Saya adalah manusia paling rakus di dunia. Ini yang sungguh saya rasakan. Tidak ada rasa malu untuk mengakuinya. Rasa kerakusan saya amat sangat tak terbatas.
Tentu, saya ingin kaya raya. Saya juga ingin berkuasa. Namun, saya tahu betul, itu semua tidak akan membuat saya puas. Dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat, betapa menderitanya orang-orang yang kaya dan berkuasa.
Mereka hidup dalam kecemasan. Mereka takut kehilangan kekayaan dan kekuasaan yang ada. Tidur mereka tak tenang, karena selalu mengejar kekuasan dan kekayaan. Hidup mereka, sesungguhnya, bagaikan berada di dalam penjara.
Setengah Hati
Mereka rakus. Tetapi, kerakusan mereka setengah hati. Kerakusan mereka berbalut dengan kedunguan. Mereka, dari sudut pandang saya, kurang rakus.
Sebaliknya, saya adalah manusia yang sepenuhya rakus. Saya adalah seorang rakus yang radikal dan total. Saya menolak rakus yang setengah hati. Saya ingin memiliki semuanya… sungguh segala yang ada.
Saya tak ingin kaya, tetapi hidup dalam kecemasan. Saya tak ingin berkuasa, tetapi takut kehilangan kekuasaan. Saya ingin semuanya, dan sungguh merdeka di batin maupun raga. Saya ingin menjadi rakus dengan totalitas maksimal.
Realisasi
Di titik ini, rakus menjadi keutamaan. Ia membawa kebaikan. Ia tidak puas dengan kekayaan dan kekuasaan yang bersifat sementara. Ketika kerakusan membawa orang ingin memiliki segala yang ada, keutamaan tertinggi pun meresap ke dalamnya.
Orang tidak bisa memiliki segalanya. Setiap orang adalah segalanya. Di dalam biji buah jeruk terdapat seluruh alam semesta. Diri kita yang sejati itu seluas semesta yang tak terbatas itu sendiri.
Kita hanya perlu menyadarinya saja. Di dalam Zen, ini disebut realisasi. Orang menyadari apa yang sudah selalu ada di dalam dirinya sendiri. Tidak ada pencapaian. Hanya menyadari apa yang sudah selalu ada di depan mata.
Jalan
Kita hanya perlu melihat ke dalam diri. Kita menyadari detak jantung. Kita menyadari aliran napas yang tanpa henti. Kita menyadari kesadaran itu sendiri.
Ini adalah keadaan batin sebelum pikiran. Sebelum bahasa dan segala rumusan, siapa saya? Langit biru. Awan putih. Pohon hijau. Semua sebagaimana adanya.
Batin semacam ini adalah diri kita yang sebenarnya. Ia selalu bersama diri kita. Pikiran dan perasaan datang silih berganti. Namun, keadaan batin sebelum pikiran ini menetap. Ia berada di luar ruang dan waktu.
Karena berada sebelum pikiran, ia tak punya nama. Ia berada sebelum nama. Ia tak bisa dikatakan, ataupun ditunjuk. Namun, ia bisa sungguh dirasakan disini dan saat ini.
Ia bersifat kosong dari konsep. Ia adalah pengalaman murni disini dan saat ini. Ia adalah persepsi murni. Walaupun kosong, ia penuh dengan kesadaran. Ia tidak nihil.
Di dalam kesadaran dan kekosongan tersebut, ruang dan waktu lenyap. Kita menyentuh dimensi yang tak terbatas. Kita tidak hanya memiliki segalanya. Kita adalah sudah selalu segalanya.
Kenikmatan pun lalu menyusup. Ini bukanlah kenikmatan yang muncul dari rangsangan panca indera yang cenderung melahirkan kecanduan. Ini adalah kenikmatan yang muncul dari kesadaran di dalam diri. Ia berakar pada kebebasan.
Maka, jadilah manusia yang rakus. Janganlah setengah hati di dalam kerakusan. Jadilah manusia yang rakus secara total dan radikal. Pencerahan pun lalu berada di dalam genggaman…
