“Zen master pecinta seks. Kamu tentu tidak akan setuju! Ia berdarah panas dan penuh gairah, sepenuhnya terangsang. Namun hasrat bisa melenyapkan semua nafsu. Mengubah besi sederhana menjadi emas murni”
“Bunga teratai tidak ternoda oleh lumpur. Embun pagi ini, pada dirinya sendiri, sebagaimana adanya, mencerminkan tubuh sejati dari kebenaran.”
Itulah contoh puisi karya Ikkyu, seorang Zen Master Jepang yang hidup pada abad 15 lalu. Ia adalah seorang seniman. Ia menyatukan dunia seni Jepang dengan penghayatan Zen. Di dalam sejarah Zen, Ikkyu memang terkenal sebagai seorang revolusioner.
Zen
Zen adalah jalan pembebasan. Kita diajak untuk terbebas dari penderitaan yang diciptakan oleh kesalahan cara berpikir kita tentang kehidupan. Ada banyak ajaran filosofis di dalam Zen, seperti kekosongan, kesadaran dan sebagainya. Lebih dari itu, Zen juga mengandung beragam praktek yang mendorong orang menuju pencerahan.
Di dalam berbagai bentuk retret Zen, kita seringkali diminta patuh pada berbagai macam aturan. Misalnya, kita mesti menjaga keheningan. Kita mesti bekerja dan makan dengan penuh kesadaran. Semua aturan tersebut dibuat, supaya kita terlepas dari kecenderungan hidup dalam ketidaksadaran, yang membuat batin kacau.
Namun, dalam perjalanan waktu, kesalahpahaman pun terjadi. Orang melupakan inti utama Zen, yakni pembebasan. Mereka terjebak pada aturan dan ritual yang justru membelenggu mereka. Zen justru menjadi penindas baru yang menciptakan derita.
Aturan yang ritual yang dituhankan justru akan menyesatkan. Orang mencampurkan antara alat dan tujuan. Ritual dan aturan selalu terbuka pada perubahan, sejauh tujuan utama, yakni pembebasan lewat kesadaran, tercapai. Di banyak tradisi, hal ini terlupakan.
Formalisme
Di ilmu kajian agama, ini disebut juga sebagai formalisme agama. Orang terjebak pada kulit, atau bagian luar, dari agama. Biasanya, ini berupa kelekatan pada ritual, aturan dan tradisi, dimana agama tersebut lahir. Karena terpaku pada kulit luar, inti dari agama terkait pun tidak tersentuh.
Indonesia jelas mengalami masalah ini. Kita menyembah agama, dan melupakan Tuhan. Kita terjebak pada aturan dan ritual, serta melupakan kesadaran. Kita tersesat, menderita, tetapi tidak sungguh tahu, mengapa itu terjadi.
Dari Jepang, Ikkyu menyerang formalisme agama semacam itu. Baginya, setiap mahluk hidup sudah memiliki kesadaran, dan sudah tercerahkan. Tidak perlu ada ritual ataupun aturan yang kaku untuk mencapainya. Setiap gerak, napas dan pikiran adalah ekspresi dari kesadaran yang tercerahkan tersebut.
Pencerahan
Ekspresi pencerahan pun tidak dilakukan di rumah-rumah ibadah. Tempat itu kerap kali kaku dengan aturan dan ritual yang justru membelenggu manusia. Ikkyu mengekspresikan pencerahannya di rumah bordil. Ia menari bahagia dengan para geisha dan pelacur yang bekerja di sana.
Ia tidak sibuk duduk bermeditasi. Ia bergerak menari bersama para perempuan cantik. Dalam pengaruh alkohol, ia bernyanyi gembira. Musik dengan lirik indah pun mengalir lancar dari lidahnya.
Ikkyu tidak sibuk mengucapkan mantra. Tetapi, ia menulis puisi indah. Ia mengawinkan budaya Jepang dengan pencerahan Zen. Ini menjadikan budaya Jepang begitu indah dan unik, sebagaimana kita saksikan sekarang ini.
Ikkyu adalah seorang yang tercerahkan. Ia menyentuh inti dari kehidupan itu sendiri. Inti ini adalah kesadaran murni. Di dalam tradisi Asia, ia disebut juga sebagai Buddha, atau Atman.
Kesadaran Murni
Kesadaran murni ini berada sebelum pikiran. Ia berada sebelum kita mengucap kata dan merangkai kalimat. Ia adalah kesadaran yang mengalami dunia sebagaimana adanya disini dan saat ini. Ia berada sebelum ruang dan waktu diciptakan oleh pikiran konseptual manusia.
Setiap penjelasan, pada dasarnya, adalah sebuah kesalahan. Dilihat dari sudut pandang ini, Zen sendiri adalah sebuah Anti-Zen. Anti-Zen, dengan begitu, adalah Zen yang sesungguhnya. Ia melepaskan diri dari rumusan baku yang terdapat di dalam ajaran, tradisi maupun bahasa.
Dengan segala keterbatasannya, tradisi Tibet berusaha memberikan gambaran. Kesadaran murni itu kosong dari konsep (Dharmakaya). Ia bersifat sepenuhnya sadar (Shambogakaya). Ia juga tak terbatas.
Ekspresinya pun beragam. Tak ada yang benar, dan tak ada yang salah. Ekspresi kesadaran murni bisa berupa cinta kasih yang tak terbatas terhadap semua mahluk. Namun, ia juga bisa mengambil bentuk sikap samurai yang membunuh musuhnya, tanpa pertimbangan moral apapun.
Tindakan bisa beragam. Namun, selama akarnya adalah kesadaran yang tercerahkan, maka ia menjadi jalan pembebasan. Saya mengembangkan ini di dalam Etika Natural Empiris. Ini adalah penerapan Teori Transformasi Kesadaran di dalam bidang etika dan moral. (Cek: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/)
Jadi, di dalam hidupmu, apakah jalan yang kamu tempuh membebaskan, atau justru sebaliknya… mencekik dan membelenggu?
