Parapsikologi dan Paranormal
Oleh: Muliady Tanu Djaja
Prof. W.F. Maramis, Sp KJ pada Sabtu, 26 Februari 2011, mulai pukul 10 pagi kembali tampil sebagai nara sumber dalam diskusi terbuka bioetika bulanan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Kali ini diskusi yang berlangsung di ruang kelas D-101, kampus Dinoyo ini mengusung tema “Parapsikologi dan Paranormal”.
Pada bagian awal Prof. Maramis, yang berprofesi sebagai dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) dan berpengalaman sebagai dekan Fakultas Psikologi di Universitas Airlangga dan di UKWMS, menjelaskan perbedaan arti paranormal dan parapsikologi. Kemudian dikemukakan beberapa teori yang disertai dengan contoh-contoh mengenai kenyataan paranormal dan parapsikologi di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini menjadikan para peserta diskusi yang terdiri dari para dosen, karyawan dan mahasiswa menjadi semakin jelas dan bertambah pengetahuannya.
Fenomena paranormal secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yakni gejala parapsikik dan gejala parafisik. Yang tergolong gejala parapsikik adalah “guna-guna”, telepati, dan komunikasi dengan para arwah. Sedangkan yang termasuk fenomena paranormal bergejala parafisik, yakni levitasi, kebal luka, santet, dan kesurupan. Dari hasil penelitian parapsikologi seperti yang dilakukan oleh Dr. J.B. Rhine di Amerika Serikat, diantaranya dengan memakai kartu Zener, diketahui bahwa kesadaran atau masa kini tiap manusia tidak sama. Rata-rata manusia yang tergolong normal kesadaran masa kininya antara 0,8 detik sampai dengan dua detik. Namun demikian ada perkecualian untuk orang-orang tertentu yang tergolong ESP. Bagi mereka kesadaran atas masa kininya bisa berpuluh menit, bahkan mungkin lebih dari itu.
Diskusi terbuka menjadi semakin menarik, sehingga perlu dilakukan tambahan waktu setengah jam, hingga berakhir pukul setengah satu siang, ketika ditampilkan beberapa gambar, antara lain: foto X-ray korban santet, pertunjukan ilmu kebal luka di pelbagai daerah, pertandingan levitasi di Amerika Serikat, dan patung bunda Maria yang mengeluarkan air mata darah manusia bergolongan darah AB yang pernah menghebohkan warga kota Surabaya sekitar dua puluh tahun yang lalu. (Mul)