Kekuasaan, Kemunafikan, dan Kehidupan

http://1.bp.blogspot.com/

Penafsiran Ulang atas Pemikiran Friedrich Nietzsche

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

         Dunia politik di Indonesia diwarnai kemunafikan. Para politisi mengumbar janji pada masa pemilu, guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah menduduki kursi kekuasaan, mereka lupa, dan menelantarkan rakyatnya. Tak hanya itu ketika menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat, demi memperkaya diri mereka sendiri, atau menutup pengeluaran mereka, ketika pemilu. Seringkali uang hasil korupsi dibagi ke teman-teman dekat, bahkan ke institusi agama, untuk mencuci tangan. Jika sudah begitu mereka lalu mendapatkan dukungan moral dan politik dari teman-teman yang “kecipratan” uang, dan bahkan dukungan moral-religius dari institusi agama. Bukan rahasia lagi inilah pemandangan sehari-hari situasi politik di Indonesia. Kekuasaan diselubungi kemunafikan yang bermuara pada penghancuran kehidupan rakyat jelata. Lanjutkan membaca Kekuasaan, Kemunafikan, dan Kehidupan

Gilles Deleuze dalam Perspektif

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya

Gilles Deleuze, seorang filsuf yang bunuh diri pada awal November 1995 setelah menghabiskan beberapa tahun dalam siksaan sakit paru-paru, adalah seorang sosok filsuf yang menimbulkan banyak kontroversi, terutama di Perancis. Otomatis, publik Perancis pada waktu itu terdiam kaku mendengar berita tragis kematiannya.

Padahal, pemikiran Deleuze sungguh mengajarkan kita untuk menerima hidup apa adanya.[1] Ia mengajarkan supaya kita menjaga ‘kehendak untuk hidup’ di dalam diri kita. Katanya, “orang selalu menulis untuk menghadirkan sesuatu ke dalam kehidupan, untuk membebaskan kehidupan dari penjaranya.” (Deleuze, 1990). Sangat menyakitkan bahwa justru seorang filsuf, yang sangat menerima dan mencintai kehidupan, melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Lanjutkan membaca Gilles Deleuze dalam Perspektif