Membaca: Menyelamatkan Nyawa, Memajukan Manusia

997a6308eb530eb555d16fb0b66e8b02Oleh Reza A.A Wattimena

Saya terbiasa membaca. Itulah keuntungan punya ayah bekerja di toko buku. Komik adalah bacaan pertama saya. Judul-judul klasik, seperti Doraemon, Kungfu Boy dan Tapak Sakti, akrab dengan masa kecil saya.

Di masa remaja, saya mulai menyentuh novel. Karya sastra mulai menjadi bacaan saya. Ini semua berakhir di buku-buku filsafat yang membuka pikiran. Dan kini, saya tidak hanya membaca, tetapi juga menulis dan menerbitkan karya. Lanjutkan membaca Membaca: Menyelamatkan Nyawa, Memajukan Manusia

Pantulan Bulan di Atas Air

71f11b0cbc2366f2922db6e5bd8d4068Oleh Reza A.A Wattimena

Indahnya malam itu. Hujan baru saja reda. Udara sejuk, dengan hembusan angin segar. Di hadapan saya, sungai jernih dan tenang.

Ia memantulkan bulan dan bintang. Wujudnya begitu nyata. Ia begitu indah. Tak heran, begitu banyak karya sastra dan musik lahir dari keindahan bulan. Lanjutkan membaca Pantulan Bulan di Atas Air

Seks dan Politik

6706231-HSC00001-32

Oleh Reza A.A Wattimena

Sentuhan nikmat seks memang selalu mengundang rindu. Kenikmatan berlipat dengan seni merayu. Ada permainan di dalamnya. Ini berakhir dengan ledakan kenikmatan yang membuat manusia seolah menyentuh Tuhan.

Seks juga menyakitkan. Ada upaya fisik yang berat di dalamnya. Ada upaya mental yang juga melelahkan untuk melihat pasangan sebagai sumber kenikmatan. Tak jarang, seks bermuara pada kekecewaan, ketika kedekatan dan kenikmatan yang dicari tak kunjung datang. Lanjutkan membaca Seks dan Politik

Artikel di Harian Kompas: Tegangan Dua Saudara Kembar, Populisme dan Demokrasi

WhatsApp Image 2024-11-24 at 06.22.16_fb1dfd5bOleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

Inilah kisah tegangan dua saudara kembar di dalam sistem politik dunia. Di satu sisi, kita melihat adanya demokrasi. Sistem politik ini menjadi dominan secara global pada abad ke-20 dan ke-21. Di sisi lain, kita melihat bangkitnya populisme pada awal abad ke-21 yang mengancam dasar-dasar demokrasi.

Demokrasi dan populisme sama-sama berpijak pada rakyat. Kata demos, dalam bahasa Yunani kuno, berarti ’rakyat’. Begitu pula kata populus yang diambil dari bahasa Latin. Dalam perkembangan sejarah, dua saudara kembar ini mengambil dua jalur yang berbeda.

Demokrasi berkembang menjadi sistem perwakilan rakyat dan institusi-institusi modern yang kompleks. Negara-negara dengan demokrasi yang sudah mapan masih terus menggunakan model ini. Namun, model ini mengalami pengeroposan dari dalam karena rakyat merasa kepentingannya tak terwakili di dalam politik. Dari kekecewaan rakyat inilah lahir gerakan populisme besar pada awal abad ke-21 yang menginginkan rakyat membuat keputusan-keputusan politik secara langsung, tanpa perwakilan.

Baca selanjutnya klik: Kompas

Tuhan, Kesadaran dan Peran Agama

BirthofaDivinity_NaissanceDuneDivinite_--SalvadorDaliPainting-SurrealismArt_35ae904f-5a1f-44d8-9ace-41216b91e482_large

Oleh Reza A.A Wattimena

Pada 2023 lalu, saya diajak berdiskusi secara daring oleh satu organisasi di Sumatera. Diskusi bermuara pada pemahaman tentang Tuhan. Satu pembicara menjelaskan Tuhan dengan mengutip begitu banyak kata-kata asing. Semua, tentu saja, semakin bingung.

