
Oleh A. Rahadian
Prolog: Liturgi Baru Seorang Lelaki yang Ingin Benar
Pada pukul sebelas malam, Dion—seorang aktivis yang rajin menulis utas tentang patriarki, keadilan gender, dan trauma kolektif—menyetel laptopnya di kafe yang hampir tutup. Di depannya, cangkir kopi dingin separuh habis; di kepalanya, adrenalin bekerja seperti khotbah yang tak sabar dikhotbahkan. Ia baru saja menemukan sebuah komentar “problematis” dari seorang akademisi tua di media sosial—kalimat ambigu tentang “perempuan dan kebebasan tubuhnya.”
Bagi Dion, ini bukan sekadar komentar. Ini adalah tanda dosa baru yang tak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Ia mulai mengetik utas panjang dengan ritme yang nyaris liturgis: kalimat pertama moral, kalimat kedua politis, kalimat ketiga penuh emosi—lalu tautan, tagar, dan tangkapan layar. Ia tahu, dalam waktu kurang dari satu jam, utasnya akan beredar, dikutip, ditambahi komentar, dan mungkin—jika algoritma berkenan—mengubah opini publik. Lanjutkan membaca Ketika Keinginan Menjadi Benar Berubah Menjadi Bencana


















