Ketika Keinginan Menjadi Benar Berubah Menjadi Bencana

Gambar karya Pawel Kuczynski

Oleh A. Rahadian

Prolog: Liturgi Baru Seorang Lelaki yang Ingin Benar

Pada pukul sebelas malam, Dion—seorang aktivis yang rajin menulis utas tentang patriarki, keadilan gender, dan trauma kolektif—menyetel laptopnya di kafe yang hampir tutup. Di depannya, cangkir kopi dingin separuh habis; di kepalanya, adrenalin bekerja seperti khotbah yang tak sabar dikhotbahkan. Ia baru saja menemukan sebuah komentar “problematis” dari seorang akademisi tua di media sosial—kalimat ambigu tentang “perempuan dan kebebasan tubuhnya.”

Bagi Dion, ini bukan sekadar komentar. Ini adalah tanda dosa baru yang tak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Ia mulai mengetik utas panjang dengan ritme yang nyaris liturgis: kalimat pertama moral, kalimat kedua politis, kalimat ketiga penuh emosi—lalu tautan, tagar, dan tangkapan layar. Ia tahu, dalam waktu kurang dari satu jam, utasnya akan beredar, dikutip, ditambahi komentar, dan mungkin—jika algoritma berkenan—mengubah opini publik. Lanjutkan membaca Ketika Keinginan Menjadi Benar Berubah Menjadi Bencana

Publikasi Ilmiah Terbaru: Apakah Kecerdasan Buatan Memiliki Kesadaran?

Apakah Kecerdasan Buatan Memiliki Kesadaran? Memahami Kaitan Antara Kecerdasan Buatan, Konsep Diri dan Kesadaran Moral

Reza A.A Wattimena[1]

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT Oktober 2025 VOLUME 71

Abstrak

Tulisan ini hendak membahas kaitan antara kecerdasan buatan, kesadaran diri dan moralitas. Kesadaran diri terkait dengan konsep diri, dan moralitas terkait dengan kesadaran moral yang memungkinkan entitas bertanggung jawab atas keputusan maupun tindakannya. Awalnya, tulisan ini membahas soal kecerdasan buatan. Lalu, tulisan ini akan mencoba menjawab, apakah kecerdasan buatan memiliki jenis kesadaran tertentu? Tema terpentingnya terkait kaitan antara kesadaran moral dan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan tidak (belum?) memiliki kesadaran reflektif transendental yang memungkinankan ia sadar sebagai pelaku dari keputusan maupun tindakannya. Namun, kecerdasan buatan, dalam perkembangannya di pertengahan 2024 ini, bisa dianggap memiliki kesadaran minimal yang membuatnya mampu membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Kata-kata Kunci: Kecerdasan Buatan, Kesadaran Diri Minimal, Konsep Diri, Kesadaran Diri sebagai Pribadi, Kesadaran Diri sebagai Pelaku, Moralitas

[1] Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Transformasi Kesadaran, Teori Tipologi Agama, Teori Politik Progresif Inklusif dan Etika Natural Empiris. Teori terbarunya adalah Epistemologi Pembebasan.

Silahkan diunduh: Jurnal Reza, Kesadaran dan Kecerdasan Buatan

Luka dan Kerumitan Pengampunan: Refleksi 60 Tahun Peristiwa 1965

Foto dari Tempo. Dok: Uchikowati

Oleh A. Rahadian – Pengurus Pakel 65 (Paguyuban Keluarga 65)

Penanda lupa: Di Lembah Plantungan             

Di bawah langit pagi yang lembab di lembah Gunung Prahu, jalan menuju Plantungan berkelok di antara sawah dan kebun kopi. Udara di sana dingin — dingin yang menyimpan gema masa lalu. Di balik pohon-pohon pinus yang berdiri seperti penjaga tua, masih tampak sisa kawat berduri, berkarat namun tak runtuh, seperti kenangan yang menolak dilupakan.

