Ketika Kata tak Lagi Bermakna

Oleh Reza A.A Wattimena

Akhir Februari 2025, saya berkendara di daerah Cawang. Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Begitu banyak kendaraan di jalan. Kemacetan besar pun tak terhindarkan.

Di tengah kemacetan, saya kaget. Ada motor kencang sekali melewati jalan pejalan kaki. Ia mengebut di tengah trotoar. Ada polisi di sekitar. Namun, mereka diam saja, seolah tak melihat, dan tak peduli. Lanjutkan membaca Ketika Kata tak Lagi Bermakna

Meresapi Ketidaktahuan

Oleh Reza A.A Wattimena

Di 2025, ketika Indonesia diterkam kegelapan, banyak orang bertanya, bagaimana dengan nasib kita? Apakah Indonesia akan terus miskin dan terbelakang, seperti sekarang? Apakah ketidakadilan akan terus terjadi pada mayoritas warga Indonesia, seperti sekarang ini? Jawaban jujur atas ini semua: tidak ada yang tahu.

Jangankan masa depan bangsa, atau dunia, masa depan saya pribadi juga tidak bisa diketahui. Saya…tidak… tahu. Saya bisa mengajukan banyak pandangan soal masa depan saya. Namun, itu semua hanya spekulasi. Sejujurnya, saya tidak tahu… Lanjutkan membaca Meresapi Ketidaktahuan

Martabat Manusia dalam Terkaman Kecerdasan Buatan: Mempertimbangkan Dokumen Antiqua et Nova dari Paus Fransiskus

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah lama, saya suka bermusik. Saya ingin menciptakan lagu, dan kemudian merekamnya dengan aransemen yang megah. Namun, karena keterbatasan, saya tidak juga mampu melakukannya. Ini berubah, setelah saya berkenalan dengan teknologi kecerdasan buatan di bidang musik.

Setelah mengisi beberapa kolom daring, termasuk lirik, teknologi tersebut mengeluarkan beberapa lagu, sesuai dengan kriteria yang saya inginkan. Hasilnya sungguh luar biasa. Aransemennye megah, dan mutu suara yang dihasilkan juga amat bagus. Membuat musik bermutu kini hanya cukup mengetik beberapa pilihan di keyboard, tanpa memerlukan bantuan manusia lain. Lanjutkan membaca Martabat Manusia dalam Terkaman Kecerdasan Buatan: Mempertimbangkan Dokumen Antiqua et Nova dari Paus Fransiskus

Perkenalan dengan Konsep Neuropistis

Oleh Dhimas Anugrah, (Ketua Circles Indonesia. Komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Apa jadinya jika sains dan spiritualitas, dua bidang yang sering dianggap bertolak belakang, justru saling melengkapi? Inilah yang coba dijawab oleh konsep “Neuropistis,” sebuah pendekatan yang saya gagas untuk menghubungkan neurosains dan iman dalam upaya memahami pengalaman spiritual manusia. Berasal dari kata Yunani “neûron” (saraf) dan “pistis” (iman), konsep ini lahir dari refleksi saya atas pentingnya jembatan antara dimensi biologis dan transenden dalam kehidupan manusia.

Neuropistis mencoba hadir sebagai kerangka pemikiran yang mengeksplorasi keterkaitan antara proses neurologis dalam otak dengan pengalaman transenden yang sering kali sulit dijelaskan secara ilmiah. Melalui pendekatan ini, saya mengajak Anda mempertimbangkan pengalaman spiritual, seperti rasa dekat dengan Tuhan, mungkin memiliki dasar neurologis yang dapat diukur, tanpa mengurangi nilai dan maknanya yang mendalam. Seperti diketahui bersama, bahwa manusia berada di persimpangan antara dimensi material dan transenden. Di sinilah neuropistis menawarkan perspektif yang lebih terbuka. Lanjutkan membaca Perkenalan dengan Konsep Neuropistis

Membedah Rezim Omon-omon

Oleh Reza A.A Wattimena

Si kepala negara ilegal suka berpidato keras. Dengan penuh kesombongan, kata-kata kasar dikeluarkan. Seolah, ia tegas dan perkasa. Seolah, ia siap membela kebenaran dan keadilan. Sayangnya, semua ini hanya omon-omon, atau omong kosong belaka.

Tidak ada analisis yang diberikan. Tidak ada refleksi yang ditawarkan. Konon, ia menulis banyak buku. Saya yakin, semua buku itu ditulis oleh orang lain. Ia hanya menitip nama untuk keperluan kampanye. Lanjutkan membaca Membedah Rezim Omon-omon

Berhenti Beriman

Gambar karya Cristina Bernazzani

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, saya diajar untuk menjadi manusia yang beriman pada ajaran tertentu. Sekolah dan guru mengajarkannya. Orang tua dan masyarakat mengajarkannya. Beriman seolah menjadi tanda, bahwa saya telah menjadi manusia yang baik.

