Sebelum Punya Anak…

Oleh Reza A.A Wattimena

Siang itu, cuaca panas. Satu perempuan remaja datang ke rumah tetangga. Ia mengendarai motor yang terlalu besar untuk ukuran badannya. Ia mengenakan seragam putih biru, yakni seragam SMP di Indonesia. Melewati saya, ia mengucapkan salam.

Saya bertanya. Mengapa masih SMP, tetapi sudah naik motor? Ia menerangkan, bahwa orang tuanya membiarkannya. Dalam hati, saya mengutuk, orang tua macam apa yang bersikap semacam itu.

Juga seringkali, di Jakarta, saya menemukan motor yang dikendarai lebih dari tiga orang, yakni orang tua dengan anak-anaknya. Biasanya, mereka tak menggunakan helm. Kendaraan pun tanpa plat nomor. Mereka melintasi jalan raya Jakarta, kadang melewati polisi yang mengabaikannya, mungkin karena tak mau repot. Sudah tak terhitung, saya mengamati hal ini di Jakarta.

Tak Siap Menjadi Orang Tua

Begitu banyak orang tak siap menjadi orang tua. Mereka menikah dan punya anak, hanya karena mengikuti keadaan. Mereka takut dengan tekanan sosial, kerap tekanan yang terhubung dengan agama dan budaya. Mereka menikah dan punya anak, tanpa ada setetes kesadaran sedikit pun.

Alhasil, keluarga berantakan. Anak tak mendapat pendidikan bermutu. Tidak ada teladan untuk menjalani kehidupan yang bermutu tinggi. Agama cenderung tidak membantu, terutama yang terjebak di dalam agama kematian.

Ketika ini terjadi, kita pun memiliki generasi muda bermutu rendah. Mereka tak mampu berpikir kritis dan rasional. Mereka tak punya kesadaran moral, dan empati pada keadaan. Tak heran, di Indonesia 2026, mutu manusia secara keseluruhan menurun tajam.

Kita pun mendapatkan lautan manusia yang tak bermutu. Mereka cenderung bergabung pada organisasi kemasyarakatan tertentu. Itu adalah topeng untuk premanisme yang mengancam ketertiban dan keamanan masyarakat secara umum. Anak pun terjebak ke dalam dunia kriminal, dan bahkan menjadi teroris yang berpijak pada ajaran agama kematian. Semua ini berawal dari para pasangan yang tak siap, dan tak layak, menjadi orang tua.

Ketika orang tua bodoh, anak cenderung bodoh. Tentu saja, ada perkecualian. Namun, jumlahnya amat sangat kecil. Di hadapan krisis keteladanan yang sistem pendidikan yang membusuk, kita mendapatkan mutu manusia yang amat rendah. Contoh paling jelas adalah fenomena anak haram konstitusi yang memimpin politik Indonesia, yakni si fufufafa yang tak tahu diri dan menjijikkan.

Negara berantakan. Politik membusuk. Hukum menjadi tak berguna. Seluruh tata hidup bersama pun diambang kehancuran total. Inilah yang terjadi di Indonesia.

Enam Hal Wajib

Sebelum punya anak, sebelum menjadi orang tua, ada enam hal yang wajib dipenuhi. Pertama, orang harus memiliki keutamaan intelektual. Ia harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas, mampu berpikir rasional, dan bersikap kritis terhadap keadaan di sekitarnya. Orang mesti bisa menggunakan akal sehatnya secara tepat.

Dua, orang harus memiliki keutamaan emosional. Ia bisa mengenali serta menyadari beragam emosi yang datang dan pergi. Ia tidak mudah marah ataupun cemas, ketika keadaan tak sesuai kehendaknya. Keutamaan emosional adalah kunci penting, sebelum orang punya anak.

Tiga, sebelum punya anak, orang harus memiliki modal finansial. Ia mesti punya uang untuk menopang diri dan keluarganya secara tepat. Ia mesti memiliki kemampuan tertentu untuk mendapatkan uang di masa depan secara legal, sehingga keluarganya terhindar dari jebakan kemiskinan. Hal sederhana ini tak dipahami oleh banyak orang tua di Indonesia, sehingga walaupun dicekik kemiskinan, mereka tetap memaksakan diri untuk punya banyak anak.

Keempat adalah keutamaan sosial. Orang bisa memiliki keterampilan sosial, sebelum ia menjadi orang tua. Ia mesti mampu membaca keadaan lingkungan sekitar, dan beradaptasi dengannya secara sehat. Dengan keutamaan sosial semacam ini, ia bisa mendidik anaknya menjadi warga negara yang sehat dan siap terlibat di dalam tata hidup bersama.

Kelima, orang harus memiliki keutamaan spiritual. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama. Keutamaan spiritual adalah kemampuan untuk memahami apa yang ilusif, dan apa yang nyata di dalam hidup. Keutamaan spiritual melahirkan ketenangan batin dan kejernihan di dalam memandang hidup.

Keenam, dari kedalaman spiritual, lahirlah moralitas yang bersifat universal dan alami. Moralitas semacam ini menjauh dari agama dan budaya yang mencekik. Secara alamiah, orang melestarikan kehidupan, dan menjauhi penderitaan. Untuk bisa menjadi teladan moral yang tepat untuk anaknya, orang mesti memiliki keutamaan moral universal semacam ini.

Peran Negara

Mungkin, untuk punya anak, orang mesti menjalani pelatihan tertentu. Negara perlu menciptakan sertifikat resmi yang diakui secara nasional, supaya orang bisa menjadi tua yang layak. Para calon orang tua mesti diajarkan berpikir dengan akal sehat. Mereka mesti mengembangkan keutamaan emosional. Lalu, mereka juga diajarkan keterampilan memperoleh dan mengolah uang.

Mereka juga diajarkan cara bersimpati dan berempati pada lingkungan sosial sekitar. Mereka diajarkan keutamaan spiritual dan moral yang bersifat alamiah serta universal. Setelah menjalani pelatihan tersebut, mereka mendapatkan sertifikat. Lalu, baru mereka bisa menjadi orang tua. Ini bisa berhasil, jika program semacam ini tidak menjadi ladang korupsi.

Saya sendiri bukanlah orang tua. Saya tidak punya anak. Alasannya cukup jelas. Saya belum memiliki keenam keutamaan di atas. Saya tidak ingin menjadi orang tua yang melahirkan sampah masyarakat yang nantinya merugikan hidup bersama.

Silahkan mencari pasangan hidup. Kita semua membutuhkannya. Namun, untuk punya anak, kita sungguh harus berpikir ulang. Apakah kita sudah memiliki enam keutamaan untuk menjadi orang tua di atas?

Jika belum, kurungkan niatmu.

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.