa dosen, baik dari Fakultas Filsafat UKWMS ataupun Universitas Airlangga, dan mahasiswa dari Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya. Diskusi berjalan hangat. Ada tiga butir kesimpulan yang kiranya bisa ditarik dari diskusi ini. Yang pertama facebook pada hakekatnya adalah alat. Tujuan dan arahnya ditentukan sepenuhnya oleh penggunanya, yakni manusia. Manusia hidup dengan facebook, namun selalu memiliki dorongan ataupun kemampuan untuk melampaui, termasuk melampaui facebook itu sendiri.

Yang kedua namun facebook tidak pernah sungguh netral. Sejak awalnya berdirinya facebook telah membawa kepentingan dari ideologi tertentu. Ideologi itu adalah kapitalisme yang selalu membawa kepentingan untuk memperbesar modal. Dengan cara itu facebook menciptakan kebutuhan palsu untuk manusia, yakni kebutuhan yang tampaknya ada, tetapi tidak sungguh-sungguh benar dibutuhkan.

Yang ketiga perilaku orang Indonesia yang gemar facebook-an ternyata juga dipengaruhi fakta historis bangsa ini yang hidup dalam penjajahan dan tekanan rezim Orde Baru. Mental bangsa inferior membuat bangsa ini latah, dan mudah sekali terpikat segala sesuatu buatan Eropa ataupun Amerika. Argumen ini kontroversial dan tentu saja masih perlu penelitian lebih jauh untuk membuktikannya.

Diskusi Cogito fakultas Filsafat bertujuan untuk membantu para penulis buletin Cogito setiap bulannya untuk merumuskan pemikiran mereka. Pada bulan April 2011, penulisnya adalah Kristo yang akan menanggapi secara kritis fenomena facebook dan gerakan massa, serta Aris yang lebih melihat sisi positif facebook dalam kaitannya dengan gerakan massa. Nantikan terbitnya buletin Cogito tersebut, dan sampai jumpa di diskusi berikutnya yang akan dilaksanakan bulan depan.***

Menyingkap Fenomena Perbudakan Modern

 

1099 

Menyingkap Fenomena

Perbudakan Modern

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Apakah demokrasi hanya bisa berdiri dengan adanya perbudakan? Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Aristoteles, salah seorang filsuf Yunani Kuno terbesar, mungkin akan menjawab ya. Prinsip kesetaraan hanya berlaku bagi warga negara. Selain mereka yang ada hanya budak yang tidak bermakna, dan tidak bisa disebut manusia.

Kita hidup di era demokrasi. Banyak negara di dunia beranggapan, inilah sistem politik yang paling ideal. Revolusi politik dilancarkan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat demokratis yang sejahtera. Namun tanpa perbudakan bisakah demokrasi sungguh tercipta?

Hirarki Alami

Alam semesta tersusun atas elemen-elemen yang tidak setara. Yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya. Begitu pula dunia manusia. Beberapa manusia lebih luhur daripada yang lainnya.

Konsep perbudakan berdiri di atas pengandaian, bahwa ada tingkatan manusia. Kelompok manusia tertentu dianggap lebih unggul daripada kelompok manusia lainnya. Maka kelompok yang lebih kuat punya hak untuk menindas kelompok yang lebih tak berdaya. Perbudakan tidak hanya menjadi biasa, tetapi menjadi keharusan alamiah.

Lanjutkan membaca Menyingkap Fenomena Perbudakan Modern

Undangan Diskusi Cogito: Facebook, Pencipta Gerakan Massa atau Pendorong Anarki?

 

diskusi facebook1

Undangan Diskusi Terbuka Bioetika: Parapsikologi dan Paranormal

 

Diskusi bioetika 2

Terperangkap di dalam Ruang-ruang Pornografi, Membedah “Tritunggal” Pornografi: Tubuh, Pikiran, dan Kebiasaan.

noodlechair
Google Images

Membedah “Tritunggal” Pornografi:

Tubuh, Pikiran, dan Kebiasaan.

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Akan dipresentasikan di dalam Diskusi Terbuka Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya, Tubuh dan Pornografi, 2 April 2011. (Kepastian Tanggal masih dalam konfirmasi panitia)

Andi di rumah sendirian. Orang tuanya pergi. Pembantunya pulang kampung. Ia mulai melirik laci video koleksi orang tuanya. Hmm…

Ada beberapa koleksi film. Namun yang menariknya adalah tumpukan DVD dengan lambang kelinci putih di bungkusnya. Ia sudah tahu itu adalah video porno. Ia melihat kiri-kanan, ternyata tidak ada orang.

Mulailah ia menyetel video tersebut. Pikirannya melayang melampaui batas-batas kenyataan. Ah ternyata banyak hal yang belum dicobanya. Ia pun bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang sesungguhnya terjadi?

Sejak hari itu Andi penasaran. Ia ingin mencari lagi video itu, dan memutarnya, ketika orang tuanya tidak ada di rumah. Ia tahu ini tindakan salah, namun ia terus melakukannya. Ia terperangkap di dalam ruang-ruang pornografi.

Fenomena

Pornografi adalah gejala umum di masyarakat kita. Banyak yang suka mulai dari yang muda, remaja, bahkan yang tua. Ini gejala yang cukup universal di dunia. Kita diminta untuk menanggapinya secara bijaksana.

Di dalam tulisan ini, saya ingin mengajukan dua argumen. Yang pertama adalah pornografi bisa ada dan menyebar, karena kita salah berpikir tentang makna tubuh. Yang kedua walaupun kita sudah memahami argumen pertama, bahwa pornografi lahir dari kesalahan berpikir tentang tubuh, namun kita tetap tidak bisa melepaskan kecenderungan melihat pornografi, karena itu sudah menjadi kebiasaan. Maka yang diperlukan adalah kemampuan untuk memaknai kebiasaan.

Tubuh Fisik

Tubuh manusia itu adalah sesuatu yang amat rumit. Ia memiliki fungsi biologis yang kompleks, mulai dari sistem pernafasan, syaraf, sistem pencernaan, dan sebagainya. Dengan tubuhnya manusia bisa hidup dan mengembangkan dirinya. Dengan tubuhnya manusia bisa mencapai aktualisasi diri sepenuhnya, dan merasa bahagia.

Di dalam hidup sehari-hari, kita melihat orang tidak mampu merawat tubuhnya. Mereka tenggelam dalam pencarian kenikmatan yang merusak tubuh. Dengan pola hidup seperti itu, mereka juga menujukkan kesalahan berpikir tentang tubuh. Mereka menganggap tubuh sekedar alat untuk mencapai pemuasaan diri belaka, yang pada akhirnya justru menghancurkan satu-satunya tubuh yang mereka punya.

Maka amatlah penting bagi kita untuk merawat tubuh. Caranya adalah dengan menjaga kesehatan, seperti tidak merokok, makan makanan dengan gizi seimbang, tidak terlalu lelah dalam bekerja/belajar, dan berolahraga secukupnya. Tanpa tubuh yang sehat, maka kita tidak akan bisa mengembangkan diri seutuhnya. Kita pun tidak akan pernah merasa bahagia.

Tubuh Metafisik

Namun tubuh manusia bukanlah fisik semata. Tubuh manusia memiliki dimensi yang lebih tinggi, yakni dimensi metafisik. Dimensi ini tidak terlihat mata, namun mempengaruhi perilaku manusia. Dimensi inilah yang kerap terlupakan, ketika orang berbicara soal manusia dan hidupnya.

Di dalam filsafat manusia, dimensi metafisik ini dibahas secara mendalam. Ada beberapa yang disebutkan. Yang pertama adalah tubuh sebagai alat manusia untuk mendunia. Artinya tubuh merupakan alat bagi manusia untuk menyentuh dan terhubung dengan dunia.

Dengan tubuhnya manusia mencipta. Dengan tubuhnya manusia terlibat dengan manusia lainnya. Dengan tubuhnya manusia terlibat di dalam penciptaan ulang semesta. Manusia mendunia dengan tubuhnya. Di dalam proses itu, ia menjadi dirinya yang seutuhnya.

Tubuh dan Kebebasan

Yang kedua adalah tubuh sebagai simbol kebebasan. Tubuh hewan sudah jadi, semenjak mereka lahir. Fungsi-fungsi organ tubuhnya sudah jelas dengan sendirinya. Hal ini tidak terjadi pada manusia.

Sejak awal tubuh manusia selalu bersifat umum. Tubuh manusia bisa dibentuk seturut pilihan yang memilikinya. Jika mau jadi artis, orang bisa memperindah tubuhnya. Jika ingin menjadi atlit, orang juga bisa melatih tubuhnya. Tubuh adalah simbol dari kebebasan manusia.

Yang ketiga adalah tubuh manusia sebagai simbol hak milik. Artinya orang memiliki dengan tubuhnya. Ia memiliki baju, rumah, buku, dan semua itu bisa bermakna, karena ia memiliki tubuh. Tubuh adalah simbol dari otoritas manusia atas diri dan dunianya.

Yang keempat adalah tubuh sebagai simbol dari kemampuan manusia untuk mencapai kesucian. Setiap orang ingin merasa dekat dengan Tuhannya. Untuk itu ia beriman dan berdoa seturut imannya. Selain itu orang juga melakukan mati raga untuk mencapai kesucian dan ketenangan jiwa.

Tubuh adalah alat manusia untuk mencapai kesucian. Tidak hanya itu tubuh merupakan simbol dari kemampuan manusia untuk sungguh mencapai keabadian jiwa. Dengan menata dorongan-dorongan tubuhnya, manusia menjadi mahluk yang luhur. Ia menampakan martabatnya yang jauh lebih tinggi dari hewan ataupun tumbuhan.

Jadi tubuh tidak hanya memiliki dimensi fisik, tetapi juga dimensi metafisik. Tubuh manusia merupakan simbol bagi keterhubungan manusia dengan dunia, kebebasannya, otoritasnya untuk memiliki, dan kemampuan untuk sampai pada kesucian. Orang bisa terjebak ke dalam ruang pornografi, karena ia tidak memahami beragam dimensi tubuh ini. Dapat pula dikatakan bahwa pornografi adalah tanda kesalahan berpikir tentang tubuh manusia.

Namun begitu mengapa banyak orang, dan mungkin juga kita, begitu sulit melepasnya?

Di dalam tulisan ini, seperti sudah saya tulis sebelumnya, saya ingin mengajukan argumen, bahwa pornografi sulit lenyap, karena kekuatan kebiasaan dari orang-orang yang terpikat dengannya. Maka masalahnya bukan hanya mengubah cara berpikir orang tentang tubuh, yang memang merupakan obyek utama pornografi, tetapi memaknai kebiasaan. Bagaimana caranya? Mari kita simak analisis berikutnya.

Pornografi

Saya ingin kita sepakat dulu soal definisi dari pornografi. Secara singkat pornografi adalah tampilan yang diberikan kepada manusia, dan bertujuan untuk menciptakan fantasi seksual, ataupun kepuasan erotis. Fantasi seksual dan kepuasan erotis adalah sesuatu yang alami. Namun pornografi bisa berlangsung bukan karena obyek tampilannya semata, tetapi juga karena pikiran orang yang melihatnya.

Singkat kata pornografi menjadi mungkin, bukan hanya karena ada obyek pemicunya, seperti gambar ataupun suara, tetapi terlebih karena kesalahan berpikir orang yang mempersepsinya. Kesalahan berpikir itu diulang, dan menjadi bagian dari kebiasaan. Akibatnya kesalahan berpikir itu sulit diubah. Tantangan kemudian adalah bagaimana merombak kebiasaan yang telah ada?

Melampaui Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang spontan dilakukan, seringkali tanpa disadari, namun terus berulang di dalam keseharian manusia. Bentuknya bisa beragam mulai dari ngupil, sampai masturbasi sambil menonton tampilan pornografi. Kebiasaan begitu kuat pengaruhnya di dalam perilaku manusia. Bahkan Aristoteles pernah menyatakan, bahwa kebiasaan merupakan kekuatan terbesar di dunia.

Pornografi tidak bisa lenyap, karena orang terbiasa mengkonsumsinya. Bahkan kecintaan pada pornografi menjadi kebiasaan yang melekat begitu kuat, tanpa bisa diubah. Banyak orang terjebak di dalamnya. Pornografi menjadi spontan dan terjadi di luar kesadaran orang-orang yang melakukannya.

Jika kekuatan kebiasaan begitu besar, bagaimana kita bisa lepas darinya? Saya merasa tidak ada jalan keluar dari kebiasaan tersebut. Sekali kebiasaan terbentuk maka selamanya ia akan ada. Yang penting adalah kita menyadari, bahwa kita hidup dalam kepungan kebiasaan yang tak mungkin dapat dilenyapkan. Kesadaran membuat kita berjarak dari kebiasaan, tetapi tak akan pernah melenyapkannya secara keseluruhan.

Maka kekuatan kita perlu difokuskan untuk mencipta kebiasaan baru yang lebih menguntungkan. Dalam arti minat pada pornografi mungkin tak pernah lenyap seutuhnya. Namun kehadirannya bisa diimbangi dengan lahirnya kebiasaan baru, misalnya kebiasaan menulis, olah raga, membaca, atau berkesenian. Dalam arti ini kebiasaan baru, yang dianggap lebih baik, bisa mengimbangi kebiasaan lama yang kurang menguntungkan.

