
Oleh Dhimas Anugrah, (Ketua Circles Indonesia. Komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)
Apa jadinya jika sains dan spiritualitas, dua bidang yang sering dianggap bertolak belakang, justru saling melengkapi? Inilah yang coba dijawab oleh konsep “Neuropistis,” sebuah pendekatan yang saya gagas untuk menghubungkan neurosains dan iman dalam upaya memahami pengalaman spiritual manusia. Berasal dari kata Yunani “neûron” (saraf) dan “pistis” (iman), konsep ini lahir dari refleksi saya atas pentingnya jembatan antara dimensi biologis dan transenden dalam kehidupan manusia.
Neuropistis mencoba hadir sebagai kerangka pemikiran yang mengeksplorasi keterkaitan antara proses neurologis dalam otak dengan pengalaman transenden yang sering kali sulit dijelaskan secara ilmiah. Melalui pendekatan ini, saya mengajak Anda mempertimbangkan pengalaman spiritual, seperti rasa dekat dengan Tuhan, mungkin memiliki dasar neurologis yang dapat diukur, tanpa mengurangi nilai dan maknanya yang mendalam. Seperti diketahui bersama, bahwa manusia berada di persimpangan antara dimensi material dan transenden. Di sinilah neuropistis menawarkan perspektif yang lebih terbuka. Lanjutkan membaca Perkenalan dengan Konsep Neuropistis