Buku Terbaru: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited

Buku ini adalah kumpulan lima teori yang saya kembangkan. Ada lima teori, yakni teori transformasi kesadaran, teori tipologi agama, teori politik progresif inklusif, etika natural empiris dan epistemologi pembebasan. Pijakannya adalah penelitian saya di bidang filsafat, politik dan neurosains selama lebih dari dua puluh tahun. Selamat membaca, dan semoga menemukan pencerahan.

Jakarta, Juli 2025

Reza A.A Wattimena Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited

Tak Ada Cobaan

Leonora Carrington

Oleh Reza A.A Wattimena

Katanya, Indonesia sedang diuji. Kemiskinan terus membesar. Ketimpangan sosial ekonomi terus meluas. Di antara derita rakyat yang dicekik kemiskinan dan kebodohan tanpa henti, pemerintah dan oligarki minoritas hidup dalam gelimang kemewahan.

Katanya, ujian ini adalah cobaan dari tuhan. Masalahnya, kok ujian tak ada hentinya? Memang tuhan tak ada kerjaan lain, selain menguji manusia? Tuhan macam apa yang terus membuat manusia terpuruk dalam kemiskinan dan kebodohan? Lanjutkan membaca Tak Ada Cobaan

Hospitalitas Etis dan Moralitas Homoseksualitas

A piece from Igor Morski’s ‘Nature’ series.

Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Pendahuluan

Pertanyaan tentang homoseksualitas menyentuh preferensi personal dan aspek biologis, sekaligus membuka ruang bagi perbincangan etis yang lebih kompleks. Ketika seseorang bertanya, “Apakah homoseksualitas berada dalam ranah etika?,” ia mengundang refleksi tentang cara manusia memahami martabat, kebebasan, dan tanggung jawab dalam relasi sosialnya. Dalam kehidupan kontemporer yang sarat dengan tuntutan akan otonomi dan pengakuan, muncul dorongan kuat memposisikan orientasi seksual sebagai bagian dari identitas personal yang tak perlu dinilai secara etis. Namun, pendekatan ini sering kali luput membaca kenyataan bahwa manusia adalah makhluk moral, makhluk yang terus bertanya bukan hanya tentang “apa adanya,” tapi juga tentang “apa yang seharusnya.”

John Corvino, seorang filsuf moral dan pendukung hak-hak kaum homoseksual, secara gamblang menegaskan bahwa moralitas tidak dapat direduksi menjadi urusan privat. Ia menulis,

“Some people claim that morality is a “private matter’ and that, in any case, people’s rights shouldn’t hinge on others’ moral opinions. I think this view is badly mistaken. Morality is about how we treat one another, and thus it is quintessentially a matter for public concern. It’s about the ideals we hold up for ourselves and others. It’s about the kind of society we want to be: what we will embrace, what we will tolerate, and what we will forbid” (What Is Wrong with Homosexuality?, 2013: 6). Lanjutkan membaca Hospitalitas Etis dan Moralitas Homoseksualitas

Refleksi Indonesia Kusut

Mario Nevado

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya amat menikmati berkendara motor jarak jauh. Suatu hari, setelah menelusuri area Tangerang Selatan, saya mengisi bensin di Jalan Arteri Pondok Indah. Sambil menunggu antrian, saya berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang duduk. Di bahunya terkalung tas, dan ditangannya tertumpuk dokumen-dokumen.

Ia tampak lelah dan bingung. Saya bertanya, “Ada yang bisa dibantu mas?” Ia seolah terkejut sekaligus gembira dengan sapaan tersebut. Senyum kecil teruntai di wajahnya. Lanjutkan membaca Refleksi Indonesia Kusut

Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 2)

Oleh Syarif Maulana, Filsuf dan Budak Cinta

Pertanyaannya, kenapa para filsuf ini begitu terpesona dengan sosok influencer dan bukannya mengajukan kritik – sebagaimana lazimnya para filsuf terhadap apapun yang trendi di zamannya? Padahal dilihat secara sepintas pun, banyak hal ganjil dari para influencer. Mereka sering berbicara atas namanya sendiri, seolah-olah gagasannya sendiri, tanpa referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, yang kita terima karena mereka adalah “individu yang kredibel dan terpercaya”.

