Pertautan Kemiskinan dan Kebodohan di Indonesia

Dystopian-SurrealismOleh Reza A.A Wattimena

Pak Ketua RT mengirimkan pesan ke saya. “Tolong pasang bendera Merah Putih untuk ikut merayakan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2024 nanti,” begitu katanya. Saya tersenyum. Memang, kita sudah merdeka?

Indonesia dijajah oleh sekelompok elit politik-ekonomi-religius. Mayoritas warganya hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Sedikit pengamatan akan membawa kita pada kesimpulan ini. Kita adalah negara bodoh dan miskin di tengah tanah serta laut yang sangat kaya. Lanjutkan membaca Pertautan Kemiskinan dan Kebodohan di Indonesia

Menatap Badai Nuklir

07ac078cd46c2b256ef266bde59f442e

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya bermimpi semalam. Mimpinya aneh. Sejujurnya, saya jarang sekali bermimpi. Namun, ini perkecualian.

Saya berjalan bersama seorang teman. Kebetulan, ia adalah seorang ahli politik. Sudah lama, kami tak berjumpa. Di dalam mimpi itu, saya berjalan bersama dia, dan menyaksikan badai nuklir raksasa. Lanjutkan membaca Menatap Badai Nuklir

Tercekam Dua Dahaga Purba

Oleh Reza A.A Wattimena

Ah, betapa rumitnya menjadi manusia. Ada tubuh yang mesti dipenuhi kebutuhannya. Betapa sulitnya melakukan itu di era politik ekonomi yang kacau balau ini. Ada juga dua dahaga purba yang bercokol di dalam batin.

Jauh di dalam relung-relung batin manusia, ada dahaga purba yang menuntut untuk dipuaskan. Ia menempel erat pada kodrat manusia. Ia berteriak, jika diabaikan. Ia mencekik, jika dianggap tak ada. Lanjutkan membaca Tercekam Dua Dahaga Purba

Menjadi Manusia Super Kuat, dan Berani

1258405Oleh Reza A.A Wattimena

Entah mengapa, hari itu, semua kacau. Begitu banyak peristiwa tak sesuai rencana. Ketenangan rumah diganggu tetangga yang sedang renovasi tanpa henti. Pemasukan ekonomi juga terhambat, karena ada rencana yang gagal.

Yang terparah, kemungkinan, pada waktu itu, saya juga sakit. Saya belum mengunjungi dokter. Namun, ada ancaman penyakit yang sangat nyata. Entah mengapa, hari itu, semua sungguh kacau. Lanjutkan membaca Menjadi Manusia Super Kuat, dan Berani

Mempertanyakan Cancel Culture

Oleh Syarif Maulana, Filsuf, Pedagang Kuliner

Versi lain tulisan ini sudah dimuat di: https://www.liputan6.com/regional/read/5649010/opini-menggugat-cancel-culture

Perkenalkan nama saya Syarif Maulana. Saya berprofesi sebagai penulis, dan mungkin akan menjadi mantan akademisi. Mengajar di berbagai universitas sejak tahun 2008 dan tengah menempuh studi S3 di sebuah kampus di Jakarta, saya juga aktif di berbagai komunitas selama hampir tujuh belas tahun mulai dari komunitas musik klasik, musik jazz, literasi, film, filsafat, hingga merajut. Artikel-artikel yang saya tulis tadinya bisa mudah ditemukan di berbagai website dengan cara mengetikkan nama saya di mesin pencari. Begitu pun buku-buku yang telah saya hasilkan, yang judulnya mencapai belasan, sebelumnya tersebar luas di toko buku offline maupun lapak jualan online. Dalam tiga tahun terakhir, saya sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai forum, dari mulai level komunitas hingga kementerian. Sampai kemudian saya mengalami peristiwa yang akan saya ceritakan berikut ini.

Sejak sebuah cuitan merebak pada tanggal 9 Mei 2024 di media sosial X yang berisi tuduhan, bahwa saya melakukan kekerasan seksual di tempat saya bekerja sekitar tujuh sampai sebelas tahun lalu, yang kemudian diamplifikasi oleh seorang influencer, sejak itu pula hidup saya tak lagi sama. Karir sebagai penulis, akademisi, dan intelektual, yang saya bangun selama hampir dua puluh tahun, luluh lantak dalam hitungan hari saja. Lanjutkan membaca Mempertanyakan Cancel Culture

Publikasi Ilmiah Terbaru: Apa Kaitan antara Kesadaran dan Kehidupan?

