
Oleh Reza A.A Wattimena
Ada masanya, ketika kita, manusia, melihat segala sesuatu sebagai Tuhan. Gunung, hutan, laut, langit, semua adalah Tuhan. Kita menghargai itu semua. Kita memujanya, dan merawatnya dengan cinta.
Ini terjadi selama puluhan ribu tahun. Sampai, ada satu pandangan sesat berkembang. Ia lahir dari sebuah bangsa yang disiksa perbudakan tanpa henti. Mereka hidup di tanah gersang yang miskin dengan kehidupan.
Pandangan sesat itu berbunyi begini. Tuhan terpisah dari alam. Tuhan adalah sesuatu yang abstrak. Alam, dan segalanya, adalah ciptaannya.
Tuhan itu seperti raja. Ia suka dipuji dan disembah. Ia juga suka marah, perhitungan dan mendendam. Alam, dan segala bentuk kehidupan, harus tunduk padanya, seperti budak. Ini adalah pandangan sesat yang dangkal dan merusak.
Tuhan, sang pencipta, lalu menjadi sebentuk halusinasi. Ia hanyalah khayalan beberapa orang yang dipaksakan kepada banyak orang, kerap dengan kekerasan. Ia memperbodoh dan mempermiskin manusia. Tuhan yang halusinatif tersebut membunuh akal sehat, dan menumpulkan kepekaan nurani.
Ketika sang pencipta dipisahkan dari ciptaan, masalah pun muncul. Ciptaan menjadi berkurang nilainya. Ia seolah tak berharga. Ia seolah hanya menjadi alat bantu untuk hidup manusia.
Alam dan hewan pun dirusak demi kepentingan sempit manusia. Hutan dibabat. Gunung diratakan. Laut dicemari, hanya demi supaya manusia bisa memuaskan kerakusannya. Seluruh industri tambang yang merusak lahir dari pandangan sesat ini.
Tak hanya itu, sikap intoleran pun tercipta. Manusia, dengan pandangan berbeda, pun dihancurkan. Perang atas nama Tuhan pun terjadi, kerap dengan segala kedunguannya. Inilah sejarah agama-agama Abrahamik, yakni Yahudi, Kristen dan Islam.
Yang tercipta kemudian kemunafikan total. Akibat pandangan yang tersebar ini, manusia terbelah. Di mulut, ia bercerita soal cinta dan perdamaian. Di dalam sikap, ia membenci, merusak dan membunuh.
Inilah yang kiranya terjadi di Indonesia sekarang. Jutaan tempat ibadah didirikan untuk memuja Tuhan. Tetapi, manusia tetap hidup dalam kebencian, keserakahan dan kemunafikan. Alam dihancurkan demi uang dan kekuasaan. Bahkan, agama kerap dijadikan kendaraan politik untuk berkuasa, dan kemudian menindas.
Akar dari semua ini adalah kesadaran yang terpisah. Di dalam Teori Transformasi Kesadaran, saya menyebutnya sebagai kesadaran distingtif dualistik. (Lihat buku: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited ) Ini menciptakan rasa keterpisahan dan permusuhan yang ilusif. Penderitaan dan kebencian adalah buah dari keterpisahan serta rasa permusuhan tersebut.
Di dalam Teori Tipologi Agama, saya menyebut ini sebagai agama kematian (lihat buku yang sama sebelumnya) Inilah agama yang berkembang dari kesadaran distingtif dualistik. Ia lahir dari keterpisahan yang melahirkan rasa perbedaan dan permusuhan antar kehidupan. Inilah agama yang mempermiskin, memperbodoh dan menghancurkan kehidupan manusia.
Kita mesti melepaskan pandangan sesat ini. Kita mesti mengembalikan kesatuan antara Tuhan dan Alam, yakni antara sang pencipta dan ciptaan. Ini sebenarnya tata alamiah dari alam semesta. Kembali ke sini berarti kita kembali ke tata alamiah dunia sebagaimana adanya.
Kita pun menjadi utuh. Kita menjadi semesta itu sendiri. Kita menjadi diri kita yang asli, sebagaimana adanya. Kita menemukan rumah di dalam kenyataan disini dan saat ini. Tidak ada khayalan sesat yang merusak.
Ini tidak boleh hanya menjadi pengetahuan intelektual belaka. Pengetahuan diperlukan, tetapi tidak mencukupi. Inilah yang kiranya menjadi penyakit filsafat dan ilmu pengetahuan. Begitu banyak fakta dan informasi, tetapi tidak ada pengalaman nyata yang melahirkan kebijaksanaan. Orang tahu, tetapi tetap dungu.
Di titik ini, kita memerlukan latihan kesadaran. (Lihat buku: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited) latihan kesadaran memungkinkan kita melepaskan ilusi keterpisahan. Ia mencabut kita dari pandangan sesat yang merusak kehidupan. Kita lalu sungguh mengalami, bahwa Tuhan, diri kita dan seluruh alam semesta adalah identik. Mereka satu dan sama.
Sang pencipta adalah ciptaan. Rasa kesatuan dan keutuhan muncul mengalir secara alami. Cinta kasih universal seluas kenyataan tumbuh. Kebijaksanaan pun lahir…
====
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/