Hal yang sering menyilaukan kita adalah ucapan-ucapan para influencer yang ditopang aspek ad populum, kuantitas pengikut dan penyuka yang luar biasa, mengangguk pada apapun yang keluar dari liurnya. Inilah nabi baru era algoritma, diimani secara membabi buta oleh jemaahnya yang iya iya aja, ketika junjungannya mengatakan “hapus logika mistika” atau “tutup jurusan filsafat”. Pesonanya begitu dahsyat hingga sebagian filsuf memutuskan untuk mengkritik sambil malu-malu kucing, semi menjilat pantat, seraya berbisik dengan suara gemetar, seolah minta diajak pada jalan keselamatan, “Ajak aku pada engagement-mu.” Lanjutkan membaca Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 2)

“Spiritualitas” Ketidakadilan

Oleh Reza A.A Wattimena

2014-2015, karir profesional saya hancur. Fitnah disebarkan begitu luas oleh salah satu orang terdekat dalam hidup saya. Di masyarakat yang tak kritis dan doyan bergunjing, fitnah ditelan dengan riang gembira. Atasan dan para rekan kerja menelan fitnah, dan memutuskan untuk menjatuhkan saya secara profesional.

Saya harus menelan ketidakadilan. Saya tak diam saja. Saya memutuskan untuk melakukan konsultasi hukum. Namun, setelah menimbang semua unsur, saya memutuskan untuk menerima ketidakadilan tersebut. Lanjutkan membaca “Spiritualitas” Ketidakadilan

Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer

Oleh Syarif Maulana, Filsuf dan Budak Cinta

Dua minggu terakhir ini, cukup ramai DM Instagram saya dikirimi pesan dari orang-orang yang meminta respons, terkait pernyataan seorang influencer (saya malas sekali menuliskan namanya). Kata influencer tersebut kira-kira: “jurusan filsafat sebaiknya dihapuskan”, “Filsafat sudah tidak relevan dengan perkembangan teknologi”, “Dulu filsafat mungkin penting, sekarang tidak lagi karena sudah ada pembuktian empiris oleh sains” dan fafifu lainnya yang sebenarnya tidak berbobot dan tidak baru sama sekali, tetapi begitu viral, heboh, dan disikapi serius oleh berbagai komunitas dan pembelajar filsafat.

Entahlah, mungkin para pegiat filsafat sudah buntu mengatasi problem-problem seperti hard problem of consciousness, masalah pikiran – tubuh, atau posisi matematika sebagai entitas yang ditemukan atau diciptakan, dan sebagainya. Kelihatannya bagi mereka, ada hal yang lebih menarik untuk dibela, yakni posisi filsafat di hadapan seorang influencer yang notabene tidak tahu apapun tentang filsafat (kecuali Stoikisme bagian kesetnya saja). Lanjutkan membaca Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer

Aku Telah Banyak Menderita

Multatuli, pseudoniem voor Eduard Douwes Dekker

Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia, komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, sains

Hari ini aku berada di Neckarsulm, sekitar 600 kilometer barat daya dari Berlin. Sebuah kota kecil yang tenang, dengan orang-orang yang ramah, dikelilingi hamparan kebun anggur dan desir angin musim panas yang lembut.

