Tubuh yang Mendunia: Sebuah Refleksi Filsafat Tubuh

Technorati Tags: ,,

Tubuh yang Mendunia:

Filsafat Tubuh Maurice Merleau-Ponty

Reza A.A Wattimena

Manusia adalah tubuh sekaligus jiwa.[1] Tanpa jiwa ia bukanlah manusia, melainkan hanya mesin biologis. Tanpa tubuh manusia juga tidak menjadi manusia, karena ia hanya entitas imaterial yang mengambang tanpa basis empiris. Dengan demikian tubuh merupakan aspek penting bagi manusia, baik secara biologis, karena tubuh menunjang kehidupan manusia, maupun secara filosofis, yakni sebagai medium untuk menyentuh dunia dan merealisasikan dirinya sendiri. Tentu saja untuk menjadi otentik, orang harus menghargai dan memahami tubuhnya. Tanpa pemahaman tidak akan ada penghargaan. Dan tanpa penghargaan tidak akan ada penghayatan. Padahal penghayatan akan tubuhnya sendiri sangatlah berperan di dalam pengenalan diri manusia, yang merupakan jalan untuk menuju otentisitas.

Buku Samuel Todes ini merupakan suatu cara untuk merefleksikan tubuh manusia secara filosofis dengan menggunakan kerangka filsafat kontemporer.[2] Menurut Hoffman, di dalam pengantarnya untuk buku itu, Todes menolak dua asumsi yang banyak berkembang di dalam filsafat. Yang pertama adalah asumsi, bahwa penafsiran manusialah yang membentuk realitas. Realitas tidaklah memiliki entitas pada dirinya sendiri yang berdiri mandiri dari pikiran manusia. Oleh karena itu tidak ada data ataupun fakta yang telah terberi, karena semuanya merupakan hasil dari penafsiran manusia. Yang kedua adalah bahwa manusia melulu merupakan produk dari makna yang dibentuk secara sosial.

Tentu saja argumen Todes tidaklah dibangun dari kekosongan, melainkan dari titik pijak yang dibuat oleh para filsuf fenomenolog lainnya yang juga tertarik dengan problem tubuh, seperti Maurice Merleau-Ponty dan Heidegger. Fenomenologi adalah suatu pendekatan di dalam filsafat yang berdiri sebagai alternatif dari idealisme yang telah mendominasi filsafat selama berabad-abad. Secara sederhana idealisme adalah paham di dalam filsafat yang berpendapat, bahwa dunia adalah hasil kontruksi dari pikiran dan ide manusia, serta tidak memiliki realitas otonom pada dirinya sendiri. Sementara fenomenologi adalah pendekatan di dalam filsafat yang ingin memahami realitas pada dirinya sendiri. Fenomenologi mengandaikan bahwa realitas itu mandiri dari pikiran manusia, dan ingin memahaminya tanpa prasangka ataupun bias apapun.

Dengan caranya masing-masing, Heidegger dan Merleau-Ponty ingin merefleksikan keberadaan manusia di dunia dengan sedapat mungkin tidak masuk ke dalam idealisme. Di dalam karya magnum opusnya yang berjudul Being and Time, Heidegger mengajukan tesis mendasar yang nantinya akan dipertahankan di dalam seluruh bukunya, yakni bahwa temporalitas merupakan makna dari ada-nya Manusia. Manusia disebut Heidegger sebagai Dasein, yakni ada-di-sana. Sementara “ada” adalah konsep yang mendasari keberadaan manusia. Akan tetapi temporalitas Dasein (manusia) juga menjadi dasar bagi Ada yang universal. Bahkan dikatakan juga bahwa Dasein adalah satu-satunya pengada yang menanyakan Ada. Oleh karena itu tidak ada yang dapat bermakna, kecuali itu berada di dalam pemaknaan Dasein, karena Ada yang universal itu merupakan simbol dari keseluruhan realitas itu sendiri.

