Beberapa teman mengirim pesan lewat media sosial. Pertanyaannya cukup umum. Apa resolusi untuk 2026? Karena cukup banyak yang bertanya, maka saya mencoba merenungkan pertanyaan ini.
Konsep “tahun” itu hanya buatan manusia. Mahluk hidup lain tak mengenalnya. Alam semesta tak peduli padanya. Ia, sesungguhnya, hanya ilusi.
Begitu juga konsep angka. Tidak ada angka di dalam kenyataan. Angka adalah hasil abstraksi pikiran manusia. Dalam perjalanan waktu, manusia mengira, angka adalah nyata, dan kerap terobsesi dengannya.
Walaupun fiktif, tahun dan angka telah disepakati sebagai ada oleh peradaban manusia. Inilah yang disebut kebenaran sebagai kesepakatan sosial. Maka, walaupun bersifat ilusif di hadapan semesta, ia patut untuk dipertimbangkan secara seksama. Saya menawarkan resolusi yang cukup sederhana, yakni menjadi nyata di 2026.
Untuk menjadi nyata, kita perlu memahami apa yang nyata, dan apa yang ilusif. Sesuatu disebut nyata, jika ia tak berubah. Ia berada melampaui ruang dan waktu. Sebaliknya, sesuatu disebut ilusif, jika ia hidup dalam ruang dan waktu, sehingga ia bersifat sementara.
Di dalam bukunya yang berjudul Kritik der reinen Vernunft, atau Kritik atas Akal Budi Murni, Immanuel Kant sudah menyinggung hal ini. Ia menyebut segala hal yang berada di dalam ruang dan waktu sebagai Das Phänomen, atas fenomena. Pengetahuan atas dunia fenomena bergantung pada ruang dan waktu yang menempel di dalam akal budi manusia.
Fenomena terkait dengan segala benda yang ada. Lebih jauh, dengan sungguh mengamati apa yang ada, fenomena terkait juga pikiran maupun emosi manusia. Semuanya berada di dalam ruang dan waktu yang berpijak pada akal budi manusia. Dalam arti ini, semuanya adalah ilusi: seolah ada, tapi tak sungguh ada.
Sementara, sesuatu disebut nyata, jika ia tak berubah. Tak berubah bukan berarti sesuatu itu bersifat abadi. Perubahan mengandaikan adanya ruang dan waktu. Sesuatu disebut tak berubah, jika ia berada di luar ruang dan waktu yang merupakan ciptaan pikiran manusia.
Dunia, pikiran dan emosi manusia bukanlah sesuatu yang nyata. Ia terus berubah, karena terkait dengan ruang dan waktu. Maka, apa lalu yang berada di luar ruang dan waktu? Karena ruang dan waktu terkait dengan akal budi manusia, maka kita bisa bertanya, lalu apa yang ada, sebelum akal budi manusia bekerja?
Tak ada jawaban atas pertanyaan itu. Setiap jawaban adalah sebentuk pikiran baru. Setiap jawaban adalah sebuah kegiatan akal budi tertentu. Jawaban sebenarnya hanya satu, yakni hening.
Di dalam keheningan, ada kemurnian. Kata dan bahasa tertunda. Di dalam keheningan, ada kehidupan. Dan di dalamnya, ada kesadaran.
Kesadaran ini sepenuhnya hidup. Ia kosong dari konsep, bahasa dan teori apapun. Ia juga tak mengenal batas ruang maupun waktu. Di dalamnya, ada kenikmatan dari kehidupan itu sendiri. Ia sepenuhnya jernih, sehingga bisa melihat segalanya sebagaimana adanya.
Hanya inilah yang bisa dianggap nyata. Ia berada di luar dan waktu. Bisa juga dikatakan, ia berada sebelum ruang dan waktu. Hal-hal yang berubah, yang bersifat ilusif, sesungguhnya hanyalah ekspresi dari keheningan yang sadar dan hidup ini.
Semua lahir dari keheningan, dan kembali pada keheningan. Keberadaan segala sesuatu hanyalah bayangan dari keheningan yang sadar ini. Di dalam sejarah peradaban manusia, inilah pengetahuan tertinggi yang bisa dicapai. Pengetahuan ini tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga pembebasan dan kebijaksanaan.
Resolusi saya di 2026 ini cukup sederhana. Saya ingin semakin sering berada di dalam keabadian. Saya ingin semakin akrab dengan keheningan yang hidup, yang merupakan diri saya yang sebenarnya. Di tengah segala keadaan yang berubah, mulai dari politik yang membusuk sampai dengan keadaan ekonomi yang tak menentu, saya selalu punya rumah keheningan yang abadi dan hidup untuk kembali.
Dari rumah ini, lalu saya bisa melihat keadaan sebagaimana adanya, lalu melakukan tindakan yang diperlukan, sesuai dengan keadaan yang nyata…
