Palsu

Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar 2016-2018, saya aktif menggunakan aplikasi kencan (dating apps). Saya memutuskan untuk memperluas jaringan pertemanan saya. Beberapa ada yang terhubung. Ada juga yang akhirnya berjumpa langsung.

Pertemuan pertama agak unik. Tampilan foto jauh berbeda dengan tampilan wajah asli. Saya merasa tertipu. Kami berjumpa, bicara sebentar, lalu berpisah untuk tak lagi bertemu.

Yang cukup parah, saya berjumpa dengan waria yang menyamar. Fotonya amat cantik. Bagaikan model perempuan profesional, ia bergaya dengan elegan di foto aplikasi kencan yang ada, dan menyembunyikan identitas sebenarnya. Ketika berjumpa, ia adalah waria dengan suara berat.

Cukup sering, saya ditawari jasa seks komersial. Perempuan cantik berpose, mengajak kenalan. Lalu, ia menawarkan diri untuk berhubungan seks dengan tarif tertentu. Ini tentu juga penipuan, karena saya tidak mencari pelacur di dalam aplikasi kencan.

Yang juga cukup sering terjadi, saya berjumpa dengan orang yang berjualan produk tertentu. Biasanya, ada perempuan yang mengajak berjumpa, dan menawarkan produk forex. Tentu saja, saya tidak tertarik. Kepalsuan-kepalsuan semacam ini mewarnai pengalaman saya di aplikasi kencan.

Kepalsuan tidak hanya terjadi di dunia digital. Dunia nyata pun dipenuhi dengan beragam bentuk kepalsuan. Ada pemerkosa yang bersembunyi di balik jubah pemuka agama. Ada pencuri uang rakyat yang mengaku sebagai tokoh agama. Bahkan, ada bandit pencuri yang bekerja sebagai penegak hukum.

Lebih dari itu, kita menyaksikan pemimpin negara yang berperan sebagai direktur. Ia memaksakan program-programnya begitu saja, atas dasar nafsu. Tidak ada pertimbangan rasional, baik dari segi isi kebijakan, maupun unsur penunjangnya. Bersama dengan itu, ratusan juta rakyat tetap terjebak di dalam kemiskinan dan kebodohan.

Tampaknya, semua serba palsu di Indonesia. Keaslian adalah barang langka. Ijazah pejabat negara pun menjadi pertanyaan banyak pihak yang belum terjawab dengan lega. Kepalsuan telah menjadi semangat jaman (Zeitgeist) kita hidup.

Gejala global pun serupa. Kita menyaksikan hadirnya tatanan global penuh kepalsuan. Tidak ada keadilan dan kesetaraan di dalam politik global. Perang di Timur Tengah dan Eropa Timur kiranya menjadi tanda jelas akan kepalsuan cita-cita keadilan serta perdamaian global tersebut.

Delapan hal kiranya bisa menjadi bahan refleksi. Pertama, pribadi, sejatinya, adalah kepalsuan. Di dalam bahasa Latin, pribadi disebut juga sebagai persona. Artinya adalah topeng.

Dalam arti ini, kepalsuan tidak bisa terhindarkan. Kepalsuan sudah merupakan ciri dasar dari kenyataan itu sendiri, terutama yang terkait dengan manusia. Menyadari hal ini adalah sebuah kebebasan itu sendiri. Kita lalu pun bisa menghidupi kepalsuan dengan cara-cara yang autentik.

Dua, lalu, hidup hanya menjadi proses menjalani peran. Ada yang menjalani peran sebagai pemimpin. Ada yang menjalani peran sebagai pihak yang dipimpin. Semua adalah bagian dari kenyataan yang terus melekat dengan perubahan.

Tiga, saya teringat lagu Panggung Sandiwara yang dinyanyikan oleh band God Bless. Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah, begitu lafal Achmad Albar, sang vokalis legendaris. Kepalsuan-kepalsuan, sesungguhnya, adalah bagian dari sandiwara tersebut.

Empat, di dalam pandangan dunia Asia, bahasa dan kata adalah sebentuk penipuan. Kenyataan sendiri, sebagai sebuah kata, menyembunyikan maksud, tanpa pernah sungguh menyingkapkan secara utuh. Kepalsuan pun sungguh sudah terkandung di dalam pikiran dan bahasa manusia itu sendiri. Ini semua tidak berarti, bahwa kemunafikan bisa dibenarkan. Di dalam filsafat Eropa, tradisi semiotika, hermeneutik dan filsafat bahasa membahas langsung hal ini.

Lima, di tingkat ontologis, kepalsuan, kiranya, tak bisa dihindarkan. Namun, pada tingkat etis, dimana hubungan manusia diatur, kepalsuan adalah sebentuk kemunafikan. Orang kehilangan keberanian untuk menjadi autentik. Demi menyelamatkan isi perut, dan demi kesempatan untuk mendapat kenikmatan, orang rela hidup dalam kepalsuan.

Enam, integritas pun menjadi barang langka. Dalam arti ini, integritas adalah jarak tipis antara pikiran, kata dan perbuatan. Kesamaan utuh memang tak mungkin terjadi. Jarak tipis tersebut menghadirkan sepercik autentisitas yang menjauhkan manusia dari kepalsuan.

Tujuh, di tingkat etis, kepalsuan lahir dari kebodohan. Dalam arti ini, kebodohan terjadi, ketika orang tak paham, siapa diri mereka sebenarnya. Mereka terjebak pada topeng pribadi, dan peran-peran yang mereka mainkan di dalam sandiwara kehidupan. Mereka menderita, persis karena kesalahpahaman soal kehidupan.

Delapan, maka, jalan keluar dari kepalsuan adalah memahami diri kita yang sebenarnya di balik topeng persona. Ini bisa dilakukan, jika ada proses transformasi kesadaran yang terjadi. Kita melihat diri kita tidak lagi sebagai bagian terpisahkan dari keseluruhan. Ada kesadaran yang meluas menjangkau menuju ketakterbatasan.

Dengan ini, kita bisa sungguh hidup sebagai manusia autentik. Kita bergerak dari kesadaran murni yang serupa dengan segala yang ada di dalam kenyataan. Keberanian dan kejernihan untuk bersikap kritis terhadap keadaan muncul. Di titik, kebutuhan untuk menjadi palsu pun lenyap secara alami…

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.