Politik Kematian di Masa Kegelapan

Gambar oleh Blekotakra

Oleh Reza A.A Wattimena

“Keadaan sulit mas, sekarang. Proyek tak menentu, bahkan kerap dihutangi tanpa kejelasan. Pemasukan pun cenderung berkurang. Belum berita bencana setiap hari yang membuat saya semakin tak percaya dengan negara.”

Begitu ungkap seorang sahabat. Ia adalah seorang kontraktor yang banyak bekerja dengan BUMN. Ia bekerja di berbagai tempat di Indonesia. Ia adalah satu orang dari 200 juta orang lebih di Indonesia yang hidup dalam ketidakpastian.

“Sekarang gua jual eceran. Dulu gua kerja dari B2B, atau bisnis ke bisnis. Penjualan pun dulu gelondongan. Ga bisa, semua sulit sekarang.” Seorang teman bercerita tentang pekerjaannya di bidang asuransi.

“Penjualan menurun parah. Gua ga dapet THR tahun ini. Sialan.” Begitu tutur  seorang teman. Ia adalah sales ponsel cerdas di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia. Sepanjang tahun, keadaan amat sulit, belum ditambah demonstrasi rusuh dan bencana kerusakan alam yang tak kunjung ditangani dengan baik.

Saya tidak punya waktu dan tenaga untuk berbicara dengan semua warga negara Indonesia. Hal tersebut juga tak diperlukan. Namun, kecenderungan umum kiranya bisa didapatkan. Semua sedang sulit. Ini bukan takdir Tuhan, atau kutukan alam, melainkan murni kesalahan kita yang memilih koruptor menjadi pemimpin negara.

Masa Kegelapan

Sesungguhnya, kita memang hidup di masa kegelapan. Akal budi tumbang. Sikap dangkal dan korup justru menjadi semangat jaman. Ketidakadilan merajalela. Alam rusak, persis karena kebodohan dan kerakusan manusia.

Di dalam masa kegelapan, politik kematian berkuasa. Ia menjadi daya dorong para pemimpin politik. Ia menjadi motif utama para pelaku ekonomi. Kerakusan tanpa batas menuju kematian pun menjadi cara hidup utama.

Pada 2023 lalu, saya merumuskan teori tipologi agama. Lihat link berikut: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/ Saya melihat ada dua tipe agama di dunia, yakni agama kematian dan agama kehidupan. Agama kematian melakukan segala cara, supaya hidup manusia menjadi sempit, busuk, miskin dan bodoh, sambil menuhankan ide kematian yang sesat. Agama kehidupan persis sebaliknya, yakni ia merayakan kehidupan dengan segala keindahan dan kompleksitasnya.

Di dalam masa kegelapan, politik kematian bertaut erat dengan agama kematian. Keduanya bergandengan tangan membunuh manusia dan merusak alam. Keduanya bergandengan tangan untuk memuaskan penguasa korup. Keduanya menjadi cara hidup umum di masa kegelapan, seperti yang dialami Indonesia sekarang ini.

Ciri Politik Kematian

Ada lima ciri yang menempel pada politik kematian. Yang pertama, korupsi mencengkram seluruh unsur hidup bersama. Orang yang menjauhi korupsi justru dibuang dan dikucilkan. Dunia menjadi terbalik, yakni ketika sikap curang dan korup seolah menjadi teladan yang mesti diikuti.

Dua, dampaknya pun amat luas. Di bidang hukum, korupsi sungguh merusak hidup bersama. Penegak hukum justru menjadi biang utama pelanggaran hukum, mulai dari pelindung pengusaha busuk, sampai dengan keberanian melawan konstitusi bangsa. Hukum tidak hanya menjadi budak penguasa, tetapi juga penindas rakyat yang sedang kesulitan.

Tiga, hukum yang membusuk kini bertaut erat dengan ekonomi yang juga rusak. Ekonomi menjadi ajang pemuas kerakusan yang menciptakan ketidakadilan di dalam masyarakat. Kesenjangan sosial ekonomi ekstrem pun menjadi buahnya. Ekonomi bukan lagi menjadi ruang pemenuhan kebutuhan yang didasari oleh persahabatan antar manusia, seperti diungkapkan oleh Aristoteles.

Empat, racun politik kematian juga menulari dunia pendidikan. Sejatinya, tidak ada pendidikan di Indonesia. Yang ada hanyalah proses pembodohan melalui program cuci otak khas agama kematian. Peserta didik diminta menghafal hal-hal yang tak berguna, dan diminta patuh buta pada otoritas yang korup. Alhasil, energi mereka cenderung meledak tak terarah, dan menjadi sumber bagi sikap merusak, seperti tawuran, kekerasan di jalan dan depresi batin. Saya menulis soal ini di dalam buku: https://rumahfilsafat.com/2024/02/26/buku-filsafat-pendidikan-untuk-indonesia-mendidik-manusia/

Lima, pada titik paling berbahaya, politik kematian merusak alam. Pohon, gunung dan bukit dihancurkan, demi memuaskan hasrat untuk mendapatkan uang. Retorika soal pelestarian lingkungan hanya menjadi pemanis palsu yang mengundang rasa muak. Ketika cuaca menjadi ekstrem, seluruh rakyat pun tertimpa bencana yang menyiksa tubuh dan jiwa.

Transformasi Kesadaran

Akar dari politik kematian di masa kegelapan ini adalah cara pandang dunia yang sempit. Di dalam teori transformasi kesadaran, saya menyebutnya sebagai kesadaran yang bersifat distingtif-dualistik. Cek buku ini: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/  Orang melihat mahluk hidup lain sebagai benda yang bisa diperas untuk kepuasannya semata. Jalan keluar dari politik kematian adalah politik progresif inklusif, dimana keterbukaan pada semua mahluk dan sikap kritis terhadap pola-pola lama yang korup menjadi acuan utama.

Cara-cara lama perbaikan tambal sulam sudah terbukti gagal. Generasi muda masuh ke ranah politik justru menjadi pelaku korupsi yang baru, bahkan lebih ganas. Memilih pemimpin baru juga tak memperbaiki keadaan. Wajah memang berubah, tetapi cara berpikir dan perilaku korup menetap.

Filsafat dan ilmu pengetahuan juga terbukti gagal. Di Indonesia, filsafat dijajah agama, sehingga menjadi filsafat banci. Ia kehilangan sikap kritis dan rasional di dalam memandang kehidupan. Ilmu pengetahuan pun tunduk pada penguasa, sehingga ia hanya menjadi tukang semata yang tak punya nilai luhur untuk diperjuangkan.

Jalan keluar satu-satunya adalah tranformasi kesadaran. Indonesia harus memasuki era transformasi. Transformasi kesadaran ini harus bergerak di semua ranah pendidikan, mulai dari pendidikan, hukum, ekonomi, ekologi sampai dengan pendidikan. Di saat ini, inilah kiranya satu-satunya jalan keluar yang ada…

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.