
Oleh Michael Guntur Panca
Arman duduk berderet rapih bersama para pencari kerja lainnya. Pakaian mereka seragam; kemeja putih agak kusam dengan name teg tercantol di kantong. Sambil menunggu giliran interview, pikiran Arman berlari-lari tak karuan. “Apakah aku akan diterima kerja? Apakah HRD-nya akan suka dengan jawabanku? Kalau tidak diterima kerja, bagaimana aku bisa membayar kontrakan?” Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir dan bertubrukan. Detak jantungnya semakin cepat, dengkulnya terus begetar dan matanya meloncat dari satu sisi ke sisi lain. Kecemasan menyergap tubuh.
Pengantar
Kecemasan adalah perasaan yang aneh. Banyak gelisah, bercampur sedikit takut dan dilapisisi suasana gamang. Perasaan ini membuat kita bertanya, “Ini perasaan apa sih? Mengapa kita merasa cemas? Wajar nggak? Darimana datangnya kecemasan?” Saking anehnya, kecemasan adalah perasaan khas manusia. Batu tidak bisa cemas. Bunga Mawar tidak bisa cemas. Saya tidak pernah melihat kucing, duduk bengong dengan mata kosong membayangkan masa depan (atau setidaknya saya belum menemukan penelitian bahwa kucing bisa merasa cemas). Kecemasan adalah perasaan yang sangat mendasar. Perasaan ini menyentuh sisi terdalam eksistensi manusia sehingga membedakan manusia dari eksistensi-eksistensi lain. Lanjutkan membaca Memahami Kecemasan bersama Kierkegaard



