Moderator langsung mengarahkan pertanyaan pada saya. Menurut Pak Reza, Tuhan itu apa? Spontan, saya menjawab: Tuhan adalah kesadaran. Ia berada di dalam diri manusia, sekaligus di dalam segala sesuatu. Kita tidak perlu teriak-teriak mencarinya, apalagi pergi ke tanah asing yang tak jelas tujuannya, dan hanya buang-buang uang semata. Lanjutkan membaca Tuhan, Kesadaran dan Peran Agama

Desakralisasi Menteri, Racun Feodalisme dan Budaya Menjilat

a46e2e16-f22e-4026-8467-11e4ca6deab3Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar 1995, saya diminta menghafal nama-nama menteri. Saya masih di bangku SMP pada masa itu. Jumlahnya tak banyak, dan relatif mudah diingat. Mereka adalah orang-orang hebat.

Pada masa itu, para menteri adalah orang-orang besar. Mereka adalah ilmuwan hebat. Mereka adalah tentara yang berprestasi. Tidak hanya hebat dan berprestasi, mereka, tentunya, dekat dengan Presiden Suharto pada masa itu. Dengan kata lain, ada hubungan kepercayaan yang erat antara Suharto dan menteri-menterinya. Lanjutkan membaca Desakralisasi Menteri, Racun Feodalisme dan Budaya Menjilat

Salah Sangka Soal Stress

surreal-double-exposure-woman-depicting-stress-mental-health-psychological-states_1137963-2023

Oleh Reza A.A Wattimena

Jantung saya berdetak cepat. Badan terasa memanas. Otot menegang. Dalam kesadaran, saya bertanya, apa yang terjadi?

Saya mengalami stress. Katanya, ini adalah hal yang jelek. Stress membuat hidup menjadi penuh derita. Banyak juga ahli yang menyatakan, bahwa stress berbahaya untuk kesehatan. Lanjutkan membaca Salah Sangka Soal Stress

Memasuki Abad Kegelapan

2c06ec41873fff2ca9b6a627d33a6e68Oleh Reza A.A Wattimena

14 Februari 2024, peristiwa bersejarah terjadi. Bukan hari Valentine, tetapi bencana demokrasi di Indonesia. Seorang teman mengirim pesan, “Lo milih yang gemoy ya… gemoy..gemoy,…hahaha”, begitu katanya sambil bercanda. Si gemoy pun menang, dan bencana demokrasi pun terjadi.

Ada sembilan hal yang ingin saya refleksikan. Pertama, sekarang ini, Oktober 2024, kita menyaksikan pesta orgi kekuasaan di Indonesia. Pesta orgi adalah pesta kenikmatan yang biasanya berbau seksual. Yang terjadi di Indonesia adalah pesta orgi kekuasaan para koruptor yang tanpa rasa malu membodohi seluruh rakyat Indonesia. Lanjutkan membaca Memasuki Abad Kegelapan

Tiga Latihan Kesadaran

Mental-Health-Awareness-Surrealism-Emotional-Graphic-45621461-1Oleh Reza A.A Wattimena

Saya berkunjung ke Dago Atas, Bandung, beberapa waktu ini. Udara dingin. Keadaan relatif tenang, dan orang-orangnya sangatlah ramah. Namun, saya tidak bisa menetap lama. Ada beberapa tangggung jawab yang mesti dijalankan.

Berpisah dengan Dago, ada perasaan menusuk di dada. Ada perasaan sedih, karena harus kembali ke panas dan kacaunya Jakarta. Saya mengamati dengan sadar semua keadaan batin saya. Lanjutkan membaca Tiga Latihan Kesadaran

Waras di Negeri Fufufafa

Web-Indonesias-Gen-Z-Leads-the-Fufufafa-Revolution
Ilustrasi: Zulpakar Yauri M dari Editorial Omong-omong Media

Oleh Reza A.A Wattimena

Bisakah kita tetap waras di negeri Fufufafa? Ini pertanyaan yang amat penting untuk dipikirkan bersama. Kita tahu semua, apa itu fufufafa. Ini adalah akun digital yang bersifat mesum, kurang ajar dan vulgar di dalam memberikan komentar. Kita semua juga tahu, siapa yang memilikinya.

