Mengapa Kalian Tolol?

Oleh Reza A.A Wattimena

Begitu pertanyaan seorang teman. Ia berasal dari salah satu negara di Timur Tengah. Ia bekerja di kedutaan besar negara tersebut untuk Indonesia. Percakapan ini terjadi sekitar awal 2023 lalu di sebuah ruang di Jakarta Selatan.

Ada empat orang di dalam ruangan. Semuanya adalah teman dekat. Kita berani berbicara jujur apa adanya. Tidak ada satu pun yang ditutupi.

Ia mengeluh, mengapa orang Indonesia terus berdatangan ke negaranya di Timur Tengah sana, tanpa diundang. Negaranya tidak butuh kunjungan orang Indonesia. Kehadirannya justru amat mengganggu. Walaupun sudah ditolak, bahkan ditipu dan mengalami diskriminasi, orang Indonesia terus datang berkunjung.

Maka, ia bertanya, mengapa kalian tolol? Why are you so stupid? Orang Indonesia terus datang ke negaranya. Uang jutaan bahkan milyaran rupiah dihamburkan. Padahal, negara Indonesia dipenuh oleh kemiskinan akut.

Karena teman dekat, kami tidak marah dengan pertanyaan tersebut. Justru, pertanyaan tersebut memaksa kami untuk bersikap reflektif. Mengapa bangsa ini, walaupun dicekik oleh kemiskinan dan kebodohan, tetap menghamburkan uang ke negara lain yang sudah jelas menolaknya mentah-mentah?

Lima hal kiranya penting untuk disimak. Pertama, warisan sejarah, dalam bentuk penjajahan berbagai negara, telah merusak mental bangsa ini. Ratusan tahun hidup dalam kebodohan membuat daya nalar sehat kita lemah. Daya kritis pun tumpul, terutama di hadapan agama. Karena ingatan pendek, kita tak pernah sungguh belajar dari sejarah, sehingga tetap tolol ditengah kemiskinan yang mencekik.

Dua, warisan sejarah tersebut dipadukan dengan mutu pemimpin kita yang amat sangat rendah. Ada lingkaran setan ketololan disini. Rakyat tolol memilih pemimpin tolol. Dan pemimpin tolol membuat bangsanya semakin tolol.

Tiga, di dalam ketololan tersebut, kita pun diterkam agama kematian dari tanah gersang. Di Indonesia, agama memiliki tempat suci. Ia hampir tak dapat salah. Ketika agama kematian merangsek masuk, perempuan ditindas habis, nalar sehat dan sikap kritis pun dianggap sebuah dosa besar yang mesti dihindari.

Empat, di dalam masyarakat yang tolol, oligarki korup berkuasa total. Mereka membangun dinasti, dimana saudara dan keturunannya juga turut memiliki kekuasaan. Kita melihat dengan jelas semuanya terjadi sekarang ini. Ini kiranya menambah deret ketololan yang telah terjadi.

Lima, buah dari ketololan ini adalah kesenjangan multdimensional. Tidak hanya ekonomi dan politik yang mengalami kesenjangan tajam. Pendidikan dan cara berpikir pun terpisah oleh jurang yang dalam. Di 2026 ini, sesungguhnya, adalah sebuah keajaiban, bahwa Indonesia belum pecah.

Negara yang tolol akan dianggap lemah oleh masyarakat global. Ia akan menjadi bahan permainan belaka. Ia tidak dianggap. Contohnya amat jelas, kita memilih bergabung dengan dewan perdamaian yang diciptakan oleh pencipta perang. Tolol!

Ini kiranya seperti kutukan menjadi Indonesia. Kita terus dibayangi ketololan di berbagai unsur kehidupan. Kita terus mendapatkan pemimpin yang memperbodoh dan mempermiskin rakyatnya sendiri. Saya tak melihat harapan indah untuk Indonesia di masa kegelapan ini.

 

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.