Yesus Sang Filsuf

Oleh Dhimas Anugrah (Ketua Circles Indonesia. Komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Ketika nama Yesus Kristus terlintas di benak Anda, apa yang muncul pertama kali? Mungkin, seperti banyak orang, Anda membayangkan sosok religius—seorang pemimpin spiritual, Juruselamat yang membawa harapan bagi umat manusia. Tapi, bagaimana jika kita berhenti sejenak dan bertanya: Apakah Yesus juga seorang filsuf besar yang menawarkan makna terdalam dari eksistensi manusia?

Kalau kita melihat daftar filsuf Yunani Kuno seperti Sokrates, Platon, dan Aristoteles, nama Yesus memang tidak ada di sana. Namun, ajarannya membawa sesuatu yang berbeda: cinta, pengampunan, dan keadilan yang seolah berbicara lintas batas zaman dan tempat. Ajaran-ajaran ini menjadi landasan penting dalam pembentukan nilai-nilai kemanusiaan di dunia modern. Tapi tentu saja, tidak semua orang sepakat. Bagi sebagian pihak, ajaran Yesus terkadang dianggap terlalu ideal, jauh dari kenyataan dunia yang keras dan penuh persaingan. Lanjutkan membaca Yesus Sang Filsuf

Menjadi Tanpa Kepala

surreal headless person holds a hanging mask from a string

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda punya kepala? Sekilas, ini seperti pertanyaan bodoh. Sudah jelas, saya punya kepala. Apakah anda sungguh yakin?

Apakah anda pernah melihat kepala anda sendiri? Tentu saja tidak. Kita pernah melihat cermin yang seolah menampilkan kepala kita. Tetapi, kita tidak pernah secara langsung melihat kepala kita sendiri. Yang kita lihat hanya cermin, dan kepala orang lain. Lanjutkan membaca Menjadi Tanpa Kepala

Berkelana di Rimba Lelaki

unnamed

Lima Tipe Cowok Ideal di Aplikasi Kencan Berdasarkan Foto dan Wicaranya

Oleh Gilang Desti Parahita, Feminis Postrukturalis, Peneliti Doktoral di Culture, Media, and Creative Industries (CMCI), King’s College London.

Foto-foto yang diunggah pengguna di aplikasi kencan adalah seperti etalase pribadi— untuk memamerkan versi terbaik diri mereka, yang diukur berdasarkan standar ideal gender. Judith Butler, filsuf edgy dari Amerika Serikat, pernah bilang, bahwa kita semua sedang main role-playing game tanpa sadar. Kita terus berusaha “jadi cowok ideal” atau “cewek sempurna.” Ada aturan tidak tertulis soal bagaimana harus tampil, berbicara, bertingkah laku, sampai menjalankan peran sosial, supaya terlihat pas dengan kotak gender. Gender yang, kalau kata Trump dan agama-agama Abrahamik, cuma ada dua. Tapi, plot twist: nobody wins. Standar itu seperti game level tak berujung. Alasan idealita gender mustahil dicapai berjumlah lebih banyak daripada match swipe-kananku.

Kadang, kita coba berdamai dengan ketidaksempurnaan itu, sambil tetap membela diri. “Aku cewek, tapi aku nggak suka menye-menye.” Atau temanku bilang, “Cowok ini udah mapan, tapi ngomongnya bawel kayak tante-tante.” Bahkan tanpa kita sadari, usaha mencapai gender ideal itu juga terpampang jelas lewat foto. Lanjutkan membaca Berkelana di Rimba Lelaki

Viralitas Meningkatkan Korupsi

Oleh Reza A.A Wattimena

Pagi itu, di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, saya berjumpa dengan F. Budi Hardiman. Ini pertemuan tanpa rencana. Beliau adalah guru sekaligus teman berpikir saya. Seperti biasa, saya menimba begitu banyak ide dari percakapan kami.

Satu hal yang kiranya penting untuk dibagi. Kita hidup di era viralitas. Segala yang viral, yakni tersebar luas di media sosial, akan menjadi perhatian bersama. Segala pelanggaran pun menjadi terbuka, dan pemerintah dituntut untuk bekerja tepat serta cepat untuk menanganinya. Lanjutkan membaca Viralitas Meningkatkan Korupsi

Publikasi Ilmiah Terbaru: Kesadaran Kreatif dan Ketidaktahuan

study-buddhism-nagarjuna-400

Memahami Pemikiran Nagarjuna tentang Kaitan antara Kesadaran dan Kenyataan

Oleh Reza A.A Wattimena[1]

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC
MANAGEMENT JANUARI 2025 VOLUME 68

