
Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia, komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, sains
“Mereka yang tak sanggup mengingat masa lalu, akan dikutuk untuk mengulanginya,” tulis filsuf George Santayana dalam The Life of Reason (1905). Sejarah bukan untuk dibungkam, melainkan direnungkan, sebab darinya, bangsa belajar menjaga arah langkahnya. Bahkan Majapahit, kerajaan termasyhur yang kerap dipuja sebagai lambang kejayaan Nusantara, tak luput dari lembaran sejarah yang getir. Di balik gemilangnya tahta, tersimpan babak kelam: empat panglima Raden Wijaya gugur secara tragis dalam pusaran konflik kekuasaan. Ranggalawe tewas di tangan Kebo Anabrang, yang kemudian dibunuh oleh Lembu Sora. Lalu, Lembu Sora sendiri meregang nyawa di pelataran istana, dalam operasi penyergapan oleh para prajurit Majapahit. Nambi pun menemui akhir yang serupa, dibunuh oleh bangsanya sendiri.
Ini bukan mitos, melainkan catatan sejarah yang ditulis bukan untuk menodai masa lalu, melainkan agar generasi mendatang belajar darinya. Bung Karno pernah mengingatkan, “We leren van de geschiedenis zodat we niet dezelfde fouten maken,” kita belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kalimat ini kini menggema kembali, dengan nyaring dan getir, dalam wajah Indonesia hari ini. Ketika seorang menteri menyatakan bahwa “tidak ada pemerkosaan massal” dalam tragedi Mei 1998, sebagaimana diberitakan Kompas.com (15 Juni 2025), gelombang kegeraman publik pun merebak. Namun yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar kontroversi adalah pertanyaan mendasar yang muncul: apa yang terjadi ketika sejarah coba ditulis ulang oleh kuasa yang menolak mengakui luka kolektif? Lanjutkan membaca Luka yang Tak Sembuh, Banalitas Kejahatan dan Kekerasan Seksual Massal 1998