Buku Filsafat Pendidikan untuk Indonesia: Mendidik Manusia

Mendidik manusia mock upOleh Reza A.A Wattimena

Pendidikan adalah urusan semua orang. Ia bukanlah semata urusan pemerintah, atau ahli pendidikan semata. Pepatah lama mengatakan, bahwa dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak. Pendidikan adalah sebuah upaya bersama yang membutuhkan landasan nilai, sekaligus usaha bersama dari seluruh masyarakat.

Mutu pendidikan mempengaruhi mutu kehidupan masyarakat di masa kini dan masa depan. Segala bentuk kejahatan, mulai dari pencurian, pembunuhan, pemerkosaan sampai dengan korupsi, berakar pada kegagalan sebuah masyarakat mewujudkan sistem dan filsafat pendidikan yang bermutu tinggi. Mutu pendidikan juga mempengaruhi masa depan sebuah bangsa. Kemampuan sebuah bangsa untuk tetap ada dan terlibat di dalam pembentukan masyarakat global yang adil dan makmur amat ditentukan dari mutu pendidikan di dalamnya.

Langsung diunduh di Naskah Final, Mendidik Manusia

cover mendidik manusia

====

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Sepuluh Latihan Kesadaran

0_080HCDeMLLvh-r-ZOleh Reza A.A Wattimena

Pembebasan tertinggi adalah memahami jati diri kita yang sebenarnya. Namun, jati diri sejati tersebut bukanlah sebuah pemahaman konseptual. Ia adalah pengalaman akan dunia sebagaimana adanya, tanpa konsep, bahasa ataupun penilaian. Orang lalu hidup tidak sebagai kumpulan pikiran dan perasaan yang terus berubah, namun sebagai kesadaran murni yang mencerap dunia sebagaimana adanya.

Pemahaman konseptual tidaklah cukup. Pengalaman nyata diperlukan. Inilah pengalaman akan diri kita sebagai kesadaran murni yang mencerap dunia sebagaimana adanya, tanpa perantaraan konsep dan bahasa. Ini adalah saat pencerahan dan pembebasan yang sesungguhnya. Lanjutkan membaca Sepuluh Latihan Kesadaran

Buku Terbaru: Teori Transformasi Kesadaran & Teori Tipologi Agama

xr:d:DAF9DcGYJyg:5,j:5489181016397482825,t:24021713

Buku untuk mewujudkan dunia yang sadar dan bernalar sehat.

Silahkan diunduh di sini: Kesadaran dan Agama

Kesadaran dan Agama

=======================

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Artikel di Harian Kompas: Menyelami Kerinduan Mereka yang Tertindas

090cbbc5-3fe7-41e3-a7f7-b34f1e11820f_jpegPengalaman tertindas adalah pengalaman universal manusia. Ia bisa dalam bentuk penindasan fisik, seperti perbudakan dan penjajahan. Namun, ia juga bisa mengambil bentuk lebih halus, yakni penindasan mental dan spiritual. Selama ratusan tahun, di bawah bendera kolonialisme Eropa dan Jepang, Indonesia mengalami keduanya.

Di balik setiap penindasan, selalu ada gerakan perjuangan untuk melawan. Energi yang menekan akan ditanggapi dengan energi serupa yang melawan. Ini kiranya tidak hanya berlaku di dunia fisika dalam bentuk hukum ketiga mekanika Newton. Dunia sosial budaya pun memiliki pola serupa.

Buku Sindhunata yang berjudul Ratu Adil: Ramalan Jayabaya dan Sejarah Perlawanan Wong Cilik menggambarkan hal tersebut dalam konteks sejarah dan budaya Jawa pada masa kolonialisme Belanda. Ia mengambil rentang waktu antara abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20. Buku ini berisi pemaparan sejarah yang sangat luas, kaya, serta reflektif. Ini tidak mengherankan karena buku ini adalah disertasi Sindhunata di Hochschule für Philosophie, Muenchen, Jerman, pada 1992 lalu.

Baca selanjutnya di Aplikasi Harian Kompas:

https://www.kompas.id/baca/opini/2024/02/10/menyelami-kerinduan-mereka-yang-tertindas

1ead5977-4b72-4854-b42f-d9530507f5d6_jpg

Saya Tidak akan Memilih…

62e83e44607cb8f16571c7b7882ab104Oleh Reza A.A Wattimena

Sebentar lagi, Indonesia akan memilih para pemimpinnya. Sekali lagi, kita melakukan pemilihan umum. Tradisi demokrasi yang utuh dan sehat hendak dibangun. Kita tidak boleh gagal melakukannya. Masa depan kita sebagai bangsa menjadi taruhannya.