Fufufafa itu ANC

Negeri Fufufafa adalah negeri yang dipimpin oleh pemiliki akun Fufufafa tersebut. Dalam hal ini, fufufafa bukan hanya sekedar akun digital, tetapi juga sejenis cara berpikir. Ada tiga ciri dari fufufafa. Saya menyebutnya sebagai ANC, yakni arogan, ngibul dan cabul. Akun digital tersebut begitu busuk, namun tetap dilindungi, karena bagian dari politik keluarga Mulyono. Lanjutkan membaca Waras di Negeri Fufufafa

Publikasi Ilmiah Terbaru: Neurosains tentang Kesadaran, Memahami Pemikiran Anil Seth

il_570xN.5956813574_72vzOleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT OKTOBER 2024 VOLUME 67

Abstrak

Tulisan ini membahas pemikiran Anil Seth tentang kesadaran. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan neurosains. Walaupun, dalam kenyataannya, penelitian tentang kesadaran merupakan penelitian yang bersifat transkeilmuan. Filsafat, psikologi dan bahkan teologi berperan besar di dalamnya. Dua pandangan penting yang ditawarkan oleh Seth. Yang pertama, kesadaran tidak berada di dalam dunia, melainkan dunia yang berada di dalam kesadaran. Yang kedua, manusia tidak bisa memahami dunia seutuhnya. Ia melihat dunia dengan persepsinya yang selalu berupa halusinasi. Manusia menambahkan sekaligus mengurangi apa yang ia pahami tentang dunia, guna menunjang kebutuhannya untuk mempertahankan diri. Tulisan ini menukik dari penelitian empiris yang dilakukan Seth ke unsur filosofis yang lebih reflektif dan mendalam.

Kata-kata Kunci: Kesadaran, Neurosains, Persepsi, Pengalaman Subyektif, Konsep Diri, Kesadaran Diri

Silahkan diunduh disini: Jurnal Reza, Kesadaran Anil Seth

Pada Akhirnya, Ini Semua Hanya Mimpi

yumqb4dwxhy31Oleh Reza A.A Wattimena

Seru sekali mengamati drama politik nasional. Orang-orang yang merasa berkuasa saling bertarung. Kerap kali, pikiran mereka kacau. Tindakan mereka pun juga merusak, tidak hanya merusak rakyat yang mereka “pimpin”, tetapi terlebih juga merusak diri mereka sendiri.

Drama politik global pun tak kalah menarik. Dua ideologi kematian kini berbenturan. Perang dunia ketiga siap datang. Jika itu terjadi, kita semua hancur oleh perang nuklir dan beragam bentuk senjata pemusnah massal lainnya. Lanjutkan membaca Pada Akhirnya, Ini Semua Hanya Mimpi

Tawuran, Agama Kematian dan Kapitalisme

originalOleh Reza A.A Wattimena

Akhir September 2024, tujuh mayat itu mengambang di kali Bekasi, Jawa Barat. Mulanya, tak ada yang tahu sebabnya. Berita pun berdatangan. Menurut analisis, ketujuh mayat itu adalah kumpulan pemuda yang melarikan diri dari kejaran polisi, ketika sedang merencanakan tawuran dengan kelompok pemuda lainnya.

