
Oleh A. Rahadian, Pengasuh Forum Teologi Jumatan
Sabtu sore di sebuah mal Jakarta, di lantai yang selalu dingin seperti ruang tunggu masa depan. Di depan etalase kaca, satu jam tangan menyala pelan—bukan karena ia bercahaya, tapi karena manusia di sekelilingnya memancarkan sejenis keyakinan. Seorang sales berjas hitam bicara dengan nada doa: “Ini investment, Pak. Bisa turun-naik, tapi prestige-nya nggak turun.”
Di belakangnya, poster besar menampilkan wajah pria dan wanita yang terlalu tenang untuk kota ini: mereka tidak berkeringat, tidak dikejar tenggat, tidak dikejar cicilan. Mereka hanya menatap lurus—seolah waktu bukan yang mengejar mereka, melainkan mereka yang memegang waktu.
Di Jakarta, barang mewah jarang dibeli semata karena fungsi. Jam tangan bukan sekadar jam; ia semacam bukti bahwa kita “lolos” dari sesuatu yang tak pernah jelas: dari kemiskinan, dari masa kecil yang pengap, dari rasa minder di tongkrongan, dari nasib keluarga, dari sistem yang bikin orang merasa selalu terlambat.
Kalau Casio dua ratus ribu bisa tepat dan tahan banting, maka yang sedang dibeli sesungguhnya bukan akurasi, tapi otoritas: hak untuk dianggap “sampai.”
Dan kota ini punya tata bahasa sendiri untuk menamai “sampai.”
Tanda-tanda: dari pergelangan tangan sampai lidah orang lain
Seorang anak magang di kantor akuntan publik di bilangan SCBD (aku sebut saja Raka— tokoh komposit dari beberapa obrolan lapangan) pernah bilang, ia tidak benar-benar ingin iPhone terbaru karena kamera atau prosesor. Ia ingin karena “kalau chat ke klien, keliatan profesional.” Di telinganya, profesionalitas bukan lagi soal kerja, tapi soal barang yang ikut bekerja sebagai identitas.
Harga iPhone 17 di ritel resmi Indonesia (contoh listing Digimap untuk varian 256GB) Rp 17.249.000, dengan opsi cicilan Rp 718.708/bulan selama 24 bulan—angka yang cukup untuk membelah gaji jadi dua, lalu membelah lagi rasa tenang jadi serpihan.
Di titik ini, barang mewah bekerja seperti bahasa tubuh: ia bicara sebelum kita membuka mulut. Ia menolak diam. Ia memaksa orang lain membacakan kita—cepat, dangkal, tapi efektif.
Pierre Bourdieu menulis kalimat yang dingin dan kejam: selera mengklasifikasikan—dan mengklasifikasikan si pengklasifikasi. Maksudnya, pilihan kita (jam, celana, sepatu) bukan cuma “gaya”; ia cara dunia menaruh kita di rak sosial yang tepat.
Jadi ketika seseorang memakai True Religion—atau Balenciaga—yang sedang dipakai bukan sekadar kain dan kulit. Yang dipakai adalah posisi.
Kenapa benda-benda ini terasa seperti jimat?
Dalam antropologi klasik, jimat itu bukan cuma benda “mistis.” Ia benda yang dianggap menampung sesuatu yang tak terlihat: perlindungan, wibawa, akses, keselamatan sosial. Yang berubah di kota modern bukan strukturnya, melainkan bahasanya.
Marcel Mauss, dalam pembacaan tentang “hadiah” (gift) di masyarakat, menunjukkan bahwa pertukaran bukan cuma soal barang, tapi soal ikatan: jiwa bercampur ke dalam benda, dan benda bercampur ke dalam jiwa. Ada daya sosial yang menempel pada sesuatu yang “diberi” dan “diterima.”
Kita bisa menggeser logika itu ke barang mewah modern: ketika seseorang membeli Rolex atau sneakers Balenciaga, ia seperti “menerima” sesuatu yang lebih besar dari barang itu: pengakuan, rasa aman, rasa pantas. Dan karena itu terasa sakral, ia menuntut ritus: unboxing, posting, komentar, tatapan, validasi.
Ritusnya tidak dilakukan di pura atau gereja, tapi di story Instagram. Tetapi jimat itu mahal—dan Jakarta membiayainya dengan cemas
Di Indonesia, struktur ekonomi memberi latar yang bikin jimat modern tampak makin “masuk akal”—sekaligus makin tragis.
- BPS mencatat rata-rata upah buruh Februari 2025: Rp 3,09 juta.
- BPS mencatat rata-rata upah buruh Agustus 2025: Rp 3,33 juta.
- BPS juga merilis Gini Ratio Maret 2025: 0,375 (ukuran ketimpangan; makin tinggi makin timpang).
- OJK mencatat pada November 2025, outstanding pinjaman daring (pindar) Rp 94,85 triliun, dan BNPL oleh perusahaan pembiayaan Rp 11,24 triliun.
Artinya: ada dunia faktual—upah, ketimpangan, kredit—yang menjadi tanah tempat jimat modern tumbuh subur. Saat ketidakpastian menyebar, orang akan mencari benda yang bisa “mengikat” dirinya ke sesuatu yang terasa stabil. Bahkan jika stabil itu cuma ilusi.