Ini pandangan yang salah kaprah. Beriman berarti mempercayai sesuatu yang kita tak tahu. Beriman juga berarti mempercayai sesuatu yang masih “misteri”. Pada titik terjauh, beriman berarti mempercayai omong kosong, atau delusi yang diciptakan orang lain. Lanjutkan membaca Berhenti Beriman

Politik Bebalisme

Oleh Reza A.A Wattimena

Kurang lebih lima belas tahun, saya menjadi dosen. Saya mengajar di berbagai universitas. Saya melakukan begitu banyak penelitian ilmiah, terutama di bidang filsafat politik, filsafat pendidikan dan filsafat kesadaran. Sebagian besar sudah diterbitkan di berbagai media.

Namun, saya merasa, itu semua sia-sia. Penelitian ilmiah yang begitu banyak kini menjadi bagian dari data universitas, maupun pemerintah. Para pengambil kebijakan yang berpengaruh pada hidup jutaan orang tak pernah menyentuhnya. Penelitian saya seolah menjadi onani intelektual, tanpa buah nyata. Lanjutkan membaca Politik Bebalisme

Yesus Sang Filsuf

Oleh Dhimas Anugrah (Ketua Circles Indonesia. Komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Ketika nama Yesus Kristus terlintas di benak Anda, apa yang muncul pertama kali? Mungkin, seperti banyak orang, Anda membayangkan sosok religius—seorang pemimpin spiritual, Juruselamat yang membawa harapan bagi umat manusia. Tapi, bagaimana jika kita berhenti sejenak dan bertanya: Apakah Yesus juga seorang filsuf besar yang menawarkan makna terdalam dari eksistensi manusia?

Kalau kita melihat daftar filsuf Yunani Kuno seperti Sokrates, Platon, dan Aristoteles, nama Yesus memang tidak ada di sana. Namun, ajarannya membawa sesuatu yang berbeda: cinta, pengampunan, dan keadilan yang seolah berbicara lintas batas zaman dan tempat. Ajaran-ajaran ini menjadi landasan penting dalam pembentukan nilai-nilai kemanusiaan di dunia modern. Tapi tentu saja, tidak semua orang sepakat. Bagi sebagian pihak, ajaran Yesus terkadang dianggap terlalu ideal, jauh dari kenyataan dunia yang keras dan penuh persaingan. Lanjutkan membaca Yesus Sang Filsuf

Menjadi Tanpa Kepala

surreal headless person holds a hanging mask from a string

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda punya kepala? Sekilas, ini seperti pertanyaan bodoh. Sudah jelas, saya punya kepala. Apakah anda sungguh yakin?

Apakah anda pernah melihat kepala anda sendiri? Tentu saja tidak. Kita pernah melihat cermin yang seolah menampilkan kepala kita. Tetapi, kita tidak pernah secara langsung melihat kepala kita sendiri. Yang kita lihat hanya cermin, dan kepala orang lain. Lanjutkan membaca Menjadi Tanpa Kepala

Berkelana di Rimba Lelaki

unnamed

Lima Tipe Cowok Ideal di Aplikasi Kencan Berdasarkan Foto dan Wicaranya

Oleh Gilang Desti Parahita, Feminis Postrukturalis, Peneliti Doktoral di Culture, Media, and Creative Industries (CMCI), King’s College London.

Foto-foto yang diunggah pengguna di aplikasi kencan adalah seperti etalase pribadi— untuk memamerkan versi terbaik diri mereka, yang diukur berdasarkan standar ideal gender. Judith Butler, filsuf edgy dari Amerika Serikat, pernah bilang, bahwa kita semua sedang main role-playing game tanpa sadar. Kita terus berusaha “jadi cowok ideal” atau “cewek sempurna.” Ada aturan tidak tertulis soal bagaimana harus tampil, berbicara, bertingkah laku, sampai menjalankan peran sosial, supaya terlihat pas dengan kotak gender. Gender yang, kalau kata Trump dan agama-agama Abrahamik, cuma ada dua. Tapi, plot twist: nobody wins. Standar itu seperti game level tak berujung. Alasan idealita gender mustahil dicapai berjumlah lebih banyak daripada match swipe-kananku.