Konsekuensi pandangan Heidegger itu adalah penolakan terhadap realisme, yang berpendapat bahwa realitas memiliki status yang otonom lepas dari pikiran manusia. Menurut Hoffman, Heidegger berpendapat bahwa realisme merupakan suatu bentuk metafisika kehadiran yang masih percaya, bahwa benda memiliki status mandiri dari manusia. Padahal benda di dalam realitas lebih merupakan hasil konstruksi dan pemahaman Dasein. Maka keberadaannya tidaklah mandiri. Inilah inti idealisme Heidegger, menurut tafsiran Hoffman.[3] Sekali lagi Heidegger sangat menekankan, bahwa Ada yang universal, yang merupakan abstraksi dari seluruh realitas, tidaklah independen dari pikiran Dasein, melainkan selalu terkait dengannya. Maka Ada (Being) ini tidaklah mandiri, melainkan terkait dengan manusia. Ia bahkan mengatakan dengan tegas, bahwa hanya manusialah yang bisa mengenali dan memahami Ada. Manusia adalah pengada yang menanyakan Ada.

Di sisi lain cara berfilsafat Merleau-Ponty sangatlah berbeda dengan Heidegger. Sekilas membaca orang bisa langsung menemukan aura mistik-religius di dalam filsafat Heidegger. Namun hal itu tidak akan ditemukan di dalam pemikiran Merleau-Ponty. Inti filsafatnya terletak pada konsep tubuh (body), dan upayanya untuk lolos dari cengkraman filsafat idealisme. Menurutnya tubuh manusia bukanlah sesuatu yang imaterial, melainkan justru sebaliknya, tubuh manusia adalah suatu realitas otonom yang memang keberadaannya selalu berada dalam kaitan dengan pikiran, subyek, dan dunia. Pendekatan Merleau-Ponty, menurut Hoffman, mempunyai sisi yang unik. Ia berusaha mendekati realitas dengan pertama-tama mempelajari persepsi manusia. Mengapa pendekatan semacam ini yang dipilih olehnya?

Segala sesuatu yang konkret pertama-tama haruslah dapat disentuh oleh pengalaman manusia, walaupun tidak harus pengalaman empiris. Benda tersebut haruslah dapat dikenali, baik bentuknya, warnanya, ukuran, dan sebagainya. Disitulah pentingnya peran persepsi di dalam proses pengenalan realitas. Pendekatan ini dirumuskannya untuk melampaui perdebatan empirisme dan rasionalisme tentang proses pembentukan pengetahuan manusia. Empirisme adalah paham yang menekankan, bahwa pengalaman empiris merupakan syarat utama dari pembentukan pengetahuan manusia. Sementara rasionalisme adalah paham yang berpendapat, bahwa pengetahuan manusia dibentuk oleh prinsip-prinsip yang telah inheren di dalam akal budi manusia, bahkan sebelum adanya pengalaman inderawi.

Sebagaimana ditafsirkan oleh Hoffman, Merleau-Ponty ingin melampaui dua pandangan itu. Ia berpendapat bahwa obyek secara mandiri memiliki ukuran dan bentuknya sendiri. Obyek tersebut tampil di hadapan kita bagaikan lukisan di dalam sebuah galeri, yang tentunya mengandaikan beberapa hal, seperti jarak, cahaya, arah, dan sebagainya. Semua unsur itu akan membuat kita mampu melihat dan memahami benda secara maksimal (maximum visibility). Benda tersebut dapat dipersepsi secara sempurna. Di dalam persepsi warna, ukuran, dan bentuk tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang mengambang tanpa konteks, melainkan sebagai ekspresi dari obyek. Inilah artikulasi penuh dari obyek, yakni ketika obyek menampilkan dirinya kepada kita dengan semua unsur yang membentuknya. Pencerapan atas unsur dan obyek itulah yang membentuk pengetahuan manusia tentang dunia.[4]