Normalitas bukan berarti orang melenyapkan sama sekali kebiasaan buruk dari hidupnya. Normalitas berarti orang memasuki situasi harmoni, di mana kebiasaan baik dan buruk melebur, serta saling mengimbangi. Kesempurnaan diri bukanlah diri yang tanpa cacat, melainkan diri yang tetap indah dan harmonis, walaupun cacat bertebaran. Sebagai kebiasaan pornografi tetap tak bisa lenyap, namun bisa diimbangi secara harmonis dengan kebiasaan lain yang lebih baik.

Ruang-ruang yang Lebih Luas

Ruang-ruang pornografi adalah tubuh, pikiran, dan kebiasaan. Pornografi lahir karena adanya kesalahan berpikir tentang tubuh. Tubuh manusia yang kompleks disempitkan sebagai pemuas kenikmatan seksual belaka. Itu semua menjadi lestari, ketika cinta pada pornografi berubah menjadi kebiasaan.

Andi memang menyukai pornografi. Itu terjadi karena ia tidak memahami kompleksitas tubuh manusia. Mungkin juga ia tidak diajarkan filsafat manusia di sekolahnya. Namun ia bisa mengimbangi kebiasaan itu dengan kebiasaan lain yang lebih kreatif dan produktif. Dengan begitu hidupnya bisa lebih seimbang.

Bukan begitu ndi?


Filsafat: Tunas Baru Surabaya

Copy of Image0693

Filsafat: Tunas Baru Surabaya

Oleh: SUHARTOYO

Mahasiswa Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

7 Desember 2009 merupakan hari yang bersejarah bagi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya(UKWMS). Berdasarkan SK Dikti Nomor 2334/D/T/2009 telah lahir Fakultas Filsafat. Inilah satu-satunya Fakultas Filsafat yang ada di Surabaya.

Awal perkuliahan mahasiswa berjumlah sembilan orang. Angkatan kedua berjumlah tiga belas orang sebagai mahasiswa regular. Juga ada dari beberapa mereka ikut serta sebagai mahasiswa pendengar.

Kehadiran Fakultas Filsafat sangat dipandang perlu. Karena “Kehidupan kita, semakin lama banyak kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Semakin banyak orang yang hidup dalam kebohongan. Mereka perlu pengarahan diri ke arah yang baik, atau untuk pembinaan diri. Dengan kritis reflektif dan kreatif, kita diajak untuk mampu juga membuka selubung-selubung dan topeng kebohongan-kebohongan yang semakin lama semakin menyesatkan kehidupan manusia.” tutur Andreas Ideanov, Mahasiswa Fakultas Filasafat semester dua.

Tentunya, kehadiran Fakultas Filsafat hendak membangun karekteristik manusia. Ada dua tujuan dasar yang diemban. Hal ini telah tertuang jelas di Pedoman Akademik 2010-2011 Fakultas Filsafat Progam Ilmu Filsafat, UKWMS. “Yang pertama adalah kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, rasional, membangun konsep yang jelas, memiliki pengetahuan yang mendalam serta kepekaan pada kemanusiaan, mampu menuangkan itu dalam bentuk strategi, dan mampu melaksanakan semua itu secara arif di dalam perilaku hidup sehari-hari.”

Tujuan mendasar kedua adalah, “…Filsafat dibutuhkan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan menyeluruh sekaligus mendalam tentang kehidupan manusia.”

Di UKWMS, Fakultas Filsafat memiliki keunikan tersendiri. Fakultas ini memiliki dua konsentrasi: Filsafat Agama dan Bisnis. Konsentrasi ini bertujuan membantu masyarakat untuk menganalisa permasalahan global, menggali potensi-potensi lokal guna menghadapi tantangan zaman, mengabdikan diri pada masyarakat, dan bersikap solider terhadap yang lemah dan berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Yosef Eko, mahasiswa semester empat, mendapatkan pengalaman menarik, ketika belajar di Fakultas Filsafat. Bagi dia kuliahnya ”Mengasikkan dalam hal otak. Segala sesuatu dirasionalkan termasuk Tuhan. Karena bagaimana mengimani kalau tidak berakal budi. Dengan akal budi kita bisa mempertanggunjawabkan iman. Bahkan sesuatu yang tak kelihatan, Tuhan, bisa dijelaskan secara rasional”.

Yuventius Devi Gawa menambahkan. “Kalau di Surabaya memang cocok dan harus ada (Fakultas Filsafat). Meskipun masyarakat industri, tapi industri harus juga ada Filsafat, maka ada Filsafat Bisnis. Filsafat akan membentuk pemikiran yang lebih modern, terlebih terhadap gaya hidup, yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tapi mengandalkan manusia atau mesin. Manusia yang utama.” ungkap mahasiswa Fakultas Filsafat tersebut.

Hal di atas dialami sungguh oleh Devi, selaku Mahasiswa Fakultas Filsafat, 2010. ”Adanya acara-acara diskusi mengispirasi banyak orang. Terutama diskusi bioetik yang nyambung (berhubungan) dengan hidup sehari-hari. Simposium (Seminar Nasional), meskipun sekali tapi Filsafat sangat dekat dengan masalah sehari-hari, contoh, masalah lapindo.” selain itu, ”Filsafat mengembangkan budaya kritis. Berani berbicara, mengungkapkan pendapat tentang diskusi-diskusi yang ada, ketika diperkuliahan.”

Maka Fakultas Filsafat akan membangun iklim akademik yang kritis di UKWMS dan Masyarakat. Besar harapan, fakultas ini akan melahirkan pemikir-pemikir bangsa yang kritis, pengambil keputusan strategis, dan individu professional di dalam bidang-bidang kehidupan yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Tulisan ini diolah dari wawancara dengan beberapa mahasiswa Fakultas Filsafat dan buku “Pedoman Akdemik 2010-2011 Fakultas Filsafat Progam Ilmu Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandala.”

Agama, Kebebasan, dan Perdamaian Dunia

worldpeace2 

Agama, Kebebasan, dan Perdamaian Dunia

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tragedi itu terjadi lagi. Rumah-rumah ibadah di Temanggung dihancurkan. Orang-orang hidup dalam suasana penuh ketegangan. Bangsa kita terperosok lagi di dalam lubang masalah yang sama.

Di dalam pola konflik yang berulang tersebut, kita perlu bertanya, bagaimana ini supaya tidak berulang lagi? Yang kita perlukan adalah kebebasan beragama. Setiap orang memiliki hak asasi untuk memilih jalan hidup dan agamanya. Yang harus melindungi hak ini bukan hanya pemerintah, tetapi juga kita semua.

Panggilan Hati

Setiap orang memiliki panggilan hati. Panggilan hati tersebut mengetuk dari dalam, dan mengarahkan hidupnya. Salah satu panggilan hati terdalam adalah panggilan hati keimanan dan agamanya. Orang tidak bisa dipaksa memeluk suatu agama. Itu harus muncul dari lubuk hatinya yang terdalam.

Di dalam masyarakat yang sudah dewasa, kebebasan beragama amat dihargai. Setiap orang diminta untuk merefleksikan pengalaman hidupnya, melihat ke dalam dirinya, lalu menentukan agamanya. Jika ia sudah memilih, maka ia akan mengikatkan diri pada nilai-nilai luhur yang diajarkan agamanya. Ia akan beragama secara otentik, bukan ikut-ikutan.

Di Indonesia kebebasan beragama masih langka. Orang tidak memilih agama, karena itu merupakan panggilan nuraninya, melainkan karena tekanan dari masyarakat tempat hidupnya. Agama seseorang bukanlah cerminan keyakinan dirinya yang utuh, melainkan simbol konformitas terhadap komunitas tempat tinggalnya. Akibatnya orang beriman dan beragama secara setengah-setengah dan dangkal.

Maka kebebasan beragama adalah sesuatu yang amat penting, supaya orang bisa sungguh beriman dan beragama secara utuh dan sempurna. Kebebasan beragama adalah prasyarat bagi terciptanya masyarakat religius yang bijaksana. Indonesia harus menempatkan kembali kebebasan beragama sebagai hak asasi yang utama. Jika kebebasan beragama ini telah menjadi kenyataan, maka konflik yang terkait dengan agama pun akan berkurang.

Belajar dari Masa Lalu

Kita perlu belajar dari masa lalu. Tanpa kebebasan beragama yang akan terjadi adalah perang antara agama yang berkepanjangan. Jutaan manusia menjadi korban. Trauma kolektif pun diwariskan ke generasi berikutnya, dan menjadi peluang untuk terciptanya konflik baru di masa depan.

Di Indonesia kita seolah tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Berbagai perbuatan tercela terulang tanpa ada refleksi dan pemikiran. Korupsi berulang tanpa bisa ditahan. Konflik atas nama agama bagaikan lingkaran setan yang tidak bisa diputuskan.

Maka sudah saatnya kita belajar kembali dari masa lalu kita. Kita lihat dan telaah, apa yang telah terjadi sebelumnya, dan apa sebabnya. Lalu kita gunakan pelajaran itu di dalam membuat kebijakan, supaya hal buruk yang sama tidak lagi terulang. Dengan belajar dari masa lalu, kita tidak perlu jatuh ke dalam lubang permasalahan yang sama.

Perdamaian Dunia

Kunci dari perdamaian dunia adalah perdamaian antar agama. Inilah argumentasi yang berulang kali dikatakan dan ditulis oleh seorang teolog dan fisuf asal Jerman, Hans Kueng. Perdamaian antar agama berarti orang siap menghormat hak setiap orang untuk memeluk agama yang sesuai dengannya. Bisa dengan tegas dinyatakan, bahwa esensi dari perdamaian dunia adalah kebebasan beragama.

Di Indonesia perdamaian tidak akan pernah tercipta, karena agama minoritas terus mengalami diskriminasi dari agama mayoritas. Orang-orang yang berasal dari agama minoritas terbatas di dalam mendapatkan sumber daya maupun fasilitas yang ada. Akibatnya mereka memutuskan berpindah agama. Yang tercipta kemudian adalah orang-orang yang beragama dan beriman secara palsu, karena iman dan agama yang mereka peluk tidak muncul dari panggilan hati nurani yang terdalam, melainkan dari rasa terpaksa.

Situasi semacam ini tidak bisa dibiarkan. Konflik antar kelompok akan terjadi, jika situasi ini diabaikan. Diskriminasi di berbagai bidang kehidupan haruslah dilenyapkan. Kebebasan beragama haruslah dipertahankan dan terus diperjuangkan. Hanya begitu perdamaian yang sesungguhnya bisa tercipta.

Kesejahteraan Bersama

Untuk bisa menciptakan kesejahteraan bersama, kita perlu menciptakan perdamaian dunia. Dan perdamaian dunia hanya bisa tercipta, hanya bila tercipta perdamaian antar agama. Perdamaian antar agama yang sejati hanya dapat tercipta, jika prinsip kebebasan beragama terus dipertahankan dan diperjuangkan. Semua hal ini saling terkait, tanpa bisa terpisahkan.

Di Indonesia kita ingin menciptakan masyarakat yang sejahtera. Namun kebebasan beragama yang merupakan esensi dari perdamaian antar agama tidak diperjuangkan dengan sepenuh hati. Akibatnya kesejahteraan bersama juga tidak akan tercipta. Bangsa kita akan terus hidup dalam kemiskinan material maupun jiwa. Rakyatnya hidup dalam kecemasan dan ketakutan akan konflik yang seolah akan berulang selamanya.

Maka kita perlu mengingat kembali, betapa pentingnya prinsip kebebasan beragama itu bagi masyarakat Indonesia. Hanya dengan melihat arti penting dari prinsip ini, dan menerapkannya di dalam setiap pembuatan kebijakan, bangsa kita bisa merangkak dari kemiskinan materi maupun jiwanya. Pada akhirnya surga tidak harus diperoleh setelah kematian. Kita bisa menciptakannya disini, di dunia, selama kita berjuang untuk mewujudkan kebebasan beragama, mendorong terciptanya perdamaian antar agama, berjuang untuk perdamaian dunia, dan hidup di dalam keadilan serta kesejahteraan bersama.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Indonesia dan Revolusi Paradigma

 

Indonesia_flag

Indonesia dan Revolusi Paradigma

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Hidup itu penuh tantangan. Semuanya bisa dihadapi, asal kita hidup dengan harapan. Tantangan bisa dilampaui jika orang memiliki paradigma yang tepat. Yang sulit adalah mengubah paradigma yang telah kita pegang erat-erat.

Paradigma itu bagaikan udara yang kita hirup sehari-hari. Ia ada namun tak terasa. Namun kita bisa mengambil jarak, dan menyadari keberadaannya. Kita bisa mempertanyakan sekaligus mengubahnya. Inilah yang sekarang ini perlu dilakukan.

Kebingungan

Paradigma adalah cara berpikir yang telah berurat akar pada satu komunitas tertentu, dan secara langsung mempengaruhi cara berpikir orang-orang yang tinggal di dalamnya. Paradigma itu hidup namun tak terlihat keberadaannya. Paradigma berpikir adalah alasan yang mendorong setiap perilaku maupun tindakan tiap orang dalam hidupnya. Perubahan paradigma adalah kunci utama bagi kita untuk berubah ke arah yang lebih bijaksana.

