Buku Terbaru: Mengurai Pokok-pokok Pikiran Paus Fransiskus

WhatsApp Image 2024-09-03 at 11.37.03_96e1e61c

Saudari dan Saudara, jika berminat membaca buku Mengurai Pokok-Pokok Pikiran Paus Fransiskus, silahkan mengaksesnya melalui link berikut ini: Paus Fransiskus

JUDUL: Mengurai Pokok-Pokok Pikiran Paus Fransiskus

PENULIS: Agustinus Laurentius Nggame OFM, Andreas Bernadinus Atawolo OFM, Budhy Munawar-Rachman, Frumensius Gions OFM, Hieronius Yoseph Dei Rupa OFM, Martin Harun OFM, Reza Alexander Antonius Wattimena, Rikard Selan OFM, Vinsensius Darmin Mbula OFM, Yulius Fery Kurniawan OFM, Yoseph Selvinus Agut OFM, dan Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

PENERBIT: JPIC OFM Indonesia

TEMPAT TERBIT: Jakarta

TAHUN TERBIT: 2024

TEBAL: 268 halaman

ISBN: 978-602-52073-9-6 Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Mengurai Pokok-pokok Pikiran Paus Fransiskus

Teater Kekejaman Artaud dan Penghancuran Representasi

63ec6da6-bda1USAHA MENELURUSI JEJAK RELIGIUSITAS AL-FAYYADL DALAM DERRIDEAN

Oleh Syarif Maulana, Filsuf, Pengusaha Kuliner

Saat membaca Derridean (Edisi Mori, 2022) yang berisi kumpulan tulisan Muhammad Al-Fayyadl, pertanyaan ini terus berseliweran di benak: “Bagaimana bisa Derrida menjadi justifikasi bagi ‘jalan religius’ si penulis?”. Saat artikel ini ditulis, saya belum mengenal Gus Fayyadl (GF) secara personal (meski akan menemuinya beberapa hari ke depan). Hal yang saya ketahui tentang GF banyaknya bersumber dari teks Derridean itu sendiri:  bahwa GF adalah pendakwah (sebagaimana ditulis di bagian biografi) dan berlatarbelakang santri (hal. ix). Jika saya menyimpulkan bahwa profil tersebut adalah semacam “jalan religius” yang artinya mensyaratkan sebentuk ketaatan pada dogma, maka tidakkah dalam banyak hal begitu berseberangan dengan cara berpikir Derrida yang enggan tunduk pada kestabilan makna?

Jacques Derrida, yang lahir tahun 1930 di El Biar, Aljazair, besar di keluarga Yahudi yang dapat dikatakan religius. Bersama keluarganya, Jackie (panggilan kecilnya) sering dibawa ke Sinagog di Aljir pada hari libur atau hari besar keagamaan. Ia juga punya kesan tersendiri terhadap musik dan nyanyian Sefardik yang terus ia kenang sepanjang hidupnya. Pengaruh religius tersebut juga banyak ditanamkan oleh kakeknya dari pihak ibu, Moïse Safar, yang digambarkan Jackie sebagai: “… although not a rabbi, incarnated the religious consciuousness: ‘a venerable righteousness placed him above the priest’” (Peeters, 2013: 15). Lanjutkan membaca Teater Kekejaman Artaud dan Penghancuran Representasi

Hal-hal Kecil yang Raksasa

mel-odom-art-world-surrealism-art-school-heart-beat-handpainted-cartoon-creative-design-flickr-broken-heart-baby-clothesOleh Reza A.A Wattimena

Terpaan angin kipas angin begitu nikmat. Atap rumah saya melindungi saya dari panas. Ini sungguh melegakan. Saya melihat keluar, dan melihat beberapa tetangga sedang bercakap-cakap.

Mereka tampak bahagia. Lalu, saya berjalan menuju meja makan. Kaki saya masih berfungsi dengan baik. Ketika makan, pencernaan saya juga bekerja dengan baik. Ini semua sungguh berharga. Lanjutkan membaca Hal-hal Kecil yang Raksasa

Andai Jokowi Belajar Filsafat…

portraits_of_joko_widodo_by_edwin_huang_dazdsw2-350t
Gambar Karya Edwin Huang

Oleh Reza A.A Wattimena

Di alam semesta yang lain, Jokowi mendalami filsafat. Ia suka membaca buku. Ia suka berdiskusi tentang hal-hal penting di dalam kehidupan. Ia suka menulis untuk membagikan pemikirannya.

