Buku Terbaru: Filsafat untuk Indonesia

reza a.a wattimenaOleh Reza A.A Wattimena

Filsafat adalah ibu dari semua ilmu. Ini adalah pernyataan yang tak dapat dibantah. Tanpa filsafat, kita tidak akan bisa memperoleh sains dan teknologi yang kini sangat mempermudah hidup manusia. Mengapa ini terjadi? Di dalam filsafat terkandung semangat pencarian tanpa henti atas apa yang penting dan mendasar. Bersama filsafat jugalah pencarian sekaligus refleksi kritis di bidang sains dan teknologi terus dilakukan.

Apa kiranya sumbangan filsafat untuk Indonesia? Untuk menjawab itu, kita perlu paham terlebih dahulu makna Indonesia. Dalam arti ini, Indonesia adalah sebuah fakta sekaligus cita-cita. Sebagai fakta, Indonesia adalah sebuah negara dengan beragam identitas yang diakui secara internasional. Sebagai cita-cita, Indonesia adalah harapan yang terus hendak diperjuangkan. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Filsafat untuk Indonesia

Seni Menyembuhkan Diri Sendiri

wildfire_asOleh Reza A.A Wattimena

Saya sungguh sadar, betapa pentingnya tema ini. Milyaran manusia didera penderitaan dalam hidupnya. Sebagian orang menderita, karena depresi, kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang mendalam. Sebagian lagi menderita, karena rasa rakus yang mencekik, ambisi yang menggigit batin, dan ketakutan akan kehilangan kekuasaan, seperti yang dialami para pemimpin dan calon pemimpin Indonesia di 2024 ini.

Mereka mencari pertolongan. Seringkali, mereka tak mendapatkannya. Sebaliknya, mereka justru diperas oleh industri kesembuhan (healing industry) yang penuh penipu. Tak sedikit yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena tekanan penderitaan yang tak tertahankan. Lanjutkan membaca Seni Menyembuhkan Diri Sendiri

Melepas Omong Kosong Soal Budaya Timur

473206a4-fbd8-4e60-9387-79652ccfee75-570Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa kali, pejabat Indonesia menggunakan kata Budaya Timur di dalam menanggapi kritik dan masukan masyarakat. Bagi mereka, Budaya Timur adalah soal sopan santun. Saya gatal mendengar komentar bodoh semacam ini. Ada lima hal yang kiranya penting untuk diperhatikan.

Pertama, Budaya Timur sama sekali bukan soal sopan santun. Ini adalah omong kosong. Ini adalah kesalahpahaman yang berakar pada kebodohan. Menyamakan Budaya Timur dengan sopan santun tidak hanya mencerminkan kebodohan pejabat tersebut, tetapi juga menyebarkan kebodohan kepada masyarakat yang sudah bertahun-tahun diperbodoh dan dipermiskin oleh pemerintahnya sendiri. Lanjutkan membaca Melepas Omong Kosong Soal Budaya Timur

Berjumpa dengan Teman Lama

1000_F_301418257_ujLAdfHwmGEF27e3B1HDvTUDpnf0O6P8Oleh Reza A.A Wattimena

Teman lama itu datang. Sudah lama saya tak berjumpa dengannya. Kedatangannya tiba-tiba. Ia membuat saya kaget.

Gejalanya beragam. Dada terasa berat. Saya seperti membawa karung beras 50 kg di dada. Semua aktivitas juga terasa berat dan melelahkan. Lanjutkan membaca Berjumpa dengan Teman Lama

Menyibak Akar Kebodohan

Illustration of man with cloud getting out of the box over his head
Illustration of man with cloud getting out of the box over his head

Oleh Reza A.A Wattimena

27 Desember 2023 jam 8 malam. Orang itu menyetir mobil mewah. Tipenya Toyota Harrier. Mesin dan bodi mobil yang besar. Ia menyetir di bilangan Kelapa Gading, tepatnya di lampu merah Kelapa Gading menuju Pulomas, yang memang penuh dengan kendaraan.

Mobil mewah mengambil jalur kiri yang merupakan jalur motor. Ini menciptakan kemacetan yang parah. Lalu, ia memotong ke tengah, mengambil jalur penyebrang jalan. Ada pos polisi di dekat situ, namun tak ada yang bertindak sama sekali. Lanjutkan membaca Menyibak Akar Kebodohan

Sebuah Berita Gembira: Semuanya Sedang Runtuh

Victotorian lady. Young woman in eighteenth century image
Victotorian lady. Young woman in eighteenth century image.