Demokrasi adalah cara hidup yang tidak sekali jadi. Ia harus menjadi tradisi dan budaya bangsa kita sebagai keseluruhan. Ancaman terbesarnya sekarang ada dua, yakni kapitalisme global ekstrem yang menciptakan kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin, dan radikalisme agama kematian dari tanah gersang yang memperbodoh bangsa. Lanjutkan membaca Saya Tidak akan Memilih…

Setengah Hidup

675787_posterOleh Reza A.A Wattimena

Sudah bekerja setengah mati, hasilnya tak juga berarti. Yang tersisa hanya rasa lelah. Rasa tak puas menyusul. Depresi pun berkunjung dari waktu ke waktu.

Itulah yang saya dengar berulang. Teman dan kerabat bercerita. Lingkaran hidup manusia modern abad 21 begitu kuat mencekik. Di tengah cengkraman rezim politik yang korup, kehidupan juga menjadi semakin sulit. Kemiskinan dan kebodohan tersebar luas di nusantara yang kaya raya ini.

Lanjutkan membaca Setengah Hidup

Karya Ilmiah Terbaru: Terorisme dan Filsafat Anti Teror, Sebuah Refleksi

895933d4c656f4b63563c46853598936Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk memahami terorisme dan filsafat anti teror. Definisi terorisme akan dikupas terlebih dahulu dari berbagai sudut pandang. Rumusan tersebut akan menjadi dasar untuk merumuskan pemahaman dasar bagi filsafat anti teror, termasuk dasar ontologis, epistemologis dan aksiologisnya. Argumen dasar yang ditawarkan adalah, bahwa filsafat anti teror adalah kontra ideologi tertutup yang menggunakan kekerasan untuk menebarkan rasa takut, serta ingin mengganti sistem politik yang ada lewat jalan-jalan kekerasan. Filsafat anti teror berpijak pada pandangan, bahwa kenyataan itu adalah keterhubungan dan keterbukaan. Tulisan ini mengacu pada penelitian Hegemann, Dahl dan karya-karya penulis sebelumnya.

Kata-kata Kunci: Terorisme, Revolusi, Legitimasi, Filsafat Anti Teror, Ideologi Tertutup, Ideologi Terbuka

Silahkan diunduh di Jurnal Reza, Teror dan Filsafat Anti Teror

Buku Terbaru: Filsafat untuk Indonesia

reza a.a wattimenaOleh Reza A.A Wattimena

Filsafat adalah ibu dari semua ilmu. Ini adalah pernyataan yang tak dapat dibantah. Tanpa filsafat, kita tidak akan bisa memperoleh sains dan teknologi yang kini sangat mempermudah hidup manusia. Mengapa ini terjadi? Di dalam filsafat terkandung semangat pencarian tanpa henti atas apa yang penting dan mendasar. Bersama filsafat jugalah pencarian sekaligus refleksi kritis di bidang sains dan teknologi terus dilakukan.

Apa kiranya sumbangan filsafat untuk Indonesia? Untuk menjawab itu, kita perlu paham terlebih dahulu makna Indonesia. Dalam arti ini, Indonesia adalah sebuah fakta sekaligus cita-cita. Sebagai fakta, Indonesia adalah sebuah negara dengan beragam identitas yang diakui secara internasional. Sebagai cita-cita, Indonesia adalah harapan yang terus hendak diperjuangkan. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Filsafat untuk Indonesia

Seni Menyembuhkan Diri Sendiri

wildfire_asOleh Reza A.A Wattimena

Saya sungguh sadar, betapa pentingnya tema ini. Milyaran manusia didera penderitaan dalam hidupnya. Sebagian orang menderita, karena depresi, kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang mendalam. Sebagian lagi menderita, karena rasa rakus yang mencekik, ambisi yang menggigit batin, dan ketakutan akan kehilangan kekuasaan, seperti yang dialami para pemimpin dan calon pemimpin Indonesia di 2024 ini.