Memahami Kesadaran Bersama Christof Koch

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series on Strategic Management Juli 2024 Volume 66

Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

Tak ada habisnya upaya manusia memahami kesadaran. Ada beragam teori diajukan.[1] Christof Koch mencoba menawarkan beberapa sudut pandang yang berpijak pada penelitiannya. Temuannya pun sederhana, namun mendalam. Kesadaran adalah inti kehidupan itu sendiri.

Kesadaran adalah pengalaman subyektif dari saat ke saat. Setiap manusia memiliki pengalaman, walaupun pengalaman itu tanpa sensasi. Pengalaman subyektif ini beragam, dan amat tergantung dari struktur biologis terkait. Tulisan ini membahas pandangan Christof Koch tentang kesadaran. Bagian awal menjelaskan latar belakang Koch, dilanjutkan dengan penjabaran teorinya tentang kesadaran. Tulisan ini ditutup dengan kesimpulan.

[1] Lihat (Wattimena, Menyingkap Misteri Kesadaran Manusia Lewat Filsafat dan Neurosains 2023), (Wattimena, Kesadaran Seluas Semesta: Pendekatan Non-Dual Tentang Kesadaran di dalam Tradisi Filsafat Advaita Vedanta dalam Dialog dengan Sains Modern 2023), (Wattimena, Memahami Kesadaran Bersama David Chalmers 2023)

Silahkan langsung diunduh: Jurnal Reza, Kesadaran menurut Christof Koch

Republik Yatim Piatu

6659673-HSC00002-7Oleh Reza A.A Wattimena

Belakangan ini, saya berbicara mendalam dengan banyak orang, mulai dari tukang roti, tukang nasi goreng sampai dengan pengacara besar. Mereka semua punya kegelisahan yang sama. Hidup makin sulit. Semua semakin rumit.

Harga kebutuhan pokok terus tak terkendali. Harga BBM terus naik. Politik penuh ketidakpastian. Negara terlilit hutang begitu besar untuk memuaskan ambisi pribadi penguasa busuk, guna memindahkan ibu kota yang amat sangat terburu-buru. Lanjutkan membaca Republik Yatim Piatu

Dahaga akan Katharsis

00-Rolando-Cyril-aquasixio-Surreal-Fantasy-Otherworldly-Art-www-designstack-coOleh Reza A.A Wattimena

Seminggu ini, saya kembali ke dunia lama saya, yakni musik. Saya kembali bermain gitar. Saya kembali melatih kecepatan dan akurasi jari, ketika bermain musik. Di sore hari, setelah semua kegiatan, saya bermain dengan beberapa teman, atau sendiri dengan musik dari komputer.

Ada tiga lagu yang menginspirasi saya. Mungkin, anda juga tertarik mendengarnya. Yang pertama adalah Little Wing dari Jimmy Hendrix. Yang kedua adalah For the Love of God dari Steve Vai. Dan yang ketiga adalah Still Got the Blues dari Gary Moore. Lanjutkan membaca Dahaga akan Katharsis

Agama/Ideologi Kematian di Indonesia

Tempus-fugit-by-Mario-Nevado-Art-P-1Oleh Reza A.A Wattimena

Ah, pantat saya sudah gatal. Saya ingin berkendara motor jarak jauh. Sudah lama sekali, saya tak melakukan ini. Cuaca sudah mendukung, dan saya sedang ada waktu, serta cukup sehat.

Pertengahan Juni 2024, jam 1 pagi, saya terbangun. Badan segar. Tanpa banyak berpikir, saya berkemas, dan berangkat dengan motor menuju Puncak, Bogor. Lanjutkan membaca Agama/Ideologi Kematian di Indonesia

Hidup Bermakna, Mati dengan Lega

originalOleh Reza A.A Wattimena

Apa itu kehidupan? Pernahkah kita bertanya soal ini? Dari kecil, kita harus makan, minum, buang air, tidur dan sekolah. Di masa dewasa, kita harus bekerja.

