Slavoj Žižek tentang Manusia sebagai Subyek Dialektis, Bagian 2

zizek Reza A.A Wattimena[i]

“Filsafat dimulai pada saat kita tidak lagi menerima

apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”

Slavoj Žižek

Abstract

What or who is human? This is one of the oldest questions in history. Philosopher and scientist from various disciplines try to answer it based on their research and theories. What is unique in Žižek approach is his effort to combine two different schools of thought as an intellectual instrument to answer this question, namely German Idealism and Jacques Lacan’s Psychoanalysis. Inspired by the philosophy of German Idealism, he argued that the essence of human is not inside his or her self, but outside, namely the symbolic order that determine their self. And inspired by Lacan, he argued that the self always embedded in the symbolic order, and constantly disrupted by the Real. In this context, we can say that human is a dialectical subject.

Kata Kunci: subyek, manusia, subyek dialektis, fantasi, the Real, tata simbolik.

Aku bermimpi. Mimpiku indah. Aku terbang di angkasa, bertemu putri cantik, lalu kita berdua terbang mengelilingi langit malam penuh bintang. Tiba-tiba aku merasa ingin jatuh. Aku pun terbangun. Ah, ternyata aku jatuh dari tempat tidur. Aku pun bergegas kembali naik ke kasur, guna melanjutkan mimpi indahku tadi. Tetapi apa daya mimpi itu tidak berlanjut. Aku justru terjebak dalam mimpi lain yang nyaris tak kuingat lagi.

Mungkin anda pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Pandangan umum akan mengatakan, bahwa mimpi itu ilusi (terbang bersama putri cantik), dan terbangun itu nyata (jatuh dari tempat tidur). Melihat fenomena ini Žižek berpendapat lain. Baginya peristiwa jatuh dari tempat tidur adalah the Real yang mengganggu stabilitas tata simbolik manusia, ketika ia terhanyut di dalam mimpinya. The Real itu menyakitkan, traumatis, dan tidak ada orang yang menginginkannya. Namun orang niscaya mengalaminya, tanpa ada tawar menawar. Sementara mimpi indah adalah tata simbolik (symbolic order) yang membuat nyaman dan terlena. Orang tidak ingin lepas darinya. Tetapi kehidupan memaksa orang melepas diri dari keterlenaan tata simbolik tersebut. Orang ingin bermimpi karena mereka tidak tahan dengan realitas. Jika sudah begitu mana sebenarnya yang bisa disebut realitas? Terbang bersama putri atau jatuh dari tempat tidur?

Inilah khas gaya analisis Žižek. Ia menantang dan membalik pandangan umum. Ia pun melakukannya dengan penjelasan rasional, dan bukan sekedar argumen tanpa dasar. Begitu pula ketika ia mencoba mengajukan pandangannya soal manusia. Pada hemat saya argumen Žižek tentang manusia dapat ditempatkan untuk menanggapi perdebatan filosofis tentang manusia, yakni antara konsep subyek Cartesian di satu sisi, dan konsep subyek posmodernisme di sisi lain.

Yang pertama berpendapat bahwa subyek, manusia, adalah mahluk yang rasional, otonom, atomistik, dan bebas dalam berhadapan dengan dunia. Para filsuf modernis dan pencerahan berada di barisan ini. Kelompok kedua melihat bahwa subyek adalah semata bentukan dari kekuatan-kekuatan eksternal di luar kesadaran dirinya, seperti pengaruh ekonomi, struktur, politik, teks, ketidaksadaran, dan sebagainya. Konsep manusia sebagai subyek dialektis yang dirumuskan Žižek tepat ingin mengajukan kontribusi di dalam perdebatan tersebut.[ii]

Untuk menjelaskan argumen Žižek tersebut, saya akan membagi tulisan ini ke dalam tiga bagian. Awalnya saya akan menjelaskan dulu sosok pribadi maupun pemikiran Žižek (1). Pada bagian ini saya banyak terbantu oleh uraian Tony Myers di dalam bukunya tentang Žižek. Lalu saya akan menjelaskan pandangan Žižek tentang manusia, terutama yang termuat di dalam buku utamanya The Sublime Object of Ideology (2). Bagian ini merupakan penelusuran saya terhadap teks-teks asli tulisan Žižek tentang manusia, terutama melihat pengaruh filsafat Hegel dan Lacan pada perkembangan pemikiran Žižek tentang manusia. Pada akhirnya saya akan mengajukan kesimpulan dari seluruh tulisan ini (3).