Mereka mencari pertolongan. Seringkali, mereka tak mendapatkannya. Sebaliknya, mereka justru diperas oleh industri kesembuhan (healing industry) yang penuh penipu. Tak sedikit yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena tekanan penderitaan yang tak tertahankan. Lanjutkan membaca Seni Menyembuhkan Diri Sendiri

Melepas Omong Kosong Soal Budaya Timur

473206a4-fbd8-4e60-9387-79652ccfee75-570Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa kali, pejabat Indonesia menggunakan kata Budaya Timur di dalam menanggapi kritik dan masukan masyarakat. Bagi mereka, Budaya Timur adalah soal sopan santun. Saya gatal mendengar komentar bodoh semacam ini. Ada lima hal yang kiranya penting untuk diperhatikan.

Pertama, Budaya Timur sama sekali bukan soal sopan santun. Ini adalah omong kosong. Ini adalah kesalahpahaman yang berakar pada kebodohan. Menyamakan Budaya Timur dengan sopan santun tidak hanya mencerminkan kebodohan pejabat tersebut, tetapi juga menyebarkan kebodohan kepada masyarakat yang sudah bertahun-tahun diperbodoh dan dipermiskin oleh pemerintahnya sendiri. Lanjutkan membaca Melepas Omong Kosong Soal Budaya Timur

Berjumpa dengan Teman Lama

1000_F_301418257_ujLAdfHwmGEF27e3B1HDvTUDpnf0O6P8Oleh Reza A.A Wattimena

Teman lama itu datang. Sudah lama saya tak berjumpa dengannya. Kedatangannya tiba-tiba. Ia membuat saya kaget.

Gejalanya beragam. Dada terasa berat. Saya seperti membawa karung beras 50 kg di dada. Semua aktivitas juga terasa berat dan melelahkan. Lanjutkan membaca Berjumpa dengan Teman Lama

Menyibak Akar Kebodohan

Illustration of man with cloud getting out of the box over his head
Illustration of man with cloud getting out of the box over his head

Oleh Reza A.A Wattimena

27 Desember 2023 jam 8 malam. Orang itu menyetir mobil mewah. Tipenya Toyota Harrier. Mesin dan bodi mobil yang besar. Ia menyetir di bilangan Kelapa Gading, tepatnya di lampu merah Kelapa Gading menuju Pulomas, yang memang penuh dengan kendaraan.

Mobil mewah mengambil jalur kiri yang merupakan jalur motor. Ini menciptakan kemacetan yang parah. Lalu, ia memotong ke tengah, mengambil jalur penyebrang jalan. Ada pos polisi di dekat situ, namun tak ada yang bertindak sama sekali. Lanjutkan membaca Menyibak Akar Kebodohan

Sebuah Berita Gembira: Semuanya Sedang Runtuh

Victotorian lady. Young woman in eighteenth century image
Victotorian lady. Young woman in eighteenth century image.

Oleh Reza A.A Wattimena

Kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya tidak lagi mempunyai kakek dan nenek dari keluarga dekat. Masih segar diingatan saya, betapa hangat hubungan kami dulu. Kini, semua tinggal kenangan semata.

Relasi pun serupa. Ada yang datang dengan penuh semangat. Lalu, mereka pergi, nyaris tanpa jejak. Yang tertinggal hanya kenangan. Ada yang mengundang senyum. Ada yang menusuk dada dari dalam. Lanjutkan membaca Sebuah Berita Gembira: Semuanya Sedang Runtuh

Mengapa Demokrasi?

Oleh Reza A.A Wattimena

Cukup lama, saya menyendiri. Saya banyak membaca dan menulis di rumah. Saya juga banyak melakukan sadhana, yakni latihan spiritual yang berpijak pada tradisi Asia. Suatu waktu, undangan untuk keluar muncul. Saya diajak berjumpa dengan seorang teman.

Kebetulan, ia adalah seorang pejabat negara. Kami pun berjumpa, dan berbincang tentang keadaan politik saat ini. Ia berpendapat, bahwa demokrasi itu kacau dan berbahaya. Terlalu banyak pendapat, dan proses pemilihan umum yang selalu mengundang bahaya. Lanjutkan membaca Mengapa Demokrasi?

Sebelum Bahasa, Siapa Saya?

main-qimg-2ceaa3ae666ef6bbbea250b0b2a3c092Oleh Reza A.A Wattimena

Saya di Bali di pertengahan November 2023 ini. Di sana, saya berjumpa dengan beragam orang dari penjuru dunia. Mereka mencari hal yang sama, yakni kebahagiaan. Di Ubud, tempat saya tinggal, saya berjumpa dengan sekumpulan orang yang berusaha menemukan kebahagiaan lewat jalan spiritual.

