Predator ini bernama Jeffrey Epstein. Kasusnya kini merebak di seluruh dunia. Kejahatannya cukup jelas, yakni penipuan finansial (ponzi scheme) dan membangun jaringan pemerkosaan gadis muda di bawah umur. Selama puluhan tahun, kasusnya didiamkan. Setelah ia “dianggap” meninggal, kini dokumennya tersebar luas, dan membuka begitu banyak nama yang terkait dengannya.
Ia adalah orang super kaya. Hartanya sungguh tak terhitung, dan diperoleh dengan menipu banyak orang. Bahkan, ia memiliki satu pulau untuk dirinya sendiri. Asetnya bertebaran di seluruh dunia, belum lagi berbagai harta gelap yang tak terbongkar.
Dari akhir dekade 1980-an sampai tahun 2019, ia memerkosa ratusan gadis muda di Amerika Serikat dan Eropa. Mereka diimingi uang untuk jasa pijat. Namun kemudian, mereka diminta membuka baju, dan berhubungan seks dengan Epstein. Karena begitu kaya, dan memiliki jaringan di elit politik maupun ekonomi AS, Epstein berhasil lolos dari penyelidikan polisi AS maupun FBI.
Tak hanya memerkosa, ia juga melakukan perdagangan manusia. Ia mengirimkan gadis-gadis muda untuk teman-temannya. Ia juga seringkali mengadakan pesta seks dengan gadis-gadis muda di bawah umur, tentu dengan narkoba yang berlimpah. Ada beberapa nama besar yang menjadi sorotan publik, yakni Bill Clinton dan Donald Trump.
Pada 1996, Epstein sudah dilaporkan ke polisi maupun FBI. Tidak ada tanggapan. Ada satu kasus hukum kontroversial yang diangkat di Florida, dimana Epstein mendapat hukuman kurang dari setahun. Selama lebih dari 20 tahun kemudian, ratusan gadis muda di bawah umur terus menjadi korban. Penegak hukum di AS pun mendapat kritik tajam dari masyarakat global.
Deepak Chopra
Chopra adalah orang India yang kini tinggal di Amerika Serikat. Ia mengaku sebagai seorang guru spiritual. Selain itu, ia juga adalah seorang dokter medis. Ia terkenal sebagai guru yang mengajarkan pencerahan dengan menggunakan meditasi dan Yoga.
Ia sudah menulis ratusan buku. Isinya mayoritas kurang lebih sama. Ia banyak mengutip teks-teks kuno Veda dan Buddhisme. Ia menjual spiritualitas dan pencerahan dengan harga ribuan Dollar.
Ia juga sering mengadakan seminar spiritual. Ia mengundang banyak artis dan tokoh penting. Ia menjual ketenangan, kedamaian dan pencerahan. Sayangnya, semua itu palsu.
Saya pernah membaca tulisan Chopra. Ada kesan kedangkalan dan kepalsuan di dalamnya. Bukunya penuh dengan kata-kata tingkat tinggi, tetapi tanpa arti. Saya mengabaikan kesan tersebut, dan berhenti membaca tulisan-tulisannya, serta berhenti mendengar tayangan daringnya.
Lepas dari itu, Chopra tetap populer. Buku-bukunya terus muncul. Seminar-seminarnya tetap ramai peserta. Ia mendirikan kerajaan bisnis spiritual yang amat menguntungkan secara finansial.
Walapun menjual spiritualitas yang mengedepankan cinta dan kesederhanaan, ia tetap menyukai gadis muda dan kemewahan. Ini sebenarnya tak masalah. Yang menjadi masalah adalah, ketika Chopra berlagak menyangkal semua itu, dan tetap bergaul akrab dengan Epstein, sang predator seksual. Kemunafikan yang keluar dari mulut Chopra sungguh membuat saya muak.
Di awal tahun 2000-an, dunia sudah tahu, bahwa Epstein adalah seorang predator seksual gadis-gadis dibawah umur. Chopra pun mengetahuinya. Namun, ia tetap berteman dengan Epstein, dan mendapat banyak tawaran gadis-gadis muda dari pertemanan tersebut. “Tuhan adalah buatan manusia. Gadis-gadis cantik itu nyata,” begitu kata Chopra kepada Epstein.
Secara pribadi, saya tak adalah masalah dengan seks, ataupun dengan gadis-gadis cantik. Saya menyukai seks dan kecantikan. Yang membuat muak adalah kemunafikan Chopra tersebut. Ia bersembunyi dibalik slogan spiritualitas dan pencerahan, sambil menutupi gairah liarnya terhadap gadis-gadis muda cantik dibawah umur yang ditawarkan Epstein.
Ini seperti pemuka agama di Indonesia yang terus memerkosa gadis muda dan bahkan pria-pria muda yang ia bimbing, tanpa pernah tersentuh hukum. Mereka bersembunyi dibalik agama, bagaikan pengecut kerdil.
Kita…
Jika kita kaya dan berkuasa seperti Epstein, apakah kita akan mengumbar nafsu kita, dan berani melawan hukum? Jika kita cerdas dan kaya seperti Chopra, apakah kita akan menipu masyarakat luas, sambil mengumbar nafsu seksual secara liar dan ilegal? Saya teringat ungkapan Bahlil, ketua umum Partai Golkar. “Jika kamu kaya dan berkuasa seperti saya, mungkin kamu akan lebih kejam dari saya.”
Kejahatan lahir dari kesempatan. Ketika kesempatan terbuka lebar, amat mungkin, orang akan berbuat jahat. Kekayaan dan kekuasaan adalah kesempatan itu. Sudah begitu sering terjadi di Indonesia, orang kaya dan berkuasa lolos dari jeratan hukum, bahkan ketika ia sudah melakukan kejahatan keji.
Lebih dalam dari itu, kejahatan lahir dari kebodohan. Orang tak paham akan dirinya yang asli. Orang juga tak paham akan hakekat dari kenyataan dan hidup ini. Kebodohan tersebut berakar pada kesadaran yang sempit, yakni kesadaran distingtif dualistik yang memecah belah dunia ke dalam kelompok-kelompok yang tak nyata. (Lihat: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited)
Akar Kejahatan
Bagi Epstein dan Chopra, para gadis muda ini bukanlah manusia. Mereka adalah obyek untuk memuaskan nafsu kedua orang bejat itu. Mereka adalah benda, dan bukan mahluk hidup yang memiliki rasa, pikir dan martabat. Kesadaran sempit inilah yang menjadi akar dari kebejatan Epstein dan Chopra.
Karena kejahatan itu sudah berulang, maka ia dianggap biasa. Kejahatan menjadi mati rasa. Toleransi masyarakat terhadap kejahatan pun melebar. Arendt, dalam konteks holocaust di Jerman di masa perang dunia kedua, menyebutnya sebagai banalitas kejahatan.
Ketika kejahatan menjadi budaya, ia tidak dikenali sebagai kejahatan. Kejahatan lalu menjadi perilaku biasa yang bahkan wajib untuk diikuti. Kejahatan sebagai budaya ini, menurut Michel Foucault, lahir dari sebuah wacana (Diskurs) tertentu yang muncul dan berkembang di masyarakat. Wacana tersebut terus diciptakan ulang lewat pola interaksi sakit yang berkembang di dalam ruang publik.
Kembali Kita…
Kesadaran sempit, banalitas serta wacana kejahatan kiranya memungkinkan kebejatan Epstein dan Chopra bertahan lama. Sampai Februari 2026 ini, Epstein sudah dianggap meninggal. Chopra diam saja, dan mengabaikan semua pertanyaan yang diajukan padanya. Tumpahan kasus Epstein terus melebar luas, mengancam para predator seksual lainnya.
Kita bisa dilimpahi uang dan kuasa berlimpah, namun tak terjatuh di dalam kebejatan. Kuncinya hanya satu, yakni kesadaran yang meluas. Kita belajar melihat segala yang ada sebagai bagian dari diri kita sendiri. Cinta kasih alami pun muncul, disertai kejernihan di dalam bertindak dari saat ke saat. (Lihat buku: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited)
Kita bisa belajar dari Epstein dan Chopra. Kita bisa memiliki hasrat atas kenikmatan yang berlimpah. Namun, dengan kesadaran yang meluas, hasrat-hasrat tersebut tidak menjajah kita. Masih ada kebebasan dan kejernihan di hadapan segala hasrat yang muncul. Ia hadir, tetapi tidak merongrong, dan bisa diikuti, ataupun diabaikan. Andai Epstein dan Chopra sungguh paham hal ini, maka ceritanya pasti akan berbeda…
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