Tanpa perubahan paradigma yang tepat, orang tidak akan melihat masalah sebagai masalah. Masalah hanya dilihat sebagai sesuatu yang wajar, sehingga tak perlu diubah. Masalah adalah sesuatu yang biasa. Seolah orang hanya perlu memejamkan mata, guna menyelesaikannya.

Inilah yang kita hadapi di Indonesia. Banyak orang tidak melihat masalah sebagai masalah, melainkan hanya sebagai sesuatu yang biasa. Ini terjadi karena orang masih menggunakan paradigma yang lama, guna melihat dunia yang terus berubah ke arah yang tak terduga. Masalah yang ada pun tak terselesaikan, dan kita terjebak terus di dalam nestapa.

Fundamentalisme agama tidak dilihat sebagai masalah, tetapi sebagai sesuatu yang biasa. Kerakusan uang dalam bentuk fundamentalisme ekonomi tidak dilihat sebagai masalah, namun justru dilihat sebagai sesuatu yang wajar, bahkan bijaksana. Tanpa perubahan paradigma kita tidak akan melihat masalah sebagai masalah. Akibatnya masalah itu bertambah besar, dan nantinya akan membuat bangsa kita terpecah belah.

Perubahan paradigma adalah sesuatu yang mendesak. Dengan mengubah paradigma kita akan lebih aktif membongkar akar masalah, dan melenyapkannya. Kita akan lebih mudah hidup bersama, apapun perbedaannya. Masalah-masalah bangsa pun mulai ditanggapi dengan cara berpikir serta tindakan nyata yang sepantasnya.

Miskin Inovasi

Tanpa perubahan paradigma kita tidak akan pernah berjuang untuk menciptakan perubahan. Tidak hanya itu perubahan seringkali dianggap sebagai tabu yang mesti dilawan. Ide-ide baru tidak dilihat sebagai peluang, melainkan sebagai hambatan yang mesti dilenyapkan. Orang-orang berpikiran maju pun dikucilkan.

Jika orang masih hidup dalam paradigma lama, ia akan merasa nyaman, dan merasa tak perlu mengubah dirinya. Akibatnya ia akan menjadi konservatif, dan menghambat setiap perubahan yang datang di depannya, meskipun faktanya, perubahan itu amat diperlukan di dalam masyarakat tempat tinggalnya. Ia akan menjadi batu penghalang bagi sekitarnya. Ia akan menjadi fosil yang membuat hidup semua orang terasa di neraka.

Kita bisa menemukan banyak orang seperti itu di Indonesia. Atas nama tradisi mereka melenyapkan ide-ide cemerlang. Akibatnya masyarakat akan menjadi miskin, dalam arti miskin materi, sekaligus miskin inovasi yang brilian. Tak heran kita sulit sekali untuk menciptakan ide-ide baru yang berguna untuk kehidupan bersama.

Inovasi hanya mungkin jika paradigma masyarakat di tempat terkait telah mengalami perubahan. Tanpa perubahan paradigma ide-ide brilian dianggap sebagai tabu yang mesti dihancurkan. Jika Indonesia ingin maju, maka kita, masyarakat yang hidup di dalamnya, harus segera melakukan perubahan paradigma. Tanpa paradigma yang mendorong lahirnya ide-ide brilian bagi kehidupan bersama, kita akan ditinggal kereta peradaban, dan menjadi bangsa primitif yang tanpa harapan.

Tanpa Tindakan

Jika masalah tidak dilihat sebagai masalah, maka tidak akan ada tindakan untuk menyelesaikannya. Tanpa tindakan nyata masalah akan menjadi semakin besar. Dampak kerusakannya pun akan semakin luas bagi semua. Ketika orang sadar akan hal ini, semuanya sudah terlambat, dan ia terhanyut di dalamnya.

Inilah yang banyak terjadi di Indonesia. Masalah datang bertubi-tubi, namun sedikit sekali tindakan nyata untuk menanggapinya. Ini terjadi mulai dari bencana Lumpur Lapindo, korupsi, pembiaran fundamentalisme religius, dan pembiaran fundamentalisme ekonomi yang terus membesar skalanya. Seperti layaknya penyakit kanker, masalah-masalah tersebut akan menjadi semakin ganas, dan akhirnya menghancurkan bangsa.

Ini terjadi karena kita masih menggunakan paradigma lama, guna melihat serta memahami masalah-masalah baru. Cara berpikir kita tidak cukup jeli untuk melihat akar masalahnya. Akibatnya tindakan kita pun tampak setengah-setengah, dan tak berdaya. Maka sekali lagi kita perlu mengubah paradigma yang kita punya! Hanya dengan begitu kita bisa mulai peka pada masalah yang sungguh ada, dan mengambil langkah-langkah tepat dalam menanggapinya.

Ketinggalan Kereta

Tanpa perubahan paradigma kita akan semakin terpuruk di dalam tikaman masalah bangsa. Cara berpikir kita ketinggalan jaman. Pola perilaku maupun tindakan kita pun tidak mencerminkan kerumitan serta kemajuan peradaban. Semakin hari kita semakin menjadi bangsa yang kampungan.

Kereta peradaban tidak menunggu mereka yang tak memeluk perubahan. Dunia semakin maju namun kita justru semakin menjadi fosil purba yang tak signifikan. Tanpa perubahan paradigma yang mengakar, ini semua akan terjadi pada bangsa kita. Indonesia mendekam menjadi fosil di dalam museum dunia.

Gejala ini banyak terasa di Indonesia. Pola berpikir fundamentalis-fanatik sempit di dalam kehidupan beragama masih luas menggejala. Orang sulit untuk mengekspresikan iman dan kepercayaan mereka secara terbuka. Ini terjadi karena kita masih beragama dengan paradigma yang lama. Akibatnya kita beragama secara kampungan.

Kerakusan akan uang dan kuasa tidak diredam, namun justru diberikan fasilitas sebesar-besarnya. Pemerintah tidak lagi menjadi pembawa amanat rakyat, tetapi hanya menjadi centeng para penguasa ekonomi raksasa. Rasa keadilan diinjak oleh gerak rupiah yang semakin tak ada harganya di mata rakyat. Kehidupan berbangsa kita menjadi semakin kampungan, karena para pimpinannya masih hidup dalam paradigma lama yang tak lagi sesuai dengan keadaan.

Jelas kita sebagai bangsa membutuhkan perubahan paradigma. Kita perlu melihat dunia dengan cara baru, yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan. Hanya begitu kita bisa melihat masalah sebagai masalah, dan tak mengabaikannya. Hanya dengan begitu kita bisa melakukan tindakan nyata, guna melampaui masalah yang ada.

Namun bagaimana cara mengubah paradigma?

Kita Perlu Mendengar

Langkah pertama adalah dengan membuka telinga. Telinga yang terbuka akan lebih mudah untuk mendengar derap perubahan yang terus terjadi di dalam kehidupan nyata. Jika orang hidup dalam paradigma lama, telinganya tertutup dari suara jaman. Ia pun menjadi tuli, dan secara perlahan namun pasti berubah menjadi fosil yang tanpa faedah.

Di Indonesia banyak orang memiliki telinga, namun tak mendengar. Mereka sibuk menilai dan berbicara, serta lupa untuk mencermati dengan mendengar. Tak heran mereka tidak mengerti. Mereka mengutuk apa yang berbeda dari mereka.

Tak heran juga paradigma mereka tidak berubah. Mereka tetap berpikir dengan gaya lama, padahal dunia telah berubah arah. Telinga hanya dipakai untuk mendengar apa yang mereka ingin dengar, yakni yang sesuai dengan paradigma yang telah mereka pegang erat. Perlahan namun pasti mereka akan ketinggalan kereta peradaban.

Maka kita perlu lebih peka pada telinga yang kita punya. Kita perlu memakainya secara cermat untuk mendengar gerak jaman. Kita perlu menggunakannya untuk mendengar hal-hal yang berbeda dari keyakinan kita, dan bahkan yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Dengan mendengar secara cermat, cara berpikir kita bisa berubah ke arah yang lebih bijaksana. Itulah awal dari perubahan paradigma.

Kita Perlu Membaca

Selain telinga kita juga perlu memakai mata kita untuk membaca. Kita perlu membaca buku-buku baru yang melukiskan perubahan jaman. Kita perlu membaca hal-hal yang sebelumnya tak pernah kita baca. Kita perlu untuk mengembangkan horison berpikir melalui telinga dan mata.

Di Indonesia orang malas membaca. Mereka belum melihat kegiatan membaca sebagai kebutuhan manusia. Bagi mereka membaca adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan tenaga. Tak heran pola berpikir mereka tidak berkembang dan ketinggalan jaman.

Tanpa membaca orang tidak akan bisa mengubah dan mengembangkan paradigmanya. Bahkan tanpa membaca orang tidak akan sadar, bahwa tindakannya ditentukan oleh paradigmanya. Jelas orang semacam ini sulit sekali untuk berubah. Mereka akan menjadi fosil-fosil yang menghalangi perubahan peradaban.

Mengolah

Selain mendengar dan membaca, orang juga perlu mengolah apa yang mereka dengar dan baca tersebut. Orang perlu memahami, mengunyah, lalu menentukan sikap mereka secara kritis atas apa yang diterimanya. Inilah yang akan membuat orang mampu mengembangkan paradigmanya. Tanpa sikap mengolah secara kritis tersebut, orang akan dengan mudah jatuh mendewakan apa yang didengar dan dibacanya secara buta.

Di Indonesia para pembaca dan pendengar wacana seringkali menelan mentah-mentah apa yang diterimanya. Akibatnya mereka menjadi fanatikus yang berpikir sempit, dan mendewakan apa yang dibacanya. Paradigma mereka berubah namun ke arah yang semakin sempit. Kebijaksanaan pun semakin jauh dari genggaman.

Maka orang perlu mengolah secara kritis apa yang diterimanya. Hanya dengan begitu mereka mampu memperluas cakrawala berpikir dan mengubah paradigma, tanpa terjatuh menjadi orang yang berpikiran sempit. Diperlukan kecerdasan sekaligus keberanian untuk mengolah apa yang didengar dan dibaca. Yang kemudian tercipta adalah manusia yang memiliki hati besar dan berpikiran terbuka.

Perubahan Berkelanjutan

Dengan mendengar gerak jaman, membaca buku-buku yang melukiskan perubahan cara berpikir, dan mengolah semua itu secara kritis dan cermat, orang akan mengalami perubahan di dalam dirinya. Perubahan individu adalah awal dari perubahan masyarakat yang sesungguhnya. Namun perubahan tidak boleh hanya datang sekejap mata. Perubahan haruslah berkelanjutan sampai nafas penghabisan.

Di Indonesia banyak orang mengalami euforia perubahan. Namun mereka terjebak pada perubahan sesaat belaka. Mereka lupa bahwa perubahan itu berkelanjutan. Mereka berteriak tentang perubahan, namun itu menjadi percuma, karena itu adalah teriakan tanpa kesadaran.

Padahal orang perlu terus berpegang pada nilai-nilai keutamaan, sambil terus mengikuti perubahan gerak jaman. Ia tidak boleh hanya sekali berubah. Ia harus terus menerus berubah, tanpa kehilangan sumbunya sebagai manusia yang berkeutamaan. Di dalam tegangan inilah orang bisa sampai pada kebijaksanaan.

Semua itu hanya mungkin, jika orang mampu melepaskan paradigma lama yang mereka punya, dan siap untuk memasuki dunia baru dengan paradigma yang baru pula. Tanpa perubahan paradigma perubahan di dalam kehidupan seringkali dipersepsi sebagai suatu kesalahan. Padahal jika dilihat dengan paradigma yang baru, kesalahan yang sama bisa dianggap sebagai titik awal dari suatu kemajuan yang signifikan.

Maka jangan ditunda lagi. Kita perlu mengubah paradigma. Sekarang atau tidak sama sekali.

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

“Mafia” Gerakan Anti Mafia

1167607_Mafia--Gangster-Cartoon-Made-in-Photoshop-with-Vector-pen-tool_620

“Mafia” Gerakan Anti Mafia

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Indonesia boleh berbangga. Banyak warganya yang kini aktif turun ke jalan, guna menunjukkan rasa peduli mereka. Para pemuka agama menyuarakan suara hati rakyat jelata. Para akademisi dan aktivis politik yang menunjukkan rasa peduli pada penderitaan orang-orang yang digilas ketidakadilan dunia. Mereka ingin melawan mafia-mafia yang bercokol di dalam dunia politik Indonesia.

Namun jangan sampai itu semua hanya menjadi euforia semata. Kita juga perlu waspada terhadap mafia yang mungkin saja menyokong gerakan anti mafia ini. Gerakan moral memang bisa menjadi fungsi kontrol. Namun perlu juga kita sadar, bahwa kita juga memerlukan kontrol lapis dua, yakni pengontrol para fungsi kontrol.

Dilema Demokrasi

Kita hidup di dalam masyarakat demokratis. Memang sampai saat ini, inilah sistem terbaik yang memungkinkan setiap orang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan mereka. Untuk sementara belum ada pilihan lainnya yang tersedia. Namun demokrasi pun tak luput dari cacat cela.

