Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)
Pendahuluan
Percakapan mengenai moralitas perilaku homoseksual dalam masyarakat dewasa ini semakin melibatkan temuan-temuan ilmiah kontemporer dalam membahas moralitas perilaku homoseksual, tak terkecuali pada ranah interpretasi teologis. Dalam konteks tradisi kristiani misalnya, Stanton L. Jones dan Mark A. Yarhouse mengamati bahwa hasil penelitian ilmiah tentang homoseksualitas sering kali disitir secara serampangan dalam berbagai dokumen gerejawi, terutama dalam laporan studi dan dokumen pendukung yang diterbitkan oleh denominasi-denominasi arus utama. Mereka menyatakan,
“The debates about the morality of homosexual behavior have in recent years drawn heavily upon the findings from science. The scientific research on homosexuality is often cited very casually in these debates, especially in the study and support documents of the mainline Christian denominations. After the stem ‘Science says…’ sweeping and inaccurate generalizations are often made. After such generalizations ethical conclusions are often thrown out that are only loosely tied to the supposed scientific findings” (2000: 28–29).
Pernyataan tersebut menggarisbawahi persoalan epistemologis yang signifikan: fakta ilmiah kerap menjadi landasan bagi kesimpulan etis yang tidak selalu berakar pada metode ilmiah itu sendiri, melainkan sering kali dipakai secara selektif untuk mendukung posisi moral tertentu. Lanjutkan membaca Hospitalitas Epistemis dalam Isu Homoseksualitas
















