Antara Kesepian dan Kesendirian

illustration of mind prison surreal abstract concept

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu belakangan, tiga teman berkabar ke saya. Mereka banyak bercerita tentang hidup mereka. Satu hal yang sama, yakni mereka dilanda kesepian akut. Di tengah ketidakpastian politik ekonomi dunia, bahkan justru di tengah keberhasilan karir yang mereka bangun, mereka merasa sepi.

Ada yang kesepiaannya begitu mencekam. Kesedihan menjadi bagian utuh dari kesehariannya. Segalanya seolah menjadi tak bermakna, dan bahkan menyakitkan dada. Ada yang hendak memutuskan untuk bunuh diri. Lanjutkan membaca Antara Kesepian dan Kesendirian

Membusuknya Dunia Perguruan Tinggi Indonesia

illustration of man burying head under the ground, minimal humorist ironic concept

Oleh Reza A.A Wattimena

Rismon Sianipar, ahli teknik elektro lulusan Jepang dengan ratusan karya ilmiah, terus bersuara terkait pemalsuan Ijazah Jokowi. Ia berharap, bahwa Universitas Gadjah Mada (UGM) berani mengajukan bukti-bukti ilmiah dan siap berargumentasi secara rasional untuk kasus ini. Rismon melanjutkan, bahwa universitas adalah tempat pencarian kebenaran ilmiah. Ia harus bebas dari politik korup khas penguasa busuk. Lalu, UGM mengajukan argumen-argumen dangkal, dan kemudian membisu.

Hal serupa terjadi di Universitas Indonesia (UI) dengan skandal yang melibatkan Bahlil. Tipu daya menjadi jurus untuk lulus. Para dosen dan pejabat kampus ikut serta terlibat di dalam kebusukan yang terjadi. Walaupun terbukti berbuat curang dengan berbagai kejanggalan yang penuh kebusukan, Bahlil tetap diperbolehkan tercatat sebagai mahasiswa, dan melanjutkan studi doktoralnya. UI juga diam membisu… Lanjutkan membaca Membusuknya Dunia Perguruan Tinggi Indonesia

Tak Perlu Memaafkan (ataupun Dimaafkan)

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya menerima pesan dari seorang teman. Tanpa alasan, ia meminta maaf. Ia merasa telah banyak merepotkan saya. Ia merasa bersalah, karena tidak bisa memberikan balasan yang sepadan.

Pesan ini memicu pemikiran reflektif saya. Mengapa orang meminta maaf? Mengapa orang ingin dimaafkan? Mengapa kita, kerap kali dipaksa, juga perlu memaafkan? Lanjutkan membaca Tak Perlu Memaafkan (ataupun Dimaafkan)

Publikasi Ilmiah Terbaru; Dasar Terdalam Pengetahuan: Kesadaran Diri dan Akal Budi di dalam Filsafat Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT  April 2025 VOLUME 69

Abstrak

Tulisan ini membahas kaitan antara kesadaran diri dan akal budi di dalam pemikiran Immanuel Kant. Latar belakang filsafat Kant akan dijelaskan. Lalu, pandangannya tentang kesadaran diri akan dipaparkan. Kajian tentang kesadaran diri dan akal budi terdapat di dalam epistemologi Kant. Pandangan utama Kant adalah, bahwa kesadaran diri merupakan dasar terdalam dari pengetahuan manusia. Dari kesadaran diri, konsep diri-aku bisa berkembang, dan akal budi bisa digunakan untuk mencapai pengetahuan. Kant menyediakan pijakan awal bagi kajian neurosains tentang kesadaran diri.

Kata-kata Kunci: Kesadaran Diri, Akal Budi, Konsep Diri, Konsep Aku, Appersepsi, Pengetahuan

Silahkan diunduh disini: Jurnal Reza, Kant Akal Budi dan Kesadaran Diri

Politik sebagai Transformasi Kesadaran

Oleh Reza A.A Wattimena

Pertengahan April 2025, saya berpergian dari Ubud menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai di Kuta, Bali. Di perjalanan, seperti biasa, saya mengobrol santai dengan supir. Ia adalah warga Sleman, Yogyakarta yang kini merantau ke Bali. Bersama istrinya, mereka mencari rejeki di Pulau Dewata ini.