Abstrak

Tulisan ini menjabarkan pandangan Nagarjuna tentang kesadaran. Ia tidak memiliki pandangan spesifik tentang kesadaran. Teori kesadarannya dibangun dalam upaya untuk memahami kenyataan sebagaimana adanya. Untuk itu, ia melakukan pengamatan secara mendalam atas kenyataan dengan terlebih dahulu melepaskan segala teori yang sudah ada sebelumnya. Saya menggunakan metode tafsir teks sekaligus pengamatan atas kenyataan untuk menjabarkan pemikiran Nagarjuna tersebut. Baginya, kesadaran bersifat kreatif. Artinya, kesadaran menciptakan kenyataan lewat konsep dan ide. Orang mengira, kenyataan itu sungguh mutlak dan tetap. Ini yang disebut sebagai ketidaktahuan, atau kesalahan berpikir. Tidak ada kenyataan pada dirinya sendiri. Artinya, segalanya kosong dari ciri yang bersifat mutlak dan abadi. Dengan kesadaran ini, orang tidak lagi melekat atau membenci kenyataan. Ia mencapai pembebasan.

Kata-kata Kunci: Kekosongan, Kenyataan, Eksistensi/Keberadaan, Ideasi, Konseptualisasi, Pembebasan

[1] Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

Silahkan diunduh: Jurnal Reza, Nagarjuna dan Kesadaran

Membangun Masyarakat yang Layak

surreal-meets-aI-1024x640

Oleh Dhimas Anugrah, Pendiri dan Direktur Eksekutif CIRCLES Indonesia

Di era digital ini, makna komunikasi mengalami pergeseran yang serius. Kata-kata tidak lagi sekadar alat penyampai informasi, melainkan telah berinkarnasi menjadi senjata yang efektif melukai martabat manusia secara mendalam. Ujaran kebencian dan penghinaan yang marak di Indonesia, khususnya di platform media sosial, mencerminkan lebih dari sekadar fenomena komunikasi yang buruk: ia adalah gejala erosi nilai etika publik yang mengancam keharmonisan sosial.

Fenomena ujaran kebencian, baik dalam bentuk penghinaan personal maupun serangan berbasis identitas agama, ras, atau afiliasi politik, menandakan adanya krisis mendalam dalam cara masyarakat memandang dan menghargai sesama manusia. Ketika ruang digital yang seharusnya menjadi wadah dialog berubah menjadi arena penghinaan, martabat manusia menjadi taruhannya. Tentu, ini tidak sekadar masalah degradasi cara berbahasa, tetapi juga krisis dalam pemahaman nilai kemanusiaan yang selayaknya menjadi fondasi bagi tatanan sosial yang sehat. Lanjutkan membaca Membangun Masyarakat yang Layak

Overdosis Zen

517bec5e2d0c43c2bf16d86691cbc8e2_opt

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu ini, badan saya sedang sakit. Pegal terasa di bahu dan pinggang. Mungkin, karena saya terlalu lama berkendara motor. Mungkin juga, saya terlalu lama bekerja di depan komputer.

Tidak hanya itu, emosi pun menjadi gampang tersulut. Sumbu emosi terasa semakin pendek. Hal-hal kecil kerap membuat emosi saya naik. Beberapa kali, saya terlibat konflik dengan orang lain. Lanjutkan membaca Overdosis Zen

Revolusi Anti Omon-omon

11248589-EBLNDGQX-7

Oleh Reza A.A Wattimena

Akhir 2024, pemimpin ilegal itu berkata, tolong bersabar. Indonesia masih miskin dan bodoh. Namun, rakyat tetap diminta bersabar. Bersabar di tengah kebobrokan sistem itu sebuah penghinaan yang bisa menyulut api revolusi.

Pemimpin ilegal itu tidak membawa harapan kemajuan. Yah mau bagaimana, dia itu ilegal. Dia menjadi pemimpin dengan cara-cara curang. Seluruh jajaran pemerintahannya pun diisi orang-orang yang licik-culas-curang. Lanjutkan membaca Revolusi Anti Omon-omon

Buku Baru di Tahun Baru: Percikan Filsafat, Politik dan Spiritualitas

Percikan Filsafat, Politik, Spiritualitas

Saya semakin yakin, dunia ini hanya menawarkan harapan palsu. Bukan karena dunia ini jahat, tetapi karena segalanya berubah. Alam tak seindah dulu, dan semakin tak mampu menopang gaya hidup manusia. Politik yang juga semakin kusut.