Demokrasi mengedepankan kontrol terhadap kekuasaan dan penguasa. Namun siapa nantinya mengontrol para pengontrol? Jika rakyat adalah penguasa, maka sebenarnya siapa yang mengontrol rakyat yang notabene adalah penguasa “tunggal”? Inilah dilema yang selalu hidup di dalam sistem demokrasi.

Di Indonesia dilema ini juga seringkali ada. DPR bertugas menghasilkan kebijakan dan mengawasi jalannya pemerintahan. Namun siapa yang mengawasi kinerja DPR? Apakah rakyat? Namun konsep rakyat adalah suatu konsep yang abstrak. Retorika “kehendak rakyat” sering juga membuat kita terjebak.

Namun dilema itu haruslah ditempatkan sebagai kelemahan yang tak dapat dihindarkan di dalam demokrasi. Artinya walaupun memiliki kelemahan, demokrasi masih merupakan sistem yang paling mungkin, guna membuka ruang bagi keadilan dan pengembangan masyarakat yang sejati. Kata kuncinya adalah partisipasi rakyat yang aktif di dalam kehidupan bersama. Partisipasi rakyat yang luas dan kritis akan membuat demokrasi menjadi perkasa.

Partisipasi Rakyat

Gerakan anti mafia yang muncul belakangan ini adalah bentuk partisipasi rakyat yang amat baik. Mereka adalah warga yang peduli, dan ingin menyuarakan kepedulian itu ke publik. Mereka ingin mengajak masyarakat untuk turut peduli, dan ikut bergerak. Harapan mereka perubahan akan muncul dari aktivitas politik tersebut.

Di Indonesia gerakan-gerakan semacam itu amat jarang. Masih banyak orang tidak peduli pada isu-isu publik. Mereka mengurung diri di dalam kehidupan mereka yang amat nyaman. Tak heran gerakan moral semacam itu tidak bertahan.

Yang kita perlukan adalah partisipasi lebih banyak warga. Tunisia berhasil menjatuhkan rezim korup, akibat gerakan warga yang aktif dan peduli. Institusi-institusi yang masih steril dari isu-isu publik harus mulai mengubah visi. Tanpa gerakan politik yang kuat, yang didukung oleh partisipasi rakyat yang besar, Indonesia tidak akan pernah berubah ke arah yang lebih baik.

Sejatinya menjadi aktif secara politik itu mudah. Orang tidak perlu ikut mencalonkan diri di arena politik praktis secara penuh. Cukup mereka memikirkan cara untuk menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik, dan mencoba menerapkannya di lingkungan masing-masing. Aktivitas politik adalah aktivitas yang selalu terkait dengan upaya menciptakan kehidupan bersama yang bernilai.

Mafia Gerakan Anti Mafia

Namun itu semua bukan tanpa bahaya. Gerakan anti mafia bisa juga ditunggangi oleh mafia lainnya. Gerakan “kontrol sosial” tanpa kontrol sosial yang baik juga bisa membawa petaka. Adalah tugas kita bersama untuk menjamin, bahwa gerakan anti mafia tidak akan menjadi mafia baru yang kasat mata.

Sampai saat ini di Indonesia, itu belum terjadi. Gerakan anti mafia baru mulai, dan masih menarik untuk dicermati. Namun bukan berarti itu tidak akan pernah terjadi. Bangsa kita sudah terbukti mampu menciptakan mafia di bidang apapun.

Maka itu kehadiran gerakan anti mafia ini perlu kita sambut dengan meriah, sekaligus dengan sikap awas. Di alam demokrasi segala sesuatu, termasuk yang paling tampak baik sekalipun, perlu untuk dicermati. Hanya dengan begitu kekuasaan tidak akan pernah disalahgunakan. Hanya dengan begitu pula, masyarakat yang adil lebih mudah diciptakan.

Distorsi Kepentingan

Mafia gerakan anti mafia bisa lahir, karena adanya tekanan kepentingan diri. Gerakan anti mafia bisa tetap terbentuk, namun misinya tidak lagi murni. Gerakan tersebut bisa menggendong agenda politis tertentu untuk meningkatkan reputasi diri. Gerakan tersebut bisa dipelintir menjadi gerakan politis yang tanpa arti.

Mafia gerakan anti mafia juga bisa lahir, karena adanya tekanan kepentingan golongan tertentu. Sama seperti sebelumnya misinya tidak lagi untuk kebaikan bersama, melainkan untuk mempropagandakan kepentingan-kepentingan golongan yang sifatnya semu. Agenda politisnya juga tampak baik, namun bukan itu misi yang sebenarnya. Mereka memelintir misi yang sejati, yakni membongkar mafia di berbagai bidang kehidupan bersama di Indonesia, menjadi pertarungan politis untuk merebut pengaruh semata.

Kita hidup di era pragmatisme. Segala sesuatu berorientasi pada hasil, tanpa peduli pada proses. Padahal kesejatian selalu lahir dari proses sulit dan lama. Jangan sampai gerakan anti mafia yang sekarang ini bangkit juga digendong oleh pragmatisme dangkal, dan lupa pada esensinya. Kita semua perlu mendukung, dan mengawal prosesnya. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Buku Filsafat Baru: Filsafat Perselingkuhan sampai Anorexia Kudus

201102010933276c60533b1edd4a3974edc346dafb6ef584ba2d964d4770f7d4fc9

Filsafat Perselingkuhan sampai Anorexia Kudus
Oleh: Reza Antonius Alexander Wattimena

Publisher : Evolitera

(ISBN: 978-602-8861-76-2)

Released : 1st Feb, 2011

Pages : 160

Category : Philosophy

SubCategory : General/Analytics

Language : Indonesia

Summary

Kumpulan artikel filsafat populer yang membahas mulai dari filsafat politik (penulis menyebut dengan “perselingkuhan”), filsafat pendidikan, hingga tentang individu.

Filsafat ini disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti!

Silahkan download disini: Filsafat Perselingkuhan

Agama dan Perdamaian Dunia

World-Peace[1] Filsafat- Dua ahli Islam yang berasal dari Kairo, yakni Fr. Emilio Platti dan Fr. Jean-Jacques Perennes, datang ke Fakultas Filsafat pada Senin, 22 November 2010. Para mahasiswa, dosen, dan beberapa peserta dari luar universitas datang untuk berdiskusi dengannya.

Di dalam diskusi ini, ada dua poin yang penting untuk ditegaskan. Pertama, kita harus bersama mengusahakan perdamaian dunia, dan itu hanya dapat dilaksanakan melalui perdamaian antar agama. Untuk itu kita perlu menemukan titik tolak yang sama, dan titik tolak itu adalah kebaikan hati, kasih, kebahagiaan, dan kepenuhan hidup manusia yang merupakan cita-cita semua agama.

Fr. Platti juga menjelaskan isi buku terbarunya yang berjudul Islam: Kawan atau Lawan?. Sebelumnya buku itu telah diluncurkan di Universitas Islam Nasional Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Kedua, ia juga menjabarkan Wahabisme, yakni paham di dalam Islam yang ingin kembali menerapkan hukum-hukum secara harafiah tanpa tafsiran kontekstual, dan mengajak kita semua untuk menanggapinya secara kritis. Atmosfir akademik yang tinggi mewarnai diskusi yang bermutu ini. (RAW)

Diskusi Bioetika: Filsafat dan Kedokteran

 

AlperFilsafat- Prof. W.F Maramis Sp.Kj memberikan pemaparan soal masalah-masalah bioetika dewasa ini da-am diskusi terbuka yang dilaksanakan bersama Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pada Sabtu 29 Januari 2011 Pk. 08.00-10.30. Ia memaparkan berbagai kemajuan di bidang kedokteran dewasa ini, mulai dari inseminasi buatan, penciptaan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, transplantasi organ, donor organ dari mayat, penjualan organ tubuh, euthanasia, problematik sel punca, kloning, aborsi dalam kasus-kasus cacat bawaan, terapi kanker pada wanita hamil, sampai permasalahan moral yang lahir dari semua kemajuan tersebut.

Pertanyaan penting yang perlu untuk dijawab adalah, apakah fakta bahwa dunia medis bisa melakukan itu semua, berarti semua itu boleh dan bisa dilakukan? Jika ya mengapa? Jika tidak mengapa? Fakultas Filsafat ditantang untuk bisa mengajukan pemikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan berpijak pada penalaran rasional.

Reza A.A Wattimena dari Fakultas Filsafat mengajukan argumentasi dengan berpijak pada Filsafat Moral Kant. Bagi Reza prinsip utama bioetika adalah martabat manusia. Artinya manusia harus selalu menjadi tujuan pada dirinya sendiri, dan tidak boleh menjadi semata alat bagi tujuan-tujuan lain di luar dirinya sendiri. Seluruh kemajuan dan penerapan di dalam dunia kedokteran harus selalu berpijak pada prinsip tersebut. Jika tidak sesuai maka beragam kemajuan itu tidak pernah boleh diterapkan.

Peter Manoppo dari Rumah Sakit Darmo juga mengajukan pendapat. Baginya prinsip utama adalah keadilan. Setiap kemajuan boleh dilakukan, selama itu menjamin keadilan bagi setiap orang yang terkena dampaknya. Bagi Prof. Maramis walaupun kedua argumen itu berbobot, namun belum mampu mengajukan jawaban yang cukup tegas. Maka kita perlu berdiskusi lebih lanjut.

Diskusi berikutnya akan dilaksanakan pada Februari 2011 di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Tunggu tanggal mainnya! (RAW)

Tentang Guru yang Lupa

teacher-300x249

Tentang Guru yang Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tidak ada tawa pada wajahnya. Yang ada hanya muka merengut nan menyiksa jiwa. Tatapannya membuat oarang terpana. Suasana suram yang diciptakannya.

Itulah figur guru dewasa ini. Ia tidak lagi menawarkan inspirasi. Yang ditawarkannya kepada murid hanyalah beban diri. Itu terbukti dari “dentuman” soal dan penilaian yang jauh dari kebijaksanaan nurani.

Keterpaksaan

Para guru sebenarnya sadar, bahwa mereka telah berubah menjadi birokrat pendidikan. Jika ditanya mengapa maka mereka akan menjawab; kami ditekan keadaan. Ciri birokrat yang administratif, teknis, dan kaku lebih ditonjolkan dari ciri guru yang menginspirasi kehidupan. Mereka sadar namun tetap berubah menjadi birokrat, karena keterpaksaan.

Sosok semacam ini banyak kita temukan di Indonesia. Guru melepaskan peran esensialnya, dan berubah menjadi birokrat tanpa jiwa. Mereka sadar namun keadaan memaksa. Yang menjadi korban adalah para murid yang tidak lagi mencicip pendidikan yang bermakna.

Yang para guru butuhkan adalah sedikit keberanian dan kecerdasan. Mereka perlu menginspirasi kehidupan dan tidak boleh terjebak pada rutinitas birokrasi yang menyesakkan. Kecerdasan diperlukan untuk bersikap lentur pada birokrasi, dan tetap menjalankan peran guru yang menghidupkan. Di tangan para gurulah masa depan bangsa ditentukan.

Krisis Visi

Di sisi lain banyak pula guru yang tidak memahami esensi pendidikan. Mereka menjadi guru bukan karena terpanggil, tetapi karena kebetulan yang tak direncanakan. Akibatnya mereka pun asal bekerja. Guru macam ini mudah sekali berubah menjadi birokrat yang mirip robot tanpa jiwa.

Di Indonesia kita juga banyak menemukan guru semacam ini. Mereka belajar tentang pendidikan, tetapi tidak sungguh memahami semangat di belakangnya. Mereka sekedar melanjutkan pendidikan, tanpa sungguh berpikir, apakah ini panggilan hidupnya. Mereka terjebak di dalam bidang yang tidak bermakna bagi hidupnya.

Ini salah satu kelemahan pendidikan kita. Orang tidak diajak untuk mengenali diri, dan mengikuti panggilan hidupnya. Akibatnya banyak orang terjebak pada bidang kehidupan yang tidak bermakna bagi dirinya. Mereka asal-asalan bekerja, dan semuanya menjadi percuma.

Namun tidak pernah ada terlambat untuk mereka. Pintu kehidupan selalu terbuka. Jika bukan panggilan orang bisa meninggalkan profesi pendidik, dan mencari jati dirinya. Hanya dengan begitu hidupnya menjadi penuh dan bermakna. Mungkin dengan begitu pula, ia bisa sungguh merasa bahagia.

Pengaruh Hegemoni

Manusia hidup dalam lingkaran hegemoni. Hegemoni membuat orang dikuasai, tanpa ia merasa tertindas, atau dikuasai. Hegemoni membuat suatu perintah menjadi wajar, dan tidak dipersepsi sebagai keterpaksaan diri. Hegemoni masuk ke dalam cara berpikir seseorang, sampai ia tidak sadarkan diri, bahkan ketika melakukan apa yang melanggar nurani.

Di Indonesia hegemoni cara berpikir instrumental sangatlah perkasa. Cara berpikir instrumental mencegah orang bersikap kritis, dan hanya terjebak pada permukaan teknis semata. Mereka melakukannya tetapi tidak sadar akan perbuatannya. Inilah kekuatan hegemoni yang menghipnotis jiwa.