Tawuran adalah perkelahian antar pelajar. Saya banyak menyaksikan sendiri hal ini, sejak saya SMP. Tak ada sebab yang jelas. Hanya sekumpulan pemuda yang kehilangan arah hidup, dan saling berbaku hantam, karena salah asuh para orang tuanya. Lanjutkan membaca Tawuran, Agama Kematian dan Kapitalisme

Apa itu Metafisika? (Penjelasan atas teks Martin Heidegger)

7948402-ARURIXPN-7Oleh Syarif Maulana, Filsuf, Pengusaha Kuliner

What is Metaphysics? adalah judul teks yang disampaikan Heidegger pada kuliah perdananya di Universitas Freiburg tahun 1929. Heidegger memulainya dengan menyatakan, bahwa terdapat dua karakteristik dalam penyelidikan metafisika. Pertama, setiap pertanyaan tentang metafisika selalu melingkupi seluruh problem metafisika. Kedua, setiap pertanyaan tentang metafisika selalu ditanyakan bersamaan dengan kehadiran si penanya.

Apa maksudnya? Ketika kita menanyakan pertanyaan metafisik seperti “apa itu kesadaran?”, kita tidak sedang bertanya tentang kesadaran si X atau si Y, melainkan keseluruhan dari apa yang disebut sebagai kesadaran. Kemudian disinilah Heidegger menempatkan pentingnya posisi si penanya dalam pertanyaan hal ikhwal metafisika: harus ada yang menanyakan, si penanya yang eksis, yakni Dasein (sebutan Heidegger untuk manusia), yang berkepentingan menanyakan perkara metafisika tersebut.  Lanjutkan membaca Apa itu Metafisika? (Penjelasan atas teks Martin Heidegger)

Tarian Kesadaran serta Ombak di Tepi Samudera

il_570xN.2475663612_ldruOleh Reza A.A Wattimena

Kemarin, hujan deras menyirami Jakarta. Saya sedang di luar, dan menikmati siraman itu. Udara begitu sejuk dan segar. Saya merasa begitu bersyukur.

Hari ini, hal yang berlawanan terjadi. Siang hari, cuaca begitu panas. Untuk beberapa keperluan, saya mesti melintasi beberapa jalan besar di Cilincing, Jakarta Utara. Udara begitu kotor, dan cuaca begitu panas. Lanjutkan membaca Tarian Kesadaran serta Ombak di Tepi Samudera

Sindrom Mulyono untuk Generasi Cemas

Emir-Jokowi-1024x737
Gambar Karya Emirza Adi Syailendra

Oleh Reza A.A Wattimena

Inilah penyakit baru yang ditemukan di Indonesia. Ini adalah sebuah sindrom, yakni kumpulan gejala yang saling terhubung, dan membentuk satu pola. Ia menyerang pikiran, dan mempengaruhi perilaku. Sindrom Mulyono, atau Mulyono Sindrome, dimulai dari proses demokratis di Indonesia untuk memilih pemimpin bangsa, dan berakhir pada pengkhianatan besar terhadap seluruh rakyat Indonesia.

Buahnya adalah generasi cemas. Mereka yang lahir setelah tahun 2000 lah yang paling mengalami ini. Lapangan kerja tidak ada. Kemiskinan, korupsi dan ketidakadilan di berbagai bidang terpapar begitu gamblang di depan mata. Sebenarnya, dalam kepemimpinan pengidap Sindrom Mulyono, kita semua adalah generasi cemas. Lanjutkan membaca Sindrom Mulyono untuk Generasi Cemas

Masalah Konsekuensialisme Menurut Judith Jarvis Thomson

1600_JudithJarvisThomson_ThreeAgesSyarif Maulana, Filsuf, Pengusaha Kuliner

Konsekuensialisme merupakan salah satu gagasan dalam etika normatif yang menilai, bahwa suatu tindakan dapat disebut etis, jika menghasilkan konsekuensi terbaik (Guttman, 2001: ix). Konsekuensialisme kerap dibedakan atau bahkan dipertentangkan dengan etika deontologi yang menyandarkan tindakan pada prinsip, tanggung jawab, atau aturan, tanpa peduli konsekuensinya (Waller, 2005) atau etika keutamaan yang menekankan bahwa tindakan baik hanya bersumber dari karakter seseorang yang di dalamnya telah memenuhi syarat terkait pengetahuan tentang apa yang baik (Statman, 1997). Judith Jarvis Thomson (1929 – 2020), pemikir kontemporer dalam bidang etika memfokuskan proyek filsafatnya untuk mengritik konsekuensialisme yang dipandangnya tidak punya dasar memadai untuk menentukan apa yang dipandang sebagai “konsekuensi terbaik”.