Oleh Reza A.A Wattimena

Kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya tidak lagi mempunyai kakek dan nenek dari keluarga dekat. Masih segar diingatan saya, betapa hangat hubungan kami dulu. Kini, semua tinggal kenangan semata.

Relasi pun serupa. Ada yang datang dengan penuh semangat. Lalu, mereka pergi, nyaris tanpa jejak. Yang tertinggal hanya kenangan. Ada yang mengundang senyum. Ada yang menusuk dada dari dalam. Lanjutkan membaca Sebuah Berita Gembira: Semuanya Sedang Runtuh

Mengapa Demokrasi?

Oleh Reza A.A Wattimena

Cukup lama, saya menyendiri. Saya banyak membaca dan menulis di rumah. Saya juga banyak melakukan sadhana, yakni latihan spiritual yang berpijak pada tradisi Asia. Suatu waktu, undangan untuk keluar muncul. Saya diajak berjumpa dengan seorang teman.

Kebetulan, ia adalah seorang pejabat negara. Kami pun berjumpa, dan berbincang tentang keadaan politik saat ini. Ia berpendapat, bahwa demokrasi itu kacau dan berbahaya. Terlalu banyak pendapat, dan proses pemilihan umum yang selalu mengundang bahaya. Lanjutkan membaca Mengapa Demokrasi?

Sebelum Bahasa, Siapa Saya?

main-qimg-2ceaa3ae666ef6bbbea250b0b2a3c092Oleh Reza A.A Wattimena

Saya di Bali di pertengahan November 2023 ini. Di sana, saya berjumpa dengan beragam orang dari penjuru dunia. Mereka mencari hal yang sama, yakni kebahagiaan. Di Ubud, tempat saya tinggal, saya berjumpa dengan sekumpulan orang yang berusaha menemukan kebahagiaan lewat jalan spiritual.

Saya sendiri sedang di dalam perjalanan yang sama. Saya menggunakan filsafat, ilmu pengetahuan dan beragam aliran spiritualitas untuk mencapai pencerahan. Akal budi, sikap kritis dan keterbukaan pikiran adalah hal-hal yang amat penting dalam proses ini. Tanpa itu semua, orang bisa tersesat. Lanjutkan membaca Sebelum Bahasa, Siapa Saya?

Ontologi Politik Dinasti

Brandi-Milne-What-Are-We-Afraid-Of-acrylic-on-panel-24-x-32-inchesOleh Reza A.A Wattimena

Politik dinasti. Kata ini muncul di banyak diskusi belakangan ini. Penguasa Indonesia tidak siap mengakhiri masa berkuasanya. Kini, anak dan keluarganya ditempelkan ke berbagai posisi kekuasaan, walaupun mereka korup dan tak punya kemampuan.

Politik dinasti erat dengan sejarah Indonesia. Karena bagian dari keluarga penguasa, orang mendapat banyak kemudahan. Tak ada kemampuan nyata. Hanya ia kebetulan lahir dari rahim dan penis sang penguasa. Lanjutkan membaca Ontologi Politik Dinasti

Terjun Tanpa Parasut

Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu, saya tertawa. Saya tertawa begitu lepas. Ada kebebasan mendalam terasa di dada. Saya seperti melepaskan tas yang selama ini menggantung di punggung.

Saya tertawa melihat drama politik. Saya tertawa melihat komentar yang diajukan dari begitu banyak orang. Saya tertawa melihat media membakar masyarakat dengan emosi, tanpa henti. Apa sebenarnya yang dicari? Lanjutkan membaca Terjun Tanpa Parasut

Apakah Anda Sudah Hidup, Sebelum Anda Mati?

Picture1.crop_606x455_0,125.previewOleh Reza A.A Wattimena

Anda tidak salah baca. Judul tulisan ini sudah benar. Sebelum mati, apakah anda sudah hidup? Pertanyaan yang terdengar aneh, namun amat penting untuk diteliti lebih jauh.

Di dalam filsafat Asia, pertanyaan ini adalah pertanyaan abadi. Para Master Yoga dan Master Zen mengajukannya. Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan kosong. Ia adalah pertanyaan untuk membangunkan kita semua yang mendengarnya. Lanjutkan membaca Apakah Anda Sudah Hidup, Sebelum Anda Mati?