Yang diperlukan untuk menantang hegemoni adalah cara berpikir kritis. Dengan kemampuan ini orang diajak untuk mempertanyakan cara berpikirnya sendiri secara sistematis. Ia diajak untuk mengolah dirinya sendiri, sehingga bisa keluar dari hegemoni, dan melakukan segala sesuatu dengan kesadaran diri yang utuh. Minimal cara berpikir kritis membuat orang sadar, bahwa dirinya hidup dalam hegemoni, sehingga bisa mengambil jarak darinya, walaupun tidak secara menyeluruh.

Konformitas

Jika para guru ditanya, mengapa mereka menjadi birokrat, kebanyakan mereka akan menjawab, karena semua guru melakukannya. Itulah ciri khas sikap konformis. Orang terjebak melakukan sesuatu, karena semua orang melakukannya. Ia tidak lagi berpikir, karena dikepung oleh mentalitas massa.

Kita bisa menemukan banyak orang semacam itu di Indonesia. Mereka bekerja dan tenggelam dalam rutinitas, tanpa dasar yang kokoh, kecuali sekedar ikut-ikutan semata. Kita menjadi latah dan kemudian tenggelam dalam keadaan. Korupsi dan segala bentuk kejahatan lainnya banyak lahir dari sikap konformis tanpa pikiran.

Konformitas tanpa dasar adalah gejala yang amat berbahaya. Tidak perlu orang jahat untuk melakukan kejahatan besar, cukup orang yang tidak berpikir, dan bermental konformis sejati. Sikap adaptif memang baik, namun tanpa sikap kritis dan reflektif, sikap adaptif akan berubah menjadi sikap konformis yang menjilat pada kekuataan massa semata. Tidak heran orang bisa berubah sekejap mata menjadi penyiksa, ketika ia berada di kepungan para penyiksa.

Guru adalah pelita hati bangsa. Mereka mengarahkan ketika kita semua tersesat di perjalanan. Mereka membawa terang bagi anak-anak masa depan bangsa. Peran yang amat manusiawi ini tidak boleh lenyap, karena guru lupa akan peran sejatinya.

Guru tidak pernah boleh menjadi birokrat pendidikan!

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Opera Van Java dan Filsafat Nietzsche

kakashicosplay Opera Van Java

Opera Van Java dan Filsafat Nietzsche

Oleh: SENTOSA

Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandala Surabaya

Nama-nama artis seperti: Parto, Sule, Andre Taulani, Aziz ‘Gagap’ dan Nunung tidaklah asing bagi masyarakat Indonesia saat ini. Wajah-wajah mereka hampir tiap hari muncul di salah satu stasiun televisi nasional. Opera Van Java, demikian nama acara stasiun televisi tersebut. Ketika jam mulai menunjukkan pukul 20.00 BBWI, baik anak-anak maupun orang dewasa, mulai bersiap di depan layar televisi untuk mengikuti acara tersebut. Acaranya cukup menghibur mereka. Tampilan para bintangnya yang lucu, kreatif, spontan, bahkan tak jarang terkesan urakan memberikan suatu kelucuan tersendiri. Unik, adalah kata yang pas diberikan kepada acara Opera Van Java atau disingkat OVJ ini. Unik karena OVJ berbeda dengan acara-acara hiburan yang lain.

Apabila dibandingkan dengan acara-acara lawakan khas Indonesia yang lain, seperti Srimulat, Tawa Sutra, Ketoprak Humor, dan lain sebagainya, ada perbedaan yang cukup berarti. Perbedaan itu antara lain: dalam hal skenario. Dalam acara-acara seperti Srimulat dan Ketoprak humor, skenario yang mereka berikan cukup tersusun rapi. Walau tidak memungkiri akan adanya spontanitas dari para pemainnya, sang sutradara tetap memberikan draft skenario dialog yang dikatakan. Sedangkan dalam acara OVJ, para artisnya tidak disodori draft skenario dialog. Para pemeran acara tersebut hanya diberi tahu apa judul dan tokoh yang mereka perankan. Sedangkan untuk jalan ceritanya secara mendetail, para artisnya tidak tahu. Yang mengetahui konsep cerita secara mendetail adalah sang dalang, yang dalam hal ini ditampilkan oleh Parto. Sang dalang-lah yang mengendalikan jalannya cerita dan para tokohnya. Para artis hanya melakukan apa yang diperintahkan sang dalang. Dalam hal ini dibutuhkan kreatifitas yang cukup tinggi dari sang artis sehingga acara dapat berlangsung dengan menarik, lucu, menghibur, dan sesuai dengan konsep cerita.

Perbedaan yang lain adalah dalam setting panggung. Acara-acara seperti Srimulat, ketoprak humor, dan yang lain-lain, sering memberikan setting panggung yang standard-standard saja, seperti: meja, kursi, lemari. Demikian halnya dalam penampilan para artisnya, mereka sering menampilkan artis dengan kostum yang standard-standard saja. Berbeda halnya dengan acara OVJ. Dalam hal setting panggung, mereka memiliki beberapa tim kreatif yang bertugas menyusun, merancang, dan membuat setting panggung yang menarik, unik, dan tentunya sesuai dengan konsep cerita yang diangkat. Juga dalam hal kostum, acara OVJ juga memiliki tim yang bertugas secara khusus merancang dan membuat kostum bagi para artis sesuai dengan cerita yang diangkat.

Selain itu, masih ada satu keunikan lagi yang dapat dilihat dari acara OVJ ini. Keunikan tersebut adalah dalam hal perlakuan para artis terhadap barang-barang yang digunakan sebagai setting panggung. Para artis diberi kebebasan oleh konseptor acara untuk memukulkan, bahkan merusak settingan panggung. Tentu saja barang yang dirusak dan dipukulkan kepada artis lain tidaklah bertujuan untuk melukai orang lain. Bahan-bahan yang dipakai untuk settingan panggung adalah bahan-bahan yang terbuat dari stereoform atau dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan istilah gabus. Inilah keunikan acara OVJ dibandingkan acara-acara humor lainnya yang ada di Indonesia.

Jika kita melihat kehidupan kita sehari-hari, kita melihat bagaimana hidup manusia itu sadar atau tidak sadar ternyata diatur oleh suatu sistem. Manusia seperti suatu robot yang dikendalikan oleh situasi yang ada. Tuntutan masyarakat, yang muncul dalam aturan, kebiasaan, prestasi hidup, apa yang dianggap sebagai bernilai, seolah-olah mengatur kehidupan seorang individu. Hidup yang monoton, keharusan untuk menjalani hidup seperti apa yang dituntut oleh masyarakat membuat orang kurang berani untuk berekspresi. Orang mengalami ketakutan untuk mencoba sesuatu yang baru, unik dan kreatif.

Sikap spontanitas para artis, baik dalam hal berdialog, berakting, dan juga dalam kreatifitas untuk merusak settingan panggung, ini sangatlah menarik. Semuanya itu dilakukan para artis dengan tujuan untuk menciptakan suatu hiburan dan kelucuan yang baru dan segar. Cara para artis menghibur penonton, dan juga konsep acara OVJ yang unik ini menarik bagi saya untuk mendalami sisi filosofisnya. Dalam paper ini, saya berusaha untuk menganalisa acara OVJ ini dengan menggunakan kacamata Nietzsche dan aphorismenya. Ada suatu kebijaksanaan yang dapat diberikan melalui acara OVJ ini. Kebijaksanaan yang berusaha saya dalami dan gali melalui paper ini adalah mengenai realitas kehidupan. Kehidupan itu menjadi indah, unik, dan penuh kesegaran bila manusia menyadari akan spontanitas yang dapat mereka berikan bagi sesamanya.

Dari latar belakang permasalahan sebagaimana saya uraikan di atas, saya mencoba merumuskan suatu hipotesis untuk paper ini. Hipotesis yang saya berikan di bagian pendahuluan ini adalah: kehidupan itu menjadi lebih hidup dan menarik apabila kehidupan ini dijalani dengan spontanitas yang kreatif. Untuk menguji hipotesis tersebut, saya menggunakan teori Aphorisme dari seorang filsuf modern, yakni Nietzsche.

Riwayat Hidup Nietzche

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di kota Röcken pada tanggal 15 Oktober 1844.[1] Nietzsche dilahirkan dari pasangan suami isteri Carl Ludwig Nietzsche (1813–1849) dan Franziska Oehler (1826–1897). Ayah Nietzsche adalah seorang pendeta Lutheran. [2] Friedrich Wilhelm Nietzsche adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Adik-adiknya adalah Elisabeth Förster Nietzsche lahir pada tahun 1846 dan Ludwig Josep, lahir pada tahun 1848. Ayah Nietzsche meninggal pada tahun 1849 karena penyakit otak. Juga, Ludwig Josep, adiknya bungsu meninggal pada tahun 1850. Kemudian, keluarga tersebut pindah ke Naumburg, dimana mereka tinggal bersama keluarga nenek dari pihak ayah dan dua bibinya yang tidak menikah. Mereka tinggal di sana sampai kematian nenek mereka pada tahun 1856. Setelah itu, Friedrich Nietzsche dan keluarga pindah ke rumah mereka sendiri.

Selama masa pendidikannya pada periode tahun 1858 sampai 1864, Nietzsche memiliki waktu untuk belajar komposisi music dan puisi. Pada sekolahnya itu juga, Nietzsche menerima pengajaran mengenai kesusastraan, khususnya kesusastraan Yunani kuno dan Romawi. Setelah kelulusannya pada tahun 1864, Nietzsche memulai belajar teologi dan studi bahasa (philology) di Universitas Bonn. Akan tetapi, setelah menjalani pendidikan tersebut selama satu semester, Nietzsche berhenti kuliah teologi dan mulai kehilangan imannya. Kemudian Nietzsche fokus pada kuliah philology di bawah bimbingan Professor Friedrich Wilhelm Ritschl. Pada masa ini, kuliah dijalaninya di Universitas Leipzig pada tahun berikutnya, dan pada masa ini pula terbit karangan Nietzsche yang pertama dalam bidang philology.

Pada tahun 1865, Nietzsche mempelajari secara menyeluruh karya-karya Arthur Schopenhauer. Setelah membaca buku yang berjudul “Die Welt als Wille und Vorstellung”, mulai muncullah ketertarikan Nietzsche pada perkara-perkara filosofi. Pada tahun 1866, dia membaca karya Friedrich Albert Lange yang berjudul “History of Materialism”. Schopenhauer and Lange begitu mempengaruhi Nietzsche. Schopenhauer secara khusus berpengaruh pada perkembangan pemikiran Nietzsche pada masa-masa selanjutnya. Deskripsi Lange tentang filsafat anti materialistik dari Kant, kebangkitan jaman materialism di Eropa, perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa, teori Darwin, semuanya itu menggugah pemikiran Nietzsche. Lingkungan budaya yang demikian itu menyemangatinya untuk terus memperluas pengetahuannya dalam philology dan melanjutkan studinya dalam filsafat.[3]

Karir dan Karya Nietzsche

Pada tahun 1869-1879 Nietzsche memulai bekerja sebagai pengajar philology klasik pada Universitas Basel. Kemudian pada tahun 1870-1871, Nietzsche terlibat pada perang Perancis melawan Prusia. Nietzsche menjadi anggota pasukan Prusia sebagai tenaga medis. Perang ini menimbulkan suatu efek trauma dalam diri Nietzsche. Dia juga terkena penyakit dipteri dan disentri. Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa Nietzsche juga terkena penyakit sifilis pada masa ini.[4]

Setelah kembali ke Basel pada tahun 1870, Nietzsche mengamati pendirian kekaisaran Jerman pada era Otto Von Bismarck. Di universitas ini pula, dia menerbitkan tulisannya yang berjudul “Homer and Classical Philology”. Pada tahun 1872, Nietzsche mengeluarkan bukunya yang pertama, yakni berjudul “The Birth of Tragedy”. Akan tetapi, koleganya, dalam ilmu philology klasik, kurang memberikan penghargaan kepada Nietzsche atas terbitnya buku ini. Kemudian di saat-saat selanjutnya, Nietzsche juga mengalami hambatan dalam komunitas philology. Ini disikapi Nietzsche dengan mencoba berkarir di bidang filsafat pada Universitas Basel, walau juga kurang sukses.[5] Pada periode tahun 1873-1876, Nietzsche menerbitkan 4 esai. Esai-esai tersebut memberikan suatu pemahaman mengenai kritis budaya, yakni mengenai tantangan dari perkembangan budaya Jerman. Esai ini dipengaruhi oleh pemikiran Schopenhauer and Wagner. Pada tahun 1873, Nietzsche memulai mengumpulan catatan-catatannya yang kemudian diterbitkan dengan judul “Philosophy in the Tragic Age of the Greeks”. Pada tahun 1876, Nietzsche berteman dengan Paul Ree, yang mempengaruhinya dalam membebaskan sikap pesimistis yang nampak dalam tulisan-tulisan awalnya.

Pada tahun 1878, Nietzsche menerbitkan buku berjudul “Human, All Too Human”. Buu ini menunjukkan reaksi Nietzsche melawan sikap filsafat pesimistis yang diajarkan oleh Wagner dan Schopenhauer. Pada tahun 1879, setelah terjadi penurunan secara signifikan atas kondisi kesehatannya, Nietzsche mengundurkan diri dari posisinya sebagai pengajar di Universitas Basel.

