Pada dekade 1980 dan 1990-an, saya menjalani pendidikan dasar dan menengah di Jakarta Timur. Sekolah saya tepat berada di pinggir Kali Ciliwung. Setiap hujan deras, banjir pasti terjadi. Sekolah saya pun tenggelam, dan kami libur sekolah untuk beberapa hari.
Ketika masuk sekolah kembali, kami harus bersih-bersih. Begitu banyak kotoran tersisa, mulai dari sampah plastik sampai dengan kotoran manusia. Pada dekade 1990-an, sejauh pengalaman saya, masih banyak orang buang air di kali Ciliwung yang membelah Jakarta. Sungai ini langsung beririsan dengan banyak perkantoran modern, sekaligus gedung-gedung milik lembaga resmi negara.
2026, hal serupa masih terjadi. Ciliwung masih menjadi tempat buang air penduduk sekitarnya. Saya mendapat kabar dari beberapa teman yang memang bekerja di daerah itu. Dunia sudah mengembangkan rudal hipersonic, perjalanan ruang angkasa dan mencari energi terbarukan. Indonesia masih “berak di kali”.
Enam hal kiranya patut direnungkan. Pertama, kita memang mengalami ketertinggalan cara berpikir. Pandangan dunia kita masih penuh takhayul. Akal sehat dan sikap kritis kita tumpul, akibat mutu pendidikan rendah, serta hidup beragama yang membusuk.
Dua, cara berpikir yang tertinggal akan menciptakan perilaku yang primitif. Beribadah dengan cara biadab. Berkendara di jalan dengan serampangan. Buang air di kali. Berbagai kebijakan politik pun justru memperbodoh dan mempermiskin rakyat.
Dua hal ini, yakni pola pikir terbelakang dan perilaku merusak, terhubung juga dengan tingat kesadaran yang amat rendah, yakni tingkat kesadaran distingtif dualistik. Orang hanya memikirkan kepentingan dirinya, maupun kelompoknya, semata. Kepentingan yang lebih luas tak pernah sungguh menjadi perhitungan. Tanpa transformasi kesadaran ke tingkat yang lebih luas, berbagai kebijakan hanya akan menjadi percuma.
Tiga, manusia Indonesia pun terbelah. Ia saleh secara pribadi, rajin beribadah dan doyan tampil agamis. Namun, perilakunya korup, suka mencuri, gila hormat, sombong, berak di kali, menindas perempuan dan agresif. Buah kemunafikan tercium kuat di udara Indonesia.
Empat, Indonesia jelas gagal sebagai negara demokrasi. Kita membangun sistem demokratis yang kompleks. Namun, cara berpikir dan perilaku kita masih berbau kerajaan feodal. Pemilu yang begitu kompleks dan mahal pun hanya melahirkan pemimpin yang gemar omon-omon, korup dan penipu.
Lima, pembusukan memang dimulai dari para pemimpin negara ini. Ikan membusuk mulai dari kepalanya. Rezim fufufafa omon-omon menularkan kebusukan struktural dari berbagai lembaga negara yang ada, sampai ke rakyatnya. Di 2026 ini pun, Indonesia tetap menjadi negara yang berak di kali.
Enam, dalam keadaan seperti ini, kita jelas perlu berbenah. Tak perlu program besar yang menyusahkan seluruh bangsa, seperti MBG. Tak perlu juga ikut campur urusan bangsa lain yang amat kompleks. Kita benahi hal-hal kecil yang membuat bangsa ini miskin dan bodoh, … mulai dari berhenti berak di kali.