Baru dua bulan ini, ia menjadi supir. Sebelumnya, ia adalah seorang kontraktor alat-alat berat. Ia mendirikan perusahaan di Balikpapan, Kalimantan. Salah satu kontrak terbesarnya berasal dari proses pembangunan IKN (Ibu Kota Nusantara) yang menjadi ambisi buta penguasa Indonesia sebelumnya. Lanjutkan membaca Politik sebagai Transformasi Kesadaran

Seni menjadi Mangkok

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu ini, akhir Maret 2025, ketika orang sibuk libur Lebaran, saya melakukan begitu banyak kegiatan. Ada kegiatan yang sungguh saya nikmati, seperti misalnya menulis, bermusik dan mengajar. Namun, ada kegiatan-kegiatan yang wajib dilakukan, kerap dengan penuh keterpaksaan.

Akibatnya, tubuh dan pikiran saya menjadi begitu lelah. Begitu banyak hal yang mesti dipikirkan dan dikerjakan, nyaris secara bersamaan. Persis awal April 2025, terutama karena kelelahan, semua itu meledak. Emosi saya meluap, dan saya berkonflik besar dengan salah seorang kawan. Lanjutkan membaca Seni menjadi Mangkok

Raungan-raungan Keterbelakangan

Oleh Reza A.A Wattimena

Jakarta, Maret 2025, waktu menunjukkan jam 8 malam. Cuaca cerah, disertai angin semilir yang menciptakan rasa nyaman. Saya berdiri di tepi lapangan sepak bola kecil di daerah Jakarta Selatan, menikmati malam yang syahdu. Tiba-tiba, ada suara orang meraung keras, seperti sedang marah-marah.

Suara itu keluar dari kampung terdekat. Orang yang berteriak menggunakan bahasa asing yang tak saya kenali. Ia seperti meracau, layaknya orang gila. Suaranya merusak telinga. Keindahan malam rusak oleh raungan tersebut. Lanjutkan membaca Raungan-raungan Keterbelakangan

Buku Teori Transformasi Kesadaran dan Pengembangannya

Karya Reza A.A Wattimena

Buku ini adalah kumpulan empat teori yang saya kembangkan. Ada empat teori, yakni teori transformasi kesadaran, teori tipologi agama, teori politik progresif inklusif dan etika natural empiris. Pijakannya adalah penelitian saya di bidang filsafat, politik dan neurosains selama lebih dari dua puluh tahun. Selamat membaca, dan semoga menemukan pencerahan.

Jakarta, Maret 2025

Reza A.A Wattimena

Silahkan diunduh: Teori Transformasi Kesadaran dan Pengembangannya

Buku ini saya sebarkan secara gratis. Jika tertarik, anda bisa berdonasi di Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. 

Buku Terbaru: Etika Natural Empiris

Karya Reza A.A Wattimena

Buku tipis ini lahir dari salah satu kuliah umum yang saya berikan di awal Maret 2025. Saya memberikan kuliah soal Filsafat Asia, terutama terkait dengan konsep kesadaran. Ini juga terhubung dengan Teori Transformasi Kesadaran yang saya kembangkan sejak 2023 lalu.[1] Saya merasa perlu merumuskan suatu bentuk etika yang terkait dengan transformasi kesadaran, sekaligus relevan dengan keadaan kita sekarang ini.

Teori transformasi kesadaran sudah saya kembangkan di ranah politik dan agama. Kini, visi yang sama dikembangkan di ranah etika. Bisa juga dibilang, etika natural empiris adalah anak kandung dari teori transformasi kesadaran dalam ranah etika. Di dalam sejarah filsafat secara umum, etika natural empiris terlibat di dalam diskursus filosofis yang dikembangkan oleh teori kritis Frankfurt, terutama terkait konsep rasionalitas.[2] Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Etika Natural Empiris

Memulihkan Diri, Negeri dan Bumi

Oleh Reza A.A Wattimena

Hari itu, sekujur tubuh saya terasa lelah. Begitu banyak kegiatan yang dilakukan. Begitu banyak orang yang ditemui. Kekacauan lalu lintas Jakarta juga memperlemah tubuh.