Benda-benda di dunia tidaklah dapat dipisahkan begitu saja dari orang yang mempersepsinya. Benda-benda itu juga tidak dapat bersifat mandiri pada dirinya sendiri, karena benda itu hanya dapat dikenali melalui pencerapan dan eksistensi manusia, dan eksistensi itu terwujud secara konkret di dalam konsep tubuh manusia. Di dalam karya magnus opusnya yang berjudul Phenomenology of Perception, Merleau-Ponty mengajukan pendapat secara konsisten, bahwa kesatuan tubuh manusia yang mempersepsi mendapatkan kepenuhannya dengan menyentuh dan mempersepsi dunia.[5] Jadi tubuh dan dunia adalah dua entitas yang tak terpisahkan. Kepenuhan yang satu diperoleh dengan menyentuh yang lain. Tubuh menjadi utuh dengan menyentuh dunia. Sebaliknya dunia menjadi dapat dipersepsi dengan menyentuh tubuh.

Jika saya melihat gelas di depan saya, maka tubuh saya akan mempersepsinya sebagai gelas. Jika tubuh saya bisa mempersepsinya, maka gelas itu pastilah ada. Jadi gelas bukanlah suatu ilusi. Namun gelas juga bukanlah suatu entitas mandiri yang lepas begitu saja dari pikiran manusia. Keberadaan gelas sangatlah tergantung pada keberadaan manusia yang mempersepsinya. Proses persepsi bisa terjadi, karena manusia memilik tubuh. Dengan demikian pikiran manusia, tubuhnya, dan gelas di dalam realitas adalah satu kesatuan perseptual yang memungkinkan terciptanya pengetahuan. Apakah dengan argumen ini, Merleau-Ponty lalu terjatuh ke dalam idealisme? Bagaimana orang bisa mengetahui status mandiri dari benda-benda?

Menjawab pertanyaan itu Hoffman menafsirkan, bahwa Merleau-Ponty memiliki satu konsep yang memiliki ciri paradoks, yakni bahwa ada suatu konsep yang sekaligus bersifat tergantung pada manusia, sekaligus merupakan entitas pada dirinya sendiri. Merleau-Ponty menyebutnya sebagai sesuatu yang “untuk kita pada dirinya sendiri” (for us in itself). Dengan konsep ini ia ingin melepaskan diri dari idealisme, yang tidak percaya akan adanya benda pada dirinya sendiri, yakni benda yang punya status otonom lepas dari pikiran manusia.

Kesadaran perseptual, yang merupakan konsep unik dari Merleau-Ponty, dapatlah didamaikan dengan konsep benda yang independen dari pikiran manusia. Memang ini bukanlah suatu konsep yang cukup baru di dalam filsafat. Namun yang cukup baru adalah, bahwa Merleau-Ponty menempatkan konsep kesadaran perseptual tersebut untuk melakukan kritik terhadap idealisme. Kesadaran perseptual mengandaikan adanya tubuh, dan tubuh merupakan medium utama manusia untuk bersentuhan dengan realitas. Jadi walaupun konsep kesadaran perseptual sangat dekat dengan idealisme, namun konsep ini masih memberi ruang untuk status otonom tubuh dan realitas yang terkait, namun tidak sepenuhnya bergantung pada pikiran manusia. Tubuh adalah entitas pasif yang sekaligus aktif. Tubuh merupakan medium manusia untuk “mempunyai dunia”. Dengan kata lain manusia mendunia melalui tubuhnya.

Tubuh dan Dunia: Refleksi Lebih Jauh[6]

Tesis dasar dari Merleau-Ponty tentang tubuh, menurut Carman, adalah bahwa persepsi manusia akan dunia bukanlah persepsi terlepas tanpa konteks, melainkan suatu fenomena menubuh (bodily phenomenon). Persepsi bukanlah sesuatu yang bersifat privat. Tubuh juga bukan hanya sesuatu yang murni material. Persepsi adalah semacam titik tengah antara pengalaman subyektif internal di satu sisi, dan fakta-fakta obyektif eksternal di sisi lain. Persepsi bukan keduanya, tetapi juga sekaligus keduanya. Dalam bentuknya yang paling konkret, persepsi adalah unsur dari tubuh manusia yang menyentuh dunia. Konsep-konsep oposisi di dalam filsafat, seperti internal dan eksternal, mental dan fisik, subyektif dan obyektif, menurut Carman, tidaklah mampu menampung keseluruhan konsep tubuh di dalam filsafat Merleau-Ponty,[7] terutama karena persepsi dan tubuh sekaligus bersifat intensional dan mekanis, sekaligus subyektif dan obyektif, dan sekaligus internal maupun eksternal.