Mengritisi Antropoteosentrisme Komaruddin Hidayat: Sebuah Tanda Cinta

il_570xN.1873927321_qf5pOleh Reza A. Wattimena

Selasa, 7 November 2023. Saya duduk sebelah Mas Subhi (Direktur Pascasarjana Untuk Kajian Islam) dari Universitas Paramadina. Kami sedang menghadiri acara bedah buku Imajinasi Islam: Pikiran-pikiran Yang Membentuk Masa Depan. Ini buku untuk merayakan hari lahir Pak Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir Islam terbesar di dunia, yang ke 70. Mas Subhi menjadi moderator, dan saya menjadi salah satu pemateri.

Mas Komar (begitu sapaan para sahabatnya) sedang memberikan tanggapan terhadap presentasi kami. Beliau menjelaskan, bahwa manusia adalah magnum opus (karya agung) dari Tuhan. Dengan akal budi dan nuraninya, manusia bisa terbuka pada pewahyuan Sang Ilahi. Dengan itu, manusia punya tanggung jawab besar untuk bersikap adil dan merawat semua kehidupan. Lanjutkan membaca Mengritisi Antropoteosentrisme Komaruddin Hidayat: Sebuah Tanda Cinta

Bangkitnya Persekutuan Nista

ErU688HUcAEJDz2Oleh Reza A.A Wattimena

Jika keadaan tak berubah, pilpres 2024 di Indonesia akan penuh drama. Salah satu penyebabnya adalah bangkitnya persekutuan nista di dalam politik Indonesia. Ada pelaku pelanggaran HAM berat yang terus bernafsu untuk berkuasa. Ia bersekutu dengan bocah ingusan yang haus kekuasaan dan berkhianat pada pendukungnya sendiri.

Nista berarti cela. Persekutuan nista adalah persekutuan yang tercela. Ia membuat orang merasa jijik. Ia membuat politik Indonesia menjadi kacau dan rusak. Lanjutkan membaca Bangkitnya Persekutuan Nista

Ketika Meludah Ke Langit

tumblr_ocb51iM0Bz1v16pwho2_1280Oleh Reza A.A Wattimena

Tiga minggu belakangan, karena saran dari teman dan guru saya, I Gede Agustapa, saya membaca buku biografi dari Siddharta Gautama. Gautama lebih dikenal sebagai sang Buddha, yakni orang yang sudah bangun sepenuhnya. Ia dianggap sebagai pendiri agama Buddha. Walaupun, saya selalu berpendapat, bahwa ajaran Buddha tidak hanya sekedar agama, melainkan ilmu untuk memahami gerak batin, serta menemukan keseimbangan dan kebahagiaan yang berkelanjutan di dalam batin manusia.

Penulis buku biografi itu adalah Thich Nhat Hanh, seorang Zen Master asal Vietnam. Ia terlibat di dalam perkembangan spiritual, sekaligus mendorong terciptanya perdamaian di dalam politik global. Judul bukunya adalah Old Path White Clouds: Walking in the Footsteps of the Buddha (Jalan Tua Awan Putih: Berjalan mengikuti Jejak Sang Buddha). Buku itu sudah diterjemahkan oleh Penerbit Karaniya, Jakarta. Lanjutkan membaca Ketika Meludah Ke Langit

Ciuman Yudas

0001112529_71

Oleh Reza A.A Wattimena

Ciuman itu tak tulus. Seolah, ia melambangkan cinta. Namun, khianat bersembunyi dibaliknya. Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yudas Iskariot mencium gurunya, Yesus, persis setelah ia mengkhianatinya.

Tak lama, Yesus ditangkap oleh tentara Romawi, difitnah, disiksa lalu mati di kayu salib. Konon, Yudas menyesali perbuatannya. Ia pun memilih untuk bunuh diri. Kini, kata “ciuman Yudas” menjadi identik dengan pengkhianatan yang diselubungi kehangatan. Lanjutkan membaca Ciuman Yudas

Karya Ilmiah Terbaru: Jalan Panjang Menuju Perdamaian, Konflik di Darfur dan Upaya Rekonsiliasi Melalui Diplomasi Regional Uni Afrika

Sudanese refugee children press up against a fence in Djabal refugee camp near Gozbeida southern Chad on March 15, 2009. United Nations forces took over command from European Union peacekeepers here Sunday to protect refugees and displaced people in Chad and the Central African Republic. 

Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama

Tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk memahami konflik di Darfur, dan melihat kemungkinan Uni Afrika, sebagai lembaga regional, untuk membantu mewujudkan perdamaian di sana. Untuk itu, tulisan ini akan dibagi ke dalam tiga bagian. Awalnya, tulisan ini akan memetakan konflik di Darfur. (1) Setelah itu, tulisan ini akan mencoba melihat kemungkinan peran Uni Afrika di dalam menciptakan perdamaian di Darfur. Beberapa hal terkait dengan misi PBB dan Uni Afrika di Darfur juga akan disinggung. (2) Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan. (3)

Silahkan diunduh disini: Jurnal Reza, Genosida Darfur dan Rekonsiliasi Regionalistik

Karya Ilmiah Terbaru: Memahami Kesadaran Bersama David Chalmers

s7Xjqpwk_400x400

Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini ingin menjabarkan pemikiran David Chalmers tentang kesadaran. Chalmers adalah seorang neurosaintis sekaligus filsuf. Ia merumuskan beberapa prinsip penting di dalam kajian tentang kesadaran. Ia membedakan antara kesadaran dan keawasan, serta merumuskan beberapa prinsip penting di dalam memahami kesadaran. Dalam konteks yang lebih luas, Chalmers merumuskan problematik sulit tentang kesadaran yang masih terus menjadi kajian para ilmuwan dan filsuf sampai sekarang ini.

Kata Kunci: Kesadaran, Keawasan, Problematik Sulit tentang Kesadaran.

Silahkan diunduh di: Jurnal Reza, Mempertimbangkan Kesadaran Bersama David Chalmers

Filsafat dan Spiritualitas Geopolitik

Max-Ernst-LAnge-du-Foyer-1937.-Private-collectionOleh Reza A.A Wattimena

Afganistan. Irak. Amerika Serikat. Suriah. Sudan. Ukraina. Russia. Israel. Palestina. Indonesia. Mereka semua terlibat konflik berdarah. Ingatan dan trauma dimainkan. Dendam dan amarah diumbar lewat roket, bom dan peluru. Nyawa hilang. Harta benda hancur berantakan. Agama dijadikan alat untuk pembenaran kekerasan dan nafsu berkuasa yang busuk.

Inilah keadaan geopolitik dunia abad 21. Hubungan antar negara bersifat paradoksal. Kerja sama internasional makin erat. Namun, perang, konflik dan beragam bentuk kekerasan justru menjadi semakin rumit. Lanjutkan membaca Filsafat dan Spiritualitas Geopolitik

Tuhan, Ruang Hampa dan Pandemik yang Sunyi

space-planet-person-looking-at-stars-surrealOleh Reza A.A Wattimena

Apakah kamu percaya Tuhan? Sudah berulang kali, pertanyaan itu diajukan ke saya. Jawaban saya sederhana. Hanya orang bodoh dan keras kepala yang tak percaya Tuhan.

Tuhan adalah kecerdasan tak berhingga. Ia tampil di dalam setiap jengkal kehidupan. Ia hadir di setiap detak jantung, aliran darah dan denyut paru setiap mahluk. Kita hanya perlu sungguh menyadarinya disini dan saat ini. Lanjutkan membaca Tuhan, Ruang Hampa dan Pandemik yang Sunyi

Melampaui Moderasi Beragama, Menuju Peradaban Ilmiah-Spiritual

2204404bc71a-163eyre

Oleh Reza A.A Wattimena

Sekali lagi, cerita seram itu menghampiri telinga. Seorang teman yang terjebak dalam agama kematian dari tanah gersang. Begitu banyak larangan yang mencekik jiwa. Begitu banyak aturan yang tak masuk akal.

Pola beribadah yang merusak ketenangan bersama. Sikap politik yang ketinggalan jaman dan merusak. Kesombongan yang berakar pada kedunguan. Dia ingin meninggalkan agama kematian warisan keluarganya tersebut. Namun, banyak hal yang menjadi taruhan, termasuk dilepaskan selamanya dari keluarga yang amat dicintainya. Lanjutkan membaca Melampaui Moderasi Beragama, Menuju Peradaban Ilmiah-Spiritual