Karena perubahan itu pasti, maka harapan pun selalu ada. Namun, harapan akan terus menjadi kosong, tanpa upaya mewujudkan keadaan yang tepat. Filsafat adalah jawaban disini. Jika pola pikir filsafati, sebagaimana ditawarkan di buku ini, diterapkan, maka sebagian besar masalah-masalah hidup kita akan selesai.

Jika dan hanya jika… Lanjutkan membaca Buku Baru di Tahun Baru: Percikan Filsafat, Politik dan Spiritualitas

Filsafat Rindu

separation-paulo-zerbato

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap akhir tahun datang, saya selalu ditikam rindu. Perasaan itu muncul begitu saja di tengah gemerlap perayaan Natal dan Tahun Baru yang terjadi. Setiap tahun, polanya selalu sama. Jauh di hati saya, saya merindukan kehangatan keluarga bersama orang tua yang sudah lama tiada.

Tubuh mereka tak disini lagi. Keberadaan mereka masih ada di semesta dalam wujud yang berbeda. Saya juga merindukan orang-orang yang sudah meninggalkan saya. Inilah para sosok kekasih hati yang sempat bersama, namun kini sudah melanjutkan kisah hidupnya di tempat yang berbeda. Lanjutkan membaca Filsafat Rindu

Hantu Feodalisme di Jantung Republik

feudcap6

Oleh Reza A.A Wattimena

Soekarno, sang proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, jelas adalah orang hebat. Pemikiran dan sepak terjangnya membawa bangsa ini keluar dari cengkraman penjajahan. Namun, ia bukan Tuhan ataupun dewa. Ia tidak layak dipuja, tanpa setitik sikap kritis.

Sebagai manusia biasa, Soekarno jatuh ke dalam godaan kekuasaan. Ia menjadi tiran yang ingin berkuasa secara mutlak. Inilah kiranya godaan kekuasaan yang begitu mempesona. Hanya sedikit yang mampu lolos darinya. Lanjutkan membaca Hantu Feodalisme di Jantung Republik

Dimana Pikiranmu yang Kemarin?

image_zGiBRunQ_1684430932453_512Oleh Reza A.A Wattimena

Kemarin, saya ingin makan pizza. Sudah lama sekali, saya tidak menyentuh makanan tersebut. Lalu, saya tidak jadi membeli, karena hujan begitu deras. Keinginan membeli Pizza hilang. Yang muncul berikutnya adalah kekhawatiran akan bocornya rumah, karena hujan keras yang terus menghantam atap rumah.

Darimana pikiran-pikiran itu berasal? Saya tidak melihat Pizza. Itu hanya di dalam bayangan saya, dan kemudian menciptakan keinginan di dalam diri. Pikiran membeli dan memakan Pizza itu datang dari kekosongan. Lanjutkan membaca Dimana Pikiranmu yang Kemarin?

Buku Terbaru: Jantung Hati Zen

Cover buku, Jantung Hati Zen

Pengantar: Hujan Rintik, Angin Berhembus

Hujan rintik-rintik. Angin berhembus dingin. Cuaca sejuk menikam Jakarta, Desember 2024. Lalu lintas dipenuhi pengendara motor mengenakan jas hujan.

Badan saya terasa lelah. Tidur terasa tak nyenyak semalam. Namun, batin terasa tenang. Ada ingatan masa lalu yang berkunjung, namun mereka tak menyakiti. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Jantung Hati Zen

Membaca: Menyelamatkan Nyawa, Memajukan Manusia

997a6308eb530eb555d16fb0b66e8b02Oleh Reza A.A Wattimena

Saya terbiasa membaca. Itulah keuntungan punya ayah bekerja di toko buku. Komik adalah bacaan pertama saya. Judul-judul klasik, seperti Doraemon, Kungfu Boy dan Tapak Sakti, akrab dengan masa kecil saya.

Di masa remaja, saya mulai menyentuh novel. Karya sastra mulai menjadi bacaan saya. Ini semua berakhir di buku-buku filsafat yang membuka pikiran. Dan kini, saya tidak hanya membaca, tetapi juga menulis dan menerbitkan karya. Lanjutkan membaca Membaca: Menyelamatkan Nyawa, Memajukan Manusia

Pantulan Bulan di Atas Air

71f11b0cbc2366f2922db6e5bd8d4068Oleh Reza A.A Wattimena

Indahnya malam itu. Hujan baru saja reda. Udara sejuk, dengan hembusan angin segar. Di hadapan saya, sungai jernih dan tenang.