Di alam semesta itu, kita akan lebih tenang. Kita tak perlu merasa marah dan sakit hati di alam semesta kita, seperti sekarang di 22 Agustus 2024. Di cuaca panas, akibat alam rusak, kita tak perlu berdemo melawan penguasa busuk. Di alam semesta itu, kita bisa merasa yakin akan kemajuan bangsa kita. Lanjutkan membaca Andai Jokowi Belajar Filsafat…

“Dirgahayu” Indonesia Kelabu

Poor-Poverty-Indonesia-InvestmentsOleh Reza A.A Wattimena

Katanya, Indonesia akan merayakan kemerdekaannya yang ke 79 pada 17 Agustus 2024. Katanya, kita sudah merdeka. Katanya, kita sudah berdaulat. Katanya….

Inilah ilusi yang ditebarkan oleh penguasa busuk. Inilah propaganda yang ditancapkan ke benak masyarakat oleh penguasa korup. Kenyataan sebenarnya, kita sama sekali belum merdeka. Di semua hal, kita lebih terpenjara, daripada sebelumnya. Lanjutkan membaca “Dirgahayu” Indonesia Kelabu

Arti Sukses Sesungguhnya

istockphoto-1294921369-612x612

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah lama kami tak berjumpa. Ia teman kecil saya. Kami menjalani masa-masa TK dan SD bersama. Lalu, ia pindah sekolah. Hubungan kami pun merenggang.

Ia datang untuk mengunjungi rumah masa kecilnya. Kebetulan, ia juga tetangga saya. Ia naik mobil mewah. Aura “sukses” tampak jelas di seluruh gerak geriknya. Lanjutkan membaca Arti Sukses Sesungguhnya

Pertautan Kemiskinan dan Kebodohan di Indonesia

Dystopian-SurrealismOleh Reza A.A Wattimena

Pak Ketua RT mengirimkan pesan ke saya. “Tolong pasang bendera Merah Putih untuk ikut merayakan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2024 nanti,” begitu katanya. Saya tersenyum. Memang, kita sudah merdeka?

Indonesia dijajah oleh sekelompok elit politik-ekonomi-religius. Mayoritas warganya hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Sedikit pengamatan akan membawa kita pada kesimpulan ini. Kita adalah negara bodoh dan miskin di tengah tanah serta laut yang sangat kaya. Lanjutkan membaca Pertautan Kemiskinan dan Kebodohan di Indonesia

Menatap Badai Nuklir

07ac078cd46c2b256ef266bde59f442e

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya bermimpi semalam. Mimpinya aneh. Sejujurnya, saya jarang sekali bermimpi. Namun, ini perkecualian.

Saya berjalan bersama seorang teman. Kebetulan, ia adalah seorang ahli politik. Sudah lama, kami tak berjumpa. Di dalam mimpi itu, saya berjalan bersama dia, dan menyaksikan badai nuklir raksasa. Lanjutkan membaca Menatap Badai Nuklir

Tercekam Dua Dahaga Purba

Oleh Reza A.A Wattimena

Ah, betapa rumitnya menjadi manusia. Ada tubuh yang mesti dipenuhi kebutuhannya. Betapa sulitnya melakukan itu di era politik ekonomi yang kacau balau ini. Ada juga dua dahaga purba yang bercokol di dalam batin.

Jauh di dalam relung-relung batin manusia, ada dahaga purba yang menuntut untuk dipuaskan. Ia menempel erat pada kodrat manusia. Ia berteriak, jika diabaikan. Ia mencekik, jika dianggap tak ada. Lanjutkan membaca Tercekam Dua Dahaga Purba

Menjadi Manusia Super Kuat, dan Berani

1258405Oleh Reza A.A Wattimena

Entah mengapa, hari itu, semua kacau. Begitu banyak peristiwa tak sesuai rencana. Ketenangan rumah diganggu tetangga yang sedang renovasi tanpa henti. Pemasukan ekonomi juga terhambat, karena ada rencana yang gagal.

Yang terparah, kemungkinan, pada waktu itu, saya juga sakit. Saya belum mengunjungi dokter. Namun, ada ancaman penyakit yang sangat nyata. Entah mengapa, hari itu, semua sungguh kacau. Lanjutkan membaca Menjadi Manusia Super Kuat, dan Berani

Mempertanyakan Cancel Culture

Oleh Syarif Maulana, Filsuf, Pedagang Kuliner

Versi lain tulisan ini sudah dimuat di: https://www.liputan6.com/regional/read/5649010/opini-menggugat-cancel-culture