Entah mengapa, barusan aku membuka album foto di ponsel. Jariku berhenti pada satu gambar: patung Multatuli. Foto itu kuambil dengan kamera ponsel saat berada di Amsterdam beberapa hari lalu. Lanjutkan membaca Aku Telah Banyak Menderita

Publikasi Jurnal Ilmiah Terbaru: Kaitan Kesadaran dan Pembebasan Menurut Sam Harris

Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini membahas pemikiran Sam Harris tentang Kesadaran. Ia menulis tentang kesadaran dalam kaitan dengan pembebasan manusia dari penderitaan yang dibuat oleh kesalahpahaman. Untuk itu, ia menggunakan dasar berpikir yang berpijak pada neurosains dan filsafat, terutama filsafat Asia. Tulisan ini membahas pemikiran Harris tentang kaitan mendalam antara pemahaman kesadaran dan pembebasan, sekaligus memberikan tanggapan atasnya. Ia melihat pembebasan terkait dengan tiga hal, yakni penerimaan pada kenyataan sebagaimana adanya disini dan saat ini, keterbukaan, ketanpadirian, dan kesatuan dengan seluruh alam semesta.

Kata-kata Kunci: Kesadaran, Neurosains, ketanpadirian, Meditasi

Silahkan diunduh di: Jurnal Reza, Kesadaran dan Pembebasan Menurut Sam Harris

Parasit Jabatan

Oleh Reza A.A Wattimena

Tiga kali, saya mendapatkan tawaran untuk menjabat di jajaran para penguasa politik. Tiga kali, saya menolaknya. Saya menolak untuk bekerja di bawah rezim gemoy fufufa yang korup sejak awal. Saya juga menolak tunduk pada partai politik yang mengaku demokratis, namun berjalan seperti kerajaan.

Rupanya, saya sendirian. 2025, kita menyaksikan jabatan-jabatan politik membusuk yang diumbar luas. Sebut saja wamen, stafsus, staff ahli, komisaris BUMN, wakil rakyat, menteri dan sebagainya. Jabatan-jabatan dengan fungsi penting, namun diberikan pada orang-orang yang bermutu rendah. Jabatan-jabatan yang dulu terhormat, kini menjadi bahan lelucon untuk menertawakan kebusukan rezim. Lanjutkan membaca Parasit Jabatan

Arti Melepas

Oleh Reza A.A Wattimena

25 tahun, mereka bersama. Suka dan duka dilalui bersama. Kini, karena beragam sebab, mereka harus berpisah. Luka dan trauma yang tercipta pun nyaris tak tertahankan.

Sang suami bercerita ke saya, sambil meneteskan air mata. Cukup jarang saya melihat pria dewasa menangis, apalagi di masyarakat patriarkis yang teracuni agama kematian dari tanah gersang ini. Apa tak ada yang bisa diusahakan? Tidak, begitu katanya. Lanjutkan membaca Arti Melepas

Luka yang Tak Sembuh, Banalitas Kejahatan dan Kekerasan Seksual Massal 1998

Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia, komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, sains

“Mereka yang tak sanggup mengingat masa lalu, akan dikutuk untuk mengulanginya,” tulis filsuf George Santayana dalam The Life of Reason (1905). Sejarah bukan untuk dibungkam, melainkan direnungkan, sebab darinya, bangsa belajar menjaga arah langkahnya. Bahkan Majapahit, kerajaan termasyhur yang kerap dipuja sebagai lambang kejayaan Nusantara, tak luput dari lembaran sejarah yang getir. Di balik gemilangnya tahta, tersimpan babak kelam: empat panglima Raden Wijaya gugur secara tragis dalam pusaran konflik kekuasaan. Ranggalawe tewas di tangan Kebo Anabrang, yang kemudian dibunuh oleh Lembu Sora. Lalu, Lembu Sora sendiri meregang nyawa di pelataran istana, dalam operasi penyergapan oleh para prajurit Majapahit. Nambi pun menemui akhir yang serupa, dibunuh oleh bangsanya sendiri.