Periode besar yang kedua dalam hidup Nietzsche adalah periode tahun 1879-1889.[6] Dikarenakan penyakit yang dideritanya, Nietzsche berusaha mencari tempat yang memiliki iklim yang cocok dengan kondisi kesehatannya. Dia melakukan banyak perjalanan dan hidup sebagai pengarang lepas pada berbagai kota. Nietzsche menghabiskan waktunya pada musim panas di kota Sils Maria di negara Swiss. Pada musim dingin, Nietzsche berada di kota-kota di Italia, antara lain Genoa, Rapallo, dan Turin. Pada tahun 1881, Nietzsche juga merencanakan untuk berkunjung ke Tunisia. Tujuannya adalah dia ingin mengamati eropa dari luar. Akan tetapi, rencana ini dibatalkan. Kemungkinannya adalah karena factor kesehatan yang kurang mendukung.

Setelah menerbitkan buku berjudul “Human, All Too Humanpada tahun 1878, Nietzsche menjadi aktif dalam menerbitkan buku-buku sampai tahun 1888. Tahun 1888 merupakan tahun akhir penulisan bukunya.

Tragedi

Hidup Nietzsche penuh dengan tragedi. Sejak masa kecilnya, banyak penderitaan yang dialaminya. Mulai dari meninggalnya sang ayah pada usianya yang dini, kemudian disusul dengan berbagai macam penyakit pada tubuhnya. Banyak penyakit pernah diderita oleh Nietzsche, antara lain gangguan pada mata yang hampir menyebabkan kebutaan, migren, dan ketidakmampuan pada pencernaan untuk menerima makanan keras. Gangguan pada kesehatan terus dialami pada masa dewasanya. Pada tahun 1868, dia mengalami kecelakaan, dan juga pada tahun 1870 mengalami penyakit yang lumayan berat.

Pada bulan januari 1889, Nietzsche mengalami penyakit mental yang berat. Dia menjadi gila.[7] Kegilaan Nietzsche nampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan. Dia menulis surat kepada teman-temannya dengan menggunakan berbagai macam identitas, misalnya: Yang Tersalib, Ferdinand de Lesseps, dan lain sebagainya.[8] Kegilaan ini berlangsung sampai meninggalnya pada tanggal 25 Agustus 1900.

Aphorisme dan Filsafat Nietzsche

Karya dan pemikiran Nietzsche sebagian besar tidak disusun dalam sesuatu yang sistematis. Pemikiran-pemikirannya dibuat dalam bentuk aphorisme. Aphorisme berasal dari kata yunani aphorismos. Aphorisme adalah suatu pemikiran yang asli, apa adanya, yang diucapkan atau ditulis dengan singkat atau pendek-pendek yang mudah diingat.

Nietzsche menyukai metode aphorisme. Tulisan dan pemikirannya dituangkan berupa kalimat-kalimat pendek. Ada satu kesulitan yang ditimbulkan dalam pemikiran Nietzsche ini. Menurut Budi Hardiman, yang sangat sulit adalah mengerti maksud atau arti dari kalimat-kalimat tersebut. Budi Hardiman mengatakan: “Tulisan-tulisannya bukan hanya tidak membentuk sistem, melainkan juga mengandung pertentangan satu sama lain. Pemakaian aphorisme erat kaitannya dengan penolakan Nietzsche terhadap sistem”.[9] Bagi Nietzsche, sistem membuat moral para filsuf menjadi merosot. Sistem membuat filsuf menjadi bodoh. Bagi Nietzsche, kebenaran mustahil dikemas dalam suatu sistem.[10] Pemberontakan Nietzsche terhadap sistem ini juga tampak dari tulisannya yang dikutip oleh Franz Magnis: “Aku bukan manusia, aku dinamit..Aku menentang sebagaimana belum pernah ada yang menentang.[11] Walaupun pemikirannya dalam bentuk yang tidak sistematik dan merupakan suatu pertentangan akan sistem, pemikiran Nietzsche tetaplah sangat berpengaruh dan memberikan banyak inspirasi yang positif bagi kehidupan.

Ada beberapa ciri aphorisme, yaitu: kreatif, agresif, paragraph-paragraf pendek, tidak terkait satu sama lain, tidak ada sistematika. Para penganut aphorisme memandang realitas sebagai sesuatu yang terbuka. Realitas itu tidak terbatas. Mereka juga mencintai daya-daya kehidupan. Nietzsche mengambil bentuk aphorisme ini juga karena pengaruh tragedi-tragedi yang terjadi dalam hidupnya. Tragedi-tragedi dalam kehidupannya dapat dimanfaatkannya menjadi sesuatu yang positif bagi perkembangan pemikiran filsafat. Dikatakan oleh Nietzsche demikian: “..bahwa periode panjang kesakitan terasa bagiku kini..aku menemukan hidup seolah ia sesuatu yang baru.[12] Banyak hal baru diberikan Nietzsche sebagai hasil pengaruh pemikirannya.

Nietzsche dan Opera Van Java

Tayangan “Opera Van Java”, yang akhir-akhir ini sering muncul di sebuah televisi swasta Indonesia, tentulah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Acaranya cukup menghibur. Kelucuan yang ditampilkan oleh para artis pendukung acara ini sangat bervariatif. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau acara ini begitu disenangi masyarakat. Walaupun hampir tiap hari ditayangkan orang tidaklah bosan dengan acara tersebut. Kreatifitas para pendukung acaranya seperti tidak ada habis-habisnya. Selalu ada ide cerita yang baru dan layak untuk disajikan kepada pemirsanya.

Dalam kacamata Nietzsche, konsep acara OVJ ini hampir sama dengan metode aphorisme yang dianutnya. Apabila acara-acara hiburan yang lain menggunakan konsep yang terstruktur rapi dalam dialognya, maka OVJ tidak mau seperti itu. Para pendukung acara ini mencoba suatu cara yang baru. Para artisnya tidak diberi naskah dialog untuk dihapal. Mereka hanya diberitahu apa cerita yang mau dibawakan. Lalu, dengan bantuan seorang dalang, para artisnya akan dituntun mengenai apa yang harus dilakukan. Dalam hal ini, dituntut suatu kreatifitas dan orisinalitas sang artis untuk mengucapkan dialog yang menarik, lucu, dan menghibur. Spontanitas sangat dituntut dari para artisnya.

Dari tayangan OVJ ini, saya mencoba merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana banyak orang merasakan dalam kehidupannya, manusia terbiasa hidup dalam suatu sistem. Dari manusia lahir sampai mati, mereka tidak bisa terlepas dari apa yang dinamakan sistem. Sadar atau tidak sadar, sistem tersebut sudah melekat pada diri manusia. Nilai-nilai kehidupan, ukuran kesuksesan, apa itu yang berharga, bagaimana manusia hidup, dan lain sebagainya merupakan sistem-sistem yang mengatur hidup manusia. Manusia tidak bisa menjadi dirinya sendiri yang otentik. Hidup seseorang seolah-olah diatur oleh masyarakat. Ini dirumuskan oleh Nietzsche demikian: “Realitas telah dirampas nilainya, maknanya, kejujurannya..[13]

Dalam bidang pendidikan, orang digiring untuk merasa nyaman dan aman bila bersekolah dalam sekolah formal. Mulai dari playgroup, TK, SD, SMP, SMA, lalu masuk perguruan tinggi. Orang tidak lagi merefleksikan apa yang menjadi minat dan tujuan hidupnya. Untuk sebagian orang memang jalur pendidikan seperti itu cukup tepat. Akan tetapi, kita harus merenungkan secara lebih mendalam, bagaimana dengan orang yang kurang cocok untuk pendidikan formal semacam itu. Banyak orang kurang bisa belajar pelajaran-pelajaran formal. Mereka ini bisa lebih nyaman bila diberikan pendidikan yang model praktek kerja. Juga tidak menutup kemungkinan orang belajar dari jalur-jalur non-formal, misalnya melalui televisi, internet, koran, dan lain sebagainya. Juga melalui magang kerja orang bisa belajar sesuatu yang berharga dan berguna bagi hidupnya.

Dalam hal pilihan hidup, sistem dalam masyarakat menganggap normal bila orang yang sudah dewasa untuk menikah. Apabila ada orang yang sudah mencapai umur yang matang tapi masih belum menikah, banyak yang memberi cap negatif pada mereka ini. Bisa jadi pilihan orang untuk tidak menikah karena mereka lebih nyaman hidup sebagai seorang yang single. Tapi, masyarakat umum masih menganggap sikap dan pilihan hidup untuk tidak berkeluarga adalah sesuatu yang aneh. Ini adalah suatu pilihan. Masyarakat harus mau menyadari dan menghargai akan pilihan hidup seseorang. Justru dengan mereka hidup single, mereka bisa merasa nyaman dalam menjalani kehidupan mereka. Ketika mereka nyaman dalam menjalani hidup mereka, mereka bisa lebih produktif dan lebih banyak memberikan sumbangan bagi masyarakat dunia ini. Ini bukan berarti menyepelekan pilihan hidup orang untuk berkeluarga. Tapi, yang mau saya tekankan adalah pada penghargaan atau apresiasi atas pilihan hidup seseorang untuk hidup tidak berkeluarga.

Dalam hal pekerjaan, banyak orang yang mengejar suatu kemapanan dalam pekerjaan. Pekerjaan tetap, karir tinggi, bekerja dari senin-sabtu, bahkan kalau bisa hari minggu juga bekerja. Hidup untuk mengejar uang dan kekayaan. Bila direnungkan lagi, hidup demikian sebenarnya sangatlah monoton. Hidup menjadi hambar dan kosong. Apa artinya hidup kalau hanya untuk itu. Pagi berangkat kerja, pulang larut malam. Orang yang demikian tidak dapat menikmati hidup ini. Hidup hanya dihabiskan untuk mengejar kekayaan dan prestasi belaka. Ada banyak hal yang berharga dalam hidup ini. Hidup bukan untuk uang saja. Hidup manusia pada dirinya sendiri sudah berharga. Banyak hal yang menarik dan berharga untuk dilakukan. Bagi mereka yang memiliki teman dan sahabat dekat, mereka dapat memberikan waktu untuk mau ngobrol dan hadir bersama sahabat-sahabat mereka. Bagi mereka yang memiliki keluarga, misalnya ayah, ibu, anak, istri, dan saudara-saudara kandung, mereka dapat memberikan waktu untuk hadir bersama keluarganya.

Be yourself merupakan semboyan yang kritis dan filosofis. Jadilah dirimu sendiri. Sebagaimana dikatakan Nietzsche dalam bukunya: “Aku adalah begini dan begitu. Janganlah, di atas segalanya, mengaburkan aku dengan apa yang bukan diriku![14] Kehidupan manusia sungguh-sungguh dapat dikatakan hidup apabila tiap-tiap individu menyadari akan hal ini. Hidup manusia itu unik, menarik. Dalam kebebasan dan kreatifitasnya masing-masing, orang dapat memberi corak kehidupan bagi dunia ini. Seperti halnya pandangan Nietzsche mengenai suatu sistem, apabila kehidupan ini dijalani sesuai dengan sistem yang ada, maka nilai-nilai dalam kehidupan menjadi merosot. Sistem membuat masyarakat menjadi bodoh dan tidak kreatif. Orang hanya bersikap pasif dan menjalani hidupnya seperti suatu robot. Beranilah tampil beda. Perbedaan ini akan membuat kehidupan menjadi penuh warna dan hidup.

Hidup secara kreatif. Tidak perlu takut dengan sistem pemikiran yang ada dalam masyarakat. Ini sebagaimana ditulis oleh Nietzsche: “…orang yang menghancurkan sekumpulan nilai-nilai, para penghancur ini,…dia adalah seorang yang kreatif..[15]. Gali dan kembangkan segala potensi yang ada dalam tiap diri seseorang. Ciptakan ide-ide baru dalam kehidupan ini. Berani membuat pilihan-pilihan hidup yang baru dan tidak memaksakan suatu sistem kepada orang lain. Nikmatilah hidup. Banyak keindahan yang bisa dihasilkan dari kreatifitas semacam ini. Nietzsche menyadari hal ini. Ini tampak dalam tulisannya: “..aku menoleh ke belakangku, aku menatap ke hadapanku, belum pernah sebelumnya kulihat hal-hal yang begitu banyak dan begitu baik bersama-sama..[16] Jangan sampai kita tertipu oleh buaian-buaian semu yang dibuat oleh sistem dalam masyarakat. Dengan itu semua, maka kehidupan ini bisa menjadi lebih indah, kreatif, menarik, dan sungguh-sungguh menjadi hidup.

Kesimpulan

Berani tampil beda dan menjadi diri sendiri, merupakan sesuatu yang harus disadari dan diperjuangkan oleh masyarakat sekarang ini. Sebagaimana ditunjukkan dalam tayangan OVJ, dan juga melalui pemikiran aphorisme dari Nietzsche, kita bisa merasakan hasilnya. Banyak hal bisa diberikan dari kesadaran demikian ini. Hidup menjadi lebih penuh warna dan menarik. Orang juga bisa menikmati kehidupan ini dengan sepenuhnya. Sehingga, orang tidak lagi hidup dengan penuh tekanan-tekanan. Tekanan-tekanan yang didapat orang juga tidak terlepas dari sistem-sistem yang dibuat oleh masyarakat. Padahal, sistem-sistem tersebut merupakan hal yang semu dan mengaburkan orang akan realitas kehidupan. Orang tidak lagi menyadari keindahan dalam kehidupan ini.