Lebih dari lima puluh tahun silam, pada April 1971, tempat ini bukan sekadar lembah hijau. Tempat ini adalah bekas rumah sakit lepra peninggalan Belanda yang diubah menjadi kamp reedukasi bagi lebih dari lima ratus perempuan yang dituduh terlibat peristiwa 1965. Rumah sakit yang dulu dirancang untuk menyembuhkan, berubah menjadi ruang penjinakan ide. Di sinilah tubuh, iman, dan keyakinan diuji — di antara udara yang tenang dan langkah-langkah penjaga yang berderap pelan. Lanjutkan membaca Luka dan Kerumitan Pengampunan: Refleksi 60 Tahun Peristiwa 1965

Cancel Culture: Sebuah Pengantar Kritis

(Photo credit: OpenAI’s DALL·E)

Oleh Syarif Maulana

Kita mulai dari kisah yang saya ambil dari The New York Times berjudul Tales From the Teenage Cancel Culture (2019) tentang seorang siswi bernama Neelam untuk menggambarkan bagaimana budaya pembatalan (cancel culture) bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Neelam, seorang pelajar sekolah Katolik di Chicago, duduk di kelas saat seorang teman sekelas memutar lagu Bump N’ Grind karya R. Kelly, penyanyi yang pada saat itu telah dipenjara karena kasus kekerasan seksual terhadap anak. Bagi Neelam, seorang perempuan kulit hitam yang baru saja menonton dokumenter Surviving R. Kelly bersama ibunya, momen itu bukan sekadar soal lagu, melainkan tentang luka, ketidakadilan, dan ketidaksensitifan moral. Ia meminta agar lagu itu dimatikan, tapi sang teman menolak. Bagi temannya itu, musik hanyalah musik, terpisah dari moralitas sang musisi. Lanjutkan membaca Cancel Culture: Sebuah Pengantar Kritis

Apakah Laut Takut pada Ombak?

Erica Wexler

Oleh Reza A.A Wattimena

Teman lama tiba-tiba menghubungi. Ia ingin berjumpa. Kami membuat janji untuk berjumpa di kafe dekat tempat tinggal saya. Percakapan dimulai dengan sedikit nostalgia, kabar terbaru lalu masuk ke inti pembicaraan.

Hidupnya dilanda badai. Perceraian dan pemecatan kerja datang berbarengan. Ah, saya teringat kisah hidup saya sendiri. Memang, rasa sakit yang timbul dari dua hal ini sungguh tak terbayang. Lanjutkan membaca Apakah Laut Takut pada Ombak?

Semiotika Ijazah

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah ada yang tertarik melihat ijazah saya? Saya rasa tidak. Saya bukan pejabat publik, dan bukan artis. Namun, jika anda mau, saya bisa memperlihatkannya. Tidak ada masalah sama sekali.

Lima tahun terakhir, Indonesia dibuat susah oleh masalah remeh, namun sangat mendasar. Ijazah Jokowi, mantan presiden, tetap menimbulkan banyak pertanyaan kritis, bahkan sampai hari ini. Kini, di 2025, Gibran, anaknya, yang terpilih menjadi wakil presiden dengan cara-cara kontroversial, juga dipertanyakan soal ijazahnya. Lanjutkan membaca Semiotika Ijazah

Satu-satunya Masalah Manusia

Tomasz Alen Kopera

Oleh Reza A.A Wattimena

2003, saya belajar filsafat manusia di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Pada masa itu, sejujurnya, saya lebih suka menjadi seorang demonstran, daripada menjadi mahasiswa. Namun, filsafat manusia adalah mata kuliah wajib. Saya pun mengikutinya dengan penuh rasa ingin tahu.

Hal terpenting yang saya dapat dari kuliah itu adalah soal kebebasan. Kebebasan manusia terletak pada kemampuannya menanggapi keadaan yang ada. Keadaan itu sendiri tak bisa sepenuhnya ditentukan. Ada orang lain, masyarakat dan alam yang menentukan keadaan di luar diri kita. Lanjutkan membaca Satu-satunya Masalah Manusia

Menebar Benih di Musim Dingin

Jacek Yerka – The Winter Wave (2005)

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap hari, saya menerima begitu banyak pesan dari media sosial. Beberapa mengirim ke email. Ada yang bertanya soal filsafat dan perluasannya. Mayoritas bertanya soal jalan keluar dari penderitaan hidup yang berat.

