Indonesia sebagai “Agama”

One Tree Planted

Oleh Reza A.A Wattimena

Gejala perpecahan tampak di berbagai tempat di Indonesia sekarang ini. Karena perbedaan pilihan politik, keluarga dan pertemanan terpecah. Suasana hidup bersama menjadi muram dan penuh ketakutan. Ada kekhawatiran mendasar, ketika konflik terjadi, kelompok minoritas (suku, ras dan agama) akan kembali menjadi kambing hitam, seperti pada 1998 lalu.

            Radikalisme agama tercium begitu tajam di udara. Ajaran dari ribuan tahun lalu dibaca secara mentah dan dangkal, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada kebencian dan konflik. Agama pun dimainkan di dalam ajang perebutan kekuasaan politik. Padahal, ketika agama dan politik kekuasaan bercampur, keduanya akan membusuk. Lanjutkan membaca Indonesia sebagai “Agama”

Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Evening Standard

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Seorang teman bertanya, mengapa orang Indonesia begitu fanatik dengan agamanya? Ia berasal dari negara yang tak peduli pada agama. Maka dari itu, ia heran, mengapa orang Indonesia sangat gandrung dengan agama. Saya terdiam di hadapan pertanyaan tersebut.

Saya mulai berpikir soal asal muasal agama. Mengapa agama ada? Mengapa ia bisa begitu tersebar di berbagai belahan dunia? Lanjutkan membaca Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Dalam Cengkraman Kemiskinan

Art Ranked Discovery Engine

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kereta arah Bandara Soekarno Hatta Jakarta dari Sudirman memang sangat canggih dan nyaman. Ini prestasi besar bagi bangsa Indonesia, walaupun sudah seharusnya dari dulu diciptakan. Namun, karena politik yang lamban dan korup, ia akhirnya baru tercipta sekarang. Kereta ini merupakan jalan keluar efektif untuk kemacetan dan kekacauan perjalanan dari dan ke arah Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Tempat duduknya sangat nyaman. Peraturan juga ditegakkan dengan baik. Suasana juga amat bersih dan aman. Dalam banyak hal, kereta ini bahkan lebih nyaman, daripada kereta yang biasa saya tumpangi di negara-negara dengan tingkat ekonomi maju. Lanjutkan membaca Dalam Cengkraman Kemiskinan