Dari analisa dan pembahasan ini, saya akan menarik kesimpulan dari hipotesis awal yang saya berikan. Hipotesis awal saya adalah: kehidupan itu menjadi lebih hidup dan menarik apabila kehidupan ini dijalani dengan spontanitas yang kreatif. Dan dari analisa permasalahan dalam pandangan Nietzsche, saya menyimpulkan bahwa: kehidupan itu menjadi lebih hidup dan menarik apabila kehidupan ini dijalani dengan spontanitas yang kreatif.

Tanggapan Kritis

Dalam bagian akhir paper ini, saya akan memberikan tanggapan kritis saya mengenai penerapan pemikiran saya di atas dalam kehidupan sehari-hari. Berani tampil beda dan menjadi diri sendiri memang merupakan suatu impian dalam diri kita masing-masing supaya kehidupan kita menjadi lebih bermakna. Akan tetapi, dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat, kita memiliki peraturan dan norma-norma yang tidak bisa dihindari. Memang terkadang peraturan tersebut terlalu mengatur dan mengarahkan kehidupan kita, sehingga kita tidak dapat menjadi bebas dan tidak dapat mengembangkan diri kita secara maksimal. Tetapi, di sisi lain, peraturan dan norma tersebut juga memberikan sesuatu yang positif bagi kehidupan manusia.

Hal positif tersebut adalah dalam hal pengalaman. Ketika seseorang menjalani kehidupannya pada saat sekarang ini, dia dapat melihat pengalaman dari orang yang hidup lebih dahulu sebelum dirinya. Dengan demikian, orang tersebut tidak mengulangi kesalahan yang sama sebagaimana telah dilakukan oleh orang lain. Dengan melihat pengalaman orang lain, yang seringkali terbentuk dalam norma-norma, kebiasaan-kebiasanaan, dan juga peraturan, seseorang bisa bertumbuh dengan lebih baik dan bisa memikirkan hal lain yang lebih baru dan lebih berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Daftar Pustaka

clip_image001 Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007.

clip_image001[1] Magnis, Franz, 13 Tokoh Etika, Kanisius, Yogyakarta, 1997.

clip_image001[2] Nietzsche, Friedrich, Ecce Homo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.

clip_image001[3] Nietzsche, Friedrich, Thus Spoke Zarathustra, Cambridge University Press, Cambridge, 2006.

Sumber Internet

clip_image001[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36

clip_image001[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36.

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007, hal 260.

[8] Ibid, hal 261.

[9] Ibid, hal 261

[10] Ibid, hal 262

[11] Magnis, Franz, 13 Tokoh Etika, Kanisius, Yogyakarta, 1997, hal 195.

[12] Nietzsche, Friedrich, Ecce Homo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000, hal 13.

[13] Ibid, hal 3.

[14] Ibid, hal 3.

[15] Nietzsche, Friedrich, Thus Spoke Zarathustra, Cambridge University Press, Cambridge, 2006, hal 9.

[16] Nietzsche, Friedrich, Ecce Homo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000,, hal 8.

Mencari “Keadilan?”, Sebuah Persoalan Abadi

justice pic

Mencari “Keadilan?”

Sebuah Persoalan Abadi

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Mencari keadilan adalah proses sepanjang masa. Ya, keadilan adalah masalah abadi manusia. Keadilan diinginkan tetapi hampir tak pernah terpenuhi sepenuhnya. Ia diimpikan tetapi tak pernah terengkuh seutuhnya. Ia adalah tanda tanya.

Proses mencari keadilan inilah yang mewarnai simposium I Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya yang bertemakan “Mencari Keadilan di dalam Masyarakat Multikultur” pada Sabtu 13 November 2010 pk 10.00-16.00 di UNIKA Widya Mandala Surabaya Gedung Dinoyo 42-44.

Ada tiga pembicara yang diundang, yakni Daniel Dhakidae dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta, F. Budi Hardiman dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan Romo Markus Rudi Hermawan sebagai pendamping korban ketidakadilan di Surabaya. Mereka membagikan pengetahuan mereka soal permasalahan keadilan di Indonesia. Dua pembicara pertama memberikan pendekatan teoritis. Sementara pembicara ketiga membagikan pengalamannya.

Masalah Abadi

Keadilan adalah pergulatan abadi manusia, baik itu secara teoritis maupun praksis. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Plato melihat keadilan sebagai harmoni, baik di tataran sosial maupun individual. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang anggotanya bekerja sesuai fungsi sosialnya untuk menjamin kesejahteraan bersama. Sementara individu yang sehat itu mirip seperti masyarakat yang adil, di mana semua organ tubuhnya berfungsi sempurna.

Plato mempunyai murid tercinta. Namanya Aristoteles. Ia tidak setuju dengan pendapat gurunya, dan kemudian mencoba mengajukan argumen yang lain. Baginya keadilan adalah bagian dari keutamaan, dan keutamaan hanya dapat dibentuk melalui kebiasaan. Jika anda ingin jujur, tidak cukup anda hanya mengetahui apa arti jujur, tetapi anda juga perlu terbiasa bertindak jujur di dalam keseharian.

Di masa abad pertengahan, Thomas Aquinas mencoba mengajukan argumen tambahan. Baginya keadilan adalah upaya memberikan pada orang apa yang menjadi haknya. Jika ia berhak atas gaji tinggi, maka tindakan yang adil adalah memberikannya gaji tinggi. Jika ia berhak atas nilai yang bagus, maka berikan ia nilai yang tinggi.

Perdebatan masih berlangsung. Pada masa modern Immanuel Kant melihat keadilan sebagai bagian dari kewajiban moral yang tidak bisa dipertanyakan. Keadilan berpijak pada tiga prinsip, yakni tindakan yang bisa disetujui oleh semua orang, memperlakukan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan berasal dari kebebasan. Keadilan adalah bagian dari moralitas yang tegak berdiri di dalam sanubari manusia.

Pada akhir abad keduapuluh, perdebatan tentang keadilan masih berlanjut. John Rawls melihat keadilan sebagai suatu sikap fair yang didasarkan pada prinsip-prinsip rasional yang terukur. Sementara Habermas melihat keadilan sebagai hasil dari kesepakatan dari proses komunikasi yang bebas. Jacques Derrida berpendapat lain. Baginya keadilan tidak mungkin terwujud di masa sekarang. Keadilan adalah harapan yang selalu lolos dari genggaman masa kini, dan menunggu untuk diwujudkan di masa mendatang.

Pemahaman tentang keadilan selalu berkembang dan mengundang perdebatan. Para filsuf masih berdiskusi keras untuk memahami arti sesungguhnya, dan mencari kemungkinan penerapan di masa yang terus berubah. Pada level praksis di Indonesia, keadilan juga masih menjadi impian. Keadilan menjadi harapan bagi mereka yang peduli pada kemanusiaan.

Situasi Indonesia

Bagi Daniel Dhakidae arti keadilan tidak lagi perlu diperdebatkan. Makna keadilan yang sejati telah tercantum di dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka secara konseptual baginya, tidak perlu lagi kita berdebat secara teoritis tentang arti keadilan. Itu hanya membuang amunisi pikiran.

Baginya Indonesia sekarang ini telah mengalami perubahan besar. Pada masa Orde Baru, negara, dengan institusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), memiliki kekuasaan besar, karena mereka mengatur bidang-bidang yang terkait dengan kehidupan rakyat banyak, seperti listrik, air, dan sebagainya. Otoritas politik negara begitu kuat. Perusahaan swasta nyaris tidak memiliki tempat untuk bersaing.

Model negara semacam itu disebut Dhakidae sebagai negara organistik. Negara itu seperti tubuh yang besar, dan organ-organ di dalamnya yang memiliki fungsi spesifik. Pemimpin negara dianggap sebagai kepala yang memimpin dan memerintah semua organ-organ tersebut. Negara juga dianggap sebagai keluarga dengan presiden sebagai figur ayah.

Setelah reformasi negara organistik semacam itu ambruk. Yang tercipta kemudian adalah negara yang terpecah-pecah. BUMN lenyap digantikan oleh perusahaan-perusahaan swasta. Inilah fenomena yang banyak dikenal sebagai deregulasi dan privatisasi. Negara tidak lagi berkuasa. Yang berkuasa kini adalah korporasi-korporasi raksasa.

Di dalam negara organistik, menurut Dhakidae, peluang korupsi oleh aparatur negara amat besar. Tidak ada kontrol masyarakat yang cukup kuat atas kekuasaan negara. Di dalam negara neo-liberal sekarang ini, di mana negara tidak lagi berkuasa mutlak, peluang korupsi melebar tidak hanya di antara aparatur negara, tetapi juga di kalangan perusahaan-perusahaan bermodal raksasa. Kekuasaan absolut negara yang korup digantikan oleh kekuasaan korporasi raksasa yang penuh dengan kerakusan.

Inilah situasi Indonesia dewasa ini. Di dalam pergantian peta politik tersebut, keadilan hampir tidak pernah dibicarakan. Rapat DPR hanya soal teknis prosedural tanpa ada pikiran kritis untuk menerapkan keadilan. Pada titik ini apa yang perlu dilakukan?

Model Keadilan

Budi Hardiman mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Baginya setelah reformasi Indonesia memiliki empat macam model keadilan politik. Model pertama adalah model keadilan komunitarian. Di dalam model ini, keadilan berpijak pada paham satu kelompok dominan tertentu yang ada di masyarakat. Nilai-nilai kultural kelompok tersebut dianggap berlaku umum untuk semua masyarakat.

Di dalam model ini, negara beroperasi dengan berpijak pada nilai kelompok kultural dominan tertentu. Kelompok lain diharapkan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai kelompok dominan. Jika tidak mereka akan menghadapi penghukuman. Inilah model tata politik keadilan komunitarian, di mana arti keadilan di dasarkan pada satu ajaran kelompok kultural tertentu.

Model ini jelas mengandung ketidakadilan tertentu. Model kedua yang diamati Budi Hardiman adalah model keadilan liberal. Di dalam model ini, negara bersikap netral terhadap semua pandangan kultural yang ada di dalam masyarakat. Negara hanya menjamin keamanan tiap warga negara, tanpa berpihak pada satu kelompok apapun. Model semacam ini banyak ditemukan di negara-negara liberal Barat.

Menurut Budi Hardiman model kedua ini juga mengandung ketidakadilan tertentu. Model ketiga yang diamatinya adalah model keadilan multikultural. Di dalam model ini, negara merangkul semua kelompok kultural yang ada di dalam masyarakat, baik yang minoritas maupun mayoritas. Tidak hanya merangkul negara juga mendorong perkembangan setiap kelompok kultural yang ada dalam bentuk subsidi ataupun pemotongan pajak. Sekilas model ini kelihatan ideal. Namun Budi Hardiman mengajukan model lain yang, menurutnya, lebih tepat, yakni model keadilan transformasional.

Di dalam model keempat, yakni model keadilan transformasional, ini, negara membuka forum-forum di dalam masyarakat, supaya setiap orang bisa berdiskusi tentang apa itu keadilan, dan bagaimana penerapannya. Forum-forum tersebut bisa dalam bentuk acara di TV, opini di koran, forum-forum ilmiah, aktivitas LSM, dan sebagainya. Setiap orang bisa membawa nilai-nilai kultural kelompoknya, dan berdiskusi dengan nilai-nilai kelompok lain tentang pelbagai kebijakan yang ada di dalam masyarakat. Fungsi negara adalah menjamin kebebasan dan keamanan forum-forum tersebut.

Di dalam model keadilan tranformasional ini, keadilan adalah suatu proses yang terus diperjuangkan, baik dalam teori maupun praksis. Proses perjuangan dilakukan dalam diskusi yang berkelanjutan di dalam forum-forum publik yang ada. Keadilan adalah suatu ketidakmungkinan di masa sekarang, tetapi terus diperjuangkan untuk diwujudkan di masa depan. Untuk itu peran masyarakat sipil sangat penting. Masyarakat sipil harus aktif dalam kegiatan-kegiatan publik, supaya bisa menciptakan kebijakan-kebijakan yang lebih adil di masyarakat. Tanpa peran masyarakat sipil yang besar, model keadilan ini tidak akan pernah terlaksana.

Pengalaman Ketidakadilan

Dua sumbangan ide di atas adalah sumbangan teoritis. Romo Markus Rudi Hermawan memperkenalkan pendekatan yang lain, yakni pendekatan dari sudut pandang korban. Ia mengundang dua korban ketidakadilan. Yang satu adalah korban lumpur Lapindo, dan yang kedua adalah korban penggusuran kali Jagir. Mereka menceritakan kisah ketidakadilan yang menimpa mereka, dan ribuan orang lainnya.

Ketidakadilan yang mereka rasakan adalah ketidakadilan yang berkelanjutan. Seolah setelah jatuh lalu tertimpa tangga. Rumah hilang lalu diikat dalam perjanjian yang merugikan. Masyarakat pun masih mempertanyakan apakah mereka menderita atau tidak. Sungguh naas nasib mereka.