Ada yang berduka, karena patah hati. Ada yang berduka, karena bersentuhan dengan kematian. Ada yang berduka, karena sulit menemukan pekerjaan yang pas. Begitu banyak penderitaan tersebar di dunia ini.

Ada yang sudah belajar beragam hal. Ada yang sudah mengikuti retret meditasi berulang kali. Ada yang sudah belajar Yoga, sampai layak  menjadi anggota sirkus. Namun, penderitaan selalu merongrong, dan mereka kerap merasa tak berdaya. Lanjutkan membaca Menebar Benih di Musim Dingin

Media Sosial, Kesadaran Kelas dan Amok Massa

(Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Oleh Reza A.A Wattimena

Jakarta, 31 Agustus 2025, sekitar jam 3 pagi, saya langsung berhadapan dengan massa penjarah. Mereka bukan demonstran. Mereka bukan mahasiswa, ataupun masyarakat sipil yang menuntut keadilan. Mereka adalah massa bayaran berusia sekitar 20 tahunan yang ditugaskan untuk merusak.

Mereka mengenakan masker dan menggunakan helm. Mereka mengendarai motor dengan knalpot brong yang merusak telinga. Mereka tak peduli moral dan hukum. Mereka dibayar untuk merusak, lalu langsung mengirimkan foto-foto bukti kerusakan tersebut pada sang penyandang dana kerusuhan.

Tak ada polisi. Tak ada tentara. Hanya warga yang saling menjaga. Penjarahan terjadi dalam skala amat kecil, namun tak ada api yang menyebar. Kami, sesungguhnya, cukup beruntung. Lanjutkan membaca Media Sosial, Kesadaran Kelas dan Amok Massa

Jaket Hijau yang Memerah

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya tak kenal Affan Kurniawan. Ada 20 juta lebih manusia di Jakarta ini. Namun, berita kematiannya sungguh membuat saya terpukul. Era digital membuat semua informasi menjadi begitu mudah mengalir.

Sejak pagi, hati saya pilu. Beberapa kali, air mata menetes. Mungkin, karena ia meninggal dengan jaket hijau khas ojek online. Sepuluh tahun terakhir, hidup saya banyak terkait dengan jaket hijau tersebut.

Setiap hari, mereka datang ke rumah saya. Ada yang mengantar paket. Ada yang mengantar makanan. Bisa dibilang, bagi saya, dan bagi jutaan rakyat Indonesia, jaket hijau itu sudah seperti anggota keluarga. Lanjutkan membaca Jaket Hijau yang Memerah

Selalu Utuh dan Penuh

Dreamstime

Oleh Reza A.A Wattimena

“Mengapa terus berbelanja? Apakah elo membutuhkan semua barang itu”? Jawabannya singkat: “tidak. Gua belanja, supaya hepi”. Begitu secuil percakapan saya dengan seorang kawan.

Jika tidak belanja, katanya, ada rasa hampa di dada. Ada rasa bosan yang mencekik. Dengan adanya ponsel cerdas, semua info untuk belanja bisa didapat. Belanja hal-hal yang tak perlu pun menjadi amat mudah. Lanjutkan membaca Selalu Utuh dan Penuh

Jangan Gembira, Kita Belum Merdeka…

Joan Miró’s Person Throwing a Stone at a Bird, 1926

Oleh Reza A.A Wattimena

17 Agustus 2025, saya merasa sendu. Saya tak sendirian. Seluruh Indonesia, kiranya, juga merasa yang sama. Ada perayaan, tetapi kebanyakan sekedar basa basi, tanpa rasa tulus yang asli.

Indonesia sedang gelap. Indonesia sedang kusut. Masa depan bangsa seolah tanpa harapan. Pemerintah hidup foya-foya di atas derita rakyatnya, dan terus mengeluarkan berbagai kebijakan bodoh. Sesungguhnya, tak ada yang perlu dirayakan. Lanjutkan membaca Jangan Gembira, Kita Belum Merdeka…

Kemerdekaan dan Panggilan Mencintai

Jörg Hövel

Oleh Dhimas Anugrah, Penulis buku “Filosofi Kematian” (Kanisius, 2024) dan Ketua Circles Indonesia, komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains.