Ini bukan mitos, melainkan catatan sejarah yang ditulis bukan untuk menodai masa lalu, melainkan agar generasi mendatang belajar darinya. Bung Karno pernah mengingatkan, “We leren van de geschiedenis zodat we niet dezelfde fouten maken,” kita belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kalimat ini kini menggema kembali, dengan nyaring dan getir, dalam wajah Indonesia hari ini. Ketika seorang menteri menyatakan bahwa “tidak ada pemerkosaan massal” dalam tragedi Mei 1998, sebagaimana diberitakan Kompas.com (15 Juni 2025), gelombang kegeraman publik pun merebak. Namun yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar kontroversi adalah pertanyaan mendasar yang muncul: apa yang terjadi ketika sejarah coba ditulis ulang oleh kuasa yang menolak mengakui luka kolektif? Lanjutkan membaca Luka yang Tak Sembuh, Banalitas Kejahatan dan Kekerasan Seksual Massal 1998

Andai Saya Si Gemoy…

Oleh Reza A.A Wattimena

Badan saya gemoy, walaupun tidak segemoy sang pemimpin rezim omon-omon. Nasib saya juga tidak seberuntung dia. Tidak ada orang yang membantu karir saya. Saya tidak punya warisan raksasa, seperti yang ia punya.

Saya tidak menikah dengan putri mahkota. Saya tidak dibantu oleh penguasa negeri asing. Saya juga cukup tahu diri dengan kemampuan fisik dan intelektual saya. Si gemoy, sang pemimpin rezim omon-omon/fufufafa, haus kekuasaan dan pengakuan, tanpa didukung oleh kemampuan nyata yang memadai. Lanjutkan membaca Andai Saya Si Gemoy…

Memahami Keinginan

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya bukan musisi profesional. Namun, saya sangat senang bermain musik, terutama gitar. Sudah ada dua gitar di rumah, dan itu sebenarnya cukup. Namun, setiap melihat gitar dengan suara merdu dan corak indah, keinginan untuk memiliki gitar lagi pun muncul.

Tak butuh, namun hasrat memiliki berkobar. Apa yang sebenarnya terjadi? Pernahkah anda mengalami hal serupa? Apa yang sebenarnya terjadi, ketika kita menginginkan sesuatu? Lanjutkan membaca Memahami Keinginan

Samsul, Mukidi dan Trauma Linguistik

Concept idea freedom of speech freedom of expression democracy feminism and censored, surreal painting, portrait illustration, political art, women’s rights, conceptual artwork

Oleh Reza A.A Wattimena

Suatu sore, saya makan bakso dekat rumah. Namanya Bakso Mukidi. Untuk catatan, saya tidak dapat sponsor dari mereka. Mendengar kata Mukidi, saya langsung menyadari adanya perasaan tak enak di perut dan dada. Ada apa gerangan?

Ternyata, saya teringat sosok Mulyono. Rasa mual dan marah yang ada terkait dengan ingatan akan Mulyono. Padahal, saya sedang menikmati bakso. Mengapa kata Mukidi langsung membuat saya teringat Mulyono? Lanjutkan membaca Samsul, Mukidi dan Trauma Linguistik

Hidup tanpa Kesimpulan

Oleh Reza A.A Wattimena

Jika bukan seorang ayah, siapa saya? Begitu pertanyaan seorang sahabat, ketika kami berbincang. Buat saya, jawabannya mudah. Jika bukan seorang ayah, atau bahkan seorang manusia, maka kamu adalah kehidupan itu sendiri, atau kesadaran itu sendiri. Buat teman saya, jawaban tersebut membingungkan.

Tentu saja, teman saya tak sendiri. Mungkin, sekitar 99% manusia melekat pada peran sosial tertentu. Mereka melihat diri mereka sebagai orang tua, ayah, ibu, warga negara, profesi tertentu, orang beragama dan sebagainya. Ketika identitas itu berubah, mereka bingung, dan menderita. Lanjutkan membaca Hidup tanpa Kesimpulan

Hospitalitas Epistemis dalam Isu Homoseksualitas

Oleh Dhimas Anugrah,  Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Pendahuluan

Percakapan mengenai moralitas perilaku homoseksual dalam masyarakat dewasa ini semakin melibatkan temuan-temuan ilmiah kontemporer dalam membahas moralitas perilaku homoseksual, tak terkecuali pada ranah interpretasi teologis. Dalam konteks tradisi kristiani misalnya, Stanton L. Jones dan Mark A. Yarhouse mengamati bahwa hasil penelitian ilmiah tentang homoseksualitas sering kali disitir secara serampangan dalam berbagai dokumen gerejawi, terutama dalam laporan studi dan dokumen pendukung yang diterbitkan oleh denominasi-denominasi arus utama. Mereka menyatakan,