Saya sendiri sedang di dalam perjalanan yang sama. Saya menggunakan filsafat, ilmu pengetahuan dan beragam aliran spiritualitas untuk mencapai pencerahan. Akal budi, sikap kritis dan keterbukaan pikiran adalah hal-hal yang amat penting dalam proses ini. Tanpa itu semua, orang bisa tersesat. Lanjutkan membaca Sebelum Bahasa, Siapa Saya?

Ontologi Politik Dinasti

Brandi-Milne-What-Are-We-Afraid-Of-acrylic-on-panel-24-x-32-inchesOleh Reza A.A Wattimena

Politik dinasti. Kata ini muncul di banyak diskusi belakangan ini. Penguasa Indonesia tidak siap mengakhiri masa berkuasanya. Kini, anak dan keluarganya ditempelkan ke berbagai posisi kekuasaan, walaupun mereka korup dan tak punya kemampuan.

Politik dinasti erat dengan sejarah Indonesia. Karena bagian dari keluarga penguasa, orang mendapat banyak kemudahan. Tak ada kemampuan nyata. Hanya ia kebetulan lahir dari rahim dan penis sang penguasa. Lanjutkan membaca Ontologi Politik Dinasti

Terjun Tanpa Parasut

Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu, saya tertawa. Saya tertawa begitu lepas. Ada kebebasan mendalam terasa di dada. Saya seperti melepaskan tas yang selama ini menggantung di punggung.

Saya tertawa melihat drama politik. Saya tertawa melihat komentar yang diajukan dari begitu banyak orang. Saya tertawa melihat media membakar masyarakat dengan emosi, tanpa henti. Apa sebenarnya yang dicari? Lanjutkan membaca Terjun Tanpa Parasut

Apakah Anda Sudah Hidup, Sebelum Anda Mati?

Picture1.crop_606x455_0,125.previewOleh Reza A.A Wattimena

Anda tidak salah baca. Judul tulisan ini sudah benar. Sebelum mati, apakah anda sudah hidup? Pertanyaan yang terdengar aneh, namun amat penting untuk diteliti lebih jauh.

Di dalam filsafat Asia, pertanyaan ini adalah pertanyaan abadi. Para Master Yoga dan Master Zen mengajukannya. Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan kosong. Ia adalah pertanyaan untuk membangunkan kita semua yang mendengarnya. Lanjutkan membaca Apakah Anda Sudah Hidup, Sebelum Anda Mati?

Mengritisi Antropoteosentrisme Komaruddin Hidayat: Sebuah Tanda Cinta

il_570xN.1873927321_qf5pOleh Reza A. Wattimena

Selasa, 7 November 2023. Saya duduk sebelah Mas Subhi (Direktur Pascasarjana Untuk Kajian Islam) dari Universitas Paramadina. Kami sedang menghadiri acara bedah buku Imajinasi Islam: Pikiran-pikiran Yang Membentuk Masa Depan. Ini buku untuk merayakan hari lahir Pak Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir Islam terbesar di dunia, yang ke 70. Mas Subhi menjadi moderator, dan saya menjadi salah satu pemateri.

Mas Komar (begitu sapaan para sahabatnya) sedang memberikan tanggapan terhadap presentasi kami. Beliau menjelaskan, bahwa manusia adalah magnum opus (karya agung) dari Tuhan. Dengan akal budi dan nuraninya, manusia bisa terbuka pada pewahyuan Sang Ilahi. Dengan itu, manusia punya tanggung jawab besar untuk bersikap adil dan merawat semua kehidupan. Lanjutkan membaca Mengritisi Antropoteosentrisme Komaruddin Hidayat: Sebuah Tanda Cinta

Bangkitnya Persekutuan Nista

ErU688HUcAEJDz2Oleh Reza A.A Wattimena

Jika keadaan tak berubah, pilpres 2024 di Indonesia akan penuh drama. Salah satu penyebabnya adalah bangkitnya persekutuan nista di dalam politik Indonesia. Ada pelaku pelanggaran HAM berat yang terus bernafsu untuk berkuasa. Ia bersekutu dengan bocah ingusan yang haus kekuasaan dan berkhianat pada pendukungnya sendiri.

Nista berarti cela. Persekutuan nista adalah persekutuan yang tercela. Ia membuat orang merasa jijik. Ia membuat politik Indonesia menjadi kacau dan rusak. Lanjutkan membaca Bangkitnya Persekutuan Nista