Kategori oposisi tersebut tentunya memiliki pengandaian, dan pengandaian itulah yang rupanya ingin direkonstruksi oleh Merleau-Ponty. Memang jika dilihat sekilas, kita akan menemukan adanya pengalaman-pengalaman subyektif, seperti perasaan, emosi, dan pengalaman-pengalaman eksternal, seperti adanya mobil, gelas, dan sebagainya. Akan tetapi kedua konsep itu, yakni pengalaman subyektif dan pengalaman eksternal, dibangun atas abstraksi dari keterbukaan manusia pada dunia. Dan menurut Merleau-Ponty keterbukaan kepada dunia itulah yang seharusnya direfleksikan lebih jauh.

Dengan demikian persepsi manusia memiliki dua aspek, yakni aktif dan pasif. Pasif berarti persepsi merupakan bagian dari organ yang menerima informasi dari pengalaman inderawi. Aktif berarti persepsi merupakan bagian dari aktivitas tubuh manusia yang mendunia. Sisi aktif dan pasif dari persepsi manusia di dalam filsafat Merleau-Ponty, sebagaimana ditafsirkan Carman, bagaikan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama. “Persepsi”, demikian tulis Carman, “adalah selalu sekaligus pasif dan aktif, situasional dan praktis, terkondisikan dan bebas.”[8]

Tubuh dan dunia, menurut Merleau-Ponty, haruslah dilihat sebagai dua entitas yang menyatu, yang saling tumpang tindih. Relasi di antaranya bukalah relasi rangsangan dan reaksi, tetapi sebagai sesuatu yang saling menjalin dalam satu kesatuan. Konsep “saling menjalin” (interweave) inilah yang nantinya menggantikan konsep kesadaran di dalam pemikiran Merleau-Ponty sebelumnya. Memang di dalam konsep kesadaran, ia telah menyadari karakter kesatuan tubuh dan dunia. Akan tetapi konsep kesadaran bisa dengan mudah ditafsirkan sebagai idealisme baru. Maka ia menggantinya dengan konsep “saling menjalin”. Analogi yang Merleau-Ponty gunakan, sebagaimana ditafsirkan oleh Carman, adalah daging. Kesatuan tubuh dan dunia adalah daging (flesh).[9]

Persepsi, menurut Merleau-Ponty, adalah dasar atau fondasi bagi pengalaman manusia, baik yang subyektif maupun yang obyektif, baik perasaan-perasaan internal manusia maupun perasaan yang muncul secara konkret yang muncul dari persentuhan dengan dunia material. Lebih jauh persepsi bukanlah melulu fenomena mental, yang kemudian dipertentangkan dengan segala sesuatu yang material dan fisik. Persepsi adalah fenomena tubuh manusia. Artinya pengalaman kita akan dunia, baik subyektif ataupun obyektif, bukanlah melulu terkait dengan pikiran dan kesadaran saja, tetapi juga dengan tubuh. Kita merasa sakit pertama-tama dengan tubuh kita, baru pikiran kita kemudian mendefinisikannya. Disini pikiran, tubuh, dan realitas, yakni rasa sakit, saling tumpang tindih dan tak terpisahkan. Begitu pula ketika kita melihat sesuatu. Kita melihat dengan mata, tetapi pikiranlah yang menangkap sensasi warna dan bentuk. Di titik ini pikiran, tubuh, yakni organ mata, dan realitas saling jalin menjalin.

