Suaranya keras. Tetapi, ia lemah. Ia tidak berdaya di hadapan penguasa sebelumnya. Bagaikan macan ompong, ia mengaum dan membentak, tetapi tak ada yang sungguh peduli.
Inilah mental sang presiden omon-omon. Ia gemar mengeluh. Ia gemar memamerkan pencapaian semu para pendukungnya yang korup. Ia adalah presiden dagelan yang tak memiliki wibawa.
Di dalam kenyataan, ratusan juta rakyat Indonesia tercekik kebodohan dan kemiskinan. Pekerjaan yang layak semakin sulit didapat. Pendidikan diracuni agama kematian dari tanah gersang. Masa depan bangsa ini pun tampak suram.
Indonesia seperti merawat bara dalam sekam. Ada kebencian tercium di udara. Ada rasa resah yang mencekik seluruh bangsa. Ketika waktunya tiba, bara ini akan meledak, dan melumatkan segala yang ada.
Resah seolah menjadi emosi kolektif bangsa. Orang resah akan bensin dan gas yang semakin sulit didapat. Orang resah akan kepemimpinan nasional yang tak kompeten dan korup. Secara keseluruhan, orang resah akan kelanjutan bangsa dan negara yang dibangun di atas darah serta air mata ini.
Resah seolah menjadi modus mengada (mode of being), atau cara hidup, manusia. Negara sedang resah. Keresahan juga merasuki berbagai unsur kehidupan berbangsa. Ia menyentuh berbagai bidang tata hidup manusia.
Para pemimpin nasional kita dicekik rasa resah. Mereka tak memiliki kemampuan yang memadai untuk memimpin. Mereka tak kompeten. Mereka menjabat, semata karena balas budi pemimpin korup yang juta tak kompeten.
Para penegak hukum kita resah. Mereka dipimpin oleh orang-orang yang justru korup sampai ke akar. Dari segi jumlah, mereka amatlah kurang. Pekerjaan menumpuk, tanpa disertai sumber daya yang mencukupi.
Para pengusaha pun merasa resah. Kebijakan nasional penuh dengan korupsi dan ketidakpastian. Investasi dari luar menjadi tersumbat, pun kalau ada, ia melewati jalur yang penuh dengan korupsi. Secara keseluruhan, daya beli masyarakat menurun tajam, dan ini mengancam seluruh struktur ekonomi nasional.
Keresahan paling mencekik mahasiswa. Mata mereka terbuka dengan data dan teori sosial politik. Hati mereka marah melihat korupnya struktur kepemimpinan nasional yang ada. Kini mereka mengorganisir diri untuk bergerak melawan kezaliman yang telanjang di depan mata mereka.
Abad resah kiranya nama yang tepat untuk jaman kita. Langkah-langkah politik besar sulit diambil, persis karena mental korup yang telah sungguh mengakar. Pergantian rezim tidak menjamin keadaan akan membaik. Langkah-langkah kecil transformasi kesadaran kiranya lebih memungkinan dilakukan.

