Beradab Beragama

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya tinggal di perumahan tua. Sewaktu kecil, orang-orang Jakarta menyebut daerah rumah saya sebagai “tempat jin buang anak”. Karena daerahnya begitu sepi, sehingga daerah ini terlihat menakutkan bagi banyak orang. Saya banyak merantau, dan baru menetap sungguh setelah 2022 lalu.

Beberapa keadaan pun langsung terlihat. Ada lima rumah ibadah di dekat rumah saya. Tiga diantaranya mengeluarkan suara amat keras yang merusak ketenangan hidup bersama, ketika beribadah. Ini dimulai sekitar jam 4 pagi, dan terkadang sampai jam 11 malam, disertai dengan ledakan petasan membabi buta. Orang dipaksa mendengarkan raungan merusak telinga, dan ledakan petasan yang membahayakan.

Warga sudah protes. Kelurahan dan kepolisian sudah dilibatkan. Teguran sudah dilayangkan. Namun, mereka tak peduli. Di Indonesia, penegakan hukum memang korup sampai ke akar, apalagi terhadap preman berbaju agama.

Agama tanpa Adab

Adab adalah kata yang menarik, dan juga amat penting. Saya berdiskusi dengan Google AI tentang konsep ini. Arti adab adalah norma yang berpijak pada budi pekerti luhur untuk menata pergaulan antar manusia, sehingga tercipta harmoni. Kata adab berasal dari bahasa Arab. Arti harafiahnya pun luas, yakni perilaku terpuji dalam bentuk menempatkan sesuatu pada tempat yang sesuai.

Adab adalah soal perilaku yang tepat di tengah hidup bersama. Orang beradab bisa menempatkan diri dalam konteks yang tepat. Dalam hal beragama, adab jelas amat penting. Di Indonesia, orang mesti beragama dengan menempatkan diri pada kemajemukan manusia, dan juga pada kepentingan orang lain yang berbeda-beda.

Kata adab juga muncul di dalam Pancasila, yakni sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Adab melekat pada kemanusiaan. Adab juga melekat pada tata masyarakat yang adil. Keduanya merupakan dasar bagi kebudayaan maupun peradaban manusia.

Sayangnya, di Indonesia, adab seolah terlupakan. Pancasila diingat, tetapi kerap kali hanya sila pertama, yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Padahal, dari berbagai sudut pandang, justru sila pertama itulah yang paling tak memiliki arti penting. Ketika ketuhanan dan agama dipuja membabi buta, maka kemanusiaan, keadilan dan adab pun lenyap.

Akhirnya, kita memiliki agama yang tak beradab. Tak semua agama di Indonesia tak memiliki adab. Hanya agama kematian dari tanah gersang yang terus menunjukkan sikapnya yang tak beradab. Agama ini datang dari tanah kering, lalu merusak budaya bangsa, mempermiskin serta memperbodoh rakyat Indonesia.

Di dalam Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama, saya membahas hal ini. Agama tanpa adab adalah agama dengan tingkat kesadaran paling rendah dan sempit, yakni kesadaran distingtif dualistik. (Lihat buku: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited ) Agama tersebut pun menjelma menjadi agama kematian yang merusak kehidupan.

Beradab Beribadah dan Beragama

Ada lima prinsip penting yang mesti diperhatikan. Pertama, beribadah boleh dilakukan, tetapi jangan menganggu orang lain. Silahkan berteriak, bernyanyi dan melompat, sesuai dengan ritual agama masing-masing. Namun, sekali lagi, jangan menganggu orang lain.

Beribadah harus beradab. Jika tidak, konflik akan terjadi. Sejujurnya, orang Indonesia sudah muak dengan ritual agama kematian yang tanpa adab. Jika didiamkan, Indonesia bisa jatuh ke dalam perang saudara, dan hancur lebur.

Dua, ibadah adalah sebuah jalan komunal. Ia memiliki dimensi sosial yang luas. Ia melekatkan orang yang sebelumnya tampak terpisah. Ibadah menyatukan, dan bukan memisahkan, asal ia dilakukan dengan penuh adab. Tanpa adab, seperti yang banyak terjadi di Indonesia, ibadah hanyalah kegiatan yang mengganggu ketenangan hidup bersama, dan menciptakan kebencian.

Tiga, ibadah adalah alat, supaya manusia bisa melihat ke dalam dirinya. Ibadah adalah semacam pengondisian, supaya keadaan menjadi pas untuk perkembangan batin. Di dalam ibadah yang tepat, orang akan berjumpa dengan tuhannya, yang sekaligus merupakan inti dari dirinya yang sejati. Ibadah, dengan kata lain, adalah jalan sadar menuju Tuhan yang sudah selalu ada di dalam diri manusia.

Empat, ibadah bukanlah kesempatan untuk pamer. Ia bukanlah kesempatan untuk mencari muka, supaya orang mendapatkan reputasi baik di masyarakat. Bahkan, ketika terjerat kasus hukum, agama dan ibadah digunakan untuk menutupi kebusukan si pelaku kejahatan. Inilah kemunafikan yang kiranya kerap terjadi di Indonesia.

Lima, sudah terlalu lama, agama menjadi budak politik di Indonesia. Agama digunakan untuk memperoleh suara bagi politisi busuk. Hal ini sudah terjadi lama, dan terus berulang di Indonesia, persis karena kedunguan kita sebagai bangsa. Ibadah lalu menjadi acara bersama yang mendapat dana dari politisi korup tertentu untuk mendapat dukungan.

Adab lebih dari Agama

Ketika agama kehilangan adab, ia hancur. Ia hanya menjadi ideologi tertutup yang membutakan manusia dari kenyataan. Ia mengundang kebencian dan konflik antara manusia. Ia menjadi kegiatan sosial yang menghabiskan biaya, tanpa kegunaan nyata. Agama pun menjadi nista pada dirinya sendiri.

Bahkan, jika dilihat lebih dalam, adab lebih penting dari agama. Adab adalah soal cara berpikir dan bertindak manusia yang menunjang perdamaian di hidup bersama. Sementara, agama adalah organisasi buatan manusia yang bertujuan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, mirip dengan partai politik. Manusia bisa hidup tanpa agama, tetapi tidak akan bisa hidup, tanpa adab.

Jika ingin selamat dan berkembang, Indonesia harus mengembalikan adab ke agama. Agama harus memiliki solidaritas dan empati pada tata hidup bersama yang majemuk. Agama, dengan beragam ritual ibadahnya, harus menjadi jalan untuk memperat hubungan antar manusia, sekaligus jalan untuk menuju Tuhan yang ada di dalam segala sesuatu. Agama harus berhenti menjadi perusak tata hidup bersama, dan alat pemecah belah bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.