Masalah dalam Aspek Evaluatif

Dalam teksnya yang berjudul Normativity (2008), Thomson memulai gagasannya dengan membedakan terlebih dahulu antara putusan normatif dan putusan non-normatif. Saat kita berpikir bahwa A semestinya bersikap baik pada adiknya, B sebaiknya memindahkan bentengnya (dalam permainan catur), dan C seharusnya dicukur rambutnya, keseluruhannya itu adalah bentuk putusan normatif. Putusan normatif dibedakan dari putusan non-normatif seperti A menendang adiknya, B sedang bermain catur, dan C memiliki rambut coklat. Dalam contoh lain, saat kita memikirkan bahwa D adalah orang baik, E adalah petenis yang baik, dan F adalah pemanggang roti yang baik, hal tersebut disebut sebagai putusan normatif. Sementara itu, lanjut Thomson, saat menilai bahwa D adalah manusia, E adalah petenis, dan F adalah pemanggang roti, putusan tersebut bukanlah termasuk ke dalam normatif (Thomson, 2008: 1). Lanjutkan membaca Masalah Konsekuensialisme Menurut Judith Jarvis Thomson

Tentang Zen dari Metallica

gallerysmall_1936446Oleh Reza A.A Wattimena

Ada sesuatu yang unik dari Band ini. Usianya lebih tua dari usia saya. Namun, kehebatannya tetap terjaga. Mungkin anda pernah mendengarnya. Namanya Metallica.

Musiknya berat dan rapih, sehingga disebut sebagai heavy metal. Liriknya kuat dan puitis. Secara konsisten, mereka berkarya melewati berbagai perubahan jaman, bahkan ketika personilnya sudah berusia lebih dari 70 tahun. Sampai 2024, mereka telah menghasilkan lebih dari 30 album musik, dan memperoleh begitu banyak penghargaan.

Apa rahasia dari kehebatan mereka? Jawabannya sederhana. Mereka menerapkan Zen di dalam hidup dan karya mereka. Dari berbagai penampilan live dan wawancara, saya menarik setidaknya delapan hal penting. Lanjutkan membaca Tentang Zen dari Metallica

Undangan Webinar Filsafat: Manusia Itu Tidak Ada

WhatsApp Image 2024-09-06 at 17.18.04_0ad2a2f7Saudara dan Saudari, jika berminat mengikuti serial webinar PHILOSOPHY OF HUMAN RIGHTS #13 (MANUSIA ITU TIDAK ADA) bersama Dr. Reza A. A. Wattimena (Pendiri Rumah Filsafat) pada Senin, 9 September 2024 pukul 19.00-21.00 WIB, silahkan bergabung melalui ID dan PS Zoom di bawah ini:

Join Zoom Meeting: https://us02web.zoom.us/j/5262357161…

Meeting ID: 526 235 7161

Passcode: jpicofm

Atau bisa lihat di youtube: https://www.youtube.com/live/rhf7tiPXgPk?si=lihYAz_LZYGj2R4o

Agama, Feodalisme dan Sikap Tamak

3832091-HSC00002-7Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa teman bertanya kepada saya. „Elu ga mau lihat Paus Fransiskus langsung? Dia di Jakarta, dan akan mengadakan misa besar.“ Jawaban saya satu; biasa aja. Saya akan melihat via internet online, tetapi tidak ngotot untuk melihat secara langsung.

Paus Fransiskus adalah fenomena menarik. Pemikirannya luar biasa penting dan mendalam. Cara hidupnya juga, sejauh ini, mencerminkan nilai-nilai luhur kehidupan yang ia ajarkan. Namun, ia bukan Tuhan, dan tak perlu disembah berlebihan. Lanjutkan membaca Agama, Feodalisme dan Sikap Tamak