Delapan puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah sebuah rahmat yang patut kita rayakan. Bukan hanya lewat upacara seremonial tentunya, tapi juga melalui perenungan filosofis yang agak mendalam. Sejarah bangsa ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dibentuk oleh arah dasar keberadaan manusia sebagai makhluk yang mencari makna.

Dalam filosofi eksistensial, Martin Heidegger memperkenalkan konsep Sein zum Tode, atau berada menuju kematian, yaitu kesadaran bahwa manusia sepanjang hidupnya selalu bergerak menuju akhir. Eksistensi manusia tak bisa dilepaskan dari kefanaan. Heidegger menyatakan bahwa manusia yang sadar akan keberadaannya “selalu telah menuju akhirnya” (Being and Time, 1962). Lanjutkan membaca Kemerdekaan dan Panggilan Mencintai

Berfilsafat di Negara Bandit

Cook and Becker and Gearbox Software

Oleh Reza A.A Wattimena

Negara Bandit, itu konsep yang keluar dari pikiran Pak Fransisco Budi Hardiman, mentor sekaligus sahabat saya dalam berpikir. Setiap berjumpa dengannya, inspirasi selalu menyala. Begitu banyak ide bertebaran di kepala. Mereka menunggu untuk dituangkan di dalam tulisan.

Di dalam negara bandit, penguasa saling menyandera. Kebuntuan politik, hukum dan ekonomi pun tercipta. Yang menjadi korban adalah masyarakat luas. Tidak ada lagi acuan terhadap “kebaikan bersama”. Lanjutkan membaca Berfilsafat di Negara Bandit

Filsafat Telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 3)

Janni Fewster

Oleh Syarif Maulana, Filsuf dan Budak Cinta

Jangan-jangan saya sendirilah yang kegocek, karena menulis ini hingga bagian ketiga (mudah-mudahan bagian terakhir). Saya teringat pernah menulis perkara perselisihan filsafat analitik dan filsafat kontinental yang dimulai pada tahun 1913, ketika 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Waindelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jerman, Austria, dan Swiss untuk tidak lagi mengizinkan ranah psikologi eksperimental masuk ke departemen filsafat (Kusch, 1995: 191-192).

Sederhananya, psikologi eksperimental ditolak sirkel filsafat, karena menyederhanakan problem filsafat menjadi sekadar perkara mental subyektif.  Penolakan atas apa yang oleh orang-orang filsafat kala itu disebut “psikologisme”, membelah aliran filsafat menjadi dua kubu yang lestari hingga sekarang: turunan Edmund Husserl menjadi kelompok aliran filsafat kontinental, sementara turunan Gottlob Frege menjadi kelompok aliran filsafat analitik. Penjelasan terkait kedua aliran tersebut tidak akan dibahas dalam artikel ini. Lanjutkan membaca Filsafat Telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 3)

Buku Terbaru: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited

Buku ini adalah kumpulan lima teori yang saya kembangkan. Ada lima teori, yakni teori transformasi kesadaran, teori tipologi agama, teori politik progresif inklusif, etika natural empiris dan epistemologi pembebasan. Pijakannya adalah penelitian saya di bidang filsafat, politik dan neurosains selama lebih dari dua puluh tahun. Selamat membaca, dan semoga menemukan pencerahan.

Jakarta, Juli 2025

Reza A.A Wattimena Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited

Tak Ada Cobaan

Leonora Carrington

Oleh Reza A.A Wattimena

Katanya, Indonesia sedang diuji. Kemiskinan terus membesar. Ketimpangan sosial ekonomi terus meluas. Di antara derita rakyat yang dicekik kemiskinan dan kebodohan tanpa henti, pemerintah dan oligarki minoritas hidup dalam gelimang kemewahan.

