Memasuki Abad Kegelapan

2c06ec41873fff2ca9b6a627d33a6e68Oleh Reza A.A Wattimena

14 Februari 2024, peristiwa bersejarah terjadi. Bukan hari Valentine, tetapi bencana demokrasi di Indonesia. Seorang teman mengirim pesan, “Lo milih yang gemoy ya… gemoy..gemoy,…hahaha”, begitu katanya sambil bercanda. Si gemoy pun menang, dan bencana demokrasi pun terjadi.

Ada sembilan hal yang ingin saya refleksikan. Pertama, sekarang ini, Oktober 2024, kita menyaksikan pesta orgi kekuasaan di Indonesia. Pesta orgi adalah pesta kenikmatan yang biasanya berbau seksual. Yang terjadi di Indonesia adalah pesta orgi kekuasaan para koruptor yang tanpa rasa malu membodohi seluruh rakyat Indonesia. Lanjutkan membaca Memasuki Abad Kegelapan

Tiga Latihan Kesadaran

Mental-Health-Awareness-Surrealism-Emotional-Graphic-45621461-1Oleh Reza A.A Wattimena

Saya berkunjung ke Dago Atas, Bandung, beberapa waktu ini. Udara dingin. Keadaan relatif tenang, dan orang-orangnya sangatlah ramah. Namun, saya tidak bisa menetap lama. Ada beberapa tangggung jawab yang mesti dijalankan.

Berpisah dengan Dago, ada perasaan menusuk di dada. Ada perasaan sedih, karena harus kembali ke panas dan kacaunya Jakarta. Saya mengamati dengan sadar semua keadaan batin saya. Lanjutkan membaca Tiga Latihan Kesadaran

Waras di Negeri Fufufafa

Web-Indonesias-Gen-Z-Leads-the-Fufufafa-Revolution
Ilustrasi: Zulpakar Yauri M dari Editorial Omong-omong Media

Oleh Reza A.A Wattimena

Bisakah kita tetap waras di negeri Fufufafa? Ini pertanyaan yang amat penting untuk dipikirkan bersama. Kita tahu semua, apa itu fufufafa. Ini adalah akun digital yang bersifat mesum, kurang ajar dan vulgar di dalam memberikan komentar. Kita semua juga tahu, siapa yang memilikinya.

Fufufafa itu ANC

Negeri Fufufafa adalah negeri yang dipimpin oleh pemiliki akun Fufufafa tersebut. Dalam hal ini, fufufafa bukan hanya sekedar akun digital, tetapi juga sejenis cara berpikir. Ada tiga ciri dari fufufafa. Saya menyebutnya sebagai ANC, yakni arogan, ngibul dan cabul. Akun digital tersebut begitu busuk, namun tetap dilindungi, karena bagian dari politik keluarga Mulyono. Lanjutkan membaca Waras di Negeri Fufufafa

Publikasi Ilmiah Terbaru: Neurosains tentang Kesadaran, Memahami Pemikiran Anil Seth

il_570xN.5956813574_72vzOleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT OKTOBER 2024 VOLUME 67

Abstrak

Tulisan ini membahas pemikiran Anil Seth tentang kesadaran. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan neurosains. Walaupun, dalam kenyataannya, penelitian tentang kesadaran merupakan penelitian yang bersifat transkeilmuan. Filsafat, psikologi dan bahkan teologi berperan besar di dalamnya. Dua pandangan penting yang ditawarkan oleh Seth. Yang pertama, kesadaran tidak berada di dalam dunia, melainkan dunia yang berada di dalam kesadaran. Yang kedua, manusia tidak bisa memahami dunia seutuhnya. Ia melihat dunia dengan persepsinya yang selalu berupa halusinasi. Manusia menambahkan sekaligus mengurangi apa yang ia pahami tentang dunia, guna menunjang kebutuhannya untuk mempertahankan diri. Tulisan ini menukik dari penelitian empiris yang dilakukan Seth ke unsur filosofis yang lebih reflektif dan mendalam.

Kata-kata Kunci: Kesadaran, Neurosains, Persepsi, Pengalaman Subyektif, Konsep Diri, Kesadaran Diri

Silahkan diunduh disini: Jurnal Reza, Kesadaran Anil Seth

Pada Akhirnya, Ini Semua Hanya Mimpi

yumqb4dwxhy31Oleh Reza A.A Wattimena

Seru sekali mengamati drama politik nasional. Orang-orang yang merasa berkuasa saling bertarung. Kerap kali, pikiran mereka kacau. Tindakan mereka pun juga merusak, tidak hanya merusak rakyat yang mereka “pimpin”, tetapi terlebih juga merusak diri mereka sendiri.

Drama politik global pun tak kalah menarik. Dua ideologi kematian kini berbenturan. Perang dunia ketiga siap datang. Jika itu terjadi, kita semua hancur oleh perang nuklir dan beragam bentuk senjata pemusnah massal lainnya. Lanjutkan membaca Pada Akhirnya, Ini Semua Hanya Mimpi

Tawuran, Agama Kematian dan Kapitalisme

originalOleh Reza A.A Wattimena

Akhir September 2024, tujuh mayat itu mengambang di kali Bekasi, Jawa Barat. Mulanya, tak ada yang tahu sebabnya. Berita pun berdatangan. Menurut analisis, ketujuh mayat itu adalah kumpulan pemuda yang melarikan diri dari kejaran polisi, ketika sedang merencanakan tawuran dengan kelompok pemuda lainnya.

Tawuran adalah perkelahian antar pelajar. Saya banyak menyaksikan sendiri hal ini, sejak saya SMP. Tak ada sebab yang jelas. Hanya sekumpulan pemuda yang kehilangan arah hidup, dan saling berbaku hantam, karena salah asuh para orang tuanya. Lanjutkan membaca Tawuran, Agama Kematian dan Kapitalisme