Di titik ini, barang mewah bukan lawan dari kecemasan. Ia anak kandung kecemasan.
Korupsi sebagai tindakan putus asa membeli jimat
Korupsi sering dijelaskan sebagai dosa struktural: ada peluang, ada kuasa, ada impunitas. Benar. Tapi kadang, ia juga lahir dari sesuatu yang lebih banal: hasrat untuk memiliki tanda.
Ada jejaknya di dokumen negara yang dingin. DJKN pernah memuat berita lelang barang gratifikasi sitaan KPK—di daftar itu ada jam tangan Rolex dan barang elektronik lain.
KPK juga menulis bagaimana aset rampasan—termasuk jam tangan mahal—dipandang sebagai sesuatu yang nilainya dijaga secara profesional demi pemulihan kerugian negara.
Korupsi di sini tampak telanjang: uang publik berubah menjadi benda yang fungsinya terutama simbolik. Negara dirampok, lalu hasil rampokannya dipakai untuk membeli “kewibawaan.”
Dan kewibawaan itu—di banyak ruang sosial Indonesia—lebih cepat diakui lewat benda ketimbang lewat integritas.
“Kelas menengah” yang menabung demi tanda—lalu merasa bersalah karena lelah. Di Jakarta, kelas menengah itu sering hidup sebagai proyek tanpa akhir: proyek menjadi “layak.” Mereka bukan cuma bekerja; mereka sedang berusaha mengunci posisi agar tidak jatuh.
Mereka menabung untuk iPhone 17 bukan karena bodoh. Mereka tahu sistem menilai cepat; mereka sedang membeli kesempatan untuk tidak diremehkan. Mereka membeli “tiket masuk” ke percakapan yang menentukan pekerjaan, relasi, dan jaringan.
Dan di momen paling sepi—jam dua pagi, setelah scrolling dan membandingkan harga— mereka sadar: yang dikejar bukan barangnya. Yang dikejar adalah ketenangan, tapi ketenangan itu selalu mundur selangkah.
Di titik ini, kalimat Veblen terasa seperti lampu neon yang menyilaukan: “konsumsi mencolok” bekerja sebagai cara menunjukkan kehormatan dan status—bukan kebutuhan.
Jakarta adalah kota yang membuat orang merasa harus terlihat “baik-baik saja”—bahkan saat tidak.
Refleksi: mewujudkan keberanian radikal kelas menengah
Jimat modern bekerja karena ia menawarkan sesuatu yang paling dicari manusia kota: rasa aman yang instan. Tetapi ia menagih harga yang tidak terlihat: kita jadi orang yang selalu mengukur diri lewat mata orang lain.
Yang paling gelap dari ini bukan semata cicilan atau ketimpangan. Yang paling gelap adalah ketika manusia menyerahkan haknya untuk merasa cukup—kepada benda.
Maka tantangan keberanian di zaman ini mungkin bukan “anti kemewahan.” Tantangannya lebih halus dan lebih sulit: membangun martabat yang tidak bergantung pada tanda. Menemukan cara untuk hadir tanpa harus membuktikan. Menolak hidup sebagai etalase.
Keberanian paling radikal ialah ketika seseorang bisa berkata (tanpa perlu mengumumkan):
“Gue nggak akan beli pengakuan. Gue akan belajar berdiri tanpa jimat.”
Dan itu, di Jakarta, kadang terasa lebih radikal daripada demonstrasi di depan gedung DPR.
Catatan kaki
- Badan Pusat Statistik, “Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,76 Rata–rata upah buruh sebesar 3,09 juta rupiah,” rilis 5 Mei 2025.
- Badan Pusat Statistik, “Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,85 Rata–rata upah buruh sebesar 3,33 juta rupiah,” rilis 5 November 2025.
- Badan Pusat Statistik, “Gini Ratio Maret 2025 sebesar 0,375,” rilis 25 Juli
- Otoritas Jasa Keuangan, “Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga dalam Menghadapi Prospek Perekonomian Tahun 2026” (RDKB/siaran pers), memuat data pindar Rp94,85 triliun dan BNPL perusahaan pembiayaan Rp11,24 triliun (posisi November 2025).
- Digimap, listing produk “iPhone 17 256GB Black,” harga 249.000 dan opsi cicilan Rp718.708/bulan (24 bulan).
- Pierre Bourdieu, Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, trans. Richard Nice (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1984). Kutipan “Taste classifies…”
- Thorstein Veblen, The Theory of the Leisure Class: An Economic Study of Institutions(New York: Macmillan, 1899), bagian “conspicuous consumption”
- Marcel Mauss, The Gift: Expanded Edition, selected/annotated/translated by Jane Guyer (Chicago: HAU Books, 2020). Lihat bagian yang menegaskan “souls… things… blended,” serta struktur “obligation to give/receive/return” .
- Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), “Kesuksesan Lelang Barang Gratifikasi Sitaan KPK…,” memuat contoh Rolex dalam daftar lelang gratifikasi.
- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berita 3 Desember 2025 tentang pengelolaan aset rampasan—termasuk “jam tangan mahal”—sebagai bagian pemulihan kerugian
- Badan Pusat Statistik, rilis “Ekonomi Indonesia 2024…”
====
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/