Katanya, ujian ini adalah cobaan dari tuhan. Masalahnya, kok ujian tak ada hentinya? Memang tuhan tak ada kerjaan lain, selain menguji manusia? Tuhan macam apa yang terus membuat manusia terpuruk dalam kemiskinan dan kebodohan? Lanjutkan membaca Tak Ada Cobaan

Hospitalitas Etis dan Moralitas Homoseksualitas

A piece from Igor Morski’s ‘Nature’ series.

Oleh Dhimas Anugrah, Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)

Pendahuluan

Pertanyaan tentang homoseksualitas menyentuh preferensi personal dan aspek biologis, sekaligus membuka ruang bagi perbincangan etis yang lebih kompleks. Ketika seseorang bertanya, “Apakah homoseksualitas berada dalam ranah etika?,” ia mengundang refleksi tentang cara manusia memahami martabat, kebebasan, dan tanggung jawab dalam relasi sosialnya. Dalam kehidupan kontemporer yang sarat dengan tuntutan akan otonomi dan pengakuan, muncul dorongan kuat memposisikan orientasi seksual sebagai bagian dari identitas personal yang tak perlu dinilai secara etis. Namun, pendekatan ini sering kali luput membaca kenyataan bahwa manusia adalah makhluk moral, makhluk yang terus bertanya bukan hanya tentang “apa adanya,” tapi juga tentang “apa yang seharusnya.”

John Corvino, seorang filsuf moral dan pendukung hak-hak kaum homoseksual, secara gamblang menegaskan bahwa moralitas tidak dapat direduksi menjadi urusan privat. Ia menulis,

“Some people claim that morality is a “private matter’ and that, in any case, people’s rights shouldn’t hinge on others’ moral opinions. I think this view is badly mistaken. Morality is about how we treat one another, and thus it is quintessentially a matter for public concern. It’s about the ideals we hold up for ourselves and others. It’s about the kind of society we want to be: what we will embrace, what we will tolerate, and what we will forbid” (What Is Wrong with Homosexuality?, 2013: 6). Lanjutkan membaca Hospitalitas Etis dan Moralitas Homoseksualitas

Refleksi Indonesia Kusut

Mario Nevado

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya amat menikmati berkendara motor jarak jauh. Suatu hari, setelah menelusuri area Tangerang Selatan, saya mengisi bensin di Jalan Arteri Pondok Indah. Sambil menunggu antrian, saya berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang duduk. Di bahunya terkalung tas, dan ditangannya tertumpuk dokumen-dokumen.

Ia tampak lelah dan bingung. Saya bertanya, “Ada yang bisa dibantu mas?” Ia seolah terkejut sekaligus gembira dengan sapaan tersebut. Senyum kecil teruntai di wajahnya. Lanjutkan membaca Refleksi Indonesia Kusut

Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 2)

Oleh Syarif Maulana, Filsuf dan Budak Cinta

Pertanyaannya, kenapa para filsuf ini begitu terpesona dengan sosok influencer dan bukannya mengajukan kritik – sebagaimana lazimnya para filsuf terhadap apapun yang trendi di zamannya? Padahal dilihat secara sepintas pun, banyak hal ganjil dari para influencer. Mereka sering berbicara atas namanya sendiri, seolah-olah gagasannya sendiri, tanpa referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, yang kita terima karena mereka adalah “individu yang kredibel dan terpercaya”.

Hal yang sering menyilaukan kita adalah ucapan-ucapan para influencer yang ditopang aspek ad populum, kuantitas pengikut dan penyuka yang luar biasa, mengangguk pada apapun yang keluar dari liurnya. Inilah nabi baru era algoritma, diimani secara membabi buta oleh jemaahnya yang iya iya aja, ketika junjungannya mengatakan “hapus logika mistika” atau “tutup jurusan filsafat”. Pesonanya begitu dahsyat hingga sebagian filsuf memutuskan untuk mengkritik sambil malu-malu kucing, semi menjilat pantat, seraya berbisik dengan suara gemetar, seolah minta diajak pada jalan keselamatan, “Ajak aku pada engagement-mu.” Lanjutkan membaca Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 2)