Sebagaimana ditafsirkan oleh Carman, Merleau-Ponty berpendapat, bahwa relasi antara tubuh dan persepsi bukanlah relasi sebab akibat. Tubuh tidak mengakibatkan persepsi, ataupun sebaliknya. Setiap orang memiliki pengetahuan prareflektif di dalam diri mereka. Pengetahuan pra reflektif adalah pengetahuan yang muncul dari pengalaman langsung, dan tidak diolah dulu menjadi sebuah konsep. Pengetahuan reflektif ini muncul melalui persentuhan tubuh dengan dunia. Jadi pengetahuan ini tidak muncul sebagai akibat dari persentuhan, tetapi bersamaan dengan persentuhan itu. Persepsi adalah suatu fenomena menubuh manusia. Oleh karena itu persepsi tidaklah dapat dimengerti terlepas dari tubuh manusia yang material dan bersentuhan langsung dengan dunia. Dan sekali lagi persepsi tidaklah ditentukan oleh tubuh, melainkan bersamaan dengan tubuh menyentuh dunia. Maka persepsi tidaklah bisa dilepaskan dari tubuh. Struktur persepsi adalah struktur dari tubuh. “Tubuhku”, demikian tulis Merleau-Ponty, “adalah sudut pandangku kepada dunia.”[10]

Dari sudut pandang orang ketiga, tubuh itu bersifat kontingen. Artinya tubuh itu penuh ketidakpastian dan perubahan yang berlangsung terus menerus. Tubuh adalah sesuatu yang ambigu. Akan tetapi dari sudut pandang orang yang empunya tubuh, tubuh bukanlah sesuatu yang kontingen, apalagi ambigu. Bahkan tubuh adalah adalah medium kita menyentuh dan berhubungan dengan dunia. Tubuh adalah sudut pandang kita dalam melihat dunia. Dari sudut pandang empunya tubuh, tubuh bukanlah suatu obyek, melainkan subyek yang bertujuan. “Tubuhku”, demikian tulis Carman dalam tafsirannya terhadap pemikiran Merleau-Ponty, “tidaklah dapat dimengerti secara sederhana sebagai gumpalan dari dunia material yang duduk dalam relasi dekat dengan pikiranku.”[11] Tubuh dan dunia memang tampak tidak terpisahkan, karena setiap orang mengalami dunia melalui tubuhnya.

Dunia adalah dunia bagi tubuhku. “Saya”, demikian tulis Merleau-Ponty, “melihat benda eksternal dengan tubuh yang saya miliki, saya memegangnya, saya memeriksanya, berjalan mengitarinya, akan tetapi bagi tubuh yang saya miliki, saya tidak mengamatinya pada dirinya sendiri; untuk bisa melakukan itu, saya perlu menggunakan tubuh kedua yang juga pada dirinya sendiri tidak bisa saya amati.”[12] Dengan demikian tubuh adalah jalan bagi manusia untuk bisa mendunia. Tubuh bukanlah obyek yang kontingen, atau sekedar fakta kasar dari dunia. Tubuh adalah kondisi-kondisi yang memungkinkan persepsi manusia. Tubuh adalah modus mengada manusia di dunia. Dengan kata lain orang tidak dapat memahami persepsi dalam abstraksinya yang terlepas dari tubuh, karena persepsi selalu terkait tubuh. Persepsi sebagai fenomen menubuh manusia.

Pemadatan Teori Lebih Jauh

Persepsi, sekali lagi, adalah fenomena tubuh, dan bukan melulu fenomena mental manusia. Dengan teori ini Merleau-Ponty tidak mau jatuh ke dalam teori yang memandang subyektifitas sebagai esensi manusia, ataupun teori yang melihat bahwa realitas memilki fondasi empiris yang esensial. Ia berusaha mengartikulasikan dan mendeskripsikan melalui sudut pandang filosofis tentang apa artinya menjadi manusia di dunia. Dengan proses itu ia menolak mengakui manusia sebagai entitas psikis melulu ataupun entitas mekanis belaka, melainkan manusia sebagai tubuh subyek yang hidup dan berada di dunia. Inilah yang disebut sebagai pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini pun sampai pada argumen, bahwa manusia melihat dunia melalui tubuhnya. Maka setiap sudut pandang tubuh sebenarnya juga merupakan sudut pandang manusia.

