Oleh Reza A.A Wattimena
Di email, saya menerima pertanyaan yang menarik. “Bang Reza, apa beda filsuf, ilmuwan dan mistikus?” Begitu tanya dari seseorang di dunia digital. Pertanyaan itu menggelitik saya untuk menulis soal ini.
Minggu ini, saya mengambil waktu rehat sejenak. Saya bermotor ke Bandung. Di sana, saya banyak bermeditasi dan yoga. Tidak ada kegiatan lainnya.
Muncul di kepala saya empat konsep. Saya melihat ini sebagai tahapan. Konsep pertama adalah yang paling rendah dan berbahaya. Konsep terakhir adalah yang paling tinggi.
Budak Dogma
Yang pertama adalah manusia sebagai budak dogma. Inilah manusia yang percaya dan patuh buta begitu saja pada apa yang diajarkan padanya. Ia seperti robot yang tak punya akal budi maupun emosi untuk mengolah informasi. Ia hidup hanya dengan menelan apa kata orang dan tradisi, tanpa pernah mempertanyakannya.
Manusia semacam ini tidak berkembang akal budinya. Pemahamannya soal kehidupan juga sempit serta tertutup. Sikapnya cenderung intoleran serta agresif pada orang dengan pandangan yang berbeda. Pada titik terparah, manusia budak dogma ini menjadi teroris yang menghancurkan manusia dan budaya lain.
Di dalam teori transformasi kesadaran, manusia budak dogma berada di tingkat kesadaran distingtif-dualistik. Mereka merasa terpisah dari kelompok lain, maupun mahluk hidup lainnya. Derita batin dan konflik sosial pun mewarnai hidup mereka. Semua perang dalam sejarah terjadi dari tingkat kesadaran ini.
Dalam arti ini, dogma adalah ajaran mutlak yang tidak bisa dibantah kebenarannya. Ada arogansi dan kebodohan dibalik semua dogma. Biasanya, ia berkembang di dalam agama kematian, sebagaimana dijelaskan di dalam teori tipologi agama. Inilah agama yang menghancurkan segala keindahan kehidupan demi kehidupan setelah kematian yang serba tidak pasti.
Ilmuwan dan Filsuf
Yang kedua adalah manusia ilmuwan. Inilah manusia yang menggunakan pola pikir ilmiah di dalam kehidupannya. Dalam arti ini, pola pikir ilmiah adalah pola pikir yang selalu membutuhkan bukti nyata yang bisa dipahami dengan panca indera, sebelum sebuah ajaran atau pandangan dianggap benar. Sikap kritis amatlah penting disini, terutama terhadap kebiasaan lama yang kerap berakar dalam di tradisi. Orang juga menjadi manusia yang rasional di dalam memahami segala sesuatu, sehingga ia bebas dari takhayul yang tak masuk akal.
Manusia ilmuwan sangatlah kreatif. Mereka mengembangkan berbagai pandangan baru. Beragam teknologi baru pun lahir untuk membantu hidup manusia. Namun, manusia ilmuwan masih terjebak pada ideologi empirisme, yang hanya mengakui pengalaman panca indera sebagai kebenaran. Ini membuat hidup menjadi sempit dan terbatas.
Yang ketiga adalah manusia filsuf. Ini adalah ilmuwan yang merindukan pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan. Mereka bergerak dari sains ke ontologi, yakni pemahaman tentang hakekat terdalam dari kenyataan yang ada. Empirisme pun dilampaui, sehingga hidup menjadi lebih kaya dan mendalam. Para filsuf tidak hanya menggunakan akal budi untuk mencapai pengetahuan, tetapi juga intuisi, yakni pengalaman langsung dengan kenyataan sebagaimana adanya.
Ilmuwan dan filsuf adalah manusia dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Pada umumnya, dari sudut pandang teori transformasi kesadaran, mereka berada di tingkat kedua dan ketiga. Mereka melihat arti penting mahluk hidup lain dengan sudut pandang yang berbeda (tingkat kedua- kesadaran immersif). Beberapa bahkan menyentuh kesadaran holistik-kosmik, dimana tidak ada lagi perbedaan antara mahluk hidup yang satu dengan yang lainnya.
Mistikus
Yang keempat adalah mistikus. Inilah manusia tingkat tertinggi, juga dengan tingkat kesadaran yang tertinggi (meditatif dan kekosongan). Para filsuf dan ilmuwan masih terjebak pada kata dan konsep. Mereka kerap merangkai kata dan konsep baru untuk menggambarkan dunia. Namun, ini tidak akan pernah cukup, dan akan berujung pada frustasi serta kebuntuan.
Mistikus adalah manusia yang rakus. Mereka ingin memahami dan mengalami segalanya secara utuh serta penuh. Mereka tidak puas dengan rangkaian kata dan konsep yang baru, yang semakin lama menjadi semakin tak berguna. Di dalam proses, seorang mistikus mengalami seluruh semesta di dalam dirinya secara langsung, tanpa bahasa ataupun konsep yang menganggu.
Buahnya adalah kedamaian mendalam di batin. Kejernihan pun lahir, yakni kemampuan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Dari kedamaian dan kejernihan, orang bisa bersikap tepat menghadapi perubahan hidup dari saat ke saat. Kata dan konsep digunakan seperlunya di dalam keseharian, sekaligus dilampaui di dalam rasa kemeruangan (spaciousness) tanpa batas.
Para seniman seringkali berada di tingkat ini. Namun, kerap kali, mereka tak menyadarinya. Dengan beragam karya yang ada, mereka berupaya melampaui kata dan konsep. Namun, karena tidak disertasi dengan tingkat kesadaran yang tinggi, para seniman kerap terjebak pada derita dan kebingungan yang, sebenarnya, mereka ciptakan sendiri.
Diantara budak dogma, ilmuwan, filsuf dan mistikus, yang mana anda?