Kadang, kita coba berdamai dengan ketidaksempurnaan itu, sambil tetap membela diri. “Aku cewek, tapi aku nggak suka menye-menye.” Atau temanku bilang, “Cowok ini udah mapan, tapi ngomongnya bawel kayak tante-tante.” Bahkan tanpa kita sadari, usaha mencapai gender ideal itu juga terpampang jelas lewat foto. Lanjutkan membaca Berkelana di Rimba Lelaki

Viralitas Meningkatkan Korupsi

Oleh Reza A.A Wattimena

Pagi itu, di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, saya berjumpa dengan F. Budi Hardiman. Ini pertemuan tanpa rencana. Beliau adalah guru sekaligus teman berpikir saya. Seperti biasa, saya menimba begitu banyak ide dari percakapan kami.

Satu hal yang kiranya penting untuk dibagi. Kita hidup di era viralitas. Segala yang viral, yakni tersebar luas di media sosial, akan menjadi perhatian bersama. Segala pelanggaran pun menjadi terbuka, dan pemerintah dituntut untuk bekerja tepat serta cepat untuk menanganinya. Lanjutkan membaca Viralitas Meningkatkan Korupsi

Publikasi Ilmiah Terbaru: Kesadaran Kreatif dan Ketidaktahuan

study-buddhism-nagarjuna-400

Memahami Pemikiran Nagarjuna tentang Kaitan antara Kesadaran dan Kenyataan

Oleh Reza A.A Wattimena[1]

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC
MANAGEMENT JANUARI 2025 VOLUME 68

Abstrak

Tulisan ini menjabarkan pandangan Nagarjuna tentang kesadaran. Ia tidak memiliki pandangan spesifik tentang kesadaran. Teori kesadarannya dibangun dalam upaya untuk memahami kenyataan sebagaimana adanya. Untuk itu, ia melakukan pengamatan secara mendalam atas kenyataan dengan terlebih dahulu melepaskan segala teori yang sudah ada sebelumnya. Saya menggunakan metode tafsir teks sekaligus pengamatan atas kenyataan untuk menjabarkan pemikiran Nagarjuna tersebut. Baginya, kesadaran bersifat kreatif. Artinya, kesadaran menciptakan kenyataan lewat konsep dan ide. Orang mengira, kenyataan itu sungguh mutlak dan tetap. Ini yang disebut sebagai ketidaktahuan, atau kesalahan berpikir. Tidak ada kenyataan pada dirinya sendiri. Artinya, segalanya kosong dari ciri yang bersifat mutlak dan abadi. Dengan kesadaran ini, orang tidak lagi melekat atau membenci kenyataan. Ia mencapai pembebasan.

Kata-kata Kunci: Kekosongan, Kenyataan, Eksistensi/Keberadaan, Ideasi, Konseptualisasi, Pembebasan

[1] Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

Silahkan diunduh: Jurnal Reza, Nagarjuna dan Kesadaran

Membangun Masyarakat yang Layak

surreal-meets-aI-1024x640

Oleh Dhimas Anugrah, Pendiri dan Direktur Eksekutif CIRCLES Indonesia

Di era digital ini, makna komunikasi mengalami pergeseran yang serius. Kata-kata tidak lagi sekadar alat penyampai informasi, melainkan telah berinkarnasi menjadi senjata yang efektif melukai martabat manusia secara mendalam. Ujaran kebencian dan penghinaan yang marak di Indonesia, khususnya di platform media sosial, mencerminkan lebih dari sekadar fenomena komunikasi yang buruk: ia adalah gejala erosi nilai etika publik yang mengancam keharmonisan sosial.

Fenomena ujaran kebencian, baik dalam bentuk penghinaan personal maupun serangan berbasis identitas agama, ras, atau afiliasi politik, menandakan adanya krisis mendalam dalam cara masyarakat memandang dan menghargai sesama manusia. Ketika ruang digital yang seharusnya menjadi wadah dialog berubah menjadi arena penghinaan, martabat manusia menjadi taruhannya. Tentu, ini tidak sekadar masalah degradasi cara berbahasa, tetapi juga krisis dalam pemahaman nilai kemanusiaan yang selayaknya menjadi fondasi bagi tatanan sosial yang sehat. Lanjutkan membaca Membangun Masyarakat yang Layak

Overdosis Zen

517bec5e2d0c43c2bf16d86691cbc8e2_opt

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu ini, badan saya sedang sakit. Pegal terasa di bahu dan pinggang. Mungkin, karena saya terlalu lama berkendara motor. Mungkin juga, saya terlalu lama bekerja di depan komputer.