Karena begitu lelah, saya tak lagi memiliki energi, ketika sampai di rumah. Seluruh tubuh terasa letih. Bahkan, saya tak lagi mampu melakukan meditasi formal. Saya hanya ingin mandi, lalu beristirahat. Lanjutkan membaca Memulihkan Diri, Negeri dan Bumi

Provokasi Revolusi dan Kesadaran Kita

Oleh Reza A.A Wattimena

2025 ini, Indonesia semakin kacau. Sebenarnya, ini bukan kejutan. Saya pernah menulis ini di 2024 lalu. Persis setelah rezim gemoy fufufafa terpilih, saya meramalkan, jika kita akan memasuki masa kegelapan.

Ramalan saya benar. Ini sebenarnya bukanlah ramalan yang berakar pada kesaktian. Sedikit pengamatan dengan akal sehat akan membawa kita pada kesimpulan serupa. Sampai Maret 2025 ini, deretan kasus korupsi yang menyakitkan hati, bencana banjir akibat kesalahan kebijakan serta berbagai keputusan bodoh rezim gemoy fufufafa, terus membakar amarah di batin rakyat. Lanjutkan membaca Provokasi Revolusi dan Kesadaran Kita

Menolak Menjadi Got Mampat

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah sekitar 24 tahun, saya berkendara di Jakarta. Terkadang, saya naik motor. Kadang, saya mengendarai mobil. Ada satu pengalaman yang terus berulang.

Saya seringkali dipotong oleh kendaraan lain. Mobil dan motor masuk ke depan kendaraan saya begitu saja. Terkadang, saya kaget. Kerap juga muncul rasa marah di dada. Lanjutkan membaca Menolak Menjadi Got Mampat

Zen dan Kesadaran, Jalan Sunyi Pembebasan dari Penderitaan dan Kebahagiaan

Ketika Kata tak Lagi Bermakna

Oleh Reza A.A Wattimena

Akhir Februari 2025, saya berkendara di daerah Cawang. Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Begitu banyak kendaraan di jalan. Kemacetan besar pun tak terhindarkan.

Di tengah kemacetan, saya kaget. Ada motor kencang sekali melewati jalan pejalan kaki. Ia mengebut di tengah trotoar. Ada polisi di sekitar. Namun, mereka diam saja, seolah tak melihat, dan tak peduli. Lanjutkan membaca Ketika Kata tak Lagi Bermakna

Meresapi Ketidaktahuan

Oleh Reza A.A Wattimena

Di 2025, ketika Indonesia diterkam kegelapan, banyak orang bertanya, bagaimana dengan nasib kita? Apakah Indonesia akan terus miskin dan terbelakang, seperti sekarang? Apakah ketidakadilan akan terus terjadi pada mayoritas warga Indonesia, seperti sekarang ini? Jawaban jujur atas ini semua: tidak ada yang tahu.

Jangankan masa depan bangsa, atau dunia, masa depan saya pribadi juga tidak bisa diketahui. Saya…tidak… tahu. Saya bisa mengajukan banyak pandangan soal masa depan saya. Namun, itu semua hanya spekulasi. Sejujurnya, saya tidak tahu… Lanjutkan membaca Meresapi Ketidaktahuan

Martabat Manusia dalam Terkaman Kecerdasan Buatan: Mempertimbangkan Dokumen Antiqua et Nova dari Paus Fransiskus

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah lama, saya suka bermusik. Saya ingin menciptakan lagu, dan kemudian merekamnya dengan aransemen yang megah. Namun, karena keterbatasan, saya tidak juga mampu melakukannya. Ini berubah, setelah saya berkenalan dengan teknologi kecerdasan buatan di bidang musik.