Ia memantulkan bulan dan bintang. Wujudnya begitu nyata. Ia begitu indah. Tak heran, begitu banyak karya sastra dan musik lahir dari keindahan bulan. Lanjutkan membaca Pantulan Bulan di Atas Air

Seks dan Politik

6706231-HSC00001-32

Oleh Reza A.A Wattimena

Sentuhan nikmat seks memang selalu mengundang rindu. Kenikmatan berlipat dengan seni merayu. Ada permainan di dalamnya. Ini berakhir dengan ledakan kenikmatan yang membuat manusia seolah menyentuh Tuhan.

Seks juga menyakitkan. Ada upaya fisik yang berat di dalamnya. Ada upaya mental yang juga melelahkan untuk melihat pasangan sebagai sumber kenikmatan. Tak jarang, seks bermuara pada kekecewaan, ketika kedekatan dan kenikmatan yang dicari tak kunjung datang. Lanjutkan membaca Seks dan Politik

Artikel di Harian Kompas: Tegangan Dua Saudara Kembar, Populisme dan Demokrasi

WhatsApp Image 2024-11-24 at 06.22.16_fb1dfd5bOleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

Inilah kisah tegangan dua saudara kembar di dalam sistem politik dunia. Di satu sisi, kita melihat adanya demokrasi. Sistem politik ini menjadi dominan secara global pada abad ke-20 dan ke-21. Di sisi lain, kita melihat bangkitnya populisme pada awal abad ke-21 yang mengancam dasar-dasar demokrasi.

Demokrasi dan populisme sama-sama berpijak pada rakyat. Kata demos, dalam bahasa Yunani kuno, berarti ’rakyat’. Begitu pula kata populus yang diambil dari bahasa Latin. Dalam perkembangan sejarah, dua saudara kembar ini mengambil dua jalur yang berbeda.

Demokrasi berkembang menjadi sistem perwakilan rakyat dan institusi-institusi modern yang kompleks. Negara-negara dengan demokrasi yang sudah mapan masih terus menggunakan model ini. Namun, model ini mengalami pengeroposan dari dalam karena rakyat merasa kepentingannya tak terwakili di dalam politik. Dari kekecewaan rakyat inilah lahir gerakan populisme besar pada awal abad ke-21 yang menginginkan rakyat membuat keputusan-keputusan politik secara langsung, tanpa perwakilan.

Baca selanjutnya klik: Kompas

Tuhan, Kesadaran dan Peran Agama

BirthofaDivinity_NaissanceDuneDivinite_--SalvadorDaliPainting-SurrealismArt_35ae904f-5a1f-44d8-9ace-41216b91e482_large

Oleh Reza A.A Wattimena

Pada 2023 lalu, saya diajak berdiskusi secara daring oleh satu organisasi di Sumatera. Diskusi bermuara pada pemahaman tentang Tuhan. Satu pembicara menjelaskan Tuhan dengan mengutip begitu banyak kata-kata asing. Semua, tentu saja, semakin bingung.

Moderator langsung mengarahkan pertanyaan pada saya. Menurut Pak Reza, Tuhan itu apa? Spontan, saya menjawab: Tuhan adalah kesadaran. Ia berada di dalam diri manusia, sekaligus di dalam segala sesuatu. Kita tidak perlu teriak-teriak mencarinya, apalagi pergi ke tanah asing yang tak jelas tujuannya, dan hanya buang-buang uang semata. Lanjutkan membaca Tuhan, Kesadaran dan Peran Agama

Desakralisasi Menteri, Racun Feodalisme dan Budaya Menjilat

a46e2e16-f22e-4026-8467-11e4ca6deab3Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar 1995, saya diminta menghafal nama-nama menteri. Saya masih di bangku SMP pada masa itu. Jumlahnya tak banyak, dan relatif mudah diingat. Mereka adalah orang-orang hebat.

Pada masa itu, para menteri adalah orang-orang besar. Mereka adalah ilmuwan hebat. Mereka adalah tentara yang berprestasi. Tidak hanya hebat dan berprestasi, mereka, tentunya, dekat dengan Presiden Suharto pada masa itu. Dengan kata lain, ada hubungan kepercayaan yang erat antara Suharto dan menteri-menterinya. Lanjutkan membaca Desakralisasi Menteri, Racun Feodalisme dan Budaya Menjilat

Salah Sangka Soal Stress

surreal-double-exposure-woman-depicting-stress-mental-health-psychological-states_1137963-2023

Oleh Reza A.A Wattimena

Jantung saya berdetak cepat. Badan terasa memanas. Otot menegang. Dalam kesadaran, saya bertanya, apa yang terjadi?

Saya mengalami stress. Katanya, ini adalah hal yang jelek. Stress membuat hidup menjadi penuh derita. Banyak juga ahli yang menyatakan, bahwa stress berbahaya untuk kesehatan. Lanjutkan membaca Salah Sangka Soal Stress