Tidak hanya itu, emosi pun menjadi gampang tersulut. Sumbu emosi terasa semakin pendek. Hal-hal kecil kerap membuat emosi saya naik. Beberapa kali, saya terlibat konflik dengan orang lain. Lanjutkan membaca Overdosis Zen

Revolusi Anti Omon-omon

11248589-EBLNDGQX-7

Oleh Reza A.A Wattimena

Akhir 2024, pemimpin ilegal itu berkata, tolong bersabar. Indonesia masih miskin dan bodoh. Namun, rakyat tetap diminta bersabar. Bersabar di tengah kebobrokan sistem itu sebuah penghinaan yang bisa menyulut api revolusi.

Pemimpin ilegal itu tidak membawa harapan kemajuan. Yah mau bagaimana, dia itu ilegal. Dia menjadi pemimpin dengan cara-cara curang. Seluruh jajaran pemerintahannya pun diisi orang-orang yang licik-culas-curang. Lanjutkan membaca Revolusi Anti Omon-omon

Buku Baru di Tahun Baru: Percikan Filsafat, Politik dan Spiritualitas

Percikan Filsafat, Politik, Spiritualitas

Saya semakin yakin, dunia ini hanya menawarkan harapan palsu. Bukan karena dunia ini jahat, tetapi karena segalanya berubah. Alam tak seindah dulu, dan semakin tak mampu menopang gaya hidup manusia. Politik yang juga semakin kusut.

Karena perubahan itu pasti, maka harapan pun selalu ada. Namun, harapan akan terus menjadi kosong, tanpa upaya mewujudkan keadaan yang tepat. Filsafat adalah jawaban disini. Jika pola pikir filsafati, sebagaimana ditawarkan di buku ini, diterapkan, maka sebagian besar masalah-masalah hidup kita akan selesai.

Jika dan hanya jika… Lanjutkan membaca Buku Baru di Tahun Baru: Percikan Filsafat, Politik dan Spiritualitas

Filsafat Rindu

separation-paulo-zerbato

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap akhir tahun datang, saya selalu ditikam rindu. Perasaan itu muncul begitu saja di tengah gemerlap perayaan Natal dan Tahun Baru yang terjadi. Setiap tahun, polanya selalu sama. Jauh di hati saya, saya merindukan kehangatan keluarga bersama orang tua yang sudah lama tiada.

Tubuh mereka tak disini lagi. Keberadaan mereka masih ada di semesta dalam wujud yang berbeda. Saya juga merindukan orang-orang yang sudah meninggalkan saya. Inilah para sosok kekasih hati yang sempat bersama, namun kini sudah melanjutkan kisah hidupnya di tempat yang berbeda. Lanjutkan membaca Filsafat Rindu

Hantu Feodalisme di Jantung Republik

feudcap6

Oleh Reza A.A Wattimena

Soekarno, sang proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, jelas adalah orang hebat. Pemikiran dan sepak terjangnya membawa bangsa ini keluar dari cengkraman penjajahan. Namun, ia bukan Tuhan ataupun dewa. Ia tidak layak dipuja, tanpa setitik sikap kritis.

Sebagai manusia biasa, Soekarno jatuh ke dalam godaan kekuasaan. Ia menjadi tiran yang ingin berkuasa secara mutlak. Inilah kiranya godaan kekuasaan yang begitu mempesona. Hanya sedikit yang mampu lolos darinya. Lanjutkan membaca Hantu Feodalisme di Jantung Republik

Dimana Pikiranmu yang Kemarin?

image_zGiBRunQ_1684430932453_512Oleh Reza A.A Wattimena

Kemarin, saya ingin makan pizza. Sudah lama sekali, saya tidak menyentuh makanan tersebut. Lalu, saya tidak jadi membeli, karena hujan begitu deras. Keinginan membeli Pizza hilang. Yang muncul berikutnya adalah kekhawatiran akan bocornya rumah, karena hujan keras yang terus menghantam atap rumah.

Darimana pikiran-pikiran itu berasal? Saya tidak melihat Pizza. Itu hanya di dalam bayangan saya, dan kemudian menciptakan keinginan di dalam diri. Pikiran membeli dan memakan Pizza itu datang dari kekosongan. Lanjutkan membaca Dimana Pikiranmu yang Kemarin?

Buku Terbaru: Jantung Hati Zen

Cover buku, Jantung Hati Zen

Pengantar: Hujan Rintik, Angin Berhembus

Hujan rintik-rintik. Angin berhembus dingin. Cuaca sejuk menikam Jakarta, Desember 2024. Lalu lintas dipenuhi pengendara motor mengenakan jas hujan.

Badan saya terasa lelah. Tidur terasa tak nyenyak semalam. Namun, batin terasa tenang. Ada ingatan masa lalu yang berkunjung, namun mereka tak menyakiti. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Jantung Hati Zen