“The debates about the morality of homosexual behavior have in recent years drawn heavily upon the findings from science. The scientific research on homosexuality is often cited very casually in these debates, especially in the study and support documents of the mainline Christian denominations. After the stem ‘Science says…’ sweeping and inaccurate generalizations are often made. After such generalizations ethical conclusions are often thrown out that are only loosely tied to the supposed scientific findings” (2000: 28–29).

Pernyataan tersebut menggarisbawahi persoalan epistemologis yang signifikan: fakta ilmiah kerap menjadi landasan bagi kesimpulan etis yang tidak selalu berakar pada metode ilmiah itu sendiri, melainkan sering kali dipakai secara selektif untuk mendukung posisi moral tertentu. Lanjutkan membaca Hospitalitas Epistemis dalam Isu Homoseksualitas

Indonesia 2025, Masihkah Mungkin Menjadi Guru?

Oleh Reza A.A Wattimena

Selama lebih dari 15 tahun, saya bekerja di berbagai institusi pendidikan. Saya merasa, pendidikan adalah panggilan hidup saya. Saya merasa punya misi untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah suatu kebanggaan saya dari lubuk hati terdalam.

Saya mengajar filsafat. Disini, saya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Saya tidak hanya mengajarkan kumpulan fakta semata. Lebih dari itu, saya mengajak orang untuk berpikir secara kritis, sistematis, rasional dan terbuka. Mungkin lebih tepat dikatakan, bahwa saya mencoba membentuk kebijaksanaan, seperti di dalam teori epistemologi pembebasan yang saya rumuskan (lihat buku: Naskah Reza, Epistemologi Pembebasan). Lanjutkan membaca Indonesia 2025, Masihkah Mungkin Menjadi Guru?

Buku Terbaru: Epistemologi Pembebasan

Oleh Reza A.A Wattimena

Buku Lengkap bisa diunduh di: Naskah Reza, Epistemologi Pembebasan

Jika terbantu dengan karya-karya dari Rumah Filsafat, donasi bisa disalurkan ke: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius

Pada Maret 2025, saya diminta menghadiri seminar karya ilmiah di SMU Gonzaga, Jakarta Selatan. Ini adalah almamater saya tercinta. Saya mendengar beberapa presentasi dari murid-murid SMA, dan kemudian memberikan beberapa komentar di akhir keseluruhan acara. Satu hal yang muncul di kepala saya: begitu mengesankan, sekaligus begitu dangkal pada saat yang sama.

Berkat kecanggihan teknologi, terutama kecerdasan buatan, begitu banyak informasi didapatkan. Namun, tak semua informasi bisa dipercaya. Sikap kritis tentu amat diperlukan, supaya kita bisa membedakan informasi palsu dan informasi faktual. Sikap kritis semacam ini juga tak tampak pada berbagai presentasi yang saya saksikan. Ada kecenderungan menghamba pada berbagai informasi yang diterima dari internet, terutama dari kecerdasan buatan.[1] Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Epistemologi Pembebasan

Bosan Hidup?

Oleh Reza A.A Wattimena

Kembali, saya menerima beberapa pesan. Beberapa teman bosan hidup. Mereka lelah dengan segalanya. Karena begitu bosan dan lelah, bunuh diri seolah menjadi jalan keluar yang bermakna.

Sejujurnya, jika digali lebih dalam, mereka tidak sungguh bosan dengan hidup. Mereka bosan dengan rutinitas keseharian. Mereka bosan dengan tanggung jawab yang tak ada habisnya. Mereka bosan dengan keadaan dunia, terutama politik dan ekonomi, yang semakin gelap. Lanjutkan membaca Bosan Hidup?