Tiga Tradisi Pencerahan

Oleh Reza A.A Wattimena

Naik kereta menciptakan kenikmatan sendiri untuk saya. Pemandangan indah tak terkira terpapar di depan mata. Sejauh ratusan kilometer, saya disajikan pemukiman kumuh sekaligus hijaunya alam Indonesia yang menggetarkan jiwa. Di dalam rangkaian perubahan yang ada, pikiran menyelip di kepala.

Ketika mengalami dengan berpikir, semua terasa berat. Rangkaian pemukiman kumuh menghadirkan kebencian pada pemerintahan yang gagal total. Rangkaian hijaunya alam membuat rasa syukur berlimpah terasa di dada. Pengalaman yang dibalut pikiran akan menciptakan tegangan di dalam batin.

Namun, ini bisa dengan mudah dicegah. Kita bisa mengalami sesuatu tanpa konsep. Kita bisa mengalamai kenyataan sebagaimana adanya, sebelum dikurung dengan segala bentuk tafsiran yang berpijak pada ingatan. Kita bisa sungguh beristirahat di dalam kenyataan disini dan saat ini.

Tiga Tradisi

Ada tiga tradisi yang penting untuk didalami. Yang pertama adalah Zen. Di dalam Zen, pengalaman murni saat ini adalah jati diri kita yang sejati (true self). Ia adalah keadaan terjaga sadar itu sendiri, atau Buddha. Dengan sesering mungkin berada di dalam keadaan ini, kejernihan akan muncul. Kita lalu bisa melihat dan mengalami kenyataan sebagaimana adanya.

Kita tidak mengurung pengalaman dengan tafsiran. Kita tidak memberi kerangka ingatan pada peristiwa. Ini juga disebut sebagai batin yang tidak tahu, atau don’t know mind. Kita menyentuh sisi di dalam batin kita yang sepenuhnya bersih dari pengaruh ingatan.

Yang kedua adalah tradisi Yoga. Perlu untuk terus diingat, bahwa Yoga bukanlah kegiatan menekuk tubuh layaknya pemain akrobat, atau sirkus. Yoga adalah kesatuan seluruh kenyataan. Ia adalah kehidupan sendiri, sebelum disentuh oleh ingatan yang kemudian menciptakan tafsiran kata dan konsep. Ini disebut juga sebagai chit, atau kesadaran murni.

Tradisi Tibet juga mengarah pada titik serupa. Mereka menyebutnya sebagai Rigpa. Inilah inti terdalam dari batin manusia. Ia selalu ada, sadar penuh, kosong dari konsep dan tak mengenal batas. Ia bebas dari tafsir ingatan.

Ketiga tradisi besar itu mengarah pada titik sebelum ingatan. Ada kehidupan tak terbatas, sebelum kata dan konsep mengurungnya. Ada kenyataan yang sepenuhnya sadar dan hidup, sebelum kita membuat penilaian atasnya. Kejernihan yang muncul datang berbarengan dengan rasa damai yang tak terkatakan.

Perang Dunia

Di 2026 ini, dunia semakin gelap. Negara-negara besar bertempur. Seluruh dunia bisa terseret ke dalam pusaran kematiannya. Peradaban manusia pun bisa hancur, jika perang nuklir sungguh meletus.

Tak hanya para pemimpin politik dunia yang khawatir. Rakyat biasa pun terkena dampaknya. Harga-harga kebutuhan dasar akan menjadi semakin tak terkendali. Kehidupan, secara umum, akan menjadi semakin rumit.

Dalam keadaan ini, kejernihan pun menjadi kebutuhan mutlak. Kejernihan lahir dari kedamaian mendalam, sehingga orang terbebas dari kesalahan berpikir yang mencekik batinnya. Kejernihan yang membuat orang mampu sungguh hidup dalam kebenaran yang sejati. Kenyataan sebagai mana adanya pun berada di dalam pengalaman setiap saatnya.

Semua ini sebenarnya inti dari pencerahan itu sendiri. Rasa takut dan cemas lenyap ke belakang pengalaman. Kita bisa bertindak bebas dan tepat, sesuai keadaan di depan mata. Ketika rasa takut runtuh, kebebasan yang mendalam pun tercipta.

Tiga tradisi pencerahan ini, yakni Zen, Yoga dan Tibetan, kiranya perlu untuk menjadi bagian dari hidup manusia di seluruh dunia. Ia menyediakan pembebasan sesungguhnya dari penderitaan yang mencekik manusia, yang kerap muncul dari pengaruh ingatan di dalam memaknai pengalaman. Ia menyediakan kelegaan serta kejernihan, sehingga orang bisa bertindak tepat, sesuai keadaan nyata di depan matanya.

Jangan ditunda lagi…

Buku ini kiranya bisa membantu: Naskah Reza, Jantung Hati Zen

===

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.