Perkenalkan nama saya Syarif Maulana. Saya berprofesi sebagai penulis, dan mungkin akan menjadi mantan akademisi. Mengajar di berbagai universitas sejak tahun 2008 dan tengah menempuh studi S3 di sebuah kampus di Jakarta, saya juga aktif di berbagai komunitas selama hampir tujuh belas tahun mulai dari komunitas musik klasik, musik jazz, literasi, film, filsafat, hingga merajut. Artikel-artikel yang saya tulis tadinya bisa mudah ditemukan di berbagai website dengan cara mengetikkan nama saya di mesin pencari. Begitu pun buku-buku yang telah saya hasilkan, yang judulnya mencapai belasan, sebelumnya tersebar luas di toko buku offline maupun lapak jualan online. Dalam tiga tahun terakhir, saya sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai forum, dari mulai level komunitas hingga kementerian. Sampai kemudian saya mengalami peristiwa yang akan saya ceritakan berikut ini.

Sejak sebuah cuitan merebak pada tanggal 9 Mei 2024 di media sosial X yang berisi tuduhan, bahwa saya melakukan kekerasan seksual di tempat saya bekerja sekitar tujuh sampai sebelas tahun lalu, yang kemudian diamplifikasi oleh seorang influencer, sejak itu pula hidup saya tak lagi sama. Karir sebagai penulis, akademisi, dan intelektual, yang saya bangun selama hampir dua puluh tahun, luluh lantak dalam hitungan hari saja. Lanjutkan membaca Mempertanyakan Cancel Culture

Publikasi Ilmiah Terbaru: Apa Kaitan antara Kesadaran dan Kehidupan?

Memahami Kesadaran Bersama Christof Koch

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series on Strategic Management Juli 2024 Volume 66

Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

Tak ada habisnya upaya manusia memahami kesadaran. Ada beragam teori diajukan.[1] Christof Koch mencoba menawarkan beberapa sudut pandang yang berpijak pada penelitiannya. Temuannya pun sederhana, namun mendalam. Kesadaran adalah inti kehidupan itu sendiri.

Kesadaran adalah pengalaman subyektif dari saat ke saat. Setiap manusia memiliki pengalaman, walaupun pengalaman itu tanpa sensasi. Pengalaman subyektif ini beragam, dan amat tergantung dari struktur biologis terkait. Tulisan ini membahas pandangan Christof Koch tentang kesadaran. Bagian awal menjelaskan latar belakang Koch, dilanjutkan dengan penjabaran teorinya tentang kesadaran. Tulisan ini ditutup dengan kesimpulan.

[1] Lihat (Wattimena, Menyingkap Misteri Kesadaran Manusia Lewat Filsafat dan Neurosains 2023), (Wattimena, Kesadaran Seluas Semesta: Pendekatan Non-Dual Tentang Kesadaran di dalam Tradisi Filsafat Advaita Vedanta dalam Dialog dengan Sains Modern 2023), (Wattimena, Memahami Kesadaran Bersama David Chalmers 2023)

Silahkan langsung diunduh: Jurnal Reza, Kesadaran menurut Christof Koch

Republik Yatim Piatu

6659673-HSC00002-7Oleh Reza A.A Wattimena

Belakangan ini, saya berbicara mendalam dengan banyak orang, mulai dari tukang roti, tukang nasi goreng sampai dengan pengacara besar. Mereka semua punya kegelisahan yang sama. Hidup makin sulit. Semua semakin rumit.

Harga kebutuhan pokok terus tak terkendali. Harga BBM terus naik. Politik penuh ketidakpastian. Negara terlilit hutang begitu besar untuk memuaskan ambisi pribadi penguasa busuk, guna memindahkan ibu kota yang amat sangat terburu-buru. Lanjutkan membaca Republik Yatim Piatu

Dahaga akan Katharsis

00-Rolando-Cyril-aquasixio-Surreal-Fantasy-Otherworldly-Art-www-designstack-coOleh Reza A.A Wattimena

Seminggu ini, saya kembali ke dunia lama saya, yakni musik. Saya kembali bermain gitar. Saya kembali melatih kecepatan dan akurasi jari, ketika bermain musik. Di sore hari, setelah semua kegiatan, saya bermain dengan beberapa teman, atau sendiri dengan musik dari komputer.

Ada tiga lagu yang menginspirasi saya. Mungkin, anda juga tertarik mendengarnya. Yang pertama adalah Little Wing dari Jimmy Hendrix. Yang kedua adalah For the Love of God dari Steve Vai. Dan yang ketiga adalah Still Got the Blues dari Gary Moore. Lanjutkan membaca Dahaga akan Katharsis

Agama/Ideologi Kematian di Indonesia

Tempus-fugit-by-Mario-Nevado-Art-P-1Oleh Reza A.A Wattimena

Ah, pantat saya sudah gatal. Saya ingin berkendara motor jarak jauh. Sudah lama sekali, saya tak melakukan ini. Cuaca sudah mendukung, dan saya sedang ada waktu, serta cukup sehat.

