
Lima Tipe Cowok Ideal di Aplikasi Kencan Berdasarkan Foto dan Wicaranya
Oleh Gilang Desti Parahita, Feminis Postrukturalis, Peneliti Doktoral di Culture, Media, and Creative Industries (CMCI), King’s College London.
Foto-foto yang diunggah pengguna di aplikasi kencan adalah seperti etalase pribadi— untuk memamerkan versi terbaik diri mereka, yang diukur berdasarkan standar ideal gender. Judith Butler, filsuf edgy dari Amerika Serikat, pernah bilang, bahwa kita semua sedang main role-playing game tanpa sadar. Kita terus berusaha “jadi cowok ideal” atau “cewek sempurna.” Ada aturan tidak tertulis soal bagaimana harus tampil, berbicara, bertingkah laku, sampai menjalankan peran sosial, supaya terlihat pas dengan kotak gender. Gender yang, kalau kata Trump dan agama-agama Abrahamik, cuma ada dua. Tapi, plot twist: nobody wins. Standar itu seperti game level tak berujung. Alasan idealita gender mustahil dicapai berjumlah lebih banyak daripada match swipe-kananku.
Kadang, kita coba berdamai dengan ketidaksempurnaan itu, sambil tetap membela diri. “Aku cewek, tapi aku nggak suka menye-menye.” Atau temanku bilang, “Cowok ini udah mapan, tapi ngomongnya bawel kayak tante-tante.” Bahkan tanpa kita sadari, usaha mencapai gender ideal itu juga terpampang jelas lewat foto. Lanjutkan membaca Berkelana di Rimba Lelaki