Oleh Reza A.A Wattimena
Awal 2026, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menelan ludahnya sendiri. Ia berjanji tidak akan membawa perang baru di dunia. Belum setahun menjabat, ia menyerang Venezuela, dan menculik presiden mereka, Nicholas Maduro. Seluruh dunia terpana oleh kemunafikan yang dipamerkan.
Katanya, ia memerangi kartel narkoba yang berpusat di Venezuela. Tidak ada data yang sahih untuk pandangan itu. Lebih mungkin, ia mengincar minyak kental Venezuela, yang memang memiliki cadangan terbesar di dunia. Ini adalah masalah lama bagi negara yang memiliki kekayaan alam besar, namun terjebak di dalam racun kerakusan dan kemunafikan politik.
Indonesia jelas dicekik oleh kemunafikan serupa. Secara rumusan, Pancasila, sebagai dasar negara, sudah sempurna. Ia memberikan ruang untuk kemanusiaan, keadilan dan spiritualitas. Dalam penerapan di Indonesia, ia sudah membusuk. Ia menjadi retorika penuh kemunafikan yang mengundang rasa jijik.
Kemanusiaan dilindas atas nama uang dan kuasa. Keadilan sosial tidak pernah terwujud di Indonesia. Yang terjadi justru penindasan rakyat atas nama kerakusan sekelompok orang yang haus akan kekayaan alam. Persatuan nasional cenderung dipaksakan dengan ancaman senjata. Spiritualitas dipelintir menjadi agama kematian yang memperbodoh dan mempermiskin bangsa.
Agama kematian berujar soal cinta dan kedamaian. Di lapangan, ia beribadah dengan merusak ketenangan masyarakat, dan menciptakan konflik dimanapun ia berada. Perempuan ditindas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemunafikan menjadi aura yang menempel erat di dalam agama kematian.
Jika diperhatikan secara seksama, tata politik global adalah sebuah kemunafikan raksasa. Diplomasi dan hukum internasional dikumandangkan sebagai dasar hidup bersama. Namun, kekuatan senjata dan ancaman embargo selalu menjadi kebijakan nyata. Kemunafikan adalah jiwa dari politik global.
Tentang Kemunafikan
Kemunafikan bukan hanya sekedar penipuan. Ia adalah jarak yang besar antara ujaran moral dan tindakan nyata. Kata-kata manis diucapkan untuk menarik dukungan masyarakat. Tindakan merusak dilakukan persis berkebalikan dengan kata-kata manis sebelumnya.
Kata kemunafikan berakar pada kata hypokrisis, yang berarti berakting, atau pertunjukkan panggung. Orang yang munafik, pada intinya, adalah seorang aktor moral. Ia melihat moralitas sebagai barang dagangan untuk memikat masyarakat. Namun, ia sama sekali tidak menerapkannya, apalagi menghayatinya.
Di dalam filsafat Yunani kuno, Aristoteles melihat kemunafikan sebagai dua hal. Pertama, ia melihat kemunafikan sebagai keutamaan penuh kepalsuan. Orang tampil baik dan bijak di hadapan umum, namun penuh keculasan serta kerakusan di belakangnya. Dua, kemunafikan berakar pada kelemahan kehendak (akrasia).
Orang-orang munafik tahu apa yang baik dan benar. Mereka mampu mengungkapkannya di hadapan masyarakat luas. Namun, mereka tidak menghidupinya. Kemunafikan adalah pertunjukkan moral kosong, tanpa kekuatan karakter nyata.
Nietzsche, pemikir Jerman, melihat kemunafikan sebagai sesuatu yang bersifat struktural. Ia bukanlah melulu ciri pribadi. Struktur moral masyarakat memaksa orang untuk mengatakan hal-hal luhur yang tak pernah mereka bisa hidupi. Moralitas pun menjadi moralitas budak (Sklavenmoral) yang melestarikan kemunafikan. Di dalam masyarakat semacam itu, hidup dicekik oleh moralitas dangkal yang berlumur kemunafikan.
Pandangan Nietzsche kiranya terhubung dengan pandangan Byung-Chul Han, seorang pemikir Korea Selatan yang mengajar di Jerman. Ia melihat kemunafikan sebagai kebutuhan sistemik (systemic necessity) di dalam masyarakat modern. Moralitas diumbar secara umum, sementara mereka tahu, moralitas yang sama tidak akan pernah bisa diterapkan. Han menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat pertunjukkan (performance society), dimana moralitas langsung melekat dengan kemunafikan.
Masalah Lama
Kemunafikan berakar pada moralitas dangkal. Inilah moralitas yang buta pada kenyataan. Ia memuja nilai tertentu, sambil membenci nilai lainnya. Di dalam keterbelahan inilah, penderitaan yang bermuara pada kekejaman lahir.
Dualisme inilah yang menjadi racun di dalam pikiran manusia, dan membuatnya menjadi kejam. Di dalam Teori Transformasi Kesadaran, saya menyebutnya sebagai kesadaran distingtif dualistik. Di ranah agama, ia berkembang menjadi agama kematian. Di ranah politik, ia menjadi sikap yang eksklusif konservatif, dimana budaya busuk warisan lama dipertahankan, bahkan dilestarikan. Lebih jauh cek: https://rumahfilsafat.com/wp-content/uploads/2025/08/teori-transformasi-kesadaran-unlimited.pdf
Kita mesti belajar melihat keadaan sebagaimana adanya. Untuk itu, seperti di dalam tradisi fenomenologi, kita mesti melepas prasangka dan asumsi yang kiranya sudah terbentuk sebelumnya. Sudah sejak dulu, dan akan terus berlangsung, kemunafikan menjadi jiwa dari politik manusia. Ini terkait dengan banyak faktor, mulai dari kesadaran yang menyempit, sampai dengan era dunia yang sedang menuju kehancuran total, sehingga masa yang baru bisa terwujud.
Untuk itu, kita perlu terus bersikap kritis terhadap buih-buih moral penguasa. Seringkali, itu hanya topeng cantik untuk menutupi wajah busuk di baliknya. Ini bukan berita baru. Kita hanya perlu terus ingat, sambil melatih diri, guna memperluas kesadaran seluas semesta itu sendiri…