Di dalam menafsirkan pemikiran Merleau-Ponty, Carman mengajukan pertanyaan, bagaimana tepatnya fungsi tubuh sebagai subyek bagi manusia?[13] Di dalam proses pembentukan persepsi, tubuh berfungi sebagai skema tubuh, yakni kumpulan disposisi yang bersifat langsung, yang mengarahkan dan memberikan informasi kepada aktivitas motorik manusia. Maka persepsi berakar pada tubuh, dan persepsi manusia terbentuk melalui skema tubuh. Tubuh dan persepsilah yang membentuk gambaran manusia tentang dunia sebagaimana dipersepsikan olehnya.

Di dalam karya akhirnya yang berjudul The Visible and The Invisible, Merleau-Ponty merumuskan dua metafor baru, yakni metafor daging (flesh) dan chiasm. Beberapa penafsir pemikiran Merleau-Ponty, Carman salah satunya yang menjadi acuan saya, berpendapat bahwa buku ini merupakan terobosan baru yang dibuatnya. Di dalam buku ini, ia berargumen bahwa persepsi selalu berakar pada tubuh di dalam sebuah lingkungan (environment). Inilah yang disebut sebagai chiasm, yakni kesalingtumpangtindihan antara persepsi, tubuh, dan dunia. Ini sebenarnya merupakan penekanan lebih jauh dari apa yang telah ditulis Merleau-Ponty di dalam Phenomenology of Perception. Akan tetapi metafor daging merupakan tanda peralihan pemikirannya dari buku itu.

Di dalam Phenomenology of Perception, Merleau-Ponty mendekripsikan pengalaman perseptual manusia melalui tubuh dalam persentuhannya dengan dunia. Namun di dalam karya berikutnya, ia menggunakan metafor daging untuk mengacu pada ketidaksadaran dan spontanitas tubuh dalam persentuhannya dengan dunia. Daging adalah adalah organ dari tubuh yang bersifat tidak sadar, namun menjadi dasar bagi persepsi dan persentuhan tubuh manusia dengan realitas. Dari sudut pandang ini, setiap orang tidak hanya berada di dalam dunia, melainkan adalah dunia itu sendiri.***


[1] Pada bab ini saya mengacu pada Samuel Todes, Body and The World, London, MIT Press, 2001.

[2] Piotr Hoffman, “How Todes Rescue Phenomenology from the Threat of Idealism”, dalam ibid, hal. Xxviii.

[3] Lihat, ibid, hal. Xxx.

[4] Lihat, ibid, hal. Xxxvi.

[5] Sebagaimana ditafsirkan oleh Hoffman, ibid, hal. Xxxvii.

[6] Pada bagian ini saya mengacu pada Taylor Carman, Merleau-Ponty, Oxon, Routledge, 2008.

[7] Lihat, ibid, hal. 78.

[8] Ibid, hal. 79.

[9] Lihat, ibid, hal. 80.

[10] Dikutip oleh Carman, 2008, hal. 81.

[11] Ibid, hal. 82.

[12] Dikutip oleh Carman, 2008, ibid.

[13] Lihat, ibid, hal. 133.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

11 thoughts on “Tubuh yang Mendunia: Sebuah Refleksi Filsafat Tubuh”

  1. Salam kenal.
    Saya mau bertanya mengenai perbedaan konsep Intensionalitas menurut Husserl dan Ponty? Dan dimana letak pengetahuan pengalaman subjektif manusia bagi ponty? Apakah pengalaman subjektif atau juga stock of knowledge memiliki kesamaan dengan konsep pra-relfelktif?

    Suka

    1. Ponty menekankan pada tubuh, sementara Husserl pada pengetahuan murni. Ini perbedaan mendasar di antara mereka, walaupun metodenya sama. Pengalaman subyektif adalah pengalaman menubuh: tubuh yang mendunia. Sementara, konsep pra reflektif adalah konsep pra pemahaman yang diandaikan begitu saja sebagai latar belakang dari hidup manusia. Keduanya mirip, walaupun tak sama. Semoga membantu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s