Pertengahan Juni 2024, jam 1 pagi, saya terbangun. Badan segar. Tanpa banyak berpikir, saya berkemas, dan berangkat dengan motor menuju Puncak, Bogor. Lanjutkan membaca Agama/Ideologi Kematian di Indonesia

Hidup Bermakna, Mati dengan Lega

originalOleh Reza A.A Wattimena

Apa itu kehidupan? Pernahkah kita bertanya soal ini? Dari kecil, kita harus makan, minum, buang air, tidur dan sekolah. Di masa dewasa, kita harus bekerja.

Kerap kali, tantangan begitu banyak. Ketidakpastian amatlah besar. Kita bisa sakit, gagal dalam pekerjaan, jatuh miskin atau meninggal mendadak. Tentu saja, ada kebahagiaan yang kerap datang bergantian dengan nestapa yang mengikutinya. Lanjutkan membaca Hidup Bermakna, Mati dengan Lega

Tulisan di Harian Kompas: Memeluk Maut

https___asset.kgnewsroom.com_photo_pre_2024_06_16_bcd2df08-ddcc-4563-adae-4c990fd301cb_jpegDiterbitkan di Harian Kompas 16 Juni 2024

Oleh Reza A.A Wattimena

Maut itu misteri terbesar hidup manusia. Ia pasti datang, namun tak ada yang sungguh tahu, kapan ia datang. Ia bisa menyelinap di tengah malam buta dengan penuh kejutan. Atau, ia datang bersama bencana, seperti kecelakaan, penyakit, bencana alam ataupun perang.

Di buku ini, maut didekati dengan filsafat. Judulnya unik, yakni Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik. Dua pertanyaan hendak dijawabnya. Apakah kita perlu takut akan maut? Apakah bayang-bayang maut berguna untuk kehidupan?

Lihat Selanjutnya: https://www.kompas.id/baca/opini/2024/06/14/memeluk-maut

Jatuh Bangunnya Bangsa: Sebuah Teori

il_570xN.2494022848_e69pOleh Reza A.A Wattimena

Generasi Indonesia 1920-an adalah generasi emas. Mereka lahir dari rahim kolonialisme Belanda. Dari penjajahan dan penderitaan yang amat kuat, mereka menempa diri. Mereka menimba ilmu, berjuang dan mendorong revolusi Indonesia yang melahirkan Indonesia, seperti sekarang ini.

Eropa 1400-an adalah Eropa yang sedang bangkit. Setelah lebih dari 1000 tahun hidup dalam cengkraman agama, para seniman dan pemikir Eropa kembali ke akar budaya mereka, yakni Filsafat Yunani Kuno. Dari titik itu, mereka berkarya. Melampaui kebodohan, perang dan wabah, Eropa keluar dari abad kegelapan, dan menuju masa pencerahan, dimana sains dan teknologi mengusir takhayul yang menindas serta memperbodoh. Lanjutkan membaca Jatuh Bangunnya Bangsa: Sebuah Teori

Belajar Menjadi Tak Berguna

4_Tips_Mengajak_Balita_ke_Panta.width-800.jpegquality-80Oleh Reza A.A Wattimena

Di dalam Zen, jalan tercepat untuk mencapai pembebasan adalah dengan menjadi tak berguna. Pandangan salah tentang ego lenyap. Secara alami, orang berada disini dan saat ini. Dengan kejernihan dan keseimbangan batin, ia menjalani hidupnya.

Saya teringat Panda, beruang hitam putih yang legendaris itu. Mereka tak pusing soal perdamaian dunia, atau menyelamatkan lingkungan. Sehari-hari, mereka hanya makan, bermain dan tidur dengan segala keunikan serta keanggunan yang mereka punya. Mereka justru berguna, ketika mereka “tak berguna”. Lanjutkan membaca Belajar Menjadi Tak Berguna

Merindukan Kedalaman

dive-into-the-depths-of-surrealism-reality-transcended-in-liquid-nirvana-artvizual-premiumOleh Reza A.A Wattimena

Saya sangat menyukai musik. Sejak kecil, saya dekat dengan musik. Saya besar dengan musik di rumah saya. Ketika remaja, saya juga bermain alat musik, dan bernyanyi.

Namun, belakangan ini, saya cukup kecewa. Saya tidak menemukan banyak musik bermutu. Ada beberapa yang menarik. Namun, sebagian besar, musik dewasa ini cenderung dangkal dan murahan. Lanjutkan membaca Merindukan Kedalaman