Kerap kali, tantangan begitu banyak. Ketidakpastian amatlah besar. Kita bisa sakit, gagal dalam pekerjaan, jatuh miskin atau meninggal mendadak. Tentu saja, ada kebahagiaan yang kerap datang bergantian dengan nestapa yang mengikutinya. Lanjutkan membaca Hidup Bermakna, Mati dengan Lega

Tulisan di Harian Kompas: Memeluk Maut

https___asset.kgnewsroom.com_photo_pre_2024_06_16_bcd2df08-ddcc-4563-adae-4c990fd301cb_jpegDiterbitkan di Harian Kompas 16 Juni 2024

Oleh Reza A.A Wattimena

Maut itu misteri terbesar hidup manusia. Ia pasti datang, namun tak ada yang sungguh tahu, kapan ia datang. Ia bisa menyelinap di tengah malam buta dengan penuh kejutan. Atau, ia datang bersama bencana, seperti kecelakaan, penyakit, bencana alam ataupun perang.

Di buku ini, maut didekati dengan filsafat. Judulnya unik, yakni Filsafat Maut: Empat Renungan untuk Hidup Baik. Dua pertanyaan hendak dijawabnya. Apakah kita perlu takut akan maut? Apakah bayang-bayang maut berguna untuk kehidupan?

Lihat Selanjutnya: https://www.kompas.id/baca/opini/2024/06/14/memeluk-maut

Jatuh Bangunnya Bangsa: Sebuah Teori

il_570xN.2494022848_e69pOleh Reza A.A Wattimena

Generasi Indonesia 1920-an adalah generasi emas. Mereka lahir dari rahim kolonialisme Belanda. Dari penjajahan dan penderitaan yang amat kuat, mereka menempa diri. Mereka menimba ilmu, berjuang dan mendorong revolusi Indonesia yang melahirkan Indonesia, seperti sekarang ini.

Eropa 1400-an adalah Eropa yang sedang bangkit. Setelah lebih dari 1000 tahun hidup dalam cengkraman agama, para seniman dan pemikir Eropa kembali ke akar budaya mereka, yakni Filsafat Yunani Kuno. Dari titik itu, mereka berkarya. Melampaui kebodohan, perang dan wabah, Eropa keluar dari abad kegelapan, dan menuju masa pencerahan, dimana sains dan teknologi mengusir takhayul yang menindas serta memperbodoh. Lanjutkan membaca Jatuh Bangunnya Bangsa: Sebuah Teori

Belajar Menjadi Tak Berguna

4_Tips_Mengajak_Balita_ke_Panta.width-800.jpegquality-80Oleh Reza A.A Wattimena

Di dalam Zen, jalan tercepat untuk mencapai pembebasan adalah dengan menjadi tak berguna. Pandangan salah tentang ego lenyap. Secara alami, orang berada disini dan saat ini. Dengan kejernihan dan keseimbangan batin, ia menjalani hidupnya.

Saya teringat Panda, beruang hitam putih yang legendaris itu. Mereka tak pusing soal perdamaian dunia, atau menyelamatkan lingkungan. Sehari-hari, mereka hanya makan, bermain dan tidur dengan segala keunikan serta keanggunan yang mereka punya. Mereka justru berguna, ketika mereka “tak berguna”. Lanjutkan membaca Belajar Menjadi Tak Berguna

Merindukan Kedalaman

dive-into-the-depths-of-surrealism-reality-transcended-in-liquid-nirvana-artvizual-premiumOleh Reza A.A Wattimena

Saya sangat menyukai musik. Sejak kecil, saya dekat dengan musik. Saya besar dengan musik di rumah saya. Ketika remaja, saya juga bermain alat musik, dan bernyanyi.

Namun, belakangan ini, saya cukup kecewa. Saya tidak menemukan banyak musik bermutu. Ada beberapa yang menarik. Namun, sebagian besar, musik dewasa ini cenderung dangkal dan murahan. Lanjutkan membaca Merindukan Kedalaman

Dahaga akan Yang Abadi: Sanatana Dharma

colorful-abstract-surrealism-depicting-eternal-cycle-creation_521733-14479Oleh Reza A.A Wattimena

Saya belajar filsafat bertahun-tahun. Tepatnya sudah 25 tahun. Apa sebenarnya yang saya cari? Seperti semua mahluk, yang saya cari adalah pengetahuan yang bermuara pada kebahagiaan.

Kebahagiaan melibatkan unsur kenikmatan dan kenyamanan. Namun, kenikmatan dan kenyamanan itu sementara, sehingga tidak membuahkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahkan, keduanya bisa membuat kita kecanduan. Ketika kita tidak memperoleh obyek kecanduan kita, penderitaan pun datang. Lanjutkan membaca Dahaga akan Yang Abadi: Sanatana Dharma

Dunia Digital, Kedangkalan Kita dan Korupsi Politik

Chris_Mars_BeautifulBizarre_22_mainOleh Reza A.A Wattimena

Sore itu, saya mengendarai motor. Di depan saya, ada motor berjalan pelan di tengah. Si pengendara hanya menggunakan tangan kanannya untuk menyetir motor. Tangan kirinya sedang memegang ponsel cerdas, sambil tertawa-tawa.

Berulang kali, saya mengalami peristiwa ini. Di hari lainnya, saya menyeberang jalan. Seorang perempuan juga menyeberang jalan. Namun, matanya ke arah ponsel cerdas yang ia pegang. Ia menyeberang jalan sambil bermain ponsel. Lanjutkan membaca Dunia Digital, Kedangkalan Kita dan Korupsi Politik

Sungguh Melihat, Lalu Terbebaskan

2747384-BSLLDTIP-7Oleh Reza A.A Wattimena

Lihat Isi Batin, Isi Pikiran

Sungguh Melihat

Lihat sampai ke akar atau inti dari itu

Temukan kekosongan

Beristirahat di kekosongan

Para master di Asia sering menggunakan syair dan puisi di dalam menyampaikan pandangan mereka. Syair dan puisi dilihat sebagai alat untuk mengekspresikan pengalaman realisasi diri, atau pengalaman pencerahan batin. Kata dan kalimat menjadi lebih singkat, tanpa banyak argumen yang justru semakin menjauhkan orang dari dirinya sendiri. Saya akan mencoba hal yang sama. Lanjutkan membaca Sungguh Melihat, Lalu Terbebaskan

Menolak Lupa: Detraumatisasi Demokrasi

Monsters-and-Myths-ThumbOleh Reza A.A Wattimena

Empat kata ini mengerikan (Menolak Lupa: Detraumatisasi Demokrasi). Saya ingin, supaya kita sebagai bangsa tidak lupa dengan empat kata ini. 2023 dan 2024 adalah tahunnya. Jangan sampai hingar bingar berita kacangan menutup kita dari masalah besar yang sedang menatap bangsa kita.

Datanya lengkap di media massa. Ada yang di dalam negeri, namun media internasional juga terus mengikuti. Intinya sederhana: penguasa busuk melanggar sumpah jabatan, melakukan penipuan terhadap rakyat dan menciptakan politik dinasti, atau politik keluarga, yang korup sampai ke akarnya. Sebagai bangsa, ingatan kita cenderung pendek, sehingga mudah lupa dengan pelanggaran sebesar itu, dan sibuk dengan hingar bingar peristiwa yang tak penting. Lanjutkan membaca Menolak Lupa: Detraumatisasi Demokrasi

Tulisan di Harian Kompas: Menjernihkan Peradaban bersama B Herry-Priyono

https___asset.kgnewsroom.com_photo_pre_2024_04_27_84d30eda-4c56-40ba-8a46-de54c183707a_jpegTulisan ini dimuat di Harian Kompas (Kompas.id) pada 28 April 2024

“Reza, ciri utama dari realitas adalah kompleksitas. Tidak ada hal yang sederhana di dalam kenyataan. Kesederhanaan analisis hanya buah dari kemalasan berpikir.” Begitu kata Romo Herry (B. Herry-Priyono) di pertemuan terakhir kami, sebelum beliau meninggal pada akhir 2020 lalu.

Kata-kata itu melekat ke dalam benak saya. Berbicara kehidupan, tidak ada yang sederhana. Namun, jika dilihat dari sudutnya yang paling mendalam, sesungguhnya, semuanya begitu sederhana. Kita menderita dan saling menyakiti, persis karena kita berpikir dengan cara-cara yang tak tepat.

Klik disini: Harian Kompas

Tujuan Hidup Manusia

cyril-rolando-digital-illustrations-3Oleh Reza A.A Wattimena

Dari kecil, karena lahir di Indonesia, saya langsung dijejali ajaran agama. Saya diajarkan, bahwa tujuan manusia hidup adalah memuliakan Tuhan. Manusia diciptakan dan dirawat oleh Tuhan. Maka, ia harus menyembah dan memujanya.

Saya juga diajarkan, supaya berharap pada berkah dari Tuhan. Saya memujanya, supaya Ia memberikan keberuntungan dalam karir, kesehatan dan kelancaran dalam hidup. Dengan memuja Tuhan, saya berharap dapat diberikan kemudahan. Ini semua omong kosong. Lanjutkan membaca Tujuan Hidup Manusia