Setelah mengisi beberapa kolom daring, termasuk lirik, teknologi tersebut mengeluarkan beberapa lagu, sesuai dengan kriteria yang saya inginkan. Hasilnya sungguh luar biasa. Aransemennye megah, dan mutu suara yang dihasilkan juga amat bagus. Membuat musik bermutu kini hanya cukup mengetik beberapa pilihan di keyboard, tanpa memerlukan bantuan manusia lain. Lanjutkan membaca Martabat Manusia dalam Terkaman Kecerdasan Buatan: Mempertimbangkan Dokumen Antiqua et Nova dari Paus Fransiskus

Perkenalan dengan Konsep Neuropistis

Oleh Dhimas Anugrah, (Ketua Circles Indonesia. Komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Apa jadinya jika sains dan spiritualitas, dua bidang yang sering dianggap bertolak belakang, justru saling melengkapi? Inilah yang coba dijawab oleh konsep “Neuropistis,” sebuah pendekatan yang saya gagas untuk menghubungkan neurosains dan iman dalam upaya memahami pengalaman spiritual manusia. Berasal dari kata Yunani “neûron” (saraf) dan “pistis” (iman), konsep ini lahir dari refleksi saya atas pentingnya jembatan antara dimensi biologis dan transenden dalam kehidupan manusia.

Neuropistis mencoba hadir sebagai kerangka pemikiran yang mengeksplorasi keterkaitan antara proses neurologis dalam otak dengan pengalaman transenden yang sering kali sulit dijelaskan secara ilmiah. Melalui pendekatan ini, saya mengajak Anda mempertimbangkan pengalaman spiritual, seperti rasa dekat dengan Tuhan, mungkin memiliki dasar neurologis yang dapat diukur, tanpa mengurangi nilai dan maknanya yang mendalam. Seperti diketahui bersama, bahwa manusia berada di persimpangan antara dimensi material dan transenden. Di sinilah neuropistis menawarkan perspektif yang lebih terbuka. Lanjutkan membaca Perkenalan dengan Konsep Neuropistis

Membedah Rezim Omon-omon

Oleh Reza A.A Wattimena

Si kepala negara ilegal suka berpidato keras. Dengan penuh kesombongan, kata-kata kasar dikeluarkan. Seolah, ia tegas dan perkasa. Seolah, ia siap membela kebenaran dan keadilan. Sayangnya, semua ini hanya omon-omon, atau omong kosong belaka.

Tidak ada analisis yang diberikan. Tidak ada refleksi yang ditawarkan. Konon, ia menulis banyak buku. Saya yakin, semua buku itu ditulis oleh orang lain. Ia hanya menitip nama untuk keperluan kampanye. Lanjutkan membaca Membedah Rezim Omon-omon

Berhenti Beriman

Gambar karya Cristina Bernazzani

Oleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, saya diajar untuk menjadi manusia yang beriman pada ajaran tertentu. Sekolah dan guru mengajarkannya. Orang tua dan masyarakat mengajarkannya. Beriman seolah menjadi tanda, bahwa saya telah menjadi manusia yang baik.

Ini pandangan yang salah kaprah. Beriman berarti mempercayai sesuatu yang kita tak tahu. Beriman juga berarti mempercayai sesuatu yang masih “misteri”. Pada titik terjauh, beriman berarti mempercayai omong kosong, atau delusi yang diciptakan orang lain. Lanjutkan membaca Berhenti Beriman

Politik Bebalisme

Oleh Reza A.A Wattimena

Kurang lebih lima belas tahun, saya menjadi dosen. Saya mengajar di berbagai universitas. Saya melakukan begitu banyak penelitian ilmiah, terutama di bidang filsafat politik, filsafat pendidikan dan filsafat kesadaran. Sebagian besar sudah diterbitkan di berbagai media.

Namun, saya merasa, itu semua sia-sia. Penelitian ilmiah yang begitu banyak kini menjadi bagian dari data universitas, maupun pemerintah. Para pengambil kebijakan yang berpengaruh pada hidup jutaan orang tak pernah menyentuhnya. Penelitian saya seolah menjadi onani intelektual, tanpa buah nyata. Lanjutkan membaca Politik Bebalisme