2025 ini, Indonesia semakin kacau. Sebenarnya, ini bukan kejutan. Saya pernah menulis ini di 2024 lalu. Persis setelah rezim gemoy fufufafa terpilih, saya meramalkan, jika kita akan memasuki masa kegelapan.
Ramalan saya benar. Ini sebenarnya bukanlah ramalan yang berakar pada kesaktian. Sedikit pengamatan dengan akal sehat akan membawa kita pada kesimpulan serupa. Sampai Maret 2025 ini, deretan kasus korupsi yang menyakitkan hati, bencana banjir akibat kesalahan kebijakan serta berbagai keputusan bodoh rezim gemoy fufufafa, terus membakar amarah di batin rakyat.
Kini, militer mulai memasuki politik. Mereka bukan lagi tentara profesional. Mereka bukan lagi prajurit tempur yang membela kedaulatan bangsa. Kini, mereka tergoda untuk menjadi pejabat, dan ikut menikmati limpahan kue korupsi kekuasaan busuk yang sudah ada.
Hari demi hari, rakyat terus diprovokasi. Rakyat terus disajikan berita tentang sepak terjang kebodohan pemerintah. Rakyat terus dibuat marah oleh kerakusan dan kedangkalan pemerintah, termasuk mereka yang mengklaim diri sebagai wakil rakyat. Di tengah provokasi kebodohan dan kerakusan oleh pemerintah tersebut, apakah kita perlu melakukan revolusi?
Lima hal ini kiranya perlu dipertimbangkan. Pertama, sebagai pribadi, kita perlu terus melakukan transformasi kesadaran. Beberapa hal tentang ini sudah saya urai di banyak buku maupun tayangan video di Youtube. Transformasi kesadaran berarti mengenali dimensi di dalam diri kita yang berada di luar ruang dan waktu, dan membuat kita terbebas dari penderitaan.
Transformasi kesadaran membuat kita tetap waras. Dunia boleh terus berubah. Politik dan ekonomi semakin membusuk. Namun, di tengah perjuangan mewujudkan kebaikan bersama, kita tetap bisa mempertahankan kewarasan dan keseimbangan batin yang amat kita perlukan.
Dua, kita juga perlu mengembangkan kesadaran kritis. Inilah sisi kecerdasan manusia yang tak gampang percaya dengan apa yang tampak. Sikap kritis bukanlah prasangka buruk, melainkan upaya untuk menunda kesimpulan dari segala informasi yang kita terima. Bentuk kesadaran kritis tertinggi adalah sikap berjarak terhadap pikiran maupun emosi yang muncul di dalam diri.
Tiga, di dalam analisis politik, konsep kesadaran kritis berkembang menjadi kesadaran kelas. Dengan kesadaran ini, sebagaimana dinyatakan oleh Karl Marx, orang menjadi paham, bahwa masyarakat terbelah ke dalam dua kelas, yakni kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Kelas pemilik modal hidup dalam kemewahan, kerap karena korupsi sekaligus mendapatkan perlindungan dari penegak hukum. Kelas pekerja kerap hidup dalam keadaan ekonomi yang sulit, dan banyak mendapatkan ketidakadilan di dalam hidupnya.
Kesadaran kelas melihat masyarakat sebagai konflik antar kelas (Klassenkampf). Kelas pekerja dan kelas pemilik modal selalu berada dalam tegangan. Melalui filsafat dan gerakan massa di tangan kelas pekerja, perubahan pun terjadi. Lewat perjuangan kelas, masyarakat tanpa kelas yang berpijak pada keadilan sosial untuk semua pun tercipta.
Empat, buah dari berkembangnya kesadaran kelas adalah kritik ideologi (Ideologiekritik) yang berkelanjutan. Ideologi, dalam arti ini, adalah kesalahan berpikir tentang kenyataan. Ideologi juga berarti kesadaran palsu (falsches Bewusstein) yang menutupi mata kita dari kebenaran. Dalam konteks politik Indonesia, kritik ideologi berarti upaya untuk terus menerus membongkar kepalsuan dan kesalahan cara berpikir yang menindas manusia.
Lima, kritik ideologi lalu melahirkan kesadaran revolusioner. Inilah kesadaran yang hendak mengubah tata sosial politik ekonomi lewat revolusi. Dalam arti ini, revolusi adalah perubahan yang cepat dan mendasar. Ia menumbangkan penindasan, guna melahirkan masyarakat yang lebih adil dari yang ada sebelumnya.
Demonstrasi adalah wujud nyata kesadaran revolusioner. Wujud lainnya adalah pembangkangan sipil (civil disobedience). Orang secara sadar menolak kebijakan pemerintah yang merusak dan menindas. Di masa gelap ala rezim gemoy fufafafa ini, demonstrasi dan pembangkangan sipil bukan hanya hak asasi, melainkan juga kewajiban mendasar seluruh warga.
Memang, kita hidup di masa Kaliyuga. Di dalam konsep waktu Asia, inilah jaman kegelapan. Orang-orang bodoh dan rakus berjumlah amat besar. Mereka memegang kekuasaan dibidang politik, agama dan ekonomi. Namun, jaman ini pun akan berlalu, persis karena tangan manusia-manusia bodoh nan rakus ini.
Bagaimana dengan kita? Sebagai rakyat, kita terus dibuat sakit hati oleh sepak terjang penguasa bodoh dan dangkal. Kita terus diprovokasi untuk melakukan revolusi yang kerap kali berdarah dan penuh bencana. Sebelum itu, tugas utama kita adalah melakukan transformasi kesadaran, lalu mengembangkan kesadaran kritis, kesadaran kelas dan kesadaran revolusioner. Jika waktunya tiba, revolusi akan membara, tanpa bisa dicegah…