
Oleh A. Rahadian, esais dan peneliti budaya. Karyanya berfokus pada hubungan antara ide, estetika, dan politik intelektual di Indonesia modern. Tulisan-tulisannya pernah muncul di Basis, Tirto, dan Jurnal Kalam. Ia tinggal di Jakarta.
Anak-Anak Tuhan dan Rak Buku yang bertuah
Mereka mencari makna bukan di langit, melainkan di antara rak buku dan etalase kopi. Mereka berbicara tentang struktur sosial yang menindas dengan nada sakral—seolah setiap kalimat Gramsci adalah ucapan Nabi Musa.
Itulah “anak-anak Tuhan” di Jakarta Selatan: generasi yang menemukan tanah suci di toko buku independen, mengganti lektor dengan moderator diskusi, dan menukar Mazmur dengan Madilog. Mereka datang dengan keyakinan baru: bahwa keselamatan bisa dicapai lewat bacaan yang tepat. Lanjutkan membaca Madilog dan Anak-Anak Tuhan di Jakarta Selatan


















