Dendam dan “Bagaimana Jika?”

layoutsparks.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dendam adalah sesuatu yang amat problematis. Konfusius –seorang filsuf asal Cina kuno- pernah menyatakan, “Sebelum anda melakukan balas dendam, galilah dua kuburan.” Yang satu mungkin untuk korban balas dendam anda. Namun yang kedua untuk siapa? Untuk anda?

Dendam

Menurut Simon Critchley, seorang filsuf asal Inggris, balas dendam adalah suatu “hasrat untuk membalas suatu luka ataupun kesalahan yang diciptakan oleh orang lain, dan seringkali dengan jalan kekerasan.” (Critchley, 2011) Logika balas dendam adalah, jika kamu memukul saya, maka saya akan memukulmu kembali.

Pertanyaan kritisnya adalah apakah luka dalam diri saya hilang, ketika saya membalas memukul orang yang sebelumnya memukul saya? Critchley melanjutkan jika kita bertindak dengan motivasi membalas dendam, bukankah diri kita sendiri pada akhirnya menjadi semacam perwujudan dari rantai kekerasan yang, kemungkinan, akan berjalan tiada akhir?

Padahal jika dipikir lebih dalam, di dalam tindakan balas dendam, sulit sekali menemukan, siapa yang sesungguhnya memulai rantai kekerasan? Ambil contoh kasus Amerika Serikat dengan 11/9-nya.

11/9

Mantan presiden Amerika Serikat, George W. Bush, berulang kali mengatakan, bahwa Amerika Serikat memiliki dasar yang kokoh untuk menyerbu Afganistan, yakni untuk menghancurkan Al-Qaeda. Tapi coba kita dengarkan dari Almarhum Osama Bin Laden, apa yang kiranya akan ia katakan? Tentu sebaliknya bukan?

Pada 2004 lalu muncullah sebuah video yang menakutnya. Judulnya The Towers of Libanon. Di dalamnya untuk pertama kali, Osama Bin Laden menyatakan bertanggungjawab atas tragedi 11/9 (jatuhnya menara WTC di New York) yang menimpa Amerika Serikat.

Bagi Bin Laden serangan yang berbuah tragedi itu adalah suatu tindakan balas dendam, karena selama berpuluh-puluh tahun, Amerika Serikat dianggap telah meremehkan otoritas politik maupun ekonomi dengan melakukan campur tangan berlebihan di negara-negara Islam di Timur Tengah. Bahkan Bin Laden menyatakan begini, “Jika tidak ada pelanggaran sebelumnya, maka kami tidak perlu melakukan balas dendam.”

Ia mencontohkan soal Swedia. Seperti dikutip Simon Critchley, Bin Laden menyatakan begini, “Orang-orang Swedia tidak pernah melakukan agresi terhadap dunia Islam, maka mereka tidak perlu takut kepada Al-Qaeda.”

Kehancuran

Jadi polanya begini; tragedi 11/9 di Amerika Serikat adalah suatu aksi balas dendam, yang dilakukan oleh Al-Qaeda, dan kemudian menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk melakukan balas dendam lebih jauh dengan menyerbu Afganistan, dan mendudukinya sampai sekarang (dengan biaya jutaan dollar AS yang jelas berkontribusi dalam resesi yang dialami Amerika Serikat sekarang ini). Lihat dimana letak irasionalitasnya?

Seperti dinyatakan oleh Critchley, dan saya setuju dengannya, aksi balas dendam adalah tindakan yang selalu bermuara pada kehancuran yang lebih besar. “Ketika kita bertindak atas dasar balas dendam”, demikian tulisnya, “balas dendamlah yang akan kita terima kemudian.” Jika itu yang terjadi, maka rantai kekerasan akan bergerak tanpa henti, dan menghancurkan semua pada akhirnya.

Inilah yang kiranya bisa kita pelajari dari tragedi 11/9 di Amerika Serikat, dan perang-perang selanjutnya. Tidak percaya? Coba kita lihat sedikit data statistik keuangannya (ini hanya satu sisi di samping ratusan ribu, bahkan jutaan, korban jiwa yang sudah jelas amat mengganggu hati nurani kita, atau minimal saya).

Sebagaimana dicatat oleh Critchley, Al-Qaeda menghabiskan dana sekitar 500.000 Dollar AS untuk merencanakan sekaligus melaksanakan serangan 11/9. Sementara untuk melakukan balas dendam, Amerika Serikat, sampai detik tulisan ini dibuat, sudah menghabiskan dana sekitar 500 milliar Dollar AS. Apa artinya?

Artinya setiap satu Dollar yang dikeluarkan Bin Laden sama dengan satu juta Dollar yang dikeluarkan AS untuk membalas dendam. Tak heran AS kini diambang kebangkrutan, akibat perang, resesi ekonomi, dan krisis hutang yang berkepanjangan.

Pada 1999 tepatnya di dalam pemilihan presiden AS, George W.Bush, seorang calon presiden dari partai Republik, menyatakan, bahwa filsuf politik yang paling mempengaruhinya adalah Yesus Kristus. Tepatnya ia menyatakan begini, “Saya memilih Yesus Kristus sebagai filsuf politik favorit saya. Ia mengubah hati saya.”

Alternatif

Hmmm.. kira-kira apa yang akan Yesus Kristus lakukan, jika ia menjadi presiden AS, dan diminta menanggapi tragedi 11/9 di AS? Critchley menyatakan dengan sangat jelas, “Yesus Kristus akan memberikan pipi yang lainnya.” Apa artinya?

Di dalam Injil Perjanjian Baru agama Kristen, Petrus pernah bertanya begini pada Yesus, berapa kali orang harus memaafkan? Petrus mengira –sesuai dengan anggapan lama waktu itu- batas pemberian maaf adalah tujuh kali.

Jawaban Yesus mengejutkan. “Bukan. Bukan tujuh kali,” katanya, “tapi tujuh kali tujuh kali.” Secara gamblang dapat ditafsirkan, pemberian maaf itu tidak terbatas.

Andai George W. Bush konsisten dengan ucapannya, bahwa ia menjadikan Yesus Kristus sebagai gurunya, apakah ia akan membalas Al-Aqaeda dengan menyerang Afganistan dan kelompok-kelompok yang terkait dengannya?

Critchley merumuskannya begini; “Andai tidak ada perang setelah 11/9, tidak ada balas dendam, tidak ada penyerangan yang gagal ke Afganistan, tidak ada penyerangan ke Irak, tidak ada perang gerilya yang harus dijalani tanpa akhir, apa yang terjadi?”

Bagaimana jika pemerintah AS memaafkan Osama Bin Laden, Al-Qaeda, seluruh tragedi 11/9? Bagaimana jika yang diangkat bukanlah kemarahan ataupun balas dendam, namun cinta kasih dan pengertian?

Bagaimana jika tragedi 11/9 yang menimpa AS justru menjadi contoh nyata perdamaian yang akan menjadi bahan pelajaran bangsa-bangsa lainnya untuk masa depan bersama yang lebih baik? Kita di Indonesia pun sama.

Kita di Indonesia

Tak harus kita berbicara besar soal bangsa. Cukuplah kita melihat diri kita, apakah kita masih membalas dendam pada orang yang pernah menyakiti  kita?

Dari tragedi 11/9 kita bisa belajar, bahwa dendam itu tak ada untungnya. Dendam bermuara pada kehancuran semua pihak, baik kehancuran spiritual, emosional, dan bahkan finansial.

Dendam hanya menciptakan rantai kekerasan yang tak ada akhir. Rantai kekerasan yang menciptakan luka dan trauma yang berlangsung lama, jauh lebih lama dari tindak membalas dendam itu sendiri.

Kekerasan tak perlu dibalas. Kekerasan dan kejahatan justru menjadi peluang bagi kita untuk sungguh belajar tentang arti perdamaian.

Konfusius pernah bilang bahwa jika kita membalas dendam, kita sedang menggali dua kuburan. Semoga anda tidak menggali kuburan untuk orang yang anda benci, dan terutama, tidak untuk anda sendiri.***

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Terima kasih kepada Simon Critchley untuk artikelnya yang amat inspiratif di kolom The Stone, New York Times

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

One thought on “Dendam dan “Bagaimana Jika?””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s