Ketidakadilan yang mereka rasakan merusak martabat. Mereka dianggap sebagai hewan atau barang yang tidak berguna. Padahal mereka adalah manusia dan warga negara yang memiliki hak-hak asasi dan hak-hak legal. Namun itu semua sia-sia dilindas oleh mesin ketidakadilan yang bernama negara dan korporasi raksasa.

Budi Hardiman berpendapat bahwa para korban harus bekerja sama dan terus bercerita. Mereka harus terus menggalang kesadaran publik. Mereka harus terus melawan dan mengingatkan pemerintah, bahwa mereka adalah manusia yang punya hak dan hati nurani. Masyarakat sipil yang lain perlu terus menyediakan forum dan mendukung untuk para korban supaya tetap bersuara. Para akademisi perlu menyumbangkan pemikiran dan jaringan mereka, supaya suara korban terus didengar, dan bisa ditindaklanjuti secara efektif.

Pada akhirnya keadilan bukanlah sebuah tanda tanya, melainkan tanda seru. “Keadilan!” adalah kata yang mencerminkan tuntutan. Kita semua yang bekerja untuk mewujudkannya. Karena kita semua yang akan merasakannya. ***

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Undangan Diskusi Terbuka: Masalah-masalah Bioetika Dewasa Ini

Diskusi-bioetika-11

Antara Kita dan Lupa

why-do-we-forget-things_1

Antara Kita dan Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tak ada yang lebih sulit daripada perjuangan melawan lupa. Ingatan begitu mudah lenyap ditelan peristiwa. Banyak hal buruk diredam, dan dibuat tak bermakna. Yang tersisa kemudian adalah rasa tak berdaya.

Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang ini: LUPA. Banyak kasus dan skandal politik raksasa lolos dari perhatian masyarakat. Media menawarkan hasrat konsumtif yang mengalihkan perhatian. Kejahatan pun berlalu tanpa ada pertanggungjawaban.

Tidak Berpikir

Mengapa kita begitu mudah lupa? Karena kita tidak berpikir tentang apa yang bermakna. Lebih dari setengah abad yang lalu, Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, mengajukan argumen begini: jaman kita ditandai dengan satu gejala, yakni ketidakberpikiran. Yang dimaksudkannya adalah kita hanya mampu berpikir teknis dan mekanis, tetapi tidak pernah secara radikal menyentuh apa yang sungguh signifikan. Argumen ini dikembangkan oleh muridnya, Hannah Arendt, untuk menjelaskan keganasan rezim NAZI di Jerman pada masa perang dunia kedua.

Di Indonesia banyak orang cerdas. Prestasi akademis menghiasi ruang tamu secara berkelas. Namun semua itu hanyalah simbol dari kecerdasan teknis, dan bukan kedalaman berpikir. Akibatnya prestasi hanya hiasan, tanpa ada kebijaksanaan yang sungguh terukir.

Tanpa kedalaman orang akan terjebak pada apa yang dangkal. Dan salah satu tanda kedangkalan adalah kelupaan. Tak heran ingatan kita sebagai bangsa begitu pendek, karena kita tak pernah sungguh mendalami apa yang kita alami dan pikirkan. Kejahatan demi kejahatan publik berlalu tanpa ada upaya untuk mengusung keadilan.

Tanpa Sikap Kritis

Kita juga cenderung tidak kritis. Pendidikan difokuskan untuk menghafal dan mengulang, tanpa ada pengolahan materi yang kritis dan sistematis. Kita pun cenderung menerima, tanpa pernah mempertanyakan. Kita bagaikan anak yang disuap oleh kejahatan dan kebodohan, tanpa ada upaya untuk melawan.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Berbagai skandal dan kejahatan terjadi di depan mata, tetapi kita bebal dan merasa tak berdaya. Lalu kita pun lupa. Jauh lebih enak melupakan, daripada banting tulang mengejar keadilan yang berharga.

Maka kita perlu untuk belajar berpikir kritis. Berpikir kritis berarti siap menguji sesuatu, sampai sesuatu itu layak untuk diterima. Tidak boleh ada pernyataan ataupun peristiwa yang berlalu tanpa ditanya. Dengan berpikir kritis maka kita akan terlepas dari bahaya lupa.

Peka pada Pengalihan

Sikap tidak berpikir dan tidak kritis membuat kita muda tertipu. Media dan politisi mengalihkan dan membawa kita menuju apa yang semu. Bahkan upaya sistematis untuk menutupi kebenaran pun tidak terlihat oleh mata yang telah tertutup oleh debu. Kita ditipu di siang bolong tanpa sadar.

Tujuan dari pengalihan ini adalah kelupaan. Orang dibombardir dengan tawaran-tawaran produk yang membuat nikmat, supaya mereka terjebak di dalam kelupaan. Pada akhirnya orang menjadi rakus, dan tak peduli dengan soal keadilan. Kecepatan pergantian berita di media massa membuat kita cepat pula berganti fokus perhatian.

Maka kita perlu melihat dan menyadari, betapa kita telah ditipu. Kita perlu sadar betapa kita telah dibombardir dengan apa yang semu. Ini adalah awal untuk memerangi kelupaan. Dengan terbebas dari kelupaan, kita bisa fokus berjuang untuk apa yang sungguh penting, baik untuk diri kita sendiri, masyarakat, maupun keseluruhan peradaban.

Melampaui Rasa Takut

Musuh terbesar dari keberanian untuk mengingat adalah rasa takut. Rasa takut menggerogoti jiwa dan nurani orang, sehingga ia menjadi opurtunis dan pengecut. Ia melihat dan sadar, bahwa ada yang salah. Namun karena takut ia kemudian memilih untuk lupa, diam, dan mengubur rasa bersalah.

Sekarang ini di Indonesia, banyak orang tahu, bahwa ada yang tidak beres. Namun mereka takut untuk menyatakannya. Mereka memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan-urusan pribadi yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Dalam perjalanan waktu mereka terhanyut di dalam “rezim” yang ada, dan tenggelam di dalam lautan lupa bersama dengan yang lainnya.

Namun mau sampai kapan kita diam? Apakah menunggu sampai kita yang sungguh terkena dampak dari ketidakadilan? Bukankah itu sudah terlambat? Pada akhirnya kita perlu melampaui rasa takut, dan mempertaruhkan hidup kita untuk apa yang sungguh penting di dalam kehidupan, yakni rasa kemanusiaan, persaudaraan, dan keadilan.

Di bawah tekanan untuk berpikir dangkal dan teknis, tekanan yang membuat kita takut untuk berpikir dan bertindak kritis, serta godaan kenikmatan untuk menjadi lupa, kualitas kita sebagai manusia ditempa.

Pilihan ada pada anda.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Luka yang Memperkaya

pain: Google Images

Luka yang Memperkaya

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Hati terluka. Air mata menetes tanpa daya. Hidup terasa begitu sepi. Keluarga dan teman diam tersembunyi.

Itulah situasi batin orang-orang yang tersiksa. Hidup menggiring mereka ke ujung nestapa. Tak ada teman seperjalanan yang menguatkan. Yang ada adalah butir-butir kenangan akan pengkhianatan.

Seorang filsuf kontemporer terkemuka asal Slovenia, Slavoj Zizek, pernah menyatakan, bahwa hidup berasal dari katastrofi, atau bencana besar. Alam semesta bermula dari ledakan besar. Orang lahir ke dunia melalui penderitaan sang ibu. Cinta bukanlah gula kehidupan, namun justru sumber dari rasa sendu.

Maka orang perlu untuk melihat guncangan hidup sebagai bentuk kelahiran dari “yang lain”. Bahkan segala sesuatu yang di sekitar kita sekarang ini bermula dari sebuah bencana raksasa yang menimpa penguasa dunia sebelumnya, yakni dinosaurus. Maka guncangan bukanlah bagian dari kehidupan, melainkan justru kehidupan itu sendiri.

Situasi Batas

Manusia kerap kali terbentur situasi-situasi sulit dalam hidupnya. Situasi sulit ini menurut Karl Jasper, seorang filsuf Jerman, adalah situasi batas, termasuk di dalamnya adalah penderitaan, kematian, rasa bersalah, ketergantungan pada nasib, dan perjuangan di tengah bencana. Situasi batas ini membuat manusia sadar, betapa ia lemah dan tak berdaya. Situasi batas ini mengantarkan manusia pada kesadaran, bahwa Tuhan itu ada.

Dalam hidup kita dikepung oleh krisis tanpa henti. Kematian dari orang yang dicintai. Kehancuran bisnis yang dibangun di atas rencana dan mimpi. Hati yang terluka akibat pengkhianatan orang yang dikasihi. Sampai ditipu sahabat yang dipercaya.

Jasper mengajak kita menjalani semua ini dengan lapang dada. Krisis adalah situasi di mana manusia terbuka pada yang tak terbatas, atau Tuhan itu sendiri. Pada saat krisislah manusia menyadari, betapa ia bukan apa-apa. Krisis adalah pintu pencerahan dan penemuan kesejatian diri yang sesungguhnya.

Luka yang Memperkaya

Para pahlawan adalah mereka yang terluka. Medan perang menempa mereka. Luka tubuh adalah buktinya. Luka adalah simbol dari kepahlawanan yang perkasa.

Hal ini berlaku pula untuk luka mental. Kekecewaan dan penderitaan mental adalah simbol dari kepahlawanan jiwa. Orang perlu menyadari dan merawat luka itu dengan setia. Luka mental tidak boleh dilupakan, melainkan justru diterima dengan lapang dada.

Banyak orang takut akan lukanya. Lalu mereka tenggelam dalam hiburan semu, mulai dari alkohol, seks bebas, dan narkoba. Luka tidak jadi memperkaya, melainkan sesuatu yang berlalu tanpa makna. Buah dari semua itu adalah kedangkalan hidup di dunia.

Luka mental tidak pernah boleh dilupakan. Sayatan batin adalah simbol dari keperkasaan jiwa. Orang perlu melihatnya sebagai koleksi yang membanggakan. Penderitaan dan kekecewaan adalah piala-piala tanda keagungan jiwa.

Kesempatan

Luka adalah kesempatan. Krisis adalah peluang. Keduanya adalah peluang untuk menunjukkan, siapa kita sesungguhnya. Terlebih krisis adalah kesempatan untuk berbuat baik.

Kita seringkali melihat kekecewaan sebagai kerugian. Padahal kekecewaan adalah kesempatan untuk memaafkan. Kekecewaan adalah waktu yang tepat untuk berbuat baik. Kekecewaan adalah kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan.

Ketika bencana alam terjadi, itu adalah kesempatan untuk menolong mereka yang kesulitan. Ketika terjadi pengkhianatan maka itu adalah kesempatan untuk belajar tentang kesetiaan. Ketika terjadi banyak kejahatan, maka itu adalah kesempatan untuk memberi cinta yang menyegarkan.

Krisis juga kesempatan untuk membuktikan diri. Dengan krisis orang ditempa situasi, dan menjadi dirinya yang sejati. Orang hanya perlu bertahan melaluinya, dan semua akan selesai pada akhirnya. Pada saat itu orang merasa puas, karena ia memetik buah-buah dari kesulitan hidupnya.

Banyak orang patah karena krisis. Mereka putus asa lalu bunuh diri. Mereka tidak bertahan di dalam badai. Mereka takluk oleh hidup yang memang tak selalu adil.

Sikap semacam itu tidak bisa disalahkan. Itu juga bagian dari pilihan. Namun sebetulnya itu tidak perlu terjadi. Orang bisa melihat kekecewaan dan penderitaan hidup sebagai kesempatan untuk membuktikan diri, maupun untuk sungguh berbuat baik pada yang membutuhkan.

Absurditas Hidup

Seorang filsuf dan sastrawan Prancis, Albert Camus, pernah menulis, bahwa satu-satunya penjelasan atas banyaknya penderitaan yang tidak beralasan di dunia adalah, bahwa hidup itu pada hakekatnya adalah absurditas. Orang tidak bisa menjelaskan, mengapa mereka menderita. Orang juga tidak bisa menjelaskan, mengapa mereka yang tertimpa bencana. Hidup ini absurd karena tak pernah sepenuhnya terpahami.

Yang perlu dilakukan adalah menerima fakta absurditas itu sendiri, dan menjalaninya secara perlahan. Jika tidak orang akan terus terbentur, karena harapan tidak pernah sesuai dengan kenyataan. Orang akan bermimpi dan kecewa, karena mimpi tetaplah mimpi, tanpa realitas. Rasa putus asa ada di depan mata, juga disertai kecewa dan tangis.

Kita sering melihat betapa orang patah akibat kekecewaan. Kita juga sering melihat, betapa orang hancur, karena ditekan situasi. Namun sebetulnya mereka tidak perlu hancur, jika belajar menerima fakta absurditas hidup dan diri mereka sendiri. Mereka hanya perlu tertawa melihat, betapa hidup telah mempermainkan mereka.

Kekecewaan, penderitaan, dan krisis bukanlah bumbu kehidupan, melainkan justru esensi dari kehidupan itu sendiri. Absurd memang tetapi itulah yang terjadi. Bahkan awal mula alam semesta adalah sebuah katastrofi maha dasyat yang banyak disebut sebagai Dentuman Agung (the Big Bang). Kita tidak boleh lari darinya. Kita perlu memeluknya, merengkuhnya, dan bahkan mentertawakan absurditas dari semua yang ada. Hanya dengan begitu kita tidak tergoda untuk bunuh diri. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya