Dunia selalu ditikam krisis. Ini sebenarnya ciri dasar dari kenyataan, sebagaimana kita hidupi sekarang. Karena segalanya berubah, tidak hanya kebaikan yang bersifat sementara, krisis pun juga serupa. Kita memang sedang hidup di jaman dengan tingkat kesadaran paling rendah. Saya menyebutnya sebagai pandemik kesadaran distingtif dualistik. (Lihat buku: Teori Transformasi Kesadaran Unlimited)
Amerika Serikat terus digoyang skandal, baik dalam maupun luar negeri. Politik dan ekonomi mereka sungguh rapuh di hadapan perubahan tanpa henti. Cina juga sedang mengalami krisis politik mendalam. Perang saudara, akibat perpecahan militer, juga amat mungkin terjadi.
Indonesia juga semakin terpuruk di semua unsur-unsur kehidupannya. Rezim pemerintahan kita busuk dan korup sampai ke akar. Tidak juga ditemukan kedalaman berpikir dan sikap kritis yang sehat. Semua itu dibarengi dengan menyebarnya agama kematian dari tanah gersang yang terus memperbodoh dan mempermiskin bangsa kita.
Sekali lagi, ini semua bukan hal baru. Sejarah politik dunia selalu diwarnai krisis. Perebutan kekuasaan berdarah dan korupsi selalu menjadi warna politik global. Sejak jaman Romawi Kuno bahkan Majapahit, pola serupa selalu berulang.
Di abad 21 ini, jika tak berhati-hati, batin kita juga bisa ikut hanyut dalam krisis. Kita menjadi gelisah dan marah dengan keadaan. Saya merasakannya setiap kali mendengar berita terkait politik global. Bahkan, di 2026 ini, kegelisahan dan kemarahan pada keadaan politik menjadi salah satu penyebab orang kehilangan kewarasannya.
Di titik ini, kita membutuhkan pencerahan. Ada beragam makna dari kata ini. Yang paling mendasar adalah pencerahan sebagai kemampuan manusia untuk memahami jati dirinya yang asli. Makna ini tersebar luas di dalam tradisi pemikiran maupun spiritual Asia.
Pencerahan adalah sebuah kebutuhan utama sekarang ini. Di tengah krisis politik yang membuat gelisah, pencerahan adalah oase pemberi kesegaran jiwa. Pencerahan adalah keadaan batin, sebelum manusia hidup dalam identitas, baik itu identitas agama, bangsa, maupun gender. Sebelum kamu diberikan nama, siapa kamu?
Jati diri asli manusia berada sebelum pikiran maupun emosi yang sementara. Ia berada sebelum bahasa dan konsep. Ia adalah pengalaman akan dunia disini dan saat ini sebagaimana adanya. Sebelum kamu berpikir soal baik dan buruk, siapa kamu?
Ketika mengalami pencerahan, orang akan menemukan kejernihan. Ia bisa melihat keadaan sebagaimana adanya. Ia menjadi dirinya yang asli. Ada keseimbangan batin yang dirasakan, terutama ketika keadaan penuh dengan krisis dan ketidakpastian.
Di dalam kejernihan dan keseimbangan yang ada, kita bisa bertindak sesuai dengan keadaan nyata di depan mata. Saya menyebut ini sebagai etika natural empiris. Kita tidak perlu hidup dengan rumusan moral yang rumit dan menakutkan, seperti yang terkandung di dalam agama kematian. Kita hidup dari dasar diri kita yang asli, dan disertai kepekaan alamiah terhadap semua mahluk.
Bagaimana jika kita merasa tak berdaya di hadapan krisis yang tengah terjadi? Saya sering merasa tak berdaya. Ada perasaan mual sekaligus marah terhadap para pemimpin dunia yang korup dan bodoh. Namun, saya tak bisa banyak berbuat, karena saya hanya rakyat biasa.
Namun, karena saya paham, bahwa pikiran dan emosi bukanlah diri saya, ada keseimbangan batin yang tetap terasa. Saya merasa tak berdaya, sekaligus jernih dan seimbang di dalam batin. Di dalam jangkauan tangan yang ada, saya berusaha untuk selalu menolong semua mahluk. Saya menebar benih kebaikan dan welas asih universal di tengah krisis global yang mencekik jiwa.
Sekali lagi, dunia selalu ditikam krisis. Ini tidak akan pernah berhenti. Pertanyaan dasarnya adalah, apakah kita akan ikut jatuh ke dalam krisis batin yang menyiksa jiwa, atau mengalami pencerahan, dan tergerak untuk menolong semua mahluk? Silahkan direnungkan…
