Destruksi tanpa Kesadaran Diri

destruction 593560 300x200 Destruksi tanpa Kesadaran DiriOleh: REZA A.A WATTIMENA

Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Beragam konflik sosial menghantam Indonesia. Konflik Tarakan, Ampera, sampai diusirnya secara brutal aktivis pembela HAM dalam demonstrasi di Jakarta baru-baru ini menghiasi wajah media kita. Kekerasan meluas. Kita perlu mundur sejenak, guna memahami akar masalah.

Yang jelas sikap destruktif itu bukan bentukan budaya, melainkan alamiah tertanam dalam kodrat manusia. Sikap destruktif tersebut bersandingan dengan karakter luhur manusia. Inilah yang menandakan kerumitan sekaligus kontradiksi di dalam diri manusia. Sikap destruktif inilah yang memungkinkan kejadian sederhana bisa memicu konflik sosial berskala raksasa.

Yang kita perlukan adalah taktik mengelola destruksi, dan mengubahnya menjadi kreasi. Destruksi harus dibarengi dengan motif perubahan, dan bukan penghancuran tanpa alasan. Maka kita perlu rancangan destruksi. Kita perlu sadar diri, dan menghindari kebetulan-kebetulan merusak yang dilakukan tanpa sadar.

Human Condition

Secara alamiah ada empat hal yang tertanam di dalam sikap destruktif manusia. Yang pertama adalah agresi. Agresi adalah sikap menyerang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Agresi meniadakan dialog ataupun kompromi. Agresi menghendaki kemutlakan.

Masyarakat kita penuh dengan agresi. Kelompok yang satu meminta tanpa pernah memberi. Permintaan tersebut selalu mutlak, tanpa mengenal kompromi. Konflik pun terjadi. Tawar menawar dianggap merusak harga diri. Permintaan menjadi ancaman yang memiliki harga mati.

Di tengah situasi ini, perdamaian tidak akan pernah tercipta. Sikap memutlakan nilai-nilai diri akan bermuara pada penindasan. Stabilitas pun semu. Yang ada hanyalah bom waktu konflik sosial yang siap meledak setiap waktu.

Agresi biasanya mengacu pada motivasi pelestarian diri. Inilah hal kedua yang tertanam di dalam sikap destruktif manusia. Untuk melestarikan diri apapun perlu dan harus dilakukan. Moralitas menjadi relatif ketika dihadapkan pada pelestarian diri.

Di Indonesia motif pelestarian diri masih dominan. Banyak orang tertekan oleh keadaan. Akibatnya untuk hidup sederhana pun mereka harus banting tulang. Di dalam masyarakat yang motif pelestarian diri masih dominan, konflik mudah sekali disulut menjadi kerusuhan raksasa.

Yang ketiga adalah motif dominasi. Agresi adalah sikap menyerang untuk memenuhi keinginan diri atau kelompok. Sementara dominasi adalah sikap mempertahankan kekuasaan secara total. Dominasi selalu merupakan penindasan. Alhasil dominasi akan selalu menghasilkan korban.

Dominasi masih kental di Indonesia. Sekelompok orang atas nama uang, kekuasaan, ataupun agama hendak menguasai kelompok lain dengan cara-cara agresif. Brutalitas menjadi pemandangan sehari-hari. Brutalitas adalah nyanyian sendu ruang publik kita.

Motif di balik semua ini adalah kekuasaan yang sekaligus merupakan sisi keempat sikap destruktif mansia. Dengan kuasa yang dimilikinya, manusia hendak melakukan agresi dan mendominasi pihak lain, sehingga memiliki kekuasaan yang lebih besar. Ini inheren di dalam diri manusia, dan bukan ciptaan budaya.

Empat sisi gelap ini bersandingan dengan karakter luhur nurani manusia. Semuanya membentuk mahluk kontradiktif yang bernama manusia. Semakin ia rumit dan kontradiktif, semakin ia menunjukkan kemanusiaannya. Tak heran seorang pemuka agama yang terkenal saleh dan suci berubah sekejap mata menjadi monster yang siap memangsa lawan-lawan ideologisnya.

Destruksi Kreatif

Destruksi tidak bisa menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Destruksi harus menjadi alat untuk berubah ke arah perbaikan diri. Untuk itu kita perlu rancangan. Rancangan kreasi ini dimulai dengan pembangunan kesadaran diri.

Kesadaran dapat diciptakan dengan memberikan pengakuan, yakni pengakuan bahwa setiap orang, termasuk saya dan anda, memiliki dimensi destruktif. Kedua, orang perlu mengurangi agresi. Agresi hanya dapat lenyap, jika orang menghindari kemutlakan. Kemutlakan hanya dapat lenyap, jika orang mengambil posisi ironi dan paradoks di dalam melihat hidup.

Kesadaran akan kerumitan diri membawa pada pencerahan. Pencerahan akan membawa manusia menyadari nuraninya. Jika begitu agresi dan dominasi dapat disalurkan menjadi daya pengubah diri. Destruksi dapat diubah menjadi sesuatu yang kreatif. Namun kembali: itu semua perlu dilakukan mulai dari penumbuhan kesadaran diri. ***

Gambar dari http://tagyourprofile.com/images/wallpapers/destruction-593560.jpeg

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Destruksi tanpa Kesadaran Diri”

  1. Saya sepakat bahwa ini bukan soal budaya, tapi lebih jauh soal hakikat kemanusiaan manusia Indonesia. Kekacauan ini menunjukkan bagaimana masyarakat kita kaya akan letupan instinktif, dan miskin akan cinta.

    Saya jadi teringat Erich Fromm dan apandangan kritisnya tentang cinta. Dia mengkritisi bahwa betapa banyak ungkapan cinta yang dikenal umum sebenarnya bukan cinta sejati. Cinta yang populer adalah cinta yang lebih narsistik dan cenderung menyiksa dari (sado masochist). Ini mungkin sebentuk dengan destruksi tanpa kesadaran diri. Kalau kita lihat, kerusuhan2 sering kali karena “cinta” yang luar biasa pada sesuatu, entah itu “Tuhan”, agama, kelompok dan lain-lain. Bisa juga pada diri sendiri, yang begitu menggila. Ini kemudian menciptakan sikap “I’ll do anything for love” yang sebenarnya berwujud perilaku membuta, brutal, destruktif (secara sosial maupun pada diri sendiri).

    Padahal menurut Fromm, cinta itu sebuah kapasitas interpersonal kreatif, yang dibangun oleh kepedulian (care), menghargai (respect), tanggungjawab (responsibility), dan pemahaman (knowledge). Cinta tanpa nilai-nilai ini tidak lagi merupakan cinta yang kreatif, membebaskan dan membawa kebahagiaan. Sebaliknya, rasa memiliki yang kerdil dan destruktif.

    Ini sepertinya yang terjadi sesungguhnya dengan masyarakat kita yang suka “membela” ini 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s