Untuk membaca lebih jauh, anda bisa menghubungi Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.


[i] Reza Alexander Antonius Wattimena lahir 22 Juli 1983. Kini bekerja menjadi dosen dan Sekretaris Fakultas di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, redaktur Media Budaya On Line untuk Kolom Filsafat www.dapunta.com, anggota Komunitas Diskusi Lintas Ilmu COGITO (dalam kerja sama dengan Universitas Airlangga) di UNIKA Widya Mandala, Surabaya, dan anggota komunitas System Thinking di universitas yang sama. Ia adalah alumnus program Sarjana dan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Telah menulis beberapa buku yakni Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Filsafat dan Sains (2008), Filsafat Kritis Immanuel Kant (2010), Bangsa Pengumbar Hasrat (2010), Menebar Garam di Atas Pelangi (artikel dalam buku, 2010), Ruang Publik (artikel dalam buku, 2010), menjadi editor untuk satu buku tentang Filsafat Manusia (Membongkar Rahasia Manusia: Telaah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat, Kanisius, Yogyakarta, 2010), serta beberapa artikel ilmiah di jurnal ilmiah, maupun artikel filsafat populer di media massa. Kini sedang menyunting naskah Metodologi Penelitian Filsafat dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan menulis buku tentang pemikiran Slavoj Žižek terkait dengan konsep manusia dan ideologi. Bidang peminatan adalah Filsafat Politik, Multikulturalisme, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dapat dihubungi di reza.antonius@gmail.com atau dilihat di

Rumah Filsafat https://rezaantonius.wordpress.com/

[ii] Tere Vadén, “Žižek’s phenomenology of the subject: transcendental or materialist?,” International Journal of Žižek Studies, vol. 2, no. 2, 2010, hal. 2.

Manusia, Tulisan, dan Peradaban

Manusia, Tulisan,

dan Peradaban

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Peradaban manusia dibentuk oleh pemikiran, dan pemikiran dirumuskan serta disebarkan melalui tulisan. Bangsa tumbuh dan hancur, namun ingatan atasnya tetap melekat dan menjadi kajian wacana. Semua dimungkinkan karena adanya tulisan yang memotret dan mengabadikan peristiwa. Tulisan adalah kisah tentang jatuh bangunnya manusia memahami dan memaknai dirinya sendiri.

Tulisan juga merupakan tanda, bahwa manusia merupakan mahluk yang hidup dan memaknai dirinya dalam simbol. Manusia adalah mahluk yang berpijak sekaligus mencipta sejarah, dan sejarahnya menjadi abadi selama itu tertulis, serta diwariskan ke generasi berikutnya. Maka tidak dapat diragukan lagi, budaya tulis menulis sangat penting untuk mengembangkan peradaban manusia secara keseluruhan.

Manusia dan Tulisan

Ernst Cassirer pernah menulis, bahwa manusia adalah animal symbolicum, yakni mahluk simbol. (Cassirer, 1944) Manusia hidup, berkembang, dan memaknai eksistensi dirinya di dalam kepungan simbol. Simbol tersebut bisa beragam, mulai dari bahasa, sampai dengan simbol-simbol matematis yang merupakan abstraksi dari realitas. Tidak hanya itu konsep ‘manusia’ pun sebenarnya suatu simbol yang mengabstraksi entitas bertubuh, berdarah, berdaging, berotot, dan mampu berpikir.

Cassirer lebih jauh berpendapat, bahwa manusia adalah mahluk hidup yang selalu berada dalam lingkup ekosistem tertentu. Ekosistem inilah yang memberikan kehidupan pada manusia. Dalam arti ini secara lebih luas, manusia adalah mahluk yang hidup dalam simbol, dan simbol itulah yang memberikan arti bagi segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Salah satu simbol yang dominan di dalam peradaban manusia adalah tulisan. (Basyir, 2008)

Kebudayaan dan peradaban merupakan hasil dari perkembangan simbol. Manusia tidak lagi pasif di hadapan alam, melainkan menjadi aktif mengartikan dan memberi makna pada dunia secara personal. Ide muncul dari pemikiran, dan menyebar melalui tulisan. Tulisanlah yang membentuk peradaban, dan melepaskan manusia dari insting dasariah yang seringkali bersifat hewani.

Di sisi lain manusia adalah mahluk historis. Identitasnya ditentukan oleh sejarah hidupnya. Ia menjadi apa yang ada sekarang, karena ia telah menempuh proses historis tertentu. Tidak hanya itu manusia pun adalah mahluk yang menyejarah. Ia terjun langsung secara kreatif mencipta ulang realitas seturut dengan pemikiran dan tindakannya.

Oleh karena itu peran dokumentasi yang permanen amatlah penting. Sejarah yang merentang ke masa lalu, masa kini, dan mengembang menjadi harapan ke masa depan perlu untuk digoreskan dengan tinta di atas kertas, supaya orang selalu jelas akan apa yang menjadi identitasnya. Ia pun bisa mewariskan ke generasi berikutnya. Tulisan adalah alat untuk mewariskan apa yang penting di masa lalu dan masa kini kepada generasi berikutnya.

Tulisan dan Peradaban

Tulisan juga melatih orang untuk menganalisis apa yang dilihat dan dialaminya. Di dalam proses menulis, orang diminta untuk sekaligus tenggelam dan mengambil jarak dari peristiwa. Sikap mengambil jarak itu memungkinkan orang untuk menganalisis dan berpikir kritis. Dalam arti ini tulisan bisa mengembangkan kesadaran kritis bagi orang-orang yang terbiasa melakukannya.

Dengan kesadaran kritis orang tidak lagi hanyut di dalam arus peristiwa, namun mampu mengambil jarak dan menentukan sikap. Peradaban adalah hasil dari kemampuan manusia untuk mengambil jarak dan bersikap kritis terhadap alam semesta yang penuh dengan ketidakpastian. Dengan akal budinya manusia memahami dan mematuhi hukum-hukum alam. Namun di dalam kepatuhan itu, manusia justru bisa bersikap bebas di hadapan alam, karena ia tidak lagi ‘dijajah’ oleh alam, melainkan mampu memanipulir hukum-hukum alam itu untuk memenuhi kebutuhannya. (Bacon, 1620)

Itulah sebenarnya hakekat dari teknologi dan peradaban. Manusia mampu menaklukan alam justru dengan terlebih dahulu memahami serta mematuhi hukum-hukumnya. Semua itu bisa berkembang, karena manusia mendokumentasikan hasil pengetahuannya dalam bentuk tulisan, dan kemudian menyebarkannya untuk memperoleh tanggapan. Tulisan adalah medium untuk mengasah dan mempublikasikan pemikiran, terutama yang berguna untuk menegaskan status manusia sebagai subyek yang mampu mencipta ulang realitas.

Dengan demikian tulisan memiliki peran penting di dalam proses penciptaan identitas, penegasan eksistensi, serta pembentuk peradaban manusia secara keseluruhan. Sebuah masyarakat baru dikatakan beradab, jika budaya tulis sudah berkembang dan mengakar di dalam masyarakat tersebut. Indonesia juga perlu menjadikan tulis menulis sebagai budaya untuk menyampaikan pendapat dan menyebarkan pemikiran. Hal ini berlaku bukan hanya untuk kaum terdidik, tetapi untuk semua orang memiliki kepentingan dan pemikiran untuk didengar. Saya jadi teringat diktum lama; “yang terkatakan akan lenyap, yang tertulis akan abadi.”

Dengan berpikir serta menulis, manusia yang rapuh dan fana ini akan mampu mewujudkan mimpi kecilnya yang sampai sekarang masih terlihat mustahil, yakni